Selasa, 06 Januari 2009

Teologi Perjanjian Baru

TEOLOGI PERJANJIAN BARU

Pendahuluan Teologi Biblika

A. Defenisi

Teologi Biblika merupakan cabang ilmu Teologia yang secara sistematis mempelajari perkembangan pernyataan Allah dalam sejarah sebagaimana yang dinyatakan Alkitab.

Teologi PB difokuskan kepada tulisan-tulisan PB. Namun sekalipun demikian tulisan PB tidak terlepas dari kaitan dengan tulisan-tulisan lainnya di dalam PL. Sebab secara sepintas tulisan PB memperlihatkan adanya kaitan yang erat antara PL dan PB. PB tidak mungkin dimengerti dengan benar apabila mengabaikan PL. Banyaknya kutipan PL dalam PB menunjukkan betapa besarnya arti dari kesinambungan yang menghubungkan zaman kekristenan dengan zaman PL. tema janji dan penggenapannya menjalin hubungan diantara keduanya, bahkan Kitab Suci yang dipakai oleh jemaat mula-mula adalah PL. ini meunjukkan bahwa pengkotbah mula-mula menyampaikan penguraian mereka berdasarkan PL. dan sekalipun kutipan-kutipan PL itu penting namun ianya bukan merupakan kontribusi utama dari dari penelitian PL untuk teologi PB, yang lebih penting ialah pengaruh PL yang mewarnai gagasan-gagasan, yang diambil alih serta diberi makna yang baru olah penulis-penulis PB, dengan memahami Pl maka kita akan semakin memahami makna yang ada dalam teologi PB.

Beberapa unsur penting yang berkaitan dengan defenisi Teologi Biblika :

1. Sistematisasi; teologi biblika meskipun direpresentasikan secara sistematis, namun berbeda dengan teologi sistematik. Teologi sistematik mengasimilasikan kebenaran dari seluruh Alkitab dan dari luar kitab suci, dalam proses mensistemasikan doktrin2 Alkitab. Teologi biblika lebih sempit. Lebih terfokus pada pada periode sejarah yang dinyatakan atau pengajaran eksplisit tertentu dari penulis Alkitab.

2. Sejarah; Teologi Biblika menaruh perhatian pada peristiwa penting yang dinyatakan dalam sejarah doktrin2 Alkitab. Wahyu, situasi dan kondisi penulis serta pembaca? Hal-hal itu akan pertanyaan-pertanyaan yang penting yang akan menolong untuk menemukan penekanan doctrinal tertentu dari periode tertentu dan penulis tertentu. Dan dalam teologi PB, tidak mungkin untuk menelaah secara mendalam, tanpa memperhatikan hal-hal yang diatas yang memiliki pengaruh yang besar.

3. Progres dari wahyu; Teologi Biblika menelusuri wahyu yang progresif itu dan melihta bagaimana Allah menyatakan diriNya dalam era tertentu itu atau penulis tertentu.

4. Natur yang Alkitabiah; Teologi Biblika hanya mengambil nature dari Alkitab, jadi nature teologi biblika adalah eksegetikal yaitu mempelajari doktin2 dari berbagai periode sejarah atau mempelajari kata-kata dan pernyataan-pernyataan dari penulis2 tertentu.

B. Hubungan dengan displin ilmu lain:

1. Studi eksegetikal; Teologi biblika memiliki hubungan langsung dengan eksegesis (menjelaskan/menafsirkan). Dapat dikatakan bahwa teologi merupakan hasil dari eksegesis. Eksegesis berdasar pada teologi biblika. Eksegesis bertugas untuk menganalisa teks alkitab menurut metode Literal gramatikal.historical.

2. Studi latar belakang penulisan; latar belakang penulisan menentukan isu-isu seprti penulis, tanggal penulisan, tujuan penulisan dan situasi kondisi.

3. Studi teologi sistematik; ada persamaan dan perbedaan antara teologi biblika dan sistematik. Keduanya berakar dari analisa kitab suci, namun demikian teologi sistematik juga berusaha mendapatkan kebenaran dari sumber2 diluar Alkitab.. perbedaan yang dapat dilihat dari kedua teologi ini adalah: (1) TB merupakan awal dari TS; eksegesis memimpin kepada teologi biblika yang kemudian memimpin kepada teologi sistematik (2) TB berusaha untuk menentukan apa yg dimaksudkan oleh penulis Alkitab berkaitan dengan isu2 teologi, sedangkan teologi sistematik menjelaskan mengapa sesuatu itu benar dengan menambahkan pandangan secara filosofi (3) Teologi Biblika memberikan pandangan penulis Alkitab, sedangkan teologi sistematik memberikan diskusi doctrinal dari sudut pandang masa kini. (4) TB menganalisa materi dari penulis tertentu atau dari periode sejarah tertentu, sedangkan teologi sistematik meneliti semua materi baik dari Alkitab maupun dari luar Alkitab yang berkaitan dengan doktrin tertentu.

Kontras antara Teologi Biblika dan Teologi Sistematika

Teologi Biblika

Teologi Sistematika

Membatasi studinya hanya pada kitab suci

Mencari kebenaran dari Kitab Suci dan sumber lain di luar Alkitab

Mempelajari bagian-bagian dari Kitab suci

Mempelajari keseluruhan Kitab Suci

Menyusun suatu informasi tentang suatu doktrin dari satu penulis tertentu atau era tertentu

Menyusun suatu informasi tentang suatu doktrin dengan mengkorelasikan semua Kitab Suci

Berusaha untuk mengerti mengapa atau bagaimana suatu doktrin berkembang

Berusaha untuk mengerti apa yang tertulis pada akhirnya

Berusaha untuk mengerti proses dan hasil dari produk itu

Berusaha untuk mengerti hasil produk itu

Melihat progress dari wahyu dalam era yang berbeda

Melihat kulminasi dari wahyu Allah

C. Metodologi

Oleh karena penulisan kitab-kitab PB kemungkinannya ditulis dalam kurun waktu 50 tahun, maka teologi biblika PB harus memperlihatkan sudut pandang penulis PB yang berbeda. Kadi, teologi biblika PB dipelajari berdasarkan teologi Paulus, Teologi Petrus, Teologi Yohanes, dan seterusnya. Studi ini mengevaluasi doktrin khusus apakah yang ditekankan oleh penulis-penulis PB dan bagaimana mereka mengembangkannya.

D. Kepentingan Teologi Biblika

1. Memperlihatkan Perkembangan sejarah Doktrin; TB penting dalam pencegahan mempelajarai doktrin terlepas dari konteks sejarahnya.

2. Memperlihatkan Penekanan dari penulis; TB menyatakan pengajaran doctrinal dari penulis tertentu atau selama periode tertentu. Dalam pengertian tersebut, teologi biblika mensistematiskan kitab suci berdasarkan penulis atau periode tertentu.

3. Memperlihatkan unsur manusiawi dari inspirasi; TB menekankan factor manusiawi dalam penulisan Kitab suci (namun tidak mengabaikan inspirasi). Ia menunjukkan latar belakang individu, interes dan gaya dari penulis2. TB menekankan bahwa para penulislah yang telah menyususn firman Tuhan, dan tentu saja, menyusun dan menulisnya di bawah pengawasan ilahi.

Pendahuluan Teologi PB

A. Sejarah

Teologi PB baru diminati sekitar dua abad terakhir ini. Sebelumnya teologi yang diminati adalah dogmatic, formulasi doktrin dari gereja. Dan sistematik, yang seringkali merupakan hasil spekulasi filosofis. Dalam suatu ceramah di 1787, J.P. Gabler mengimbangi dan menyerang metodologi teologi dogmatic, dengan mengkritik pendekatan filosofisnya. Pendekatan rasionalistik dipakai untuk mengerti PB. Alkitab dipandang sebagai buku hasil karya manusia, baik dalam prosses penulisannya dan apa yang ditekankan oleh masing-masing penulis. Pada dasarnya mereka menolak inspirasi Kitab Suci dan memandang PB sebagai karya literature yang tidak berbeda dengan karya literature lainnya, oleh sebab itu pendekatan yang mereka lakukan untuk studi PB adalah sudut pandang kritikal. Oleh sebab itu maka banyak keragaman opini. Sebagaian melihat adanya pertentangan antara penulis yang satu dengan yang lain dalam PB,l baik dari segi sejarah, latar belakang, suatu sintesa atau kehidupan Kristus yang dibumbui oleh para penulisnya. Akan tetapi kalangan konservatif dalam mempelajari PB biasanya memakai pendekatan dengan cara menyusun suatu materi sesuai dengan pembagian teologi sistematik atau memakai pendekatan teologis dari para penulis PB.

Pelopor mula-mula dalam studi teologi PB adalah F.C. Baur dari Tubingen (1792-1860) ia adalah pemimpin dari kaum rasionalis. Ia menerapkan filsafat Hegel, yaitu tesis-antitesis-sintesis pada tulisan-tulisan PB. Jadi baur menemukan pertentangan antara penekanan yahudi dari tulisan Petrus dan penekanan non-Yahudi dari Tulisan Paulus. H.J. Holtzman (1832-1910) melanjutkan pemikiran itu, menyangkal ide apapun yang berkaitan dengan inspirasi dan menyodorkan teologi konflik dalam PB.

Wilhelm Wrede (1859-1906) mempengaruhi teologi PB cukup besar dengan penekanan pada pendekatan sejarah agama. Ia menyangkali bahwa PB merupakan satu dokumen teologi; tetapi berpendapat bahwa PB harus dilihat sebagai suatu sejarahdari abad pertama. Teologi seharusnya tidak boleh dipertimbangkan sebagai istilah yang tepat; agama merupakan istilah yang lebih baik untuk mengidentifikasikan tulisan-tulisan PB karena mengekspresikan “kepercayaan, pengharapan, kecintaan” para penulis daripada hanya merupakan “suatu catatan refleksi teologis yang abstrak.”

Rudolf Bultman (1884-1976) menekankan pendekatan kritik bentuk pada PB dan berusaha mengungkapkan apa yang ada dibalik materi itu. Bultman mengajarkan bahwa PB telah dicampuri oleh opini2 dan penafsiran kembali pada penulis. Tugas sekarang adalah meliputi suatu “demitologisasi” dari PB, yaitu untuk melucuti pengaruh penulis PB dan tiba pada kata-kata sebenarnya yang diucapkan oleh Yesus. Bultman tidak melihat adanya koneksitas antara Yesus sejarah dan Yesus kepercayaaan.

Oscar Cullman (1902) menekankan tindakan Allah dalam sejarah dalam mencapai keselamatan manusia. Hal ini diberi istilah Heilsgeschichte atau “sejarah keselamatan.” Culman banyak menolak gambaran radikal dari kritik bentuk sebaliknya ia mengikuti eksegesis PB dengan penekanan pada Kristologi PB.

B. Metodologi

Dalam mengikuti Teologi PB, sebagian mengikuti garis umum dari teologis sistematik, namun demikian metodologi itu tidak cukup untuk menyatakan penekanan dari masing-masing penulis. Kelihatannya yang paling baik adalah menyusun teologi PB dengan menganalisa penulisan masing-masing penulis PB yang merefleksikan apa yang setiap penulis katakana tentang suatu subyek. Ada beberapa factor yang harus dipertimbangkan dalam perkembangan suatu metodologi:

1. Pewahyuan adalah progresif; berkulminasi dalam wahyu yang berkaitan dengan Kristus. Teologi Penjanjian Baru harus berusaha menggambarkan kulminasi doktrin2 berkaitan dengan Kristus dan penebusan.

2. Penekanan dari PB berpuncak pada kepercayaan kematian dan kebangkitan Kristus dan pengharapan akan kedatangan yang kedua kali.. teologi PB harus berfokus pada doktrin2 ini yang bersal dari berbagai penulis PB.

3. Teologi PB harus mengakui bahwa pengajaran Yesus dan pengajaran dari penulis PB lainnya adalah merupakan satu kesatuan dan harmonis.

4. Keragaman tulisan-tulisan PB tidak menyebabkan kontradiksi, tetapi berasal dari asal mula ilahi PB

5. Teologi PB harus mengaplikasikan metode analitik (tetapi tidak mengesampingkan metode tematik) karena metode itu dengan baik merefleksikan keragaman dari PB.

II

PENGANTAR TEOLOGIA SINOPTIK

Dalam mengembangkan teologi Injil Sinoptik, adalah penting untuk mengerti sudut pandang dari para penulis. Kepada siapa Matius, Markus, Lukas menulis? Apa tema-tema yang mereka tekankan? Apa penekanan khusus dari para penulis? Itu merupakan pertanyaan yang penting dalam nature teologi biblika, yang menentukan apa penekanan teologis dan keprihatinan yang dikembangkan oleh masing-masing penulis. Nature dari teologi biblika itu terletak secara khusus pada keprihatinan dari penulis manusia {tanpa mengabaikan atau mengesampingkan fakta inspirasi ilahi).

Hal-hal pendahuluan seperti penulis, waktu penulisan, pembaca dan tujuan dilibatkan dalam mendirikan penekanan dari masing-masing penulis.

A. Problem Sinoptik

Diantara keempat kitab Injil yang ditulis dalam PB, Injil Matius, Markus, dan Lukas hampir memiliki pola yang sama, sehingga ketiga Injil ini hampir nampak sama. Perbedaan yang terlihat hanyalah bahwa kitab Markus ditulis dengan ringkas, padat dan jelas, sedangkan Matius menulis Injil Matius dengan agak panjang dan mengelompokkan pokok-pokok yang sama, sementara Lukas menulis dengan agak panjang dan sangat berurutan. Adanya satu pola dalam ketiga Injil tersebut terlihat dalam kesamaan urutan cerita tentang Yesus, mulai dari kelahiran hingga kematianNya, oleh sebab itu ketiga Injil ini sering disebut sebagai Injil Sinoptik. Istilah Sinoptik berasal dari kata Yunani sunaptikos,” melihat sesuatu bersama-sama”, dan itu merupakan karakteristik dari ketiga Injil ini.

1. Teori Kritik Awal terhadap Injil Sinoptik

Kesamaan yang terdapat dalam ketiga Injil tersebut akhirnya membuat banyak sarjana Liberal bertanya, apakah diantara penulis ketiga Injil itu terjadi saling mengutip antara yang satu dengan yang lain. Mereka akhirnya memulai suatu penyelidikan terhadap ketika Injil ini dengan asumsi dasar mereka bahwa ketiga Injil ini juga sama dengan buku-buku yang lain, dan lebih mementingkan rasio manusia mereka yang juga dipengaruhi oleh filsafat modern. Akhirnya mereka melahirkan beberapa teori tentang problem injil sinoptik ini.

a. Teori Tradisi Lisan

Teori ini berpendapat bahwa sebelum kitab-kitab Injil ditulis, sumber untuk berkotbah dan mengajar, dan meneguhkan orang dalam gereja ialah tradisi tentang Yesus yang dipertahankan secara lisan, atau dalam kumpulan kecil yang dapat dikembangkan. Ketika kitab-kitab Injil sudah beredar, maka gereja tidak lagi perlu berpegang pada tradisi yang berubah-ubah ini, melainkan pada bentuk-bentuk tulisan yang berbentuk kitab yang merupakan catatan materi yang tua. Tradisi lisan ini tetap terpelihara bukan karena upaya yang sistematis dengan maksud yang berhubungan dengan jaman kuno itu, melainkan karena tuntutan atau kepentingan jaman dari komunitas itu. Dalam layanan seperti itu, maka fungsinya sebagai tradisi lisan akan tetap bertahan selama kepentingan praktis itu tetap aktif.

b. Teori Injil Saling Bergantung

Teori ini mengajarkan bahwa penulis pertama mengambil bahan dari tradisi lisan, kemudian penulis kedua menggunakan materi yang telah ditulis oleh penulis pertama, dan ketiga mengambil bahan dari kedua penulis sebelumnya. Mengingat bahwa dahulu orang tidak terikat pada undang-undang hak cipta maka orang secara bebas memanfaatkan dokumen yang tertulis sesuka hati mereka. Teori ini dicetuskan oleh Griesbach pada tahun 1789.

c. Teori Injil Primitif

Teori ini mencetuskan bahwa sebelumnya ada Injil primitif yang disebut Urevangelium yang sudah tidak ada lagi dan penulis –penulis Injil meminjam bahan dari Injil tersebut.

d. Teori Fragmen

Teori ini mengajarkan bahwa penulis-penulis Injil menyusun catatan mereka dari tulisan-tulisan di fragmen tentang kehidupan Kristus. Wellhausen, seperti dikutip oleh Bultman, menambahkan bahwa “tradisi yang paling tua hampir seluruhnya terdiri dari fragmen-fragmen kecil (ucapan maupun perkataan Yesus), dan tidak menyajikan cerita yang bekesinambungan mengenai perbuatan Yesus atau kumpulan lengkap berisi ucapan-ucapan-Nya. Ketika disatukan, fragmen-fragmen tersebut dihubung-hubungkan sehingga membentuk satu kisah yang berkesinambungan.”

e. Teori Dua Dokumen

Teori ini mengajarakan bahwa Kitab Matius dan Lukas mengambil bahan yang sama dari Markus, dan kitab Markus merupakan Injil yang ditulis paling awal. Disimpulkan bahwa kitab Matius menggunakan 90% kitab Markus dan Lukas menggunakan 50%. Namun karena Matius dan Lukas memiliki cukup materi yang sama tetapi tidak terdapat dalam Markus maka mereka pasti memiliki satu sumber lain yang sama. Bahan yang dimiliki bersama oleh Lukas dan Matius tetapi bukan dari Markus ini lazimnya disebut bahan “Q”. Simbol “Q” ini merupakan sandi untuk kata Jerman Redenquelle yang berarti “sumber sabda-sabda”. Q dipercayai sebagai sebuah koleksi sabda Yesus yang sudah tersedia secara tertulis dalam bahasa Yunani. Sumber Q ini tidak memiliki kisah masa kanak-kanak dan kisah sengsara, wafat dan kebangkitan Yesus. Dan mereka juga berpendapat bahwa sumber Q tersebut tidak ada salinannya tetapi hanya merupakan sebuah hipotesis belaka.

f. Teori Empat Dokumen

Teori ini menyebutkan bahwa Markus merupakan Injil pertama yang ditulis dan bahwa Matius dan Lukas menggunakan baik Markus dan Q secara independen, lazimnya disebut “hipotesis dua sumber”. Namun disamping itu mereka juga memberi tempat bahwa ada sumber-sumber khusus yang lain yang digunakan oleh Matius dan Lukas, yaitu bahan-bahan tradisi yang hanya dikenal dan dipakai oleh salah satu dari mereka. Bahan-bahan khas ini lazimnya diberi tanda “L” dan “M”. “M” merupakan “kata-kata” pribadi sumber dari Matius yang ditulis sekitar tahun 65 Masehi dan “L” sumber pribadi Lukas ditulis di Kaisarea sekitar tahun 60 Masehi, sedangkan “Q” ditulis di Antiokhia sekitar tahun 50 Masehi dan Markus ditulis di Roma sekitar tahun 60 Masehi.

2. Perkembangan Kritik Modern

Kritik tehadap Alkitab terus mengalami perkembangan. Sarjana-sarjana Liberal terus berusaha menggali dan mengembangkan pemahaman mereka dalam mengkritik Alkitab. Seiring dengan itu mereka akhirnya memunculkan kritik-kritik yang terus diperbaharui dengan konsep rasio mereka dan mengabaikan Alkitab sebagai firman Allah. Dalam masalah Problem Injil sinoptik mereka juga menggulirkan berbagai teori kritik yang lebih modern.

a. Kritik Historis

Kritik ini mengalami kejayaan sekitar tahun 1950-an. Para teolog kritik historis berusaha menyelidiki latar belakang kitab-kitab Injil yang ditulis oleh murid-murid Yesus. Perbedaan-perbedaan didalamnya diekspos sedemikian rupa untuk membuktikan bahwa tulisan Injil merupakan tafsir ulang penulis Injil, bahkan lebih jauh mereka menyimpulkan bahwa Injil itu bukan hanya sekedar tafsir ulang tetapi juga merupakan ungkapan iman penulis dan bukan peristiwa historis. Pendekatan yang mereka lakukan dikenal dengan teori Linguistik Modern, suatu displin ilmu dengan prinsip-prinsip; (a) mengutamakan pendekatan terhadap teks secara “sinkronik” dan bukan secara “diakronik”, (b) Menekankan unsur-unsur ujaran daripada bentuk tertulis suatu bahasa, dan (c) pemahaman terhadap bahasa sebagai suatu sistem yang terstruktur.[1]

Pendekatan ini akhirnya membuat Alkitab sama dengan buku-buku lain. Mereka mencatat dalam keragaman dalam catatan yang pararel, meneliti materi sejarah yang sekuler, dan mencatat peristiwa sejarah yang terjadi dan berusaha menjelaskan kejadian supranatural dengan penjelasan peristiwa secara alamiah dan cerita-cerita yang dibuat oleh gereja mula-mula. Dampak negatif yang terlihat jelas dari kritik ini adalah sehubungan dengan masalah Kristologi. Mereka menyatakan bahwa Yesus yang ada dalam Alkitab bukanlah Yesus yang sejarah, tetapi Yesus kepercayaan dari para penulis Injil dan orang Kristen zaman tersebut.

b. Kritik Sumber

Kritik sumber berusaha untuk mengidentifikasi sumber-sumber yang digunakan dalam penulisan Injil Sinoptik dan mengidentifikasi hubungannya dengan Injil-Injil itu. Didalam penentuan sumber-sumber itu setidaknya mereka mempunyai beberapa pertanyaan dasar. (1) Apakah dokumen yang sedang dipelajari itu menunjukkan adanya sumber? (2) Apa yang dikatakan sumber tersebut? (3) Apa yang dilakukan pengarang dengan sumber tersebut? (menyalin? Mengubah? Atau salah paham?). Menentukan adanya sebuah sumber, menetapkan isi dan makna sumber itu, dan bagaimana sumber itu dipakai, merupakan tiga pokok penelitian sumber.[2]

Adanya sumber-sumber mereka tentukan juga bila mereka melihat ayat tertentu membuat alur pemikiran atau gaya bahasa yang berbeda dari konteksnya, walaupun tidak ada petunjuk eksplisit. Kesepakatan perkataan juga mengusulkan adanya suatu sumber yang sama, yang mendasarinya. Penganut Kritik sumber mengusulkan penulis-penulis menggunakan suatu sumber yang sama, yang mereka ikuti tetapi mereka merasa, mereka memiliki kebebasan untuk menambah rincian dan “tidak khawatir akan ketepatan dalam rincian historis.” Problem dari kritik sumber ini ada dua segi: kritik ini cendrung mengabaikan unsur ilahi dalam inspirasi dan mengakui adanya salah; kritik ini dibangun atas hubungan tanpa adanya bukti yang bisa diperlihatkan dari sumber-sumber yang mendasari semua itu.[3]

c. Kritik Bentuk

Kritik bentuk tidak terlepas dari kritik Wellhausen terhadap Perjanjian Baru, ia mengemukakan (1) Sumber asli dari bahan-bahan yang ada didalam Injil adalah tradisi lisan yang beredar dalam unit-unit terkecil (2) Bahan-bahan asli tersebut sudah digabung dan diedit dalam berbagai cara, langkah atau tingkatan (hanya satu bagian saja yang dilakukan oleh penulis Injil PB itu sendiri (3) Bahan-bahan yang ada di dalam tradisi itumemberikan informasi kepada kita tentang kepercayaan dan situasi gereja mula-mula dan pelayanan Yesus.

Kritik ini akhirnya dikembangkan oleh Bultman, ia menganggap bahwa Injil sinoptik sebagai “literatur rakyat.” Mereka menyimpulkan bahwa Injil-injil sekarang ini bukanlah merupakan karya yang utuh sejak semula, melainkan adalah kumpulan materi atau bahan yang akhirnya dipilih atau disusun oleh para penulis injil PB. Mereka umumnya memeluk bahwa buku Injil yang tertua adalah Markus. Markus menulis satu karya tulis berbentuk “Injil”, dikemudian hari Matius dan Lukas mengikuti dan menggunakan bahan yang ada didalam Injil Markus.

Lebih lanjut mereka menegaskan bahwa bahan-bahan yang kita miliki sekarang didalam kitab-kitab Injil, sebenarnya mempunyai sejarah penggunaannya dalam gereja, yang dipelihara dan diwariskan dalam bentuk tradisi lisan. Bahan-bahan itu digunakan didalam gereja secara sendiri-sendiri atau terpisah-pisah, sesuai dengan fungsi atau penggunaannya masing-masing dalam kehidupan dan ibadah gereja. Masing-masing tradisi dapat dianalisa secara sendiri-sendiri. Setiap bentuk digunakan untuk tujuan tertentu pula sesuai dengan situasi konkrit dalam kehidupan gereja mula-mula. Oleh sebab itu maka disimpulkan bahwa kebanyakan Injil-Injil itu tidak berisi data historis tetapi bumbu gereja mula-mula. Sebab jika dianalisa maka ternyata bentuk dan bahan-bahan yang ada dan dipelihara dalam gereja mula-mula itu sudah dipengaruhi oleh iman teologia gereja sesuai dengan situasi dan keadaan kehidupan gereja waktu itu.[4]

Dalam sebuah wawancara tidak resmi, Robert Mounce meringkas prosedur penelitian bentuk sastra sebagai berikut:

“Pertama, peneliti bentuk sastra mencatat berbagai jenis bentuk sastra, yang dipakai untuk mengelompokkan cerita-cerita Alkitab. Kemudian dia berusaha untuk memastikan Sitz im Leben (situasi dalam kehidupan) dari gereja mula-mula yang biasa menjelaskan perkembangan masing-masing perikop yang termasuk dalam ketegori-kategori di atas. Apakah rasa takut itu terhadap penganiayaan? Apakah itu gerakan dari gereja orang-orang bukan-Yahudi yang berltar Yahudi? Apakah itu ajaran sesat? Dan sebagainya. Setelah menentukan Sitz im Leben, orang dapat menjelasakan perubahan-perubahan yang terjadi dan mengelupas lapisan-lapisan yang telah ditambahkan pada ucapan-ucapan Yesus. Hasilnya ialah ucapan-ucapan dalam Kitab-kitab Injil, kembali kepada keadaan mereka yang asli atau murni.”[5]

Penelitian bentuk ini terutama berasal dari Jerman pada tahun-tahun berakhirnya perang dunia pertama. Penelitian dari bentuk sastra Injil-injil Sinoptik ini tampak sebagai metode yang jelas dalam karya-karay L. Schmidt (1919), M. Dibbelius (1919), dan R. Bultmann (1921).

d. Kritik Redaksi

Kritik Redaksi berkembang setelah sesudah dan berdasarkan kritik bentuk. Selain itu kritik redaksi, yang memberi perhatian kepada seluruh Alkitab, juga menyiapkan sarana bagi lahirnya kritik naratif. Josh McDowel sehubungan dengan masalah ini menjelaskan:

Metode Kritik Redaksi ini menambahkan sebuah dimensi baru terhadap penelitian Perjanjian Baru, yaitu mengenai Sitz-im-leben (kedudukan dalam kehidupan) dari sang pengarang. Para penulis kitab-kitab Injil tidak hanya dianggap sebagai orang yang menghimpun bentuk-bentuk yang berbeda, melainkan mereka sendiri adalah pengarang. Mereka adalah seperti orang-orang yang secara cermat telah menggubah simfoni sastra dengan memakai “bentuk” Injil yang dipelopori oleh penulis Injil Markus. Para penulis Injil dianggap sebagai para penggubah atau redaktor yang terutama menyatukan (menghimpun) karya teologis dan karya sastra, bukan karya sejarah. Penelitian redaksi berusaha menetapkan sudut pandang teologis dari sang penulis Injil. Para peneliti ingin mengetahui sumber-sumber atau catatan mana yang dipilih oleh penulis Injil, apa alasannya, serta dimana bagian tersebut cocok dengan catatannya secara khusus (dikenal sebagai kelim-kelim). Para peneliti ingin menemukan “perekat” teologis yang digunakan para pengarang untuk menyusun Kitab-kitab Injil mereka.”[6]

Terlihat jelas bahwa kritik redaksi menempatkan penulis Injil bukan hanya sejarahwan menurut mereka tetapi juga menjadi seorang teolog dalam memodifikasi dan membumbui tradisi historis. Penulis dapat kreatif, menambah dan membumbui tradisi historis bahkan dapat keluar dari peristiwa historis. Penganut Kritik redaksi menyebutkan beberapa cara kerja penulis Injil sebagai redaktur yaitu: (1) Mengaitkan bahan-bahan tertentu satu dengan yang lain (2) Menambahkan catatannya sendiri pada bahan tradisional (3) menyusun ceritanya dalam urutan tertentu (4) menanggapi atau menafsir bahan tradisional.Didalam penelitian redaksi ini, para peneliti seringkali memberi perhatian besar pada kekhususan kitab-kitab tersebut, seakan-akan tidak ada kesamaan sama sekali dalam hal isi dan amanatnya.

B. Introduksi Injil Sinoptik

I. Matius

1. Penulis Injil Matius

a). Bukti External

1). Judul kitab ‘Kata Matheon’ atau ‘According to Matthew’ (menurut Matius) terdapat dalam MSS (manuskrip) mula-mula (kira-kira 125 A.D.); mengapa keberatan-keberatan pada waktu itu sedikit diketahui oleh rasul?

2). Papias: “Matius menjelaskan ‘Logia’ dalam bahasa Ibrani dan setiap orang menafsirkannya sama seperti yang dapat ia (Matius) lakukan. “Kemungkinan besar Matius menulis dalam bahasa Aramik dan Yunani (tulisan asli yang diinspirasikan).

3). Irenaeus: “Sekarang Matius juga menerbitkan Kitab Injil diantara orang Ibrani dalam bahasa dialect mereka sendiri, yang mana petrus dan Paulus mengkotbahkanInjil itu di Roma dan jemaat yang didirikan.

b). Bukti Internal

1). Penulis tidak mengidentifikasi dirinya sendiri secara langsung.

2). Markus dan Lukas menyebutnya Matius dan Lewi (Markus 2:14); Matius menghapus nama Lewi, mengindikasikan bahwa Matius adalah penulisnya

3). Dalam perjamuan makan di rumah Matius, Markus menyebutnya ‘rumah orang itu’ (Markus 2:15) dan Lukas menyebutnya ‘di rumahnya sendiri’. (Lukas 5:29), sedangkan Matius menyebutnya ‘rumah Matius’ (Matius 9:10).

4). Ia menunjukan fikiran dan karakteristik dari seseorang pemungut cukai dalam Injilnya.

o Ia adalah satu-satunya penulis Injil yng mencatat tentang pembayaran pajak Bait Suci (17:24-27).

o Ia menggunakan ‘hapax legomena’ sebanyak tiga kali untuk termonologi moneter untuk uang upeti.

o Ia menunjukan tingkah laku dan karakteristik seseorang yang berprofesi sebagai pemungut cukai secara sistematis dalam Injilnya.

o Ia tertarik dengan jumlah (3:5).

c). Tradisi Gereja mula-mula.

Secara tradisi dari bukti-bukti ini Matius lebih cocok dari pada penulis lain. Matius ditekankan dalam Kis. 1:13, walaupun secara tradisi diakui bahwa ia menjadi misionari ke Etiopia dan Persia.

2. Tanggal penulisan

1. Bukti External – pertama ditemukan dikutip oleh Ignatius (kira-kira 115 A.D.)

2. Bukti Internal

a). Penekanannya yang sangat besar pada Ekskatologi mungkin mengindikasikan masih hangatnya kedatangan Tuhan yang pertama dan janji kedatangan kedua kali (band. I dan II Tesalonika).

b). Tidak menyinggung kehancuran Yerusalem dan Bait Suci pada tahun 70 A.D.

c). Menubuatkan secara tidak langsung kehancuran Yerusalem dan Bait Suci (22:7)

d). Sangat mungkin ditulis sekitar tahun 30-an atau bahkan sebelumnya.

3. Alamat pengirim dan tujuan

a. Kemungkinan besar ditulis diAntiokhia – Palestina.

b. Ditujukan kepada orang Kristen Yahudi yang tinggal di Palestina (Yerusalem dan sekitarnya).

4. Maksud penulisan :

Untuk mmberitakan Injil dan menginstrusikan atau mengajar baik orang Yahudi dan non Yahudi tentang kebenaran bahwa Kristus adalah Mesias sesuai dengan garis keturunan Raja Daud dengan penggenapan nubuatan-nubuatan P.L.

5. Tema Injil Matius : “Yesus adalah Raja.”

6. Karakteristik Injil Matius

  1. Sangat bermotif ke-Yahudian: 33 kali menyebut ‘Kerajaan Sorga’ (hanya di Matius); 5 kali menyebut ‘Kerajaan Allah’; 9 kali menyebut ‘ Anak Daud’.
  2. Bentuk angka khusus — 3 kelompok silsilah, 3 pencobaan, 3 perintah (6:1-7:20), 3 oknum dalam Amanat Agung (28:19-20), dst.

7. Stuktur (5 hal penting)

  1. Kotbah di atas bukit (5:1-7:29)
  2. Pengutusan misi (9:35-10:42)
  3. Perumpamaan tentang Kerajaan (13:1 dst)
  4. Ucapan-ucapan Yesus (18:1-35)
  5. Peristiwa di bukit Zaitun (23:1-25:46)

8. Tujuan Teologis.

Matius menangkap pengharapan Mesianik dan ekspektasi orang yahudi. Ia memberikan petunjuk kepada pembacanya bahwa manusia Sejati, Anak Daud, benar telah datang. Sementara penulis lain meyajikan Yesus sebagai Mesias yang dijanjikan, maka Matius yang menyajikan Dia untuk orang Yahudi.

Tujuan Injil Matius ada dua segi.

1). Membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias.

2). Menyajikan kerajaan sesuai dengan rencana Allah

II. Injil Markus

a. Penulis Injil Markus

1). Bukti External:

a). Papias mengatakan bahwa Markus menulis dari perkamen Petrus tetapi tidak selalu sama dengan susunan kronologinya.

b). Irenaeus mengatakan bahwa ‘setelah kematian Petrus dan Paulus, Markus meyediakan bagi kita kotbah-kotbah Petrus dalam bentuk tulisan.

c). Clement dari Alexandria, Origen dan Jerome juga menyatakan bahwa Injil Markus dihasilkan dalam hubungannya dengan Petrus.

d). Judul kitab ‘kata Markom’/According to Mark (menurut Markus) ditemukan dalam MSS kuno.

2). Bukti Internal:

a). Banyak teolog percaya bahwa orang muda yang lari telanjang yang hanya dicatat dalam Injil Markus adalah Markus sendiri (Markus 14:51,52).

b). Kelihatannya penulis hadir sebagai saksi mata dalam beberapa peristiwa (14:12-16). Sangat mungkin rumah yang dipakai adalah rumah mereka.

c). Percakapan Malaikat dengan Petrus yang bersifat pribadi hanya dicatat dalam Injil Markus (16:7).

d). Tidak ada hal-hal yang bertentangan dengan pengakuaan secara tradisi bahwa Markus anak Maria, kemenakan Barnabas adalah penulis Injil Markus.

b. Waktu Penulisan

1). Dalam lagu angsanya Paulus memuji pelayannan Markus (II Tim. 4:6-8) sulit dipercaya bahwa Markus dapat berbuat banyak sebedlum jemaat dipuaskan dengan pelayanannya.

2). Markus menyinggung nama seseorang yaitu Rufus yang kemungkinan besar adalah nama yang sama disinggung Paulus dalam Roma 16:3.

3). Pandangn kaum Liberal yang memprioritaskan Injil Markus sebagai Injil pertama harus ditolak, karena asumsi mereka penulis Injil lain memakai sumber Markus untuk menulis Injil mereka. Dan jika demikian Alkitab hanyalah sebuah karya sastra belaka dan bukan Firman Tuhan.

4). O’Callahan menunjukkan bahwa sebagian pragmen dari Dead Sea Scroll mengandung Injil Markus di dalamnya, dan akhirnya hal ini diperdebatkan apakah Dead Sea Scroll ditulis sebelum atau sesudah 50 A.D.

c. Alamat Pengirim dan Tujuan

1). Kelihatannya Markus menunjukkan tulisanya kepada pembaca Romawi karena Ia berusaha menterjemahkan kata-kata Aramic dan ia menjelaskan adat istiadat Yahudi yang tidak perlu dilakukan kepada orang Yahudi. Dalam tulisannya ia lebih sering menggunakan ekspresi latin dari penulis-penulis lain.

2). Kemungkinan besar Rufus adalah orang Roma yang disinggung oleh Markus dan bisa jadi ia berada di Roma dan kemungkinan ia adalah penerima Injil Markus.

3). Diperkirakan Injil Markus ditulis ketika ia sedang bersama Perus (I Pet. 5:13) A.D.

d. Tujuan Injil Markus:

Memberitakan ‘kabar baik’ bahwa penebusan Tuhan Yesus Kristus untuk semua orang bahkan juga untuk orang non Yahudi. Penekanan utamanya adalah gambaran Kristus sebagai hamba yang datang untuk melayani dan memberikan hidupNya sebagai tebusan bagi banyak orang.

e. Tujuan Teologis:

Oleh karena orang Romawi adalah orang yang bekerja bukan orang yang berpikir, maka Markus menyajikan Kristus sebagai “Pekerja yang hebat daripada pemikir yang dalam, manusia yang menang melalui tindakan.” Gaya Markus, demikian pula isinya mencerminkan isi teologisnya.

f. Thema Injil Markus: “Yesus adalah hamba yang menderita (Markus 10:45)”.

g. Karakteristisk Injil Markus

1). Kata ‘euthus’ (segera) dipakai sebanyak 42 kali

2). Kuasa-penekanan pada mukjizat dan kontradiksikan kebangkitan Kristus dengan kemunduran pemerintahan Roma.

3). Tertarik pada orang non Yahudi-hanya mengutip secara langsung kitab P.L. sekali saja (11:17), dan sedikit sekali mencatat penggenapan nubuatan P.L. dalam Injilnya.

4). Keterusterangan-Ia menunjukkan sejumlah realitas tentang kegagalan murid-murid dan reaksi masyarakat terhadap Kristus, ini cocok sekali jika mewakili Petrus dan diketahui orang Roma.

h. Pengakhiran Injil Markus (Mark. 16:9-20)

1). Menurut Critical text (Liberal)

a. Orang-orang Liberal menyatakan bahwa Injil Markus mengakhiri “ Kabar Baik” – nya dengan kata “karena mereka takut” (16:8)

b. Yang lain berpendapat bahwa Markus meninggal sebelum menyelesaikan tulisan Injilnya. (band. P. 16, D, 3).

2). Menurut Textus Receptus

a. Markus 16:9-20 tidak ditemukan hanya dalam codex ‘Aleph’ dan ‘B’ yang merupakan salinan Alkitab yang telah dirusakan olehpara bidat gnostik dan tangan-tangan kotor.

b. Dikebanyakan MSS mayority ditemukan Markus, 16:9-20.

c. Ada isi theology yangpenting adalah Mar. 16:9-20.

d. John Burgon mempertahankan keontentikan Markus 16:9-20, dan Markus 16:8 itu adalah akhir dari pembacaan dalam lectionary, bukan akhir dari Injil-nya.

e. Secara logika dari kisah yang dituliskan akan lebih dapat diterima Injil ini berakhir pada ayat 20 dari pada ayat 8.

III. Injil Lukas

a. Penulis Injil Lukas

1). Bukti Eksternal :

a. Bapa-bapa Gereja seperti Justinus Martyr, Irenaeus, Tertulian dan Origen menyatakan Lukas sebagai Injil Lukas (mereka adalah orang-orang yang hidup pada abad II, yang kemungkinan masih sangat jelas berita Lukas).

b. ‘Kanon Moratorian’ (+ 180) melaporkan Lukas sebagai penulis Injil Lukas.

c. Sangat tidak masuk akal Lukas yang kemungkinan besar orang non-Yahudi disebut penulis oleh jemaat mula-mula kalau bukan mereka tahu bahwa Lukas adalah penulisnya.

2). Bukti Internal:

a. Penulis bukan saksi mata, tetapi ia menggunakan metode ilmiah dalam riset sejarahnya untuk menulis Injil-Nya (1:1-3).

b. Penulis dapat dipastikan bukan orang Yahudi (kata ‘mereka’ berarti tidak termasuk dia. Li. Kis. 1:19).

c. Kesatuan Injil Lukas dengan Kis. Adalah sangat penting: terbukti ada banyak kesamaan diantara keduanya, mis. Kesamaan gaya bahasa kata-kata yang dipakai, kelanjutan Injil Lukas (band. Lukas 1:1-3 & Kis. 1:1).

d. Kata ‘Kami’ dalam penekanan Kis. Berarti didalamnya termasuk Lukas.

e. Dalam perjalanan Paulus setiap Lukas bersama dia selalu memakai kata ganti orang kedua jamak ‘Kami’ (Kis. 16:6-11), dan memakai kata ganti ketiga jamak ‘Mereka’ kalau ia tidak bersama Paulus (Kis.20:1-6), sehingga kepenulisan Lukas terhadap Injil Lukas dan Kis. Tidak diragukan lagi.

b. Waktu Penulisan

1). Sudah pasti sebelum Kis.

2). Kis. Diakhiri dengan pemenjaraan Paulus di Roma yang pertama, atau kira-kira tahun 60 A.D., sesuai dengan tanggal surat-surat penjara.

3). Oleh sebab itu Injil Lukas seharusnya ditulis sebelum Kis. Kira-kira pertengahan atau akhir tahun 50-an A.D.

c. Alamat pengirim dan tujuan

1). Beberapa kemungkinan telah ditawarkan ditulis di daerah Yunani, Kaisarea, atu Rom. Tetapi kemungkinan yang lebih dapat diterima di tulis di Yunani, atau setidaknya pengumpulan data dilakukan di Palestina.

2). Kelihatannya Lukas mengirim tulisannya kepada Teofilus yang tertarik pada kekristenan yang juga pejabat Roma.

d. Maksud dan tujuan penulisan

Memberikan pengetahuan rohani atau kemungkinan penginjilan lewat literature tentang kehidupan dan karya keselamatan Yesus Kristus.

e. Thema: “Yesus adalah sang Juruselamat yang datang sebagai Anak Manusia”.

f. Karakteristik Injil Lukas

1). Lukas menekankan pekerjaan Roh Kudus dan nilai doa dalam hidup kita sebagaimana dalam kehidupan Kristus.

2). Injil Lukas sangat komprehensif atau menyeluruh sehingga menyebabkan Injil Lukas menjadi Injil yang terpanjang (jumlah kata dalam keseluruhan kitab Lukas)

3). Lukas menekankan kehidupan individu dari pada kelompok dan menaruh perhatian yang lebih besar tentang wanita.

4). Karakteristik yang istimewa dari Injil ini adalah mulus dan indah dalam hal sejarah maupun sastra.

g. Tujuan teologis

Lukas memiliki penekanan kosmopolitan, menekankan universalitas Injil dan bahwa Yesus adalah penebus dunia. Hal ini ditekankan melalui kaitan garis keturunan Yesus dengan Adam, nenek moyang manusia seluruhnya. Penekanan ini secara khusus juga dapat dilihat dalam penggunaan perumpamaan Lukas.


III

PEMBAHASAN TEOLOGI SINOPTIK

1. Doktrin Allah

Sama seperti kitab-kitab yang lain dalam Alkitab, bahwa mereka memiliki keyakinan yang besar dan mendasar tentang Allah, yakni bahwa Allah ada, penuh dengan kemuliaan dan manusia harus terus-menerus bergantung padaNya. Injil Sinoptik juga memiliki bagian tentang semua ini. Para penulis PB juga memiliki pandangan yang sama sebagaiman yang terdapat dalam PL. Injil Sinoptik juga secara jelas mencatat tentang atribut Allah.

a. Providensia Allah. (Mat.6:26, 10:29)

b. Kebapakan Allah (Mat.6:32)

c. Anugrah Universal dan personal (Mat. 5:45)

d. Penekanan Kerajaan Allah (Mat. 5: 34; 23:22)

e. Penghakiman Allah bagi semua orang (Mat. 3:7; 7:1; Luk. 3:7)

f. Kemuliaan Allah dinyatakan (Mat. 17:1-8)

g. Kebaikan Allah (19:17)

h. Kuasa Allah (Mrk.12:24-27)

i. Ketritunggalan Allah (Mrk. 1:9-11)

2. Doktrin Kristus

Dari tinjauan mengenai Kristus, Sinoptik secara jelas memberi gambaran tentang pribadi Kristus.

a. Kelahiran dari anak dara.

1) Matius dan Lukas menekankan bahwa kemanusiaan Yesus dikandung oleh Roh Kudus (Mat. 1:18; Luk. 1:13)

2) Matius memberikan penekanan yang cukup jelas tentang Maria yang tidak bersetubuh dengan seorang laki-laki sebelum kelahiran Yesus (Mat. 1:18-25)

3) Markus menekankan bahwa Yesus adalah “anak Maria” daripada mengatakan anak Yusuf (kebiasaan Yahudi biasanya menggunakan nama ayah)

b. Kemanusiaan Kristus. Ketiga Injil menekankan kemanusiaan Yesus.

1) Matius menekankan garis keturunan manusia-Nya (1:1-17), kelahiran-Nya sebagai manusia (1:25), dan masa kanak-kanak-Nya (2:1-23)

2) Lukas menekankan kelahiran-Nya dan status-Nya yang rendah (2:1-20), Ia menyesuaikan diri tentang tradisi Yahudi (2:21-24), dan pertumbuhan sebagai anak laki-laki muda (2:41-52).

3) Markus menekankan kemanusiaan Yesus lebih dari Matius dan Lukas melalui penekanannya pada karya, kehidupan dan aktivitas Yesus.

4) Ketiganya juga menekankan kemanusiaan-Nya dalam pencobaan.

c. Ketidakberdosaan Kristus. Meskipun Sinoptik menyajikan Yesus sebagai manusia, mereka juga mengindikasikan Ia bukan manusia biasa, Ia lahir dari seoranf anak dara dan tidak berdosa.

1) Karena lahir dari seorang perawan, ia tidak memiliki nature dan kecendrungan pada dosa.

2) Yesus memanggil manusia untuk bertobat tetapi tidak ada catatan bahwa Ia pernah mengaku dosa atau bertobat.

3) Baptisan-Nya adalah untuk “menggenapi seluruh kehendak Allah” (Mat. 3:15), bukan untuk pengakuan dosa (Mat.3:6).

4) Pencobaan-Nya juga untuk menekankan bahwa meskipun Ia diuji semua seperti dalam area kita, namun Ia tidak berdosa (Mat.4-1-11)

5) Pada waktu Ia menegur Petrus, Ia menyatakan bahwa Ia sama sekali tidak ada hubungan dengan dosa (Mat.16:23)

d. Keilahian Kristus

1) Matius menekankan Yesus sebagai anak Daud (Mat. 9:27), sangat jelas bahwa anak Daud merupakan Mesias yang dijanjikan dan melakukan pekerjaan Allah.

2) Matius secara terus menerus menyajikan Yesus sebagai Mesias demikian pula sebagai yang menggenapi nubuat-nubuat PL yang berkaitan dengan Mesias.

3) Asal mula Anak Manusia bermula dari Daniel 7:13 dimana Ia digambarkan sebagai yang penuh dengan kemenangan, membawa kerajaan kepada bapa. Posisi anak manusia disebelah kanan Bapa menghubungkan pada Mazmur 110:1 dan yang Ia adalah Tuhan.

4) Yesus adalah Anak allah dalam pengertian unik yang absolut.

5) Karya penebusan

6) Kebangkitan Kristus.

3. Doktrin Roh Kudus

Sinoptik juga menggambarkan peranan Roh Kudus yang cukup signifikan terutama dalam hubungannya dengan Kristus.

a. Berkaitan dengan kelahiran Kristus dari anak dara. Matius dan Lukas keduanya menghubungkan konsepsi Yesus di kandungan Maria dengan Roh Kudus yang datang atasnya (Mat.1:18; Luk. 1:35).

b. Berkaitan dengan baptisan Kristus. Pada saat pembaptisan Yesus, Roh Kudus turun ke atas-Nya dan mencurahkan kuasa untuk pelayanan kepada publik.

c. Berkaitan dengan pencobaan Kristus.

d. Berkaitan dengfan pelayanan Kristus

e. Berkaitan dengan inspirasi kitab suci.

4. Doktrin Gereja

Sinoptik tidak mencatat pengembangan doktrin gereja. Kata gereja (ekklesia) digunakan hanya tiga kali dalam Matius dan tidak sama sekali dalam Lukas dan Markus. Sekalipun demikian hal itu mengindikasikan bahwa cikal bakal gereja sudah muncul sejak awal.

5. Doktrin Akhir Zaman

Injil Sinoptik menyediakan materi yang cukup banyak berkaitan dengan akhir zaman.

a. Kata kerajaan (Yun.:Basileia) menonjol di Injil sinoptik, muncul 56 kali di Matius, 21 kali di Markus, 46 kali di Lukas. Matius juga menggunakan istilah raja lebih banya dari kitab lain yang ada di PB.

b. Injil sinoptik menekankan bahwa Yesus datang untuk mendirikan kerajaan millenial

IV

PENGANTAR TEOLOGI KISAH PARA RASUL

Pendahuluan

Kisah Para Rasul bukanlah suatu unit tersendiri karena jelas bahwa Ia ditulis sebagai kelanjutan dari Injil Lukas, penulis berbicara tentang “bukunya yang pertama” (Kisah 1 : 1) dan menunjukan tulisannya pada Teofilus. Ikthisar dari buku yang pertama, seperti yang termuat dalam Kisah Para Rasul 1 : 1 - 2, sangat sesuai dengan isi Injil Likas dan cerita dimulai tepat pada titik dimana Injil Lukas berakhir.

Kisah Para Rasul disusun secara logis diseputar ikhtisar perkembangan geografi seperti yang dinyatakan dalam 1 : 8: “Kamu akan menjadi saksiKu di Yerusalem, diseluruh Yudea, dan Samaria, dan sampai keujung bumi.” Bagian pertama setelah pembukaan menceritakan awal perkembangan di Yerusalem. Bagian yang kedua, menguraikan secara singkat pelayanan di Samaria, daerah pesisir dan Kaisera.

Ikhtisar Kisah Para Rasul juga dapat dibuat berdasarkan catatan perkembangannya dalam 2 : 47; 5 : 14; 6 : 7; 9 : 31; 12 : 24; 16 : 5; dan 19 : 20 tercatat pertumbuhan jumlah serta peningkatan mutu kehidupan rohani umat Kristen, yang menunjukkan bahwa Kisah Para Rasul menaruh perhatian pada perkembangan yang progresif dari agama Kristen.

Ikhtisar Kisah Para Rasul dapat pula dibuat berdasarkan pribadi-pribadi yang dimunculkan didalamnya. Pasal 1 sampai 5 dipusatkan pada Petrus; pasal 6 dan 7, pada Stefanus; pasal 8 hingga 12 memperkenalkan beberapa pribadi, yang paling menonjol diantaranya adalah Barnabas, Filipus, dan Saulus dari Tarsus; dan pasal 13 sampai selesai Paulus adalah tokoh yang paling dominant. Suatu perbandingan antara Petrus dan Paulus dapat dilihat dari pelbagai sudut: keduanya adalah pemimpin, yang stu dikalangan Yahudi, yang lain dikalangan orang bukan Yahudi. Petrus lebih banyak bekerja di Yerusalem; Paulus didunia luar Yahudi.

Kebenaran Kisah Para Rasul sudah sering dipertanyakan, namun belum pernah berhasil dipatahkan. Banyak kesulitan yang ditemui dalam menyelaraskan urutan waktunya dengan surat-surat kiriman, dan tidak semua penyebutan sejarah didalam Kisah Para Rasul dapat dipastikan karena seringkali data yang dibutuhkan tidak ada. Jalur cerita utama didalam Kisah Para Rasul menyangkut misi pemberitaan Injil keutara melalui Antiokhia ke Asia kecil dan dari sana ke Makedonia, akhirnya ke Roma.

Ada dua alasan yang mungkin mendasari keterbatasan cerita ini. Yang pertama, penulis sendiri sangat memahami dampak penyebarluasan agama Kristen dan dengan demikian dapat memanfaatkannya dengan lebih berhasil-guna sebagai sarana untuk menjelaskan tema utamanya. Yang kedua, tujuan utama penulis adalah untuk mengajar pembacanya tentang kepastian Injil. Kelangsungan Injil sejak dinyatakan oleh Yesus kepada muridNya hingga saat ia menulis kitab harus ditujukan dengan jelas, Karena Paulus adalah pemimpin dari misi kepada orang bukan Yahudi. Ia patut mendapatkan perhatian utama dan penjelasan tentang peralihan bangsa Yahudi kepada bangsa-bangsa lain, dari hukum taurat menjadi karunia, dan dari Palestina kedunia luar tidak harus didukung oleh suatu pengamatan yang menyeluruh terhadap semua kejadian yang berlangsung dalam rangka pertumbuhan misi gereja Kristus.

Introduksi Kisah Para Rasul

1. Penulis Kisah Para Rasul

a. Bukti Eksternal

1) Hampir semua bapa gereja menyatakan Kitab ini ditulis oleh Lukas : Kanon Muratorian, Irenaeus, Yusebius, dll.

2) Secara tradisional kepenulisan Lukas terhadap kitab ini sangat dapat dipercaya.

b. Bukti Internal

1) Semua bukti tentang kepenulisan Injil Lukas adalah bukti bahwa Lukas menulis Kisah Rasul, karena surat ini adalah sambungannya.

2) Sangat jelas bahwa Lukas menulis dua buah buku, ungkapan “Dalam bukuku yang pertama aku menulis tentang segala sesuatu yang dikerjakan atau yang diajarkan Yesus” (Kis. 1:1), menunujukan bahwa ia melanjutkan pekerjaannya melalui Roh Kudus (Band. Juga Gal. 4:4,6,. . . Allah mengutus AnakNya, . . . Allah telah menyuruh Roh AnakNya . . .”

2. Waktu Penulisan

1. Kisah Para Rasul mengakhiri catatannya dengan pemenjaraan Paulus yang pertama di Roma (+ 60 A.D).

2. Tidak menyinggung kematian Paulus dan kejatuhan Yerusalem berarti ditulis sebelum tahun 70 A.D.

3. Kira-kira ditulis antara tahun 59-61 A.D.

3. Maksud Dan Tujuan Penulisan:

Untuk menunjukan perkembangan sejarah institusi gereja local sebagai praktek Amanat Agung (Kis. 1:8). Catatan Lukas tentang pergerakan gereja juga dapat dilihat sebagai suatu apologetik bagi kekristena.

4. Alamat Pengirim Dan Tujuan

Kemungkinan besar Lukas menulis di Roma ditujukan kepada Theofilus.

5. Thema Kisah Para Rasul: “Pergi melaksanakan Amanat Agung”.

6. Karakteristik Kisah Para Rasul

  1. Kisah Rasul menekankan ‘home and foreign missions’, sebagai kunci ayat dan outline kitab ini (Kis. 1:8) : Yerusalem (1-7), Yudea dan Samaria (8), dan ujung bumi (9-28).
  2. Walaupun banyak mujizat dicatat dalam kitab ini, namun sangat jelas sifatnya menurun, atau makin jarang (begitu juga dalam sejarah gereja).

V

PEMBAHASAN TEOLOGIA KISAH PARA RASUL

1. Allah.

a. Kedaulatan Allah. Lukas menjelaskan kematian Kristus sebagai hasil dari ketetapan Allah dan kemahatahuan Allah (kis. 2:23). Ketyetapan Allah berarti “kehendak-Nya telah ditetapkan sebelumnya dan tidak fleksibel. Kedua frasa itu menekankan keteguhan dan ketidakbisaan diganggugugatnya ketetapan itu.”

b. Kedaulatan Allah juga dilihat dalam pemilihan (Kis. 13:48). Ketepatan jumlah dari orang-orang pilihan untuk hidup yang kekal.

c. Eksistensi Allah dan anugrah umum. Di Listra paulus mendeklarasikan “Allah yang hidup” kepada para pendengarnya, mengingatkan mereka bahwa Ia adalah adalah pencipta. (Kis. 14:15-18). Juga kepada orang Atena bahwa Allah telah memberi mereka kehidupan (Kis. 17:22-31).

2. Kristus

Penekanan Lukas sehubungan dengan Kristus di Kisah Para rasul ada beberapa segi: penyaliban dan kematian-Nya, serta kebangkitan-Nya.

a. Penyaliban dan kematian Kristus. Banyak pernyataan berkaitan dengan kematian Kristus merefleksikan tuduhan para rasul pada orang Yahudi dan penyaliban Kristus. Kristus telah dipaku di atas kayu salib oleh orangfasik (2:23); Kristus telah dipermalukan sampai mati, dengan penyaliban. Ia yang benar telah dibunuh. (&:52).

b. Kebangkitan Kristus. Beberapa tema berkaitan dengan kebangkitan ditekankan;

1) Kebangkitan Kristus telah dinubuatkan di Mazmur 16:8-11 dan digenapi di Mazmur 2:7 (Kis. 2:22-32; 13:33-37)

2) Kebangkitan Kristus diproklamasikan dengan kuasa yang besar (Kis. 4:2, 10, 33)

3) Allah tidak hanya membangkitkan Kristus tetapi juga meninggikan Dia pada posisi yang berotoritas (Kis. 5:31)

4) Kebangkitan Kristus juga dihadiri oleh para saksi (Kis. 10:40-41)

5) Kebangkitan Kristus menandai penghakiman masa yang akan datang (17:31)

6) Kebangkitan Kristus diproklamasikan pada orang Yahudi dan non- Yahudi untuk penggenapan dan nubuat itu (Kis. 26:23)

c. Kembalinya Kristus. Pada saat kenaikan Kristus, para m,alaikat berjanji bahwa Kristus akan datang kembali dengan cara yang sama (Kis. 1:9-11). Petrus mengumumkan zaman millennial pada waktu ia berbicara tentang “periode restorasi dari segala sesuatu” (Kis.3:21).

3. Roh Kudus

a. Keilahian-Nya . KPR 5:3-5 mencatat pernyataan utama berkaitan dengan keilahian Roh Kudus.

b. Pekerjaan-Nya. Melalui karyanya dalam pembaptisan orang percaya , Roh Kudus mendirikan gereja (1;5; 11:15-16). Roh Kudus aktif memenuhi orang percaya untuk bersaksi (!:8; 2:4; 4:31). Roh Kudus memimpin dalam pelayanan (8:26-30; 10:19; 20:23; 21:4,11).

4. Keselamatan.

a. Keselamatan melalui beriman kepada Kristus. (10:43)

b. Percaya mencakup pertobatan (20:21)

c. Keselamatan adalah melalui anugrah Allah. (Kis. 16:14; 18:27).

d. Keselamatan terlepas dari jasa bentuk apapun. (kis. 15).

5. Gereja.

Sebagaimana yang diharapkan, KPR memberikan cukup banyak materi tentang doktrin gereja karena kitab ini merupakan catatan lahir dan tumbuhnya gereja.

a. Formasi gereja. Gereja dibentuk melalui baptisan dari karya Roh Kudus.

b. Organisasi gereja. Para rasul merupakan fondasi gereja (Kis. 2:42), tetapi para penatua dipilih untuk memimpin gereja-gereja local (Kis. 14;23; 15:4). Penatua adalah pluralitas gereja. Diaken juga disebutkan dalam KPR 6

c. Fungsi-fungsi di gereja. KPR memberikan pandangan yang bernialai berkaitan dengan gereja;

1) Petunjuk adalah penting di gereja mula-mula (Kis. 2:24; 4:2 dst), yang melibatkan pengajaran dari kebenaran proporsional dan doktrin-doktrin.

2) Persekutuan yang melibatkan hal-hal materi (4:32-35; 6:1-3; 16:15, 34), perjamuan Tuhan, penderitaan.

3) Ibadah direfleksikan dalam penghormatan orang percaya kepada Tuhan. (4:23-31)

4) Pelayanan yang paling dilibatkan adalah penginjilan.

VI

PENGANTAR TEOLOGI YAKOBUS

A. Introduksi Teologi Yakobus

1. Penulis Surat Yakobus

a. Bukti Eksternal:

Bapa-bapa gereja bagian Timur (Origen, Eusebius) menunjuk kepada Yakobus sebagai penulis, walaupun pengakuan bapa-bapa gereja bagian Barat sebagai bagian dari kanon lebih belakngan.

b. Bukti Internal:

1) Penulis menyebut dirinya hamba Yesus Kristus.

2) Ini adalah Yakobus saudara Tuhan Yesus (Matius 13:55), yang tadinya tidak percaya kepada Tuhan Yesus sampai hari kebangkitannya (1 Kor. 15:7), karena Yakobus murid Tuhan Yesus telah menjadi martyr (Kis. 12:2).

3) Adanya kesamaan bahasa dalam surat yakobus dengan perkataan Yakobus di KPR 15

4) Adanya kesamaan antara surat ini dengan pengajaran Yesus.

2. Waktu Penulisan:

Diperkirakan ini adalah literature Kristen yang pertama, bahkan lebih awal dari Injil Matius. Alasannya adalah karena theology P.B.-nya masih sangat sederhana, terutama masalah ecclesiology-nya dan juga penekanannya pada hal-hal praktis yang diperlukan untuk mengendalikan jemaat baru dan membedakan mereka dari kelompok Yudaistic Gnostic (45 A.D).

3. Alamat Penulis dan yang Dituju:

Ditulis di Yerusalem dan di tunjukan kepada orang-orang Kristen Yahudi diaspora diseluruh wilayah pemerintahan Roma.

4. Tujuan Surat Yakobus:

Menguatkan iman dan memberi nasehat praktis dimasa mengahadapi pncobaan dan penganiayaan.

5. Tujuan Teologis:

Orang percaya Ibrani menghadapi pengadilan-pengadilan, penganiayaan-penganiayaan dari orang Yahudi yang tidak percaya. Oleh karena orang percaya tidak mengetahui bagaimana mengerti atau menghadapi penganiayaan, maka yakobus menulis untuk memberikan pandangan kepada mereka. Tujuannya adalah memberikan pengoreksian pada semangat kedagingan yang ada, memperlihatkan iman sebagai penawar masalah tersebut.

6. Thema Surat Yakobus: “Semakin dewasa didalam Kristus”.

7. Karakteristik Surat Yakobus:

a. Lebih dari 100 kali menunjuk kepada kitab P.L.

b. Banyak referensi untuk karakteristik P.L.

Ia menekankan manusia sempurna adalah yang tidak berdosa dengan mulutnya

VII
PEMBAHASAN TEOLOGIA YAKOBUS

1. Kitab Suci.

Sehubungan dengan kitab suci maka ada beberapa poin yang dapat dilihat dalam kitab Yakobus.

a. Ada penekanan yang kuat atas PL di kitab Yakobus. Dalam lima pasal Yakobus menunjuk pada penjelasan keduapuluh kitab PL.

b. Ada penekanan pada pengajaran Yesus. Yakobus berisi lima belas kiasan dari kotbah di Bukit (Mat. 5:22; 3:12; Mat. 7:16; 4:11; 7:1)

c. Ada penekanan atas otoritas kitab suci

d. Ada penekanan atas karya Kitab Suci

2. Allah

Pandangan Yakobus tentang Allah merefleksikan konsep dari relasi bersyarat antara orang Israel dengan Allah di bawah hukum Musa; ketaatan membawa berkat, ketidaktaatan membawa hukuman (Ul.28). jadi yakobus menyajikan orang berdosa sebagai musuh Allah; pertemanan dengan dunia akan membuat seseorang menjadi musuh Allah (4:4-5)

3. Manusia dan Dosa

Yakobus menghubungkan doktrin dan aplikasi pada waktu ia menasehati pendengarnya untuk mengontrol lidah, karena lidah manusia digunakan untuk melawan sesama manusia yang diciptakan menurut Allah. Meskipun manusia dibuat berdasarkan gambar Allah tetapi karena kejatuhan manusia ia menjadi berdosa, memiliki nature dosa seperti yang dijelaskan Yakobus sebagai hawa nafsu. (1:14). Hawa nafsu inilah yang merupakan respon dari dalam ke luar sebagai keinginan dan menghasilkan dosa (1:15). Pembahasan yakobus dalam isu ini penting, karena ia memberikan pengertian yang lebih jelas tentang bagaimana dosa itu terjadi dibandingkan dengan bagian lain kitab suci. Yakobus menunjuk pada dosa (Yunani; hamartia,”meleset dari sasaran”) enam kali, dosa berasal dari hawa nafsu yang ada di dalam diri manusia (1:15); akibat dosa adalah dalam hal rohani dan kematian yang kekal (1:15); dosa memperlihatkan kasih yang pilih-pilih dan tidak mengasihi (2:8-9); dosa gagal untuk berbuat baik (4:17); dosa dapat diampuni (5:15, 20). Yakobus juga menyebut dosa (Yunani;parabates) sebagai suatu pelanggaran pada standar Allah (2:9,11).

4. Keselamatan

Yakobus berbicara banyak tentang iman. Iman adalah cara manusia untuk dapat mendekati Allah (1:6; 5:15); iman harus dalam Yesus (2:1); dan perbuatan manusia akan mendemostrasikan realitas dari iman (2:18). Perbedaan antara Paulus dan Yakobus adalah bukan iman versus perbuatan, melainkan perbedaan dari relasi. Yakobus menekankan perbuatan dari orang percaya dalam relasi dengan iman dan Paulus perbuatan Kristus dalam relasi dengan iman.

VIII

PENGANTAR TEOLOGI IBRANI

A. Introduksi Kitab Ibrani

Kitab Ibrani merupakan salah satu surat yang cukup istimewa dalam kanon PB. Oleh sebab itu pertanyaan-pertanyaan pendahuluan berkaitan dengan pembaca, waktu dan tujuan penulisan memiliki kepentingan yang khusus dalam membahas teologi Ibrani. Pandangan yang diambil berkaitan dengan isu-isu ini akan menentukan penafsiran dari teologi Ibrani.

1. Penulis Ibrani

a. Bukti Eksternal:

1) Eusebius mengatakan bahwa, “Siapapun yang menulis surat ini, Allah tahu ini adalah kebenarn.” (mis. Bawa Paulus yang menulisnya.)

2) Bapa-bapa gereja Timur, secara tradisional dan mereka konservatif, menerima kepenulisan Paulus terhadap surat Ibrani (Clement dari Alexandria, Origen).

3) Bapa-bapa gereja Barat menolak kepenulisan Paulus terhadap surat Ibrani (Hippolytus dan Irenaeus).

b. Bukti Internal:

1) Ini adalah salah satu buku dalam Perjanjian Baru yang tidak menyebutkan nama penulisnya, namun bukti internalnya bisa menolong.

2) Penulisnya adalah seorang jenius dalam hal intelektual dan rohani dari abad I yang sangat dikenal oleh penerima surat.

3) Penulisnya adalah seseorang yang sangat faham tentang perbedaan doktrin kekristenan dan segala perkembangannya atas Yudaisme.

4) Layak dipertanyakan bila ada yang menolak kepenulisan Paulus, yaitu apakah ada sesuatu yang bertentangan kalau Paulus menulisnya.

c. Penulis alternatif: Apollos, Barnabas, Lukas, Priskilla, Sillas dsb.

d. Argumentasi yang dikemukakan untuk menentang kepenulisan Paulus:

1) Tidak ada namanya dan dalam 2 Tes. 3:17, Paulus mengatakan ia adalah rasul untuk orang non-Yahudi, sehingga membuat janji-janji itu untuk jemaat-jemaat non-Yahudi;--Ia tidak mendasarkan argumentasinya untuk menjelaskan Yudaisme dengan kekristenan di atas otoritas kerasulannya, tetapi di atas otoritas Perjanjian Lama.

2) Style tulisan dan vocabulary ada banyak yang tidak ada dalam surat Paulus Argumentasi ini sangat lemah mengingat isi surat khusus mengandung banyak istilah P.L. yang tentu tidak dipakai kalau menulis surat kepada orang non-Yahudi.

3) Penulis adalah generasi pertama diantara orang-orang percaya (2:3) – bagian ini generasi pertama, bukan diterima oleh mereka; Wahyu hanya dapat dikuatkan oleh wahyu.

4) Perbedaan doctrinal – perbedaan audience membuat perbedaan subyek dan sekaligus perbedaan penkanan theological.

5) Cronology situasi – ini mungkin ditulis pada permulaan pemenjaraan Paulus kedua di Roma ketika Paulus masih optimis untuk mengunjungi penerima surat (13:23).

e. Petrus menunjukan bahwa Paulus menulis sebuah surat kepada orang Yahudi yang sulit dipahami (2 Petrus 3:15,16 band. 1 Pet. 1:1). Tidak ada bukti internal yang menyisihkan Paulus sebagai penulis; pada kenyataannya, ada banyak bukti yang menerima Paulus sebagai penulis sama dengan menerima Matius sebagai penulis Injil Matius. Tak seorangpun dapat membuktikan bahwa Paulus bukan penulis.

2. Waktu Penulisan

Jika Paulus diakui sebagai penulis, maka waktu penulisannya sekitar tahun 64-67 A.D.; dan pengungkapan aktivitas penyembahan di Bait Suci ia memakai presernt tense (masih berlangsung) berarti sebelum tahun 70 A.D., karena tahun 70 A.D. bait Suci dihancurkan.

3. Alamat Penulis dan yang Dituju: Paulus menulis dari Italia untuk sekelompok orang Yahudi

4. Tujuan Penulisan

Menunjukan keutamaan Kristus atas semua system P.L. dan menunjukan bahwa orang yang mengundurkan diri tidak memiliki keyakinan iman.

5. Maksud Teologis

Maksud teologis dari kitab ini adalah untuk mendemostrasikan superioritas dari Kristus dan kekristenan terhadap Yudaisme. Orang Kristen Ibrani ini menderita dan putus asa, dan Paulus membicarakan keadaan ini serta mendorong mereka menuju kedewasaan.

6. Thema Surat Ibrani: “Yakin di dalam Kristus”

7. Karakteristik Surat Ibrani

a. Orang benar akan hidup oleh iman sangat ditekankan disini (11), dan statement demikian cocok dengan Paulus (Roma 1:17)

  1. Banyak berisikan peringatan
  2. Paling kurang ada 13 kali ajakan yang berbunyi ‘baiklah kita’/ ‘marilah kita’ (12:2).


VIII

PEMBAHASAN TEOLOGIA IBRANI

1. Teologi tentang Allah

Penulis Ibrani menekankan baik Pribadi dari Allah yang mulia dan cara Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia.

a. Pribadi-Nya.

1) Penulis menggambarkan Bapa sebagai yang ditinggikan di surga, bertakhta di tempat yang tinggi (1:3). Frasa itu adalah suatu sebutan bagi Allah yang dinyatakam di Mazmur 110:1. Gambaran yang sama ditulis di 8:1 dimana istilah “yang mulia” kembali digunakan. Karena kitab ini ditulis bagi orang Yahudi, tidak diragukan hal itu menunjuk pada “kemuliaan yang bertakhta di Kursi Kemurahan di Tempat Yang Mahakudus.”

2) Penulis juga membahas bagaimana menghampiri Allah dengan menunjuk pada Takhta-Nya.

3) Orang percaya Yahudi diingatkan bahwa Allah mereka adalah Allah yang hidup, berbeda dengan ilah-ilah yang mati. Penulis mendorong mereka untuk tidak kembali ke system yang mati tetapi melayani Allah yang hidup. (Ibr. 9:14; 10:31; 12:22).

4) Penggunaan api sebagai figure Allah melambangkan penghakiman Allan (12:19). Hal ini berhubungan dengan tema Ibrani dalam memperingatkan mereka untuk tidak meninggalkan Allah yang hidup.

5) Kitab ini ditutup dengan menyebut Allah sebagai damai (13:20). Ia dapat memberikan damai kepada orang Yahudi di tengah penganiayaan.

b. Wahyu-Nya

1) Pernyataan tentang wahyu Allah adalah melalui putra-Nya (1:1-2). Di PL Allah berbicara setahap demi setahap dan dengan berbagai cara, tetapi klimaks dari wahyu-Nya adalah dalam Pribadi Putra-Nya.

2) Sebagai saksi dari wahyu di dalam Kristus, Allah mempertunjukkan mujijat-mujijat melalui tangan-tangan para saksi-Nya, para rasul, yang menyaksikan keselamatan akbar di dalam Kristus (2:4).

3) Kebesaran anugrah Allah terlihat, karena melaluinya, Kristus mati bagi semua orang.

2. Teologia tentang Kristus

Kristologi terlihat jelas merupakan tema utama Ibrani. Dalam perkembangan kitab ini, penulis memperlihatkan superioritas Kristus terhadap nabi (1:1-3), malaikat (1:4-2:18), Musa (3:1-4:13), dan Harun (4:14-10:39). Penekanan Kristologis adalah penting pada saat mempertimbangkan siapa pembacanya. Dan penulis Ibrani memperlihatkan berbagai segi dari Kristus untuk mendemontrasikan keunggulan-Nya.

a. Sebutan. Sebutan Kristus (Yang Diurapi) digunakan di seluruh surat-surat (3:6,14; 5:5; 6:1; 9:11, 11, 14, 24, 28; 11:26). Hal itu merupakan suatu peringatan bahwa Yang Diurapi, Mesias sebagai seorang Raja, telah datang.

b. Nama kemanusiaan-Nya, Yesus, menekankan bahwa dalam kemanusiaan-Nya sebagai imam besar manusia, ia telah mencapai apa yang tidak dapat dilakukan oleh garis imam besar Lewi.

c. Istilah Putra digunakan untuk menekankan relasi yang lebih besar yang dimiliki Yesus dengan Bapa (1:2,5,8: 3:6; 5:5, 8;7:28).

d. Kristus juga ditunjuk sebagai Imam Besar yang permanen, yang telah menjadi korban pendamaian bagi dosa (2:17)

e. Keilahian. Keilahian Yesus diteguhkan melalui nama yang diberikan kepada-Nya. (1:8-10). Melalui nature intrinsic-Nya dan keberadaan-Nya sebagai “cahaya dari kemulian-Nya.” Juga melalui karya-Nya. Ia merupakan pencipta masa, penerima dari segala yang ada (1:2) dan pemelihara.

f. Manusia tak berdosa. Penulis Ibrani menekankan kesejatian, ketidakbercelaan dari kemanusiaan Yesus, sehingga Ia dapat menjadi korban yang sempurna bagi dosa.

g. Keimaman. Kristus adalah paling tinggi karena Ia adalah imam menurut aturan Melkisedek, tidak menurut keimaman Harun. Keimaman Kristus yang menurut Melkisedek adalah superior.

3. Teologia tentang Roh Kudus

Meskipun doktrin Roh Kudus tidak dibahas secara panjang lebar, namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam kitab Ibrani.

a. Tanda karunia diperlihatkan melalui kedaulatan kehendak Roh Kudus (2:4)

b. Roh Kudus merupakan penulis dari kitab suci (3:7; 9:8; 10:5)

c. Keselamatan menjadikan seseorang mendapatkan bagian dalam Roh Kudus (6:4)

d. Menolak keselamatan melalui Kristus adalah melawan Roh Kudus (10:29).

4. Teologia tentang Dosa

Doktrin dosa dalam Ibrani merupakan hal yang paling fundamental, karena tema Ibrani adalah peringatan bagi orang Ibrani Kristen untuk tidak berbalik kembali kepada Yudaisme. Oleh karena itu berarti berdosa kepada Kristus.

5. Teologia tentang Keselamatan

Dalam mengkontraskan Kristus dengan malaikat, penulis menjelaskan bahwa fungsi dari malaikat adalah untuk menjadi penolong bagi mereka yang telah mewarisi keselamatan. Ibrani juga menegaskan bahwa Keselamtan Kristus merupakan puncak dari semua. Implikasi Kristus jauh lebih utama dari persembahan korban PL.

Provisi superioritas Kristus dalam keselamatan terlihat dalam Ia mengalami kematian bagi semua orang (2:9), dan melalui kematian-Nya Ia membawa “banyak anak-anak pada kemuliaan” (2:10). Fakta bahwa keselamatan dari Yesus dapat membawa banyak anak pada kemuliaan menekankan finalitas dan jaminan hal itu. Penulis kemudian menekankan ketaatan dan ketundukan penuh dari Kristus pada kehendak Bapa; melalui ketaatan yang sempurna Kristus telah menjadi sumber keselamatan yang kekal (5:9). Orang percaya Ibrani butuh untuk mengetahui kebenaran-kebenaran yang signifikan ini, tetapi mereka bodoh dan perlu diajar doktrin-doktrin dasar iman.

IX

PENGANTAR TEOLOGI PAULUS

A. Introduksi Teologi Paulus

1. Latar Belakang dan Pelatihan

Paulus lahir sekitar 3 AD dari keluarga terpandang. Ia berkewarganegaraan Romawi (Kis. 22:28) dan berdomisili di kota Tarsus. Paulus dibesarkan dalam keluarga Yahudi yang ketat, disunat pada hari kedelapan, dan dari suku Benyamin (Flp.3:5). Paulus kemudian dilatih di Yerusalem di bawah gamaliel, seorang Farisi dan anggota terhormat dari Sanhedrin (Kis.5:34). Gamaliel adalah satu-satunya dari tujuh sarjana dalam sejarah bangsanya yang menerima sebutan “Raban” (tuan kami). Gamaliel adalah cucu Hillel, pendiri sekolah penafsiran yang memakai namanya. Paulus sendiri menjadi Farisi, pengikut ketat pada hukum tradisi Yahudi. Oleh karena ketaatan yang ketat pada Yudaisme dan tradisi penatua menyebabkan dia menganiaya gereja.

2. Garis Besar Perjalanan dan Pelayanan

Setelah pertobatannya pada akhir tahun 33 atau awal 34 AD, Paulus menghabiskan beberapa bulan di Damaskus (Kis.9:23; Gal.1:17); pada waktu lawannya berusaha untuk membunuhnya ia berusaha kembali ke Yerusalem (Kis.9:26). Tidak lama setelah itu, ia pergi ke kampung halamanya di Tarsus (kis.9:30). Ia menghabiskan 3 tahun di Arabia, bisa jadi dalam suatu bentuk pelayanan yang ia mulai langsung setelah pertobatannya. Setelah itu ia kembali ke Yerusalem (kis.11:30; 12:25; Gal.2:1-21). Disitulah gereja mengkhususkan Paulus dan Barnabas untuk melakukan perjalanan misi yang pertama. Selama perjalanan itu mereka mengabarkan Injil di Asia Kecil dan pulau Siprus. Pada waktu orang Yahudi menolak Injil, di Asia Kecil inilah Paulus memulai pelayanannya kepada orang non-Yahudi. Pola khas dari pelayanan Paulus adalah sebagai berikut:”diawali dengan pemberitaan kepada orang yahudi dan non-Yahudi pengikut Yudaisme, baik yang porselit sepenuhnya atau yang asosiasinya lebih bebas, kemudian setelah ditolak oleh para pendengar di sinagoge, maka dilanjutkan secara pelayanan secara langsung kepada orang non-Yahudi.” Sidang di Yerusalem terjadi pada tahun 49 AD (Kis.15) dan menyelesaikan suatu keputusan untuk isu yang penting, dimana keputusan itu memungkinkan Paulus dan yang lain untuk terus memberitakan Injil pada orang non-yahudi tanpa harus menyahudikan mereka; orang non-Yahudi tidak dituntut untuk disunat. Keputusan itu penting untuk menjaga kemurnian Injil dan memisahkan hukum dan anugrah. Perjalanan misi yang kedua (49-52 AD, Kis.15:36-18:22) dilakukan oleh Paulus dan Silas melintasi Asia Kecil, dimana mereka kembali mengunjungi gereja-gereja, dan kemudian melanjutkan ke Eropa (Kis.16:11 dst). Perjalanan misi ketiga (53-57 AD; Kis.18:23-21:16) dilakukan Paulus ke efesus, dimana ia menghabiskan waktu hampir 3 tahun, dan kemudian dilanjutkan ke Makedonia dan Akhaya. Ia di tahan di Yerusalem dalam perjalanan kembali dan di penjarakan di Kaisarea (58 AD; Kis.24:1-26:32). Paulus mengajukan banding ke Kaisar dan ia menghabiskan waktu dua tahun di penjara. Paulus dibebaskan dari pemenjaraan pertma di Roma, kemudian dia melayani dari tahun 63-66, kemungkinan ia melakukan perjalanan sejauh Spanyol, dan kembali ditahan dan diekskusi di Roma pada tahun 67 AD (2Tim.4:6-8).

KRONOLOGI KEHIDUPAN PAULUS

Tanggal: AD

Peristiwa

3(?)

Kelahiran Paulus

18-30

Pelatihan di Yerusalem

33/34

Pertobatan

34-36

Di Arab

46

Di Yerusalem

46-48

Perjalanan Misi yang Pertama: Asia Kecil

48-49

Sidang Yerusalem

49-52

Perjalanan Misi yang Kedua: Asia Kecil dan Eropa

53-57

Perjalanan Misi yang Ketiga: Asia Kecil dan Eropa

58-60

Pemenjaraan di Kaisarea

60-61

Perjalanan ke Roma

61-63

Pemenjaraan di Roma

63-66

Pelayanan sampai ke Spanyol

66-67

Pemenjaraan di Roma dan ekskusi

SURAT-SURAT PAULUS

Ciri

Nama

Tgl.: AD

Asal

Teologi

Umum

Galatia

1 Tesalonika

2 Tesalonika

1 Korintus

2 Korintus

Roma

48

50

50

55

55

57

Antiokhia/Siria

Korintus

Korintus

Efesus

Makedonia

Korintus

Soteriologi

Dan

Eskatologi

Penjara

Efesus

Filipi

Kolose

Filemon

62

63

62

62

Roma

Roma

Roma

Roma

Kristologi

Pastoral

1 Timotius

Titus

2 Timotius

63

63

67

Makedonia

Korintus

Roma

Ekklesiologi

X

PEMBAHASAN TEOLOGIA PAULUS

1. Teologia Paulus tentang Allah

a. Wahyu tentang Allah.

Teologi Paulus merepresentasikan sebuah gambaran yang tinggi berkaitan dengan Allah. Paulus memgambarkan Allah sebagai yang berdaulat, dan yang menyatakan diriNya sendiri melalui anugrah di dalam Yesus Kristus (Rm. 1:16-17; 3:21; 1 Kor. 2:10; 2 Kor. 12:7). Di mana melalui anugrah itu, tujuan Allah dari sejak kekekalan telam dinyatakan dalam waktu pada saat sekarang.

b. Allah telah menyatakan diriNya sendiri melalui penghakiman atas orang tidak percaya (Rm. 1:18; 2:5; 2Tes.1:7).

Murka (orge) mengekspresikan, “kedalaman murka Allah terhadap dosa. Kemarahan ini berasal dari kekudusan dan kebenaran-Nya. Karena kekudusan-Nya, maka Allah tidak dapat mengabaikan dosa.”

c. Pernyataan Diri Allah dalam berkatNya.

Allah menyatakan Dirinya sendiri dalam berkat-berkatNya yang mulia kepada orang percaya (Rm. 8:18-19; 1Kor. 1:7; 3:13; 4:5; 2 Kor.5:10).

d. Kedaulatan.

Konsep kedaulatan Allah mendominasi penulisan Paulus. Ia memberikan sejumlah istilah untuk menekankan konsep ini. (1) Predestinasi (Yunani; proorizo) berarti “menandai dengan batasan sebelumnya”. Predestinasi digunakan 6 kali dalam PB, dan 5 kali muncul dalam tulisan Paulus. (2) Kemahatahuan (Yunani; proginosko) berarti “mengetahui sebelumnya, mengambil catatan dari, menetapkan atas dasar” (Rm.8:29; 11:2). Kemahatahuan “menekankan bukan hanya pengetahuan sebelumnya tetapi suatu relasi aktif antara yang mengetahu sebelumnya dengan yang diketahui sebelumnya” (3) Pilihan (Yunani:ekklegomai) berarti “dipanggil keluar” (Ef.1:4; 1 Tes.1:4). Berkat-berkat Efesus 1:3 disadari oleh orang percaya karena Allah memilih orang percaya dari sejak kekekalan. (Ef. 1:4). Pilihan Allah menekankan pada Ia memilih orang percaya bagi Dirinya sendiri. (4) Adopsi. (Yunani: huiothesia) berarti “menjadikan anak” (Ef.1:5), kata ini menekankan upacara Romawi agi sdeorang anak yang telah diadopsi kepada status dewasa dengan segala hak yang berkaitan dengan itu. Adopsi adalah hasil predestinasi Allah pada orang percaya sejak kekekalan. (5) Dipanggil (Yunani; kletos) menunjuk pada panggilan Allah yang efektif untuk keselamatan (Rom.1:1,7;8:28). Ini merupakan panggilan Allah yang memampukan seseorang untuk percaya. Istilah ini berhubungan dengan pilihan yang tidak bersyarat (Allah memilih kita tanpa berdasarkan jasa kita). (6) Tujuan (Yunani; Protithemi) berarti “menempatkan sebelum” dan mengusulkan tujuan Allah dalam diriNya sendiri untuk meringkaskan semua dalam Kristus (Ef. 1:9-10). (7) Kehendak (Yunani: boule) menunjuk pada hikmat kedaulatan Allah pada waktu Ia bertindak berdasarkan kedaulatan dalam hal menjamin keselamatan orang percaya, tetapi juga tentang pekerjaan Allah dalam segala sesuatu, yaitu di mana semua sejarah berjalan sesuai kehendak Allah yang berdaulat.

Konklusi penting berkaitan dengan pengajaran Paulus tentang kedaulatan harus dicermati: (1) Sumber utama dari predestinasi adalah kemutlakan kedaulatan Allah. (2) Tujuan predestinasi adalah keselamtan, dan isunya adalah pelayanan. (3) Predestinasi tidak mengesampingkan tanggungjawab manusia.

2. Teologi Paulus tentang Kristus

a. Kemanusiaan.

Paulus bukan hanya memberikan pernyataan-pernyataan yang paling kuat tentang keilahian Kristus, ia juga menekankan isu tentang kemanusiaan Kristus. Krsitus dilahirkan dari seorang peremapuan (Gal. 4:4). Ia memiliki kemanusiaan dari ibu duniawiNya dan memiliki keturunan fisik dari Daud. (Rm. 1:3; 2Tim.2:8). Kristus juga sama sekali tidak berdosa (2Kor.5:21)

b. Keilahian

Suatu teologia yang telah berkembang penuh tentang keilahian Kristus dapat ditemukan dalam tulisan-tulisan Paulus. Penekanan paulus bahwa Kristus adalah “dari surga” (1Kor.15:47; 2 Kor.8:9) mengusulkan praeksistensi-Nya dan kekekalan-Nya. Paulus menyatakan bahwa kepenuhan keilahian ada pada Kristus (Kol. 2:9) Keilahian (Yunani;theotes) “menekankan natur keilahian atau esensi…Ia dulu dan seterusnya adalah Allah yang mutlak dan sempurna”. Kristus eksis dalam rupa Allah (Yunani;morphe) mengusulkan warisan karakter atau substansi esensial dari pribadi itu. Kristus dalam nature esensial eksis sebagai Allah.

c. Ketuhanan

Yesus disebut Tuhan adalah suatu studi yang penting karena sebutan Tuhan muncul paling sedikit 144 tambah 95 kali lagi dalam hubungan dengan nama Yesus Kristus.

(1) Tuhan menunjuk pada keilahian-Nya (rm. 10:9; 1Kor. 12:3; Flp.2:9).

(2) Tuhan menunjuk pada kuasa (Flp. 2:9). Ketuhanan diberikan kepada Kristus “ yang sekarang setara dengan Allah dimanifestasikan secara khusus dalam fakta bahwa semua kuasa yang tidak kelihatan dari ciptaan tunduk kepada-Nya”

(3) Tuhan menunjuk pada kedaulatan (2Kor.4:5; Rm.14:5-9)

(4) Tuhan menunjuk pada kerajaan Yesus dan pemerintahan-Nya (1Tim. 6:15; 1Kor.15:25).

3. Teologia Paulus tentang Roh Kudus

Teologi Paulus memberikan pembahasan yang panajng lebar, baik tentang Pribadi maupun karya Roh Kudus.

a. Pribadinya. Atribut-atribut Pribadi Roh Kudus berikut ini dibahas dalam surat-surat Paulus.

(1) Intelek. Roh Kudus menyelidiki hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah (1Kor.2:10) dan kemudian mengajarkannya kepada orang percaya (1Kor.2:13).

(2) Kehendak. Roh Kudus memiliki kehendak dimana di dalamnya ia mendistribusikan pemberian-pemberian “sesuai dengan kehendak-Nya” (1Kor.12:11). Roh Kudus memberi bukan berdasarkan kehendak manusia, tetapi berdasarkan kehendaknya sendiri.

(3) Emosi. Roh Kudus dapat didukakan (Ef. 4:30)

(4) Keilahian-Nya. Keilahian Roh Kudus terbukti dalam Ia menjadi pengantara seperti Kristus (Rm. 8:26-27,34) dan ia mendiami orang percaya bersama dengan Bapa dan Putra (Rm. 8:9-11).

b. Kuasanya. Tulisan Paulus juga meneguhkan banyak karya penting yang dilakukan Roh Kudus sebagai salah satu anggota pentang Tritunggal.

(1) Ia meregenerasikan. Roh Kudus membawa hidup baru kepada orang percaya (Tit. 3:5).

(2) Ia membaptis. Roh Kudus mempersatukan orang percaya dengan Tuhan mereka dengan menempatkan mereka ke dalam Tubuh Kristus (1Kor. 12:13).

(3) Ia mendiami. Roh Kudus mendiami setiap orang percaya.

(4) Ia memeteraikan. Roh Kudus memberi tanda identitas Allah dan kepemilikan atas orang percaya; ia adalah materai itu sendiri dan memverifikasi keselamatan mereka (Ef.1:13; 4:30).

(5) Ia memberikan karunia.

(6) Ia memenuhi. Roh Kudus mengontrol oranmg percaya pada waktu kondisi mereka dipenuhi. (Ef. 5:18)

(7) Ia memberi kuasa. Roh Kudus memampukan orang percaya untuk hidup berdasarkan kuasa-Nya (Gal.5:16).

4. Teologia Paulus tentang Dosa

Paulus menggunakan sejumlah kata-kata Yunani yang berbeda untuk menjelaskan nature dosa.

a. Hamartia adalah kata umum yang digunakan untuk menjelaskan tindakan berdosa (Rm. 4:7; 11:27). Hamartia mengaitkan kematian Kristus dengan dosa manusia (1Kor.15:3). Dalam bentuk jamak, kata itu menunjuk pada akumulasi dosa (Gal.1:4), sedangkan dalam bentuk tunggal kata itu menunjuk pada kleadaan berdosa (Rm.3:9,20; 5:20; 6:16,23).

b. Paraptoma menunjuk pada langkah yang salah, dikontraskan dengan yang benar (Rm.4:25, Gal.6:1; Ef.2:1).

c. Parabasis berarti melangkah keluar, suatu penyimpangan dari iman yang benar (Rm. 2:23; 4:15; Gal. 3:19).

d. Anomia berarti tanpa hukum atau pelanggaran (2Kor..6:14; 2Tes.2:3)

Dosa adalah sebuah hutang, mengusulkan obligasi manusia dan ketidakmampuan manusia untuk membayar hutang itu. (Ef.1:7, Kol.1:14). Hal itu merupakan bentuk penyimpangan dari jalan yang lurus. Dosa tanpa hukum dan menjadi pemberontakan (Rm. 11:30; Ef.2:2; 5:6; Kol. 3:6), yang menyangkut tindakan eksternal maupun internal.

1. Teologia Paulus tentang Keselamatan

Paulus memberikan beberapa tema-tema besar sampai pada pengembangan yang penuh. Doktrin Paulus tentang soteriologi berpusat pada anugrah Allah; Allah yang berinisiatif dalam menyelamatkan manusia berdasarkan anugrah-Nya semata-mata. Karya penebusan Kristus memuaskan keadilan Allah dan membebaskan manusia dari ikatan dosa dan menyatakan pembenaran yang legal bagi orang percaya.

a. Pengampunan. Pada waktu Allah mengampuni pelanggaran-pelanggaran kita, Ia melakukan-Nya berdasarkan anugrah-Nya (Kol. 2;13). Diampuni (Yunani; charizomai) berarti “menganugrahkan berdasarkan kemurahan, memberikan dengan murah hati, mengampuni berdasarkan anugrah”. Kata itu erat kaitannya dengan kata anugrah. Kata lain dari paulus untuk pengampunan (yunani; aphesis) memiliki suatu arti dasar “membebaskan” atau “menyuruh pergi” tetapi secara teologis berarti “mengampuni” atau “membatalkan suatu obligasi atau hukuman” (Ef. 1:7; Kol.1:14). Anugrah Allah mencapai puncaknya dalam teologi Paulus pada waktu ia meninggikan kemuliannya, dimana Allah dengan murah hati telah membatalkan hutang dosa yang tidak dapat dibayar oleh manusia.

b. Penebusan. Kata penebusan (Yunani: apulotrosis0 adalah istilah yang secara khusus dipakai oleh Paulus; kata ini digunakan 10 kali dalam PB, tujuh diantaranya ada dalam tulisan Paulus. Penebusan berarti membebaskan dengan cara pembayaran dengan suatu harga tertentu.

c. Pendamaian. Kata pendamaian muncul hanya empat kali dalam PB. Kata ini (Yunani: hilasterion) berarti mengalihkan, memindahkan atau mendamaikan. Hal ini mengindikasikan bahwa Kristus sepenuhnya memenuhi dan memuaskan tuntutan dari kebenaran dan kekudusan Allah. Melalui penumpahan darah Kristus, kekudusan Allah telah dipuaskan dan murka Allah telah dialihkan.

d. Justifikasi. Justifikasi secara khusus merupakan istilah Paulus. Kata kerjanya digunakan empat puluh kali di PB, tetapi Paulus menggunakan kata itu dua puluh sembilan kali. Justifikasi mertupakan tindakan legal, dimana Allah menyatakan bahwa orang berdosa yang percaya dibenarkan berdasarkan darah Kristus. Arti dasar dari justifikasi adalah “mendeklarasikan benar”. Beberapa hal lain dapat dipelajari tentang penggunaan justifikasi oleh Paulus;

(1) justifikasi merupakan pemberian anugrah Allah (Rm.3:24)

(2) hal itu dapat terjadi melaui iman (Rm.5:1; Gal.3:24)

(3) hal itu dimungkinkan melaui darah Kristus (Rm. 5:9)

(4) dan hal itu terpisah dari hukum Taurat (Rm. 3:20; Gal. 2:16; 3:11).


5. Teologia Paulus tentang Gereja

a. Defenisi

Kata gereja (Yunani; ekklesia) berari “memanggil keluar dari suatu kelompok.” Kata ini seringkali digunakan dalam pengertian teknis bagi orang percaya yang Allah panggil keluar dari dunia dan menjadi suatu kelompok khusus dari miliknya. Namun demikian, kata itu sewaktu-waktu digunakan dalam pengertian non teknis untuk menunjuk, misalnya, suatu kelompok (diterjemahkan “jemaat”), seperti di KPR 19:32. gereja digunakan dalam dua cara utama di PB,. Gereja universal dan gereja local. Paulus menggunakan istilah ini menunjuk pada tubuh Kristus, mak yang dimaksud adalah pengertian universal. Gereja menunjuk pada gereja local, yang dimaksudkan adalah suatu jemaat orang percaya tertentu dalam suatu lokasi dan suatu waktu tertentu.

b. Penjelasan

Paulus menetapkan gereja sebagai suatu organisasi yang terdiri dari “struktur kompleks tubuh Kristus yang menjalankan aktivitas sehari-hari, hal itu dijalankan oleh masing-masing orang percaya, yang memiliki fungsi masing-masing tetapi saling bergantung dan diatur melalui relasi mereka dengan Kristus, sebagai Kepala gereja”

c. Organisasi

Gereja adalah organisasi yang hidup, namun gereja juga adalah suatu organisasi, yang melibatkan jabatan-jabatan dan fungsi. Ada beberapa jabatan yang ditunjuk dalam PB. Jabatan penatua (Yunani; presbuteros) yang menekankan kedewasaan dan kewibawaan dan biasanya menunjuk pada pribadi yang sudah lanjut usia. Penatua ditunjuk sebagai pemimpin gereja-gereja local (! Tim. 5:17; Tit. 1:5). Istilak penilik (Yunani; episkopos) menunjuk pada pekerjaan pengembalaan yang dilakukan oleh penatua (1Tim.3;1). Istilah itu pada dasarnya memiliki arti yang sama, namun demikian penatua lebih menekankan pada jabatan sedangkan penilik kepada fungsi. Dan kedua istilah identik dengan gembala. Jabatan lain di gereja adalah diaken (Yunani; diakonos), yang artinya”pelayan”, dimana mereka juga terlibat pelayanan rohani, yang berada di bawah otoritas penatua. Kemudian jabatan lain yang disinggung sedikit dalam surat Paulus adalah penginjil dan guru.

d. Ordinansi

Meskipun topik baptisan merupakan hal utama dalam PB, namun hal itu bukan penekanan yang utama dalam teologi Paulus. Kata kerkja baptizo digunakan sebanyak delapan puluh kali dalam PB, tetapi Paulus hanya menggunakannya sebanayk enam belas kali dan hanya sebelas diantaranya menunjuk pada baptisan air. Sementara mengenai perjamuan, Paulus memberikan penjelasan yang rinci tentang Perjamuan Tuhan (1Kor. 11:23-34), dimana dia secara langsung menerima wahyu dari Tuhan. Paulus menyatakan bahwa Perjamuan Tuhan sebagai suatau peringatan dan mengutuk orang yang melakukannya secara sembarangan (1Kor.11:25).

6. Teologia Paulus tentang Hal-Hal Terakhir

a. Berkaitan dengan Gereja.

Sejak Paulus menyediakan pengajaran baru yang signifikan tentang nature gereja, maka adalah tepat jika paulus memberikan pengajaran tentang konsumasi dari gereja, yaitu penjabaran tentang masa depan gereja. Paulus menunjuik pada penerjemahan gereja, dimana sebagian orang percaya yang masih hidup tidak akan mati, tetapi ditransformasikan lebih cepat dari sekejab mata (1Kor. 15:51-57). Paulus juga menjelaskan tentang rapture, kebangkitan, tubuh kebangkitan, dan kursi pengadilan Kristus.

b. Berkaitan dengan Israel

Paulus membahas tentang pemilihan Israel di Roma 9-11, menangisi penolakan Israel terhadap Mesias. Israel telah menerima hak besar tetapi mereka telah menolaknya, oleh karena kedaulatan Allah dalam memilih Israel, Ia tidak akan gagal dalam tujuan-Nya bagi bangsa Itu. Fakta bahwa Allah tidak akan meninggalkan umatnya adalah terbukti dengan fakta bahwa ada sisa orang Yahudi yang percaya, dimana salah satunya adalah Paulus.. namun demikian, pada waktu Israel dibutakan, itu adalah sementara. Paulus memperlihatkan masa depan pada waktu kebutaan Israel akan diangkat dan semua Israel akan diselamatkan (Rm. 11:1,5).

c. Berkaitan dengan dunia

Pada saat Paulus berbicara tentang pengharapan masa yang akan datang bagi gereja dan pertobatan Israel di masa yang akan datang, ia berbicara secara panjang lebar tentang penghakiman Allah di masa yang akan datang atas dunia yang tidak percaya. Paulus menggunakan istilah murka (Yunani;orge) untuk menjabarkan penghakiman Allah yang akan turun atas dunia. Ia menggunakan istilah ini sebanyak dua puluh satu kali di tulisannya dan lima belas kali dalam bagian lain PB. Paulus sering menggunakan kata ini untuk menjabarkan suatu masa depan “hari kemurkaan.” Ia juga mengidentifikasikan periode tersebut sebagai waktu dari manusia “murtad” dan juga “anak kehancuran”, yang akan muncul dan menninggikan dirinya sendiri sebagai Allah, yaitu antikristus. Akan tetapi ia akan dihancurkan pada saat kedatangan Kristus.

XI

PENGARANG TEOLOGI PETRUS DAN YUDAS

Studi teologi biblika ini akan difokuskan pada pengajaran doctrinal oleh Petrus dari kedua suratnya dan kotbahnya di Kisah Para Rasul.

A. Introduksi I Petrus

1. Penulis I Petrus

a. Bukti Eksternal:Polycarpus, Irenaeus, dan Tertullianus mengakui Petrus sebagai penulis, bahkan Eusebius menambahkan kata yang tak terbantahkan.

b. Bukti Internal:Penulis menyebut dirinya Petrus (1:1) dan saksi mata penderitaan Kristus (5:1).

2. Waktu Penulisan I Petrus:

Bentuk penganiayaan yang ditunjukan dalam 1 Petrus adalah penganiayaan sebelum Nero (+ 62 A.D.)

3. Alamat Pengirim dan yang Dituju:

Petrus menulis dari Babilon (5:13), ada yang mengira bahwa yang dimaksud Babilon adalah (Roma), karena belum ada jemaat lokal didirikan di Babolin, dan ditujukan kepada orang Kristen Yahudi diaspora di Asia Kecil. Ada kemungkinan Markus bersamanya di Roma pada waktu itu.

4. Tujuan Pertama Petrus:

Mendorong orang percaya ditengah penganiayaan political dan sosial. Petrus mengistilahkan penderitaan mereka sebagai “nyala api siksaan” (4:12). Tesis surat ini adalah nasihat dan dorongan dan dinyatakan di 5:12—orang percaya harus tetap teguh dalam anugrah Allah di tengah penderitaan mereka.

5. Thema I Petrus: “Pengharapan didalam Kristus”

6. Karakteristik I Petrus:

a. Petrus menggunakan istilah ‘penganiayaan’ 16 kali.

b. sekurangnya ada 34 kali bentuk imperative (perintah) dalam surat ini.

c. Hanya ada dalam surat ini bahwa Kristus tinggal dalam nabi-nabi P.L yang umumnya dikenal dengan Roh Allah atau Roh Kristus (1:11) (setidaknya ini bersifat temporer) dan ia berbicara melalui Nuh kepada orang-orang berdosa pada zaman ante-diluivian (1:11;3:18).

B. Introduksi II Petrus

1. Penulis

a. Bukti Eksternal:Diterima setelah agak kemudian oleh Jerome, Athanasius, Augustinus, dsb.dan oleh Konsili Kartago sebagai bagian dari Kanon P.B.

b. Bukti Internal:Penulisnya adalah Simon (1:1) band. Mat. 16:17); 1:1 dan 3:1 menunjukan ini adalah surat Petrus kedua yang ditujukan kepada orang-orang yang sama; 1;17-18 penulis pernah melihat Yesus dimuliakan.

2. Waktu Penulisan:

Diperkirakan pada selang waktu yang tidak terlalu lama dengan surat yang pertama (+ 63 A.D.), menurut 3:1

3. Alamat Pengirim dan yang Dituju:

Paulus menulis di Roma dan ditujukan kepada orang-orang Yahudi yang sama dalam I Petrus.

4. Tujuan Penulisan:

Tujuan Petrus menulis surat ini dapat dikatakan ada dua segi; (1) secara negatif, ia memperingatkan orang percaya berkaitan dengan akan munculnya orang yang hidup tanpa hukum (secara terang-terangan mengabaikan perintah Allah) dan pengajar-pengajar ajaran sesat yang menyusup di tengah jemaat. (2) Secara positif, Petrus mendorong orang percaya untuk “bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam pengenalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus.”

5. Thema II Petrus: “Melawan ajaran sesa dengan Firman Allah”.

6. Karakteristik II Petrus:

a. Buah iman 7 lipatan itu (1:4-8)

b. Surat ini adalah yang paling banyak menyingkap pengajaran sesat dan pengumpan.

c. Adanya ungkapan yang terselip yang kemungkinannya sangat besar menunjuk Paulus sebagai penulis surat Ibrani (2 Petrus 3:15-16).

7. Latar Belakang Petrus

Rasul Petrus adalah putra dari Yunus (Mat. 16:17) atau Yohanes (Yoh. 1:42), dan saudara dari Andreas (Yoh.1:40). Ia berasal dari Betsaida (Yoh.1:44) tetapi kemudian pindah ke Kapernaum (Mrk. 1:21,29). Petrus tadinya bekerja sebagai seorang nelayan (Luk.5:1-11).

Pada awal pelayanannya, Yesus memanggil Petrus untuk diselamatkan (Yoh.1:42), dan sekitar setahun kemudian Ia memanggilnya untuk menjadi seorang rasul (Mat. 10:1-2). Sebagai salah seorang dari Kedua Belas Rasul, Petrus diberikan otoritas kerasulan untuk melakukan berbagai mujijat, untuk meneguhkan berita Mesianik. Petrus juga merupakan salah satu dari tiga orang pilihan, bersama Yakobus dan Yohanes. (Mat.17:1). Petrus adalah “sokoguru Jemaat” (Gal.2:9) dan kemudian menjadi pemimpin gereja. Petrus juga merupakan Rasul bagi orang Yahudi yang juga tercermin dari pembicaraannya dan dalam suratnya yang pertama (1Pet.1:1). Salah satu tradisi mengusulkan bahwa Petrus pada akhirnya pergi ke Roma, tetapi hal itu tidak pasti.

XI

PEMBAHASAN TEOLOGIA PETRUS

Teologi Petrus jelas sekali berpusat pada Kristus dan dalam penekanannya, ia membahas secara mendalam doktrin-doktrin penting yang berkaitan dengan Pribadi Kristus. Ia menyatakan ketidakberdosaan Kristus, korban perdamaian Kristus sebagai substitusi, kebangkitan-Nya dan kemulian-Nya. Petrus banyak sekali berbicara tentang penderitaan, Kristus yang direndahkan dan penolakan akan Kristus.

1. Teologia Petrus tentang Kristologi.

Suatu studi tentang penggunakan nama Kristus oleh Petrus merupakan hal yang mencerahkan. Dalam kotbahnya di KPR, Petrus menunjuk Kristus sebagai Yesus dari Nasareth. Perkataan ini sangat mungkin untuk mengingatkan akan pendengarnya akan Yesus sebgai yang ditolak, karena istilah Nasareth memiliki konotasi yang negatif. Akan tetapi lebih lanjut ia menjelaskan bahwa Yesus itu bukan manusia yang biasa akan tetapi Allah telah membuat-Nya menjadi Tuhan dan Kristus. (KPR 2:36). Di KPR 3:13-15 Petrus juga berbicara tentang kemuliaan Yesus yang dihubungkan dengan sebutan “Hamba”, “Yang Kudus”, “Yang Benar” dan p”Pemimpin kepada hidup.” Oleh karena itu bersamaan dengan itu, Petrus juga menyebutkan Yesus di 3:16, dan menekankan otoritas dan kuasa yang berkaitan dengan nama itu.

Dalam suratnya ini Petrus memilih menggunakan nama Kristus dan paling sering menggunakan sebuatan Mesias untuk menjabarkan penderitaan-Nya. Petrus menulis bahwa Kristus mencurahkan darah-Nya yang berharga (1Pet.1:19), menderita sebagai substitusi (1Pet.2:21), menderita dalam daging (1Pet.4:1), menderita di depan banyak saksi (1Pet.5:1), dan mati satu kali (penekanan) bagi semua (1Pet.3:18). Berdasarkan hal-hal itu Petrus mendorong orang percaya untuk menguduskan Kristus dan meraih kemuliaan di dalam semuanya itu.

Petrus juga menggunakan nama Tuhan Yesus Kristus. Ia menggunakannya bukan untuk menekankan penderitaan Kristus, tetapi kebangkitan, glorifikasi dan kedatangan Kristus untuk yang kedua kali. Melalui Tuhan Yesus Kristus, orang percaya yang dilahirbarukan memiliki pengharapan hidup yang baru.

2. Teologia Petrus tentang Keselamatan

Sebagaimana yang telah dicatat pada pembahasan sebelumnya, Petrus menekankan karya keselamatan Kristus: ia adalah korban yang sempurna, seperti domba yang tak bercacat dan bercela (1Pet.1:19); Ia tidak berdosa(1Pet.1:22); Ia mati sebagai pengganti sekali untuk kita semua, yang tanpa salah bagi orang yang bersalah (1Pet.3:18). Petrus menekankan tindakan, bahwa ia dibunuh untuk kita.

Kata ganti menekankan bahwa Kristus mati bagi orang berdosa (1Pet.2:24). Ia menebus mereka dari perbudakan dosa (1Pet.1:18). Keselamatn Kristus direncanalan sejak kekekalan (1Pet.1:20), tetapi dinyatakan dalam sejarah. Ia menyelesaikan keselamatam melalui kebangkitan-Nya, memberikan orang percaya suatu hidup yang penuh pengharapan. (1Pet.1:3).

3. Teologia Petrus tentang Kitab Suci

Sehubungan dengan kitab suci, Petrus memberikan pandangan yang signifikan tentang pelayanan Roh Kudus dalam inspirasi sekaligus menegaskan inspirasi dalam tulisan rasul yang lain terutama Paulus. Ia memberikan salah satu studi yang lengkap tentang Kitab suci. Kitab suci adalah hasil dari Roh Kudus yang menghsilkan regenerasi dan pertumbuhan rohani. Berikut ini adalah hal yang perlu dicatat dari doktrin Kitab Suci yang ditulis oleh Petrus:

a. Kitab suci diistilahkan sebagai “nubuat” (2Pet.1:19), menunjuk pada seluruh PL. Petrus mengindikasikan Kitab Suci PL menjadi pasti melalui pemunculan Yesus Kristus.

b. Kitab suci adalah hidup dan tidak berubah selama-lamanya (1Pet.1:23).

c. Kitab Suci tidak terkontaminasi dan menyehatkan, memampukan orang percaya untuk bertumbuh secara rohani (1Pet.2:2).

d. Kitab Suci secara murni berasal dari manusia (2Pet.10:20)

e. Kitab Suci adalah produk dari manusia yang berbicara atas pimpinan Roh Kudus, sehingga menjamin keakuratan dari Kitab Suci (2Pet.1:21).

f. Kitab Suci PB juga diinspirasikan setara dengan Kitab Suci PL (2Pet.3:16).

g. Kitab Suci merupakan dasar kebenaran teologis (1Pet.2:6).

4. Kehidupan Orang Kristen

Petrus menulis untuk menguatkan orang percaya dan menjelaskan bagaimana orang percaya harus menyikapi penderitaan, khususnya pada waktu mereka harus mengalami penderitaan yang tidak sepatutnya (1Pet.1:6). Petrus menulis kata-kata peringatan dan dorongan berkaitan dengan penderitaan.

a. orang percaya harus mengantisipasi pencobaan dan penderitaan dan mempersiapkan pemikiran mereka untuk menghadapinya, karena Kristus juga telah menderita (1Pet.1:11; 4:12; 5:9).

b. Orang percaya harus bersukacita ditengah penderitaan karena antisipasi akan kedatangan kembali Kristus (1Pet.3:14; 4:13).

c. Orang percaya dapat menderita karena ketidakadilan (1Pet.2:19,20,21,23; 3:17).

d. Orang percaya bisa menderita karena kehendak Allah (1Pet.3:17;4:19), tetapi di tengah penderitaan, mereka akan dikuatkan oleh Dia (1Pet.5:10).

5. Teologia tentang Gereja

Meskipun kata gereja tidak muncul dalam tulisan Petrus, namun ia membahas doktrin gereja sampai tahap tertentu.

a. Gereja universal. Petrus mengakui kesatuan dari orang Yahudi dan non-Yahudi dalam satu kesatuan tubuh (Kis.10:34-43). Pada saat deklarasi, Petrus mengumumkan bahwa orang non-Yahudi diterima oleh Allah tanpa harus menjadi orang Yahudi proselit. (Kis.10:35).

b. Gereja Lokal. Di 1 Petrus 5:1-4, Petrus menunjuk pada tanggungjawab penatua di gereja local. Tanggungjawab mereka adalah menggembalakan domba Allah.

c. Petrus juga menyebut baptisan, dengan menggunakan analogi antara baptisan dan Nuh. Sebagaimana air dan Nuh melambangkan pemutusan dengan kehidupan yang lama, demikian juga baptisan melambangkan pemutusan dengan kehidupan yang lama yang penuh dosa.

6. Teologia tentang Akhir Zaman

Sehubungan dengan akhir zaman, Petrus menuliskan beberapa hal tentang akhir zaman.

a. Kondisi. Di 2 Petrus, rasul Petrus menunjuk pada kondisi yang akan mendahului kedatangan Tuhan

b. Kedatangan Kristus. Dalam kedua suratnya, Petrus kelihatannya membedakan antara pengangkatan gereja dan kedatangan Kristus yang keduakalinya untuk menghakimi orang fasik.

c. Hidup yang kekal. Petrus menjabarkan kedatangan hari Tuhan yang tiba-tiba (2Pet.3:10). Hari Tuhan digunakan dalam beberapa cara di kitab Suci, tetapi sebagai istilah umum, hal itu memandang pada keseluruhan periode permulaan dengan pengangkatan dan berhentinya millennium; jadi, Hari Tuhan meliputi penghakiman atas orang tidak percaya dan berkat bagi orang percaya.

XII

PENGANTAR TEOLOGIA YUDAS

1. Penulis

a. Bukti Eksternal. Athenagoras, Clement dari Alexandria dan kanon Muratorian menunjuk Yudas saudara Tuhan Yesus (Mat.13:55)sebagai penulis.

b. Bukti Internal. Penulis menunjukan dirinya Yudas saudara Tuhan Yesus dan Yakobus (1:1), tentu ini bukan Yakobus Rasul karena saudara Yakobus Rasul adalah Yohanes.

2. Waktu Penulisan:

Dari nadanya yang terihat bahwa penganiayaan bukan future tense terutama masalah pengajaran sesat yang dalam 2 Petrus dikatakan akan datang, kelihatannya ketika surat Yudas ditulis malah sedang datang. Berarti ditulis tahun 63 A.D. atau diatas itu.

Terutama penekanannya terhadap dosa seksual yang mencapai punck tahun 64-65 A.D.

3. Alamat Pengirim dan yang Dituju: Ditulis di Yerusalem dan mungkin ditujukan kepada orang Kristen Yahudi.

4. Tujuan Surat Yudas: Meneguhkan iman.

5. Thema Surat Yudas: “Berjuang untuk mempertahankan iman”.

6. Karakteristik Surat Yudas:

a. Banyak mengutip P.L. juga mengutip sumber luar P.L.

b. Mengandung banyak peringatan terhadap ajaran sesat.

c. Menulis doxology yang terbaik dalam Alkitab (24,25).

XIII

PEMBAHASAN TEOLOGIA YUDAS

1. Teologia Yudas tentang Kristus.

Dengan tema yang serupa dengan 2 Petrus, Yudas memperingatkan akan adanya guru-guru palsu yang menyangkali “satu-satunya Penguasa dan Tuhan kita” (ayat 4). Sebutan penguasan dan Tuhan, keduanya menunjuk kepada Kristus. Ini merupakan pernyataan Kristologi yang besar. Penguasa (Yunani; despoten) berarti Kristus adalah penguasa yang absolut.

2. Teologia Yudas tentang Keselamatan

Yudas menujukan suratnya pada “mereka yang dipanggil.” Dalam pernyataan ini Yudas menunjuk pada doktrin pemilihan. Kata “dipanggil” adalah bagi mereka yang telah dipanggil secara efektual pada keselamatan berdasarkan anugrah Allah yang efektif. Anugrah Allah itulah yang tidak dapat ditolak oleh manusia. Yudas lebih lanjut menekankan sekuritas dari keselamatan dengan menegaskan bahwa Allah akan memampukan orang percaya untuk berdiri dihadapan kemuliaan hadirat-Nya (ayat 24).

3. Teologia Yudas tentang Malaikat

Yudas menunjuk pada malaikat yang “meninggalkan tempat tinggal mereka yang sebenarnya”, kemungkinan besar menunjuk pada kejatuhan Lucifer dari posisi yang tinggi, dimana ia menarik satu pasukan malaikat bersama dengan dia (Yes. 14:12-17; Yehz. 28:12-19). Kelihatannya sebagaian dari mereka yang jatuh telah diikat, sedangkan yang lain tetap bebas dan menjadi iblis.

XIV

PENGANTAR TEOLOGI YOHANES

1. Rasul Yohanes

Yohanes, saudara Yakobus dan anak dari Zebedeus, tadinya adalah seorang pelayan di Galilea (Mrk.1:19-20). Ia pasti memiliki usaha yang cukup menguntungkan sehingga ia mempekerjakan pelayan-pelayan dalam usaha nelayannya (Mrk.1:20). Ibunya Salome adalah saudara perempuan Maria, ibu Yesus. Hal itu berarti ia adalah saudara sepupu Yesus (Yoh. 19:25, mat. 27:56, Mrk. 15:40,47). Ibunya adalah salah seorang yang mengikut Yesus dan memberi dukungan kepada Yesus. (Luk. 8:3, Mat. 27:55-56; Mrk. 15:40-41). Yohanes tidak diragukan sebagai salah satu dari dua murid yang mengikuti Yesus pada awal pelayanan-Nya (Yoh.1:35-37). Kira-kira setahun setelah itu, Yohanes disebut sebagai salah satu dari keduabelas rasul (Mat.10:2). Yohanes bersama Petrus dan Yakobus adalah salah satu dari dekat Yesus yang menyaksikan transfigurasi (Mat.17:1-8), kebangkitan anak perempuan Yairus (Mrk.5:37-43), dan pada waktu Yesus bergumul di Getsemani (Mat.26:37-38). Pada Perjamuan Terakhir, Yohanes, yang dikenal sebagai murid “yang dikasihi Yesus” memiliki posisi khusus di samping Yesus (Yoh. 13:23). Yesus juga menyerahkan Maria pada pemeliharaan Yohanes di kayu salib (Yoh. 19:26-27). Yohanes menyaksikan kebangkitan Yesus paling sedikit dua kali sebelum kenaikan, di ruang atas (Yoh.20:19-20) dan di Galilea (Yoh.21:2), dan paling sedikit tiga kali setelah kenaikan, yaitu sebagai Tuhan dari gereja (Why.1:12-18), hakim orang berdosa (Why. 5:4-7), dan Raja segala raja (Why. 19:11-16). Di kitab KPR ia muncul dalam posisi utama bersama Petrus. Yohanes dikenal sebagai salah satu sokoguru gereja. Menurut Irenaeus, Yohanes suatu waktu pindah ke Efesus dan tinggal sampai usia lanjut, hidup sampai pemerintahan Tjajan (98-117 AD).

2. Teologi Yohanes

Sumber untuk studi teologi Yohanes, adalah Injil Yohanes, ketiga surat Yohanes, dan kitab Wahyu. Meskipun ada pendekatan lain sebagai alternatif untuk mempelajari teologi Yohanes, namun studi ini akan digabungkan dengan pengajaran Yesus yang dicatat di Injil Yohanes demikian pula tulisan Yohanes sendiri secara khusus. Diasumsikan bahwa pengajaran Tuhan yang dicatat oleh Yohanes dapat dipertimbangkan sebagai teologi Yohanes karena Yohanes mencatat pernyataan Yesus, dengan anggapan semua itu bagian dari suatu penekanan yang penting dari Yohanes.

Teologi Yohanes berpusat pada Pribadi Kristus dan wahyu Allah yang diberikan melaui kedatangan Yesus Kristus. Pribadi yang bersama Allah sejak kekekalan sekarang menjadi manusia, dan Yohanes memberitakan kemuliaan-Nya. Wahyu tentang terang inilah yang dijabarkan Yohanes dalam Injilnya, surat-suratnya dan kitab Wahyu. Yohanes memberikan sebuah ringkasan dari teologinya di pendahuluan injilnya (Yoh. 1:1-18), dimana didalamnya ia menjabarkan wahyu tentang hidup dan terang melaui Sang Putra dan juga menjabarkan dosa yang menggelapi dunia dan menolak terang itu.

Introduksi Teologi Yohanes

1. Penulis Injil Yohanes

a. Penulis

1) Bukti Eksternal: Irenaeus, Tertullianus, Origen menunjuk rasul Yohanes sebagai penulis.

2) Bukti Internal:

Tradisi mendukung rasul Yohanmes sebagai penulis, karena penulis adalah seorang Yahudi, saksi mata Tuhan Yesus, dan ia menyebut dirinya sendiri murid “yang dikasihi Yesus”.

b. Penulisan:

1) Sangat mungkin bahwa peristiwa tahun 70 A.D. sudah lewat bahkan agak lama, oleh sebab itu tidak disinggung lagi dalam sejarah Yahudi dalam tulisannya.

2) Manuscript P-52, sebuah pragmen yang berisi Injil Yohanes diberi penanggalan 125 A.D.;tetapi ini buku autographa tetapi apografa.

3) Kemungkinan Injil ini ditulis pada akhir abad 1 dan tentunya sebelum pembuangan ke pulau Patmos, berarti antar tahun 90-95 A.D.

c. Alamat Pengirim dan yang Dituju:

Ia menulis kepada orang-orang Kristen secara umum di Asia kecil dari Efesus

d. Tujuan Injil Yohanes:

Untuk menginjili memulai menunjukan bahwa Kristus adalah Anak Allah, dan bahwa melalui iamn didalam Dia kita memperoleh hidup kekal (20:31;3:36).

e. Thema Injil Yohanes

“Krisus adalah Anak Allah dan Firman Allah yang Menjadi Manusia”.

f. Karakteristik Injil Yohanes:

1) Yohanes banyak mencatat tanda-tanda mujizat (2:11)

2) Ia mencatat banyak pasangan kata P.L. ‘AKU ADALAH AKU’ (eyeh asyer eyeh) dalam bentuk Yunani ‘ego eimi’; Terang dunia; pintu; gembala yang baik; kebangkitan dan hidup; jalan dan kebenaran dan hidup;pokok anggur yang benar.

o Banyak berisikan detail-detail thological khususnya tentang pribadi dan karia inkarnasi allah dalam Kreistus.

2. Penulis I Yohanes

a. Penulis

1). Bukti Eksternal:

Policarpus, Papias, Origen menyatakan Yohanes adalah penulisnya.

2). Bukti Internal:

Ada banyak istilah theology maupun kata-kata yang sama dengan Injil Yohanes (1:1 band. Yoh. 1). Penulis saksi mata Kristus (1:1)

b. Waktu Penulisan :

Surat ini dan ulisan-tulisan Yohanes yang lain berkisar antara tahun 85-98 A.D.; yaitu pada akhir pelayanannya menjadi gembala di Efesus

c. Alamat Pengirim dan yang Dituju:

Dikirim dari Efesus dan ditujukan kepada jemaat Asia kecil.

d. Tujuan Penulis:

Menasehati orang percaya agar hidup atau berjalan sesuai dengan Injil Keselamatan dan menentang ajaran sesat yaiu, ‘gnostik’.

e. Thema I Yohanes: “Nyata di dalam Kristus”.

f. Karakteristik I Yohanes:

Memberikan gambaran ajaran sesat abad 1.

Johannine Comma (5:7-8) adalah otentik karena argumentasi grammatical & theological-nya sesuai dengan Injil Yohanes.

3. Penulis II Yohanes

a. Penulis

1) Bukti Eksternal:

Yohanes diakui sebagai penulis oleh Irenaeus, Origen, dan Cyprianus.

2) Bukti Internal:

“Seorang penatua” (1:1), bukan rasul lain, berarti Yohanes.

b. Waktu Penulisan :

Diperkirakan antara tahun 85-98 A.D.

c. Alamat Pengirim dan yang Dituju

Dari Efesus kepada ‘Ibu Terpilih’ – kemungkinan jemaat lokal.

d. Tujuan II Yohanes:

Memberikan petunjuk theologis untuk menilai ajaran sesat yang mulai berkembang.

e. Thema II Yohanes:

“Berjalan dalam kebenaran.”

f. Karakteristik II Yohanes:

i. Menekankan kasih persaudaraan

ii. Kepercayaan dalam inkarnasi Kristus adalah dasar untuk Kekristenan fundamental.

4. Penulis III Yohanes:

a. Penulis

i. Bukti Eksternal:Irenaeus, Dionysius, Cypryanus menunjukan kepada Yohanes.

ii. Bukti Internal:Sama dengan I & II Yohanes

b. Waktu Penulisan:

Kurang lebih sama dengan 1&2 Yohanes

c. Alamat Pengirim dan yang Dituju:

Ditulis dari Efesus dan ditujukan kepada Gayus

d. Tujuan III Yohanes:

Menghadapi Diotrefes (1:9) yang mau menguasai jemaat.

e. Karakteristik III Yohanes:

Pembuat kejahatan dalam jemaat-jemaat lokal ‘tidak pernah melihat Allah’ (1:1).

‘Aku telah menulis’ (1:9) bisa jadi surat II Yohanes atau surat lain yang hilang.

5. Penulis Kitab Wahyu:

a. Penulisan

i. Bukti Eksternal:Old Latin Version, kanon Muratorian, Tertullianus, Origen mengakui Yohanes sebagai penulis.

ii. Bukti Internal:Penulis adalah Yohanes (1:1,4,9;21:2;22:8).

b. Waktu penulisan:

Kitab terakhir dalam kanon Alkitab, ditulis kira-kira tahun 95-98 (Why.22:18,19).

c. Alamat Pengirim dan yang Dituju:

Yohanes menulis dari pulau Patmos kepada tujuh jemaat di Asia Kecil.

d. Tujuan Penulisan:

Menunjukkan hal-hal yang akan terjadi berhubungan dengan Israel, jemaat dan dunia.

e. Thema Wahyu:

“Penyingkapan Masa Lalu, Sekarang dan Yang Akan Datang” (1:19).

f. Karakteristik Wahyu:

i. Terlihat sekali hal yang dilihat Yohanes itu sulit dilukiskan dengan bahasa manusia.

ii. Sering memakai bilangan tujuh.

iii. Outline kitab ini ada pada 1:19, yaitu yang terjadi sekarang (meta tauta) dengan 4:1 ‘sesudah sekarang’ (meta tauta).

iv. Pendekatan-pendekatan yang berbeda terhadap interpretasi adalah pandangan preterist, idealist, historicist, dan futurist

XV

PEMBAHASAN TEOLOGIA YOHANES

1. Wahyu

Yohanes menjabarkan wahyu dengan dua cara: wahyu melalui Kitab Suci dan melalui Putra Allah:

a. Kitab. Suci

Yesus mengingatkan orang Yahudi yang tidak percaya bahwa Kitab Suci memberikan kesaksian tentang diri-Nya (Yoh. 5:39). Yesus meneguhkan bahwa Kitab Suci adalah kebenaran yang proporsional, yang menyatakan terang Allah melalui diri-Nya. Tensa yang menunjukkan pada waktu sekarang, menunjukkan bahwa wahyu Kitab Suci sedang berlangsung. Yesus kemudian mengingatkan pendengar-Nya bahwa Musa menulis tentang Dia dan mereka harus percaya kepada tulisan Musa yang berbicara tentang Kristus. (Yoh. 5:45-47). Lebih lanjut Kristus menyatakan bahwa “Kitab Suci tidak dapat dibatalkan”. Dalam perdebatan-Nya Yesus menumpukan kasusnya pada integritas dan otoritas dari wahyu yang tertulis yaitu Kitab Suci.

b. Anak Allah

Pada pendahuluan Injilnya, Yohanes menyatakan bahwa wahyu Allah dimanifestasikan melalui anak-Nya. Pribadi yang bersama Bapa sejak kekekalan (Yoh.1:1), sekarang tinggal dengan manusia, dan Yohanes bersukacita karena melihat kemulian-Nya. Yohanes pasti menunjuk pada transfigurasi dari Kristus (Mat. 17:1-8) demikian pula mujijat-mujijat Kristus (Yoh.2:11). Wahyu Yesus juga merupakan wahyu anugrah (Yoh.1:16-17).

2. Dunia

Yohanes menggunakan kata dunia banyak sekali; di Injil Sinoptik hanya digunakan lima belas kali, sedang Yohanes menggunakannya sebanyak 78 kali di Injilnya dan 27 kali di tulisannya yang lain. Yohanes menggunakan kata dunia untuk menjelaskan dunia yang berada dalam dosa, kegelapan dan di bawah kuasa setan.

a. Dunia dalam kegelapan

Yohanes menggambarkan dunia yang berada dalam kegelapan dan melawan Kristus; dunia tidak ramah pada Kristus dan semua yang dipercayai-Nya. Hal itu disebabkan karena dunia telah menjadi buta. Dunia tidak mengenal Mesias pada waktu Ia datang ke dalam Dunia. Yohanes menjabarkan dua kelompok manusia; mereka yang datang pada terang dan mereka yang memmbenci terang itu (Yoh.1:12; 3:19-21). Orang-orang dunia membenci terang, karena terang itu mengekspos mereka; Yesus mengatakan bahwa inilah alasan kenapa dunia membenci-Nya. System dunia, yaiotu keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup, telah memimpin manusia kepada dosa.

b. Dunia di bawah Setan

Yesus menjelaskan kenapa orang yang tidak percaya melakukan dosa; hal itu karena mereka adalah keturunan dari si jahat (Yoh.8:44). Karena mereka adalah anak-anak dari bapak mereka yaitu si jahat, jadi wajarlah apabila mereka melakukan keinginan bapaknya. Karena si jahat adalah pembohong dari awalnya, maka wajarlah apabila keturunan rohani dari si jahat menolak Kristus yang adalah kebenaran.

3. Inkarnasi

a. Terang.

Terang adalah istilah popular Yohanes. Dalam kaitan dengan inkarnasi, Yohanes menunjuk pada Yesus sebagai terang yang telah datang ke dunia gelap karena dosa. Karena Yesus telah datang sebagai terang, maka adalah imperatif bahwa manusia hrus percaya kepada-Nya (Yoh.12:35-36). Yesus, sebagai terang dunia, dapat memberikan terang fisik (Yoh.9:7) dan terang spiritual (Yoh.8:12).

b. Hidup

Hidup juga merupakan istilah popular di Yohanes; ia menggunakannya 36 kali di Injil, 13 kali di 1 Yohanes, dan 15 kali di kitab Wahyu. Mujijat inkarnasi ialah bahwa Yesus hidup, diman iIa juga memiliki sumber kehidupan sama seperti Bapa, yaitu Ia memiliki hidup dalam diriNya sendiri, oleh sebab itu segala sesuatu bergantung pada Yesus untuk hidup dan eksistensinya.

c. Anak Allah

Yohanes menjabarkan inkarnasi Kristus dengan menunjuk Yesus sebagai “Putra Allah” atau “Putra”. Yesus menggunakan istilah-istilah itu untuk diriNya sendiri dan relasinya dengan Bapa. Dan Yohanes sangat tegas dalam menekankan kesetaraan Yesus dengan Allah.

d. Anak Manusia

Yesus pada umumnya menggunakan sebutan “Anak Manusia” untuk menunjukkan misi-Nya. Asal mula istilah itu berasal dari Daniel 7:13 dan menunjuk pada keberadaan surgawi yang menerima kerajaan dunia ini. Istilah “Anak Manusia” menunjuk pada konsep Kristus akan diriNya sebagai yang berasl mula dari Surga dan sebagai pemilik kemuliaan surga. Pada saat yang sama hal itu menunjukkan kepada kita tentang kerendahan-Nya dan penderitaan-Nya bagi manusia. Keduanya adalah sama.

e. Pendamaian.

Dalam nubuat. Kata bahasa Inggris atonement (pendamaian) berasal dari dua kata “at” dan “onement”, yang berarti rekonsiliasi. Meskipun kata pendamaian bukan merupakan kata di PB, hal itu menunjuk pada apa yang telah diselesaikan oleh Kristus diatas kayu salib melalui penderitaan dan kematiaan-Nya. Pada waktu Yohanes pembabtis menyerukan “Lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia”. Yohanes berbicara tentang penggenapan dari persembahan korban di PL. diawali dengan provisi Allah, akan seekor domba yang menggantikan Ishak di gunung Muria (Kej 22:8), kemudian provisi domba paskah di Keluaran 12 sampai nubuat Yesaaya 53:7, dimana nabi Yesaya mengindikasikan Mesias akan mati, seperti anak domba yang akan disembelih. Persembahan korban di PL menunjuk pada kematian Mesias untuk pendamaian. Tidak diragukan lagi, penggenapan dari tema itulah yang dijabarkan oleh Yohanes pembaptis di Yohanes 1:29. Yesus menekankan kebenaran yang sama dei Yohanes 6:52-59. ia berbicara tentang diri-Nya yang datang dari surgadan memberikan hidupNya bagi dunia (Yohanes 6:33,51). Penebusan yang bersifat substitusi dapat dilihat dari preposisi “atas” (Yunani “huper”). Dalam bagian ini9, Yesus mengajarkan tentang kematian-Nya sebagai wakil (6:51), yang memberikan hidup kekal (6:53-55,58), dan persekutuan dengan Kristus (6:56,57) dan hasilnya di kebangkitan (6:54).

Dalam sejarah. Karya Kristus, sesuai dengan tujuan-Nya datang kedunia, digenapkan dalam Yohanes 19:30. Setelah enam jam diatas kayu salib Yesus berseru, “Sudah selesai” (Yunani: tetelesthai). Yesus tidak mengatakan, “saya telah selesai”, tetapi “telah selesai”. Ia telah menyelesaikan pekerjaan yang diberikan Bapa kepadan-Nya; karya keselamatan telah diselesaikan. Tensa bentuk lampau dari kata kerja tetelestai dapat diterjemahkan, “hal akan tetap selesai”, artinya pekerjaan itu untuk selamanya selesai dan akibat dari selesainya pekerjaan itu terus berlaku.

Di 1 Yohanes 2:1-2, Yohanes menjelaskan provisi yang dibuat oleh Kristus untuk dosa. Kristus adalah “pembela” (Yunani; parakletos) bagi mereka yang berdosa. Dalam konteks ini pembela berarti pengancara dalam kasus hukum. Orang percaya memiliki Kristus sebagai pengacara pembela mereka dalam pengadilan ilahi. Lebih lanjut Yohanes berkata Kristus adalah “korban pendamaian” (Yunani: hilasmos) bagidosa-dosa dunia. Kata itu hanya digunakan di Roma 3:25, dan 1Yohanes 4:10. korban pendamaian artinya Kristus menjadi korban pendamaian bagi dosa dengan cara membayar harga dengan demikian mengalihkan murka Allah. Korban pendamaian berpusat pada Allah, yang menyatakan bahwa dosa telah melanggar kekudusan Allah, dan melalui kematian Kristus Allah Bapa di puaskan dan sekarang Ia bebas untuk menyatakan kemurahan dan pengampunan-Nya kepada orang berdosa yang percaya. Yohanes mengindikasikan korban pendamaian adalah “untuk segala dosa kita, dan bukan hanya untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia” (1Yoh 2:2). Kematian Kristus adalah kematian substitusi yang memberikan provisi bagi orang percaya, namun Yohanes menekankan juga kecukupannya yaitu “bagi seluruh dunia”. Meskipun seluruh dunia tidak diselamatkan, karena Kristus adalah Allah maka kematian-Nya adalah cukup untuk seluruh dunia, namun demikian hanya efektif bagi mereka yang percaya.

Kebangkitan. Yohanes menjabarkan kisah kebangkitan di Yohanes 20 untuk memperlihatkan penebusan Kristus telah sampai pada puncaknya di kebangkitan. Penebusan Kristus tidak berakhir pada kematian-Nya tetapi pada kebangkitan-Nya; Kebangkitan itu harus terjadi untuk meneguhkan Anak Allah (Roma1:4). Yohanes sangat jelas menjabarkan bagaimana Petrus berlari menuju kuburan, Yohanes tiba lebih dahulu, melihat ke dalam kubur, dan tidak melihat apapun . petrus masuk dan berteori tentang apa yang terjadi, kemudian Yohanes memperhatikan dan mengerti. Mereka melihat kain kafan yang tergeletak di kuburan dan tetap berbentuk tubuh, seakan-akan masih ada tubuh di dalamnya. Kain untuk muka masih tergulung melingkar (20:7), tetapi tubuhnya telah tidak ada. Yohanes “melihat dan percaya” karena ia mengerti hanya satu hal yang mungkin telah terjadi, tubuh itu telah melewati kain kafan yang membalutnya. Yesus telah bangkit. Yohanes memberikan penjabaran yang lebih jelas, lebih rinci mendeskripsikannya, dibandingkan dengan Injil sinoptik tentang bagaimana menjelaskan secara tepat apa yang telah terjadi pada waktu kebangkitan. Yohanes kemudian menjelaskan bagaimana Kristus melewati pintu yang tertutup dalam tubuh fisiknya dan muncul di tengah para rasul dalam tubuh kebangkitan-Nya (Yoh 20:19,26). Yohanes memverifikasi realitas dan tubuh kebangkitan Kristus, memperlihatkan bahwa Kristus dalam karya terakhir-Nya telah mengalahkan maut dan karena itu memberikan pengharapan dan hidup kepada yang percaya (Yohanes 11:25-26).

4. Roh Kudus

Percakapan di Ruang atas (Yoh 14-16), Yohanes mencatat pengajaran Yesus berkaitan dengan Roh Kudus. Ketiga fasal itu memberikan informasi yang paling rinci tentang pribadi dan karya Roh Kudus.

Pribadi-Nya. Kepribaian dari Roh Kudus dilihat dalam kata ganti yang digunakan untuk menjabarkan tentang Dia. Meskipun kata Roh (yunani: pneuma) adalah netral Yesus mengatakan “Ia (maskulin) akan mengajarkan kamu segala sesuatu” (Yoh 14:26). “Ia” (Yunani: ekeinos) adalah kata ganti maskulin. Meskipun ada orang berpikir tentang kata ganti netral (inggris: it) supaya cocok dengan kata benda netral (Roh), namun pemikiran yang demikian adalah salah, karena itu berarti kita menunjuk Roh Kudus sebagai “it”, sedangkan Ia adalah pribadi, seperti halnya dengan Bapa dan Anak. Referensi Yesus pada Roh Kudus sebagai “Ia (maskulin)” mengkomfirmasikan personalitas dari Roh Kudus (lihat Yoh 15:56;16:13,14)

Karya-Nya. Ia menyakinkan (Yoh 16:8-11). Karya meyakinkan (yunani: elegxei) adalah pekerjaan seseorang pengacara penuntut yang mana Ia berusaha untuk meyakinkan seseorang akan seseuatu. Roh Kudus bertindak sebagai pengacara ilahi, menyakinkan dunia akan dosa, yaitu penolakan untuk percaya kepada Yesus; Ia juga meyakinkan dunia akan kebenaran Kristus, karena kebangkitan-Nya dan kenaikan-Nya; dan Ia meyakinkan dunia akan penghakiman karena setan telah dihukum diatas kayu salib.

Ia melahirbarukan (Yoh 3:6). Dalam menjelaskan kelahiran baru pada Nikodemus, Yesus mengindikasikanya sebagai kelahiran baru oleh Roh.

Ia mengajar kepada murid-murid-Nya (Yoh 14:26). Pada waktu murid-muridNya tidak dapat secara rohani mengasimilasikan semua pengajaran Yesus, Yesus berjanji Roh Kudus akan mengingatkan mereka akan pengajaran Yesus. Pernyataan ini merupakan jaminan akan catatan akurat dari tulisan PB, karena Roh Kudus akan memberikan keakuratan untuk mengingat kembali, dan sesuai dengan itu mereka akan menulis Injil.

Ia tinggal (Yoh 14:16-17). Yesus menunjuk pada pekerjaan baru dari Roh Kudus setelah Pentakosta, dimana kehadiran Roh Kudus ditengah orang percaya tidak lagi bersifat sementara seperti di PL, tetapi Ia akan tinggal secara permanen. Yesus menekankan bahwa setelah Pentakosta Roh Kudus akan tinggal “di dalam mereka” (Yoh 14:17) dan Ia tinggal untuk “selama-lamanya” (Yoh 14:16).

5. Hal-hal terakhir.

Pengangkatan. Meskipun Yohanes tidak memberikan pernyataan seeksplisit Paulus tentang pengangkatan, tanpa diragukan Yohanes juga menunjuk pada pengangkatan dalam Yohanes 14:1-3. pengangkatan berkaitan dengan gereja, dan Yesus berbicara pada kedua belas muridNya yang akan memulai jemaat mula-mula di Kisah Para rasul 2. oleh karena para murid sedang berduka akan kepergian Yesus di Yohanes 14, Ia menguatkan mereka dengan mengingatkan mereka (sebagai gereja yang masih kecil) bahwa Ia pergi untuk menyediakan tempat tinggal bagi mereka di Rumah Bapan-Nya. Ia berjanji untuk kembali dan membawa mereka kepadan-Nya (Yoh 14:3). Hal itu harus dimengerti sebagai parallel dengan pernyataan Paulus di 1Tesalonika 4:13-18.

Kesengsaraan. Yohanes memberikan liputan yang luas tentang masa kesengsaraan, serta merinci apa yang akan terjadi di Wahyu 6-19. ketujuh meterai ini akan dibukakan di dunia pada awal kesengsaraan (Wahyu 6:1-8:1). Yang akan membawa kemenangan bagi binatang buas itu (6:1-2), perang (6:3-4), kelaparan (6:5-6), kematian (6:7-8), mati syahid (6:9-11), dan ledakan di langit dan di bumi (6:12-17). Meterai-meterai itu kelihatannya akan berlanjut sampai akhir masa kesengsaraan. Meterai ketujuh mengawali sangkakala ketujuh (8:2-11:19). Pada waktu bunyi sangkakala itu, maka persediaan makanan dan oksigen di bumi akan hilang (8:2-6), sepertiga dari kehidupan di laut akan mati (8:7), sumber air akan terkena polusi (8:10-11), benda-benda di langit akan menjadi gelap (8:12-13), manusia akan sangat menderita dan ketakutan (9:1-12), dan sepertiga dari manusia akan terbunuh (9:13-21). Sangkakala yang ketujuh akan mengawali cawan penghakiman (11:15-19;15:1-16:21), mengakibatkan luka-luka yang menyakitkan (16:1-2), kematian dari kehidupan di laut (16:3), sungai menjadi darah (16:4-7). Manusia mati karena kepanasan (16:8-9), kegelapan (16:10-11), dilepaskanya tentara dari timur yang kuat untuk mengakhiri peperangan (16:12-16), dan gempa bumi yang dahsyat, menghancurkan kota-kota dan bangsa-bangsa (16:17-21). Baik agama Babel (17:1-8), maupun ekonomi Babel (18:1-24) akan dihancurkan. Masa kesengsaraan berpuncak pada kembalinya Kristus, dimana Ia akan menaklukkan semua bangsa di dunia (19:11-21).

Anti Kristus. Yohanes menggunakan istilah anti kristus untuk menjabarkan mereka yang pada zamanya menderikan doktrin yang salah tentang Kristus (1Yoh 2:18,22;4:3;2Yoh.7). nature dari bidat ini adalah menyangkali kemanusiaan Kristus Yesus (2Yoh.7); Kristus hanya tampil seperti hantu; Ia tidak benar-benar mengambil rupa manusia. Yohanes mendeklarasikan bahwa mereka, penyangkal Yesus yang datang dalam daging adalah anti kristus. Jadi Yohanes menggunakan istilah itu untuk menunjuk pada mereka yang menyangkali doktrin yang benar tentang.

Yohanes menyebut pribadi yang menyangkali Kristus sebagai binatang buas (Why 11:7;13:1,12,14,15). Yohanes menjabarkan binatang buas ini sebagai “binatang pertama” (berlawanan dengan nabi palsu yang mendukung binatang buas pertama ini tetapi dikenal sebagai binatang kedua {“binatang yang lain” 13:11}). Binatang pertama adalah penguasa politik (13:1-10) yang muncul dalam bentuk akhir sebagai penguasa kafir dan kuasanya berasal dari setan (13:2), ia menerima sembah dan menghujat Allah selama tiga setengah tahun (13:4-6), ia menganyiaya orang percaya (13:7), dan menguasai dunia (13:8). Binatang pertama di dukung oleh binatang kedua yang adalah nabi palsu dan memaksa manusia untuk menyembah binatang pertama (13:11-12); ia menipu manusia melalui kemampuanya untuk mempertunjukkan tanda-tanda (13:14); ia membatasi perdagangan hanya bagi mereka yang telah menerima tandanya (13:16-17).

Pada kedatangan Yesus Kristus yang kedua, baik binatang pertama dan binatang kedua akan dilemparkan kedalam lautan api (19:20)

Kedatangan Kristus yang Kedua. Pada akhir dari masa kesengsaraan, Yohanes menggambarkan kembalinya Kristus dengan kemenangan bersama pengantin perempuan-Nya, yaitu gereja (Why 19:6-8). Pernikahan Kristus dengan gereja terjadi di surga pada waktu periode kesengsaraan. Kristus kembali dengan pengantin perempuan-Nya untuk memulai pesta pernikahan, yaitu di kerajaan millennial yang terjadi diatas bumi (19:9-10). Yohanes menggambarkan kembalinya Kristus sebagai seorang Raja yang menang – Ia memiliki banyak mahkota diatas kepala-Nya (19:12) – Ia menyatakan perang adengan setan, binatang dan tentara yang tidak percaya kepada-Nya (19:11,19). Senjata-Nya adalah otoritas Firman-Nya (19:13) dengan mana Ia mengalahkan dan menaklukkan bangsa-bangsa (19:15). Ia menghancurkan penguasa bangsa-bangsa dan melemparkan binatang, nabi palsu (binatang kedua), dan setan ke laut api selama millennial (19:19-20:3). Dengan kemenangan atas musuh-Nya, Kristus mendirikan kerajaan millennial di atas bumi.

Kerajaan millennial dan kekekalan. Yohanes menjabarkan kebangkitan dari masa kesengsaraan dan orang-orang kudus PL pada akhir masa kesengsaraan (Why 20:4-5); mereka adalah bagian dari “kebangkitan pertama”. Istilah kebangkitan tidak menjabarkan kebangkitan secara umum dari orang percaya, tetapi suatu kebangkitan kepada kehidupan (20:6). Paling tidak ada beberapa tahap dalam kebangkitan yang pertama yaitu zaman orang-orang kudus dibangkitkan sebelum masa akesengsaraan (1Tes 4:13-18), dimana orang-orang kudus di PL dan dimasa kesengsaraan (Why 20:4). Orang tidak percaya dibangkitkan pada akhir masa millennium, dimana mereka akan dilemparkan kedalam lautan api (Why 20:11-15).

Di wahyu 21:1-22-22:21 Yohanes menjabarkan tentang kekekalan. Yerusalem baru yang Yohanes lihat akan datang dari surga (Why 21:1-8) adalah gereja yang tetap tinggal, yaitu pengantin perempuan (21:9), tidak diragukan lagi mereka adalah orang-orang yang telah ditebus di segala zaman dalam kekekalan. Yerusamelm baru kemungkinan besar berhubungan dengan millennium dan hidup kekal. Tempat itu adalah tempat tinggal, dimana Kristus telah pergi untuk menyediakan tempat (yoh 14:2). “kedua periode itu kekal, bukan sementara, kondisinya adalah seperti itu, baik dikota dan bagi penghuninya. Oleh karena itu, Yerusalem baru adalah millennial dan kekal, baik dari segi waktu dan posisi, dan hal itu kondisinya adalah selalu kekal. Yohanes menjelaskan bagaimana Yerusalem baru itu akan memberikan persekutuan dengan Allah (22:4), istirahat (14:13), kepenuhan berkat (22:2), sukacita (21:4), pelayanan (22:3) dan ibadah (7:9-12;19:1).

Lembaran Tugas Mata Kuliah Teologia Perjanjian Baru

Nama Mahasiswa :

Program :

Beban : 3 SKS

Material : Diktat Teologia Perjanjian Baru STTI Philadelphia

TUGAS MATA KULIAH:

  1. Diskusi & Pertanyaan: Kerjakan “Diskusi & Pertanyaan” untuk modul di bawah ini.
  2. Resensi: Buatlah Ringkasan dan Resensi Buku atas buku lain yang berhubungan dengan Teologia Perjanjian Baru. (Diketik minimum 4 halaman kwarto)
  3. Paper: Buatlah karya kecil yang berjudul: Perbandingan Doktrin Keselamatan Paulus dengan Doktrin Keselamatan Yakobus (Diketik 15 halaman ukuran kwarto)

Jawablah Diskusi & Pertanyaan dibawah ini

1. Apa yang menjadi definisi dari Teologia Biblika. Jelaskan!

2. Bagaimana relasi Teologia Biblika dengan disiplin ilmu lain dalam bidang Teologia. Jelaskan!

3. Tuliskanlah apa yang menjadi persamaan dan perbedaan antara Teologia Biblika dengan Teologia Sistematika.

4. Ada beberapa faktor yang harus dipertimbangkan dalam merumuskan suatu metodologi Teologia Perjanjian Baru. Sebutkan dan jelaskan!

5. Apa yang menjadi persoalan utama dalam Sinoptik Problem. Jelaskan!

6. Ada beberapa teori dan kritik awal terhadap Sinoptik. Sebutkan dan jelaskan!

7. Ada beberapa teori dan kritik modern terhadap Sinoptik. Sebutkan dan jelaskan.!

8. Injil Sinoptik secara jelas mencatat beberapa atribut Allah. Sebutkan!

9. Apa yang menjadi tujuan teologis dari Injil Matius. Sebutkan!

10. Apa yang menjadi tujuan teologis Injil Markus. Sebutkan!

11. Apa yang menjadi tujuan Teologis dari Injil Lukas. Sebutkan!

12. Ada tiga fakta Alkitab yang menunjukkan bahwa Yesus benar-benar lahir dari Anak Dara. Sebutkan !

13. Berikanlah empat alasan yang mendukung Kemanusiaan Yesus Kristus menurut Teologia Injil Sinoptik.!

14. Apa yang anda ketahui tentang doktrin Roh Kudus menurut Injil Sinoptik. Jelaskan!

15. Apa yang anda ketahui tentang doktrin Akhir Zaman Injil Sinoptik. Jelaskan!

16. Apa yang anda ketahui tentang doktrin tentang Allah kita Kisah Para Rasul. Jelaskan!

17. Ada beberapa tema yang berkaitan dengan kebangkitan Kristus yang ditekankan dalam Kisah Para Rasul. Sebutkan!

18. Ada empat hal yang ditekankan oleh penulis Kisah Para Rasul tentang doktrin Kesalamatan. Sebutkan!

19. Bagaimana pendekatan yang dilakukan oleh Paulus dan Yakobus terhadap Hukum Taurat.

20. Bagaimana pandangan Teologia Yakobus tentang doktrin manusia dan dosa. Jelaskan!

21. Sebutkan beberapa dasar utama bagi kesatuan teologi PB.

22. Jelaskan makna Teologis dari ketidakberdosaan Yesus dalam teologi Yohanes.

23. Jelaskan makna dari definisi PB secara Teologis.

24. Bagaimana hubungan antara latar belakang PB dan Teologi PB.

25. Bagaimana konsep “Allah” dalam teologi PB dibandingkan dengan teologi PL.

26. Bagaimana konsep “manusia” dalam hubungannya dengan Allah, didalam Teologi PB dibandingkan dengan Teologi PL.

27. Bagaimana pandangan teologia Paulus tentang hal-hal terakhir yang berhubungan dengan Gereja, Israel dan dunia. Jelaskan!

28. Jelaskanlah apa saja yang anda ketahui mengenai Teologia Yudas tentang Keselamatan.

29. Jelaskanlah apa saja yang anda ketahui tentang pendamaian menurut Teologia Yohanes.

30. Jelaskan mengapa ada keunikan yang besar anatara Injil Sinoptik dan Injil Yohanes.

31. Bagaimanakah konsep “hukum” dalam Teologi PB, dibandingkan dengan Teologi PL.

32. Jelaskan masalah Inspirasi Alkitab dalam Teologi Paulus, terutama dalam kitab Timotius.

33. Kelaskanlah apa saja yang anda ketahui mengenai Teologia Petrus tentang Kristologi.

34. Bagaimana pandangan penulis Ibrani tentang pribadi Allah. Jelaskan!

35. Bagaimana pandangan Yohanes tentang hal-hal yang terakhir. Jelaskan!

Selamat bekerja



[1] S.O. Aitonam, “Pengantar Keragaman Metoda Tafsir Forum Biblika; Jurnal Ilmiah Populer, diedit oleh M.K. Sembiring (Jakarta: LAI,1998),hal. 8.

[2] Martin Harun, “Penelitian SumberForum Biblika; Jurnal Ilmiah Populer, diedit oleh M.K. Sembiring (Jakarta: LAI,1998),hal. 12.

[3] Paul Ens, The Moody Handbook of Theology (Malang: Literatur SAAT, 2003),hal.94.

[4] R. Rajagukguk, “Apa Itu Penelitian Bentuk” Forum Biblika; Jurnal Ilmiah Populer, diedit oleh M.K. Sembiring (Jakarta: LAI,1998),hal. 33

[5]Josh McDowel, Apologetika: Volume 2 (Malang: Penerbit Gandum Mas,2003), hal 422.

[6] Josh McDowel, Apologetika: Volume 2 (Malang: Penerbit Gandum Mas,2003), hal.653-654.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar