Selasa, 13 Januari 2009

Pengantar Perjanjian Lama

I
LATAR BELAKANG
(Di sadur dari Pengenalan Perjanjian Lama. Karangan Denis Greeen. Terbitan Gandum Mas)


I. ILMU BUMI PERJANJIAN LAMA

A. Daerah Timur Kuno
Daerah kejadian-kejadian Perjanjian Lama pada garis besarnya termasuk lembah utara dan delta beting sungai Nil, semenanjung Sinai, negara-negara Palestina, Fenesia, Aram (Siria), lembah-lembah sungai Efrat, Tigris dan negara Persia (Iran), sekarang seluruh daerah yang luas itu disebut “sabit subur”

1. Penduduknya mendiami daerah yang berbentuk seperti dua garis memanjang yang merupakan lengan dari suatu sudut, dengan ujung sudut itu terletak di dekat mata air sungai Efrat. Garis Timur dari sudut tersebut menuju kearah selatan melalui lembah Efrat sampai keteluk Persia. Pada garis itu terdapat bangsa Asyur, Babel dan Persia. Pada garis Barat-Daya, terdapat bangsa Aram (Siria), Fenesia, Israel dan Mesir.
2. Kedua sistim-sungai yang besar, yaitu sungai Nil (bagian Barat-daya) dan Efrat-Tigris (bagian Timur laut) memungkinkan tanah datar yang luas dan berpengaira. Kedua daerah daratan tersebut menjadi pusat dari dua kekuasaan besar pada masa Perjanjian Lama, yaitu Mesir dan Mesopotamia (Babel).
3. Perhatikanlah letak Israel diantara kedua kekuasaan tersebut. Mula-mula Mesir, kemudian Asyur, setelah itu Babel, Persia dan kerajaan-kerajaan Ptolemy dan Seleuchus (raja-raja Yunani/Gerika), sangat mempengaruhi jalannya sejarah Israel. Dibandingkan dengan kerajaan-kerajaan yang kuat itu, Israel kelihatan kecil dan tidak berdaya, bahkan tidak berarti bagi pandangan duniawi. Akan tetapi Israel telah menandai dan mempengaruhi sejarah dunia dari segi agama dengan cara yang tidak tercapai oleh kerajaan-kerajaan yang lain itu.

B. Palestina
Tanah Palestina atau tanah Kanaan adalah terletak diantara Lautan Tengah sebagai batas bagian Barat dan Padang Gurun Arab sebagai batas bagian Timur. Batas Utara dan Selatan tidak ditetapkan dengan pasti, tetapi kira-kira sesuai dengan ucapan yang seringkali terdapat dalam PL, yaitu “dari Dan sampai Bersyeba” (Hakim-Hakim 20:1; 2Samuel 3:10; 17:11; Itawarikh 21:2; IITawarikh 30:5). Nama “Palestina” berasal dari nama “Filistin” sebab orang-orang itu menduduki dataran pantai.
Panjang tanah Palestina dari Dan sampai Bersyeba kurang lebih 240 km, sedangkan lebarnya kalau dihitung dari sungai Yordan ke pantai kurang lebih 95 km di bagian selatan, dan kurang lebih 50km dibagian utara. Di sebelah timur sungai Yordan, garis perbatasan agak kurang jelas.

1. Sifat umum – pada umumnya, tanah Palestina berupa daerah pegunungan. Diantara gunung-gunung itu, terdapat lembah-lembah yang cukup subur. Sebagai orang yang biasa hidup daerah pegunungan, bani Israel tidak pandai berperang ditanah datar (Hakim-hakim 1:19), walaupun kemudian mereka memakai pasukan berkuda untuk melawan Siria dan Asyur. Oleh sebab itu bani Israel tidak dapat mempertahankan bagian dataran pantai dalam waktu yang lama, sedangkan dataran Esdralon sering menjadi tempat perjuangan, yang tidak selalu berhasil bagi tentara Israel.
2. Bagian-bagian Umum – Tanah Palestina dengan sendirinmya terbagi menjadi empat bidang dengan arah utara-selatan.
a. Dataran Pantai, yang menyusur lautan tengah dari gunung Karmel ke selatan. Lebar dari daratan pantai ini berubah-ubah yaitu dari 8 sampai 24 km. Di selatan gunung Karmel terletak Fenesia dengan pelabuhan-pelabuhannya yang terkenal, yaitu Tirus dan Sidon. Tetapi dari Karmel ke Selatan, garis pantai lurus saja dengan hanya satu tempt sebagai kemungkinan pelabuhan, yaitu Yope (Jaffa), yang sejak semula menjadi pelabuhan kota Yerusalem.
b. Pegunungan Tengah, yang mulai dari Libanon dan mengarah terus ke padang gurun selatan, dengan datar Esdralon (Yizreel) di pertengahannya. Pada bagian utara terdapat dua pegunungan yang biasanya dipakai sebagai rute perjalanan oleh para penyerang dari utara/timur. Para pemazmur sering menyebut tentang salju, pohon-pohon cedar, sungai-sungai, keindahan dan kesuburan daerah Libanon itu (Yeremia 18:14; Kidung Agung 4:15; Yesaya 60:13). Gunung yang paling tinggi dibagian ini adalah Hemon (2800m) yang ditutupi oleh salju, juga disebut “Siryon” dalam PL(Ulangan 3:9; Maz 42:7; 89:13; 133:3). Menuju ke Selatan, pegunungan Libanon (Barat) menjadi pegunungan Galilea, yang tidak setinggi pegunungan Libanon. Bagian ini jarang masuk sejarah PL karena jauh dari pusat peristiwa-peristiwa penting dalam PL. namun pada zaman PB daerah Galilea itu menjadi tempat yang sangat penting. Dalam lingkup pegunungan tengah juga termasuk pegunungan Samaria, yang terletak di sebelah selatan dataran Esralon, pegunungan tengah memasuki “pegunungan Samaria,” yakni tanah yang berbukit-bukit dengan lembah-lembah yang subur, misalnya dataran Dotan dimana kakak-kakak Yusuf menggembalakan kambing domba mereka. Pegunungan Yudea juga berada di daerah pegunungan tengah. Pada batas utaranya terdapat banyak benteng-benteng, yang menceritakan peperangan-peperangan antara Yehuda dan Israel. Di bagian selatan terletak kota Betlehem, tempat lahirnya Daud (1Sam 16:1) dan tempat kejadian kisah Rut (Rut 1:1,19). Agak keselatan terletak Hebron yaitu kota yang paling tua di Palestina, dimana para kepala bangsa (patriakh) dikuburkan di dalam gua Makhpela (Kejadian 23:19; 25:9; 50:13), dan yang dijadikan ibu kota Yehuda oleh Daud sebelum Yerusalem ditaklukkan (1Tawarikh 11:1-2).
c. Lembah Yordan, yaitu meliputi daerah sungai Yordan, Laut Galilea, dan juga laut mati. Mata air sungai Yordan berasal dari sebelah barat gunung Hermon, kurang lebih 525 m. kemudian laut Galilea memiliki ukuran panjang sekitar 20 km, sedangkan pada bagian paling lebarnya 12 km. Letaknya berupa tempat dalam (210m, dibawah permukaan laut), dikelilingi bukit-bukit yang tinggi. Laut itu jarang disebutkan dalam PL, kecuali dengan memakai nama “Kinerot” (Yosua 11:2) atau “Keneret” (Ulangan 3:17). Laut mati juga termasuk dalam lingkungan lembah Yordan. Laut mati juga sering disebut laut asin, dalam PL (Kejadian 14:3; Bil 34:3, atau laut Araba (Ulangan 3:17) panjangnya 69 km, lebarnya 5 km sampai 14 km, dan merupakan genangan air yang paling rendah di dunia (397 m. dibawah permukaan laut). Oleh sebab itu, iklimnya panas sekali. “tidak ada saluran keluar, dan kalau air meluap, akhirnya menguap. Oleh karena itu airnya penuh dengan garam dan mineral-mineral lain. Di sebelah barat terletak jurang-jurang En – Gedi, tempat dimana Daud menyembunyikan dirinya (1Samuel 24:1).
d. Pegunungan Timur –mulai dari gunung Hermon sampai ketanah Moab. Daerah ini termasuk daerah yang berbukit-bukit yang cukup subur, dengan hutan dan kebun buah-buahan. Disini juga terdapat dataran tinggi Basan, yang tekenal karena lembu-lembunya (Amos 4:1; Ulangan 32:4) dan kota-kotanya yang besar. Ke arah selatan terdapat kota Gilead yang terkenal karena rempah-rempahnya (Kejadian 37:25), dan tanah Amori yang rajanya Sihon dikalahkan oleh Israel (Bil 21:21). Dio daerah itu terletak juga Yabesy-Gilead tempat dimana Saul pertama sekali memnjadi penguasa di Israel (1Samuel 1:11); juga Ramot Gilead tempat dimana Raja Ahab dikalahkan oleh Aram dan mati (1Raja-raja 22). Kearah selatan lagi terdapat bani Amon dan Moab yaitu tetangga yang sering sekali menyerang Israel. Daerah paling selatan di diami oleh bani Edom.
# Dataran Esdralon, daerah ini berbentuk segitiga, daerah ini merupakan daerah yang sangat penting dalam PL. oleh sebab itu kita memberi tempat khusus untuk meneliti daerah ini. Dataran Esdralon terletak antara Galilea dan Samaria; pegunungan Galilea sebagai batas utara, pegunungan Karmel sebagai batas Barat-daya, dan pegunungan Gilboa sebagai batas Timur. Sungai Kison mengalir daripadanya kelautan tengah. Jalan keluar dari sebelah timur kelembah Yordan ialah melalui lembah Yizreel (dalam bahasa Yunani “Esdralon”). Dataran ini sangat penting karena letaknya sangat strategis. Pedagang-pedagang dari Damsyik, Arabia dan Mesopotamia yang menuju ke pantai Siria atau Mesir, biasanya melewati dataran Esdralon. Tanahnya juga subeur sekali, maka dari itu dipandang sebagai tanah yang berharga dan baik dimiliki. Oleh karena daerah ini mudah dimasuki baik dari daerah Timur maupun dari daerah sebelah barat, maka daerah ini sering menjadi daerah peperangan. Ada empat perang besar yang terjadi di sini.
(i) Sisera, panglima Kanaan, dikalahkan oleh Debora dan Barak (Hakim-hakim 5:19-21)
(ii) Orang Midian dihancurkan oleh Gideon dengan 300 prajuritnya di kaki gunung Gilboa (Hakim-hakim 7)
(iii) Raja Saul dan Anaknya Yonatan di bunuh di Gunung Gilboa oleh orang Filistin (! Sam31)
(iv) Raja Yosia mati waktu menghalangi Firaun Nekho memasuki dataran Esdralon melalui jalan Megido (II Raja-raja 23:29,30)
# Letak Kota Yerusalem. Kota Yerusalem terletak 700m diatas permukaan laut, di daerah pegunungan Yudea. Sebenarnya tempat itu kurang baik sebagai lokasi ibukota negara – jauh dari laut (54km), tidak terletak ditepi sungai besar, tetapi dekat dengan jalan raya dagang, persediaan airnya kurang bagus dan termasuk daerah kurang subur, namun sekalipun demikian tidak ada kota lain yang telah sedemikian rupa mempengaruhi sejarah dunia.



II. SEJARAH PERJANJIAN LAMA

A. Dari Zaman Adam Sampai Abraham
Perlu dikatakan terlebih dahulu bahwa keterangan/ data-data tentang penentuan waktu dalam zaman ini sangat kurang sekali. Oleh karena itu terdapatlah beberapa pendapat. Ada beberapa sarjana yang menempatkan Adam antara th 4000 sampai 5000 SM, dan ada lagi yang memperhatikan bukti ilmiah bahwa sebangsa manusia sudah ada di bumi jauh sebelum itu. Ada yang mengatakan bahwa manusia sudah ada sekitar th 150.000, SM atau bahkan ada yang mengatakan 500.000 SM. Menanggapi perbedaaan-perbedaan ini adalah hal yang wajar, karena kita tahu bahwa Alkitab tidak dimaksudkan untuk menjadi suatu catatan kronologi yang berturut-turut mulai dari penciptaan sampai seterusnya. Tujuan Alkitab ialah untuk mencatat peristiwa-peristiwa penting yang berhubungan dengan tindakan Allah terhadap manusia.
Pada abad ke-17 uskup James Usher di negara Inggris mencoba untuk menentukan waktu penciptaan Adam dengan cara menjumlahkan kebelakang genealogi-genealogi (silsilah) dan data-data kronologis lain yang terdapat dalam Perjanjian Lama. Dengan demikian dia menentukan th. 4004 SM, sebagai waktu penciptaan Adam. Pendapat Usher ini bukanlah suatu pendapat yang dapat dianggap sebagi suatu pendapat yang mutlak benar, mengingat bahwa silsilah yang ada dalam PL itu tidak terlalu lengkap dan kadangkala kata “anak dan memperanakkan” yang sering sekali kita temukan dalam PL ternyata kadangkala bukan mengacu kepada kata anak secara literal yang kita pahami masa kini, tetapi kadangkala mengacu kepada keturunan yang mungkin adalah cucu. Misalnya Yesus disebut sebagai anak Daud, padahal Daud adalah Bapa leluhur dari Yusuf. Jadi dengan demikian kita tidak dapat menetapkan secara tepat kapan manusia pertama diciptakan.
Bahkan pendapat ilmu pengetahuan dan Arkeologipun belum dapat dipastikan benar untuk hal tersebut, karena rumus atau penghitungan atau pengukuran yang dilakukan sampai saat inipun masih sering berubah.

Air Bah (Kejadian 6:13 –9:17)
Waktu terjadinya peristiwa air bah ini juga belum dapat dipastikan. Dalam penelitiannya Usher telah menetapkan bahwa peristiwa air bah terjadi pada th. 2348 SM, dengan menghitung umur para patriakh dari Adam sampai dengan Nuh (Kejadian 5). Lamanya ialah 1656 tahun, yang diambil dari tanggal 4004 SM., dengan hasil 2348 SM.
O.T. Allis berpendapat bahwa silsilah yang tercatat dalam kitab Kejadian barangkali kurang lengkap, maka jangka waktu 1656 tahun antara Adam dan Nuh terlalu pendek sekali. Dia lebih cenderung pada teori sarjana-sarjana lain bahwa air Bah terjadi antara th 5000 – 8000 SM.
Zonderpan Pictorial Bible Dictionary mendukung waktu kira-kira th 7000 SM., tetapi juga menyebutkan beberapa factor yang menunjuk pada suatu waktu lebih dekat. Walaupun ada lowongan-lowongan di dalam silsilah Alkitab, jangka waktu antara 5000 tahun antara Abraham (kira-kira 2000 SM) dan Air Bah tidak mudah diterima. Di pandang dari segi lain hukuman Tuhan atas Babel (Kejadian 11) barangkali tidak terjadi lebih dari 1000 tahun sesudah Air Bah, sebab rupanya pada waktu itu manusia masih tinggal di suatu daerah itu saja. Dalam Kejadian 11, hanya tiga orang saja yang disebutkan sebagai orang yang lahir antara peristiwa Babel dan kelahiran Terah, Ayah Abraham. Kemungkinan hidupnya tiga orang itu terpisah dengan ribuan tahun adalah kecil sekali, sebab ilmu Arkeologi telah membuktikan bahwa beberapa kota yang mendapatkan nama dari semua yang muncul, kira-kira pada waktu yang sama. Keterangan ini menunjuk pada suatu jangka waktu yang cukup pendek antara peristiwa menara Babel dan Abraham, dan dengan demikian juga mendukung pendapat bahwa Air Bah terjadi antara kira-kira 1000-1500 th. Sebelum kelahiran Abraham.
Akhirnya dapat diperhatikan pula kesamaan antara riwayat Air Bah di dalam Alkitab dengan sebuah kisah tentang Air Bah terjadi kira-kira tahun 3000 SM.

Menara Babel
Tentang peristiwa ini sekali lagi terdapat yang bermacam-macam. Juga, pendapat seseorang akan dipengaruhi oleh kesimpulan-kesimpulannya tentang hal penciptaan dan Air Bah. Mungkin hanya dapat dikatakan bahwa terjadinya peristiwa Menara Babel seharusnya tidak lama setelah peristiwa Air Bah (sebab semua manusia masih tinggal di suatu daerah itu), tetapi juga tidak jauh sebelum kelahiran Abraham – yaitu pada masa seribu tahun yang ke-3 SM. (2000-3000SM).

B. Zaman Patriakh-patriakh (2000-1400 SM)
Waktu kejadian-kejadian yang diceritakan dalam Kejadian 12-50 tentang para Patriakh tidak dapat ditentukan dengan pasti. Riwayat-riwayat tersebut sama sekali tidak menyebutkan tokoh-tokoh dari bangsa lain, demikianpula tulisan sejarah bangsa-bangsa yang lain tidak menyebutkan patriakh-patriakh bangsa Israel. Oleh sebab itu tidak ada kemungkinan untuk mencocokkan waktu-waktu bersejarah dari bangsa lain dengan masa patriakh-patriakh Israel. Tetapi dapat dikatakan dengan yakin bahwa cerita-cerita tentang patriakh cocok sekali dengan lingkungan kebudayaan periode tahun 2000-1600 SM. Cara hidup para Patriakh sebagai pengembara juga cocok dengan keterangan dari tulisan-tulisan Mesir tentang daerah sabit subur pada zaman tersebut, yaitu bahwa orang dapat bebas berjalan antara Mesopotamia (tempat asal Abraham) dan Palestina; bahwa Palestina pada waktu itu jarang ada penduduknya; dan bahwa daerah pengembaraan mereka dapat memelihara ternak mereka dengan baik.
C. Peristiwa Keluaran
Disini juga perlu diakui adanya beberapa pendapat yang berlainan. Pendapat-pendapat itu rupanya dapat digolonmgkan demikian:
1. Peristiwa keluaran terjadi kira-kira tahun 1450 SM.
2. Peristiwa Keluaran terjadi kira-kira tahun 1290 SM.

Ada dua periode pasti yang disebutkan di dalam Firman Tuhan yang seharusnya dapat menolong disini. Namun periode-periode tersebut dapat ditafsirkan dengan berbagai cara.
Periode yang pertama adalah 480 tahun yang disebutkan I Raja-raja 6:1 sebagai masa yang berlalu antara peristiwa keluaran dari tahun ke 4 dari kerajaan Salomo waktu dia mulai membangun bait suci. Biasanya dianggap betul bahwa Salomo menjadi raja pada tahun 970 SM, yang berarti keluaran terjadi kira-kira th 1290 SM. Untuk menghitung tahun keluaran maka harus mengurangi masa pemerintahan Hakim-hakim sebanyak 150 th, menjadi kira-kira 250 th, sedangkan silsilah Alkitab untuk masa itu dari Musa sampai Samuel menuntut kira-kira 400 th. Sarjana-sarjana tersebut menjelaskan persoalan ini dengan mengatakan bahwa kadang-kadang lebih dari satu orang Hakim memerintah pada waktu yang sama; akan tetapi hal itu tidak dapat dibuktikan dari kebenaran Firman Tuhan.
Periode yang kedua adalah 430 tahun yang disebutkan dalam keluaran 12:40,41 sebagai lamanya orang Israel tinggal di Mesir. Mengenai periode inipun terdapat dua pendapat utama – ada sarjana yang mengatakan bahwa masa 430 tahun itu berlangsung dari Yakub masuk ke Mesir sampai dengan waktu terjadinya keluar dari Mesir. Ada pula yang percaya bahwa masa tersebut dimulai dengan perjanjian Allah kepada Abraham dan diakhiri dengan peristiwa keluaran dari Mesir. Pendapat terakhir itu mendapat dukungan dari Rasul paulus dalam Galatia 3:16,17 yang mengatakan bahwa antara waktu Tuhan memberi janji kepada Abraham (Kejadian 12) dan keluaran dari Mesir adalah periode 430 th. Dari sejarah sekuler ada bukti juga bahwa pengaruh dan perbatasan negara Mesir pada waktu itu sudah mencapai sungai Efrat. Jadi waktu Abraham mentaati panggilan Tuhan untuk meninggalkan Haran dan pergi ke Kanaan dengan itu ia sudah memasuki wilayah Mesir, maka periode 430 tahun itu telah berjalan. Periode itu kemudian terbagi menjadi dua periode 215 tahun. Masing-masing – satu periode 215 th. Sampai Yakub masuk Mesir (Kejadian 12:4; 21:5; 25:26; 47:9), dan satu periode 215 th lagi sampai orang Israel keluar dari tanah Mesir. Tetapi mereka yang berpendapat bahwa periode 430 th, mulai dengan masuknya Yakub ke Mesir mempunyai tiga pilihan – yaitu bahwa peristiwa keluaran terjadi kira-kira tahun 1250 –1290 SM atau Yakub dan Abraham dilahirkan jauh sebelum waktu yang biasanya telah diterim. Atau bahwa periode 430 th. Itu bukan suatu periode yang sungguh-sungguh demikian lamanya dan boleh diperpendek jika perlu.
Bukti tentang Yakub masuk Mesir juga terdapat didalam keterangan tentang pemerintahan Mesir pada waktu itu. Catatan sejarah Mesir menunjukkan bahwa anatara th 1710 –1570 SM, negara Mesir dirajai oleh orang “Hyksos” satu golonan yang berasal dari Kanaan bagian selatan dan yang merebut pemerintahan dari orang-orang Mesir asli. Jadi orang Hyksos tersebut berasal dari kebudayaan yang hampir sama dengan orang Israel yang dipimpin oleh Yakub. Maka kesempatan yang demikian merupakan kesempatan yang baik bagi Yusuf untuk menjadi orang yang berwibawa di Mesir, dan tidak begitu mengherankan kalau Firaun Mesir menyambut transmigrasi orang Israel dari Kanaan ke Mesir di bawah pimpinan Yakub. Kemudian orang-orang Mesir asli merebut kembali pemerintahan dari orang Hyksos, sehingga terjadi apa yang tercatat dalam Keluaran 1:8 – “bangkitlah seorang raja yang tidak mengenal Yusuf.” Pemerintahan Mesir yang baru itu tidak begitu mengerti adanya suatu golongan orang asing di Mesir dan juga tidak merasa adanya kesamaan dengan orang asing itu. Kalau diperkirakan kurang lebih 100 tahun setelah masa pemerintahan Hyksos untuk perkembangan rasa permusuhan yang makin meningkat terhadap orang Israel. Maka sekali lagi terdapat waktu kira-kira th 1450 SM. Untuk peristiwa keluaran. Musa yang sudah berumur 80 tahun pada waktu peristiwa keluaran terjadi, barangkali tidak lama sesudah Firaun yang baru itu mulai memerintah (Kel 1:2). Cara menghitung lagi adalah menambahkan 215 tahun pada tanggal keluaran kira-kira tah 1450 SM., yang menentukan th 1665 SM. Untuk Yakub masuk ke Mesir yaitu waktu yang jatuh pada waktu pemerintahan orang Hyksos tersebut.
Kesimpulan dari keterangan-keterangan diatas ialah bahwa ada tiga pilihan utama untuk membuat sebuah skema kronologis dari Abraham sampai pembangunan Bait Suci dimulai, yaitu:

I
(430 th dimulai dari janji Tuhan kepada Abraham dan berakhir pada th. 1446 SM) II
(430 th dimulai dari Yakub masuk Mesir) III
(430 th dihitung dari janji Tuhan tetapi berakhir pada th 1290 SM)
Abraham lahir 1951 SM 2010 SM 1795 SM
Abraham menyeberangi sungai Efrat (berumur 75 th – Kej 12:4)

1876 SM

1935 SM

1720 SM
Isak lahir (Abraham berumur 100 th. – Kej 21:5)
1851 SM
1910 SM
1695 SM
Yakub lahir (Ishak berumur 60 th. – Kej 25:26)
1791 SM
1850 SM
1635 SM
Yakub masuk Mesir (Yakub berumur 130 th – Kej 47:9)
1661 SM
1720 SM
1505 SM
Keluaran dari Mesir 1446 SM 1290 SM 1290 SM
Penaklukan Kanaan mulai 1406 SM
1250 SM 1250 SM
Bait suci mulai dibangun 966 SM 966 SM 966 SM

Dari ketiga pilihan diatas, terlihat bahwa skema II menetapkan bahwa kelahiran Abraham sebelum tahun 2000 SM., fakta yang sukar diterima. Baik skema II maupun III mempunyai kelemahan karena masuknya Yakub ke Mesir diletakkan diluar masa pemerintahan Hyksos, juga masa pemerintahan Hakim-hakim Israel di Kanaan harus diperpendek. Jadi rupanya skema I paling cocok dengan semua keterangan yang terdapat di dalam Firman Tuhan, tetapi harus diakui bahwa ada cukup banyak sarjana yang tidak setuju dengan kesimpulan ini dan pendapat-pendapat mereka juga perlu diperhatikan.

D. Zaman Hakim-hakim (kira-kira th. 1400 – 1050 SM)
Seperti apa yang telah dikatakan di atas, periode yang disebutkan dalam I Raja-raja 6:1 dari Keluaran sampai permulaan pembuangan Bait Suci adalah 480 tahun. Kalau 80 tahun diambil untuk masa pemerintahan Daud dan Saul, tinggal 400 tahun untuk masa dari Musa sampai Samuel. Tetapi kesimpulan tentang penentuan waktu untuk peristiwa keluaran, maka perlu periode 480 tahun tersebut juga harus diperpendek menjadi kurang lebih 320 tahun. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan bahwa hakim-hakim tidak selalau memerintah secara berturut-turut, – cukup sering terjadi pemerintahan bersama, sehingga tidak memerlukan periode 480 tahun penuh.
Akan tetapi masa 480 tahun itu disebutkan dengan jelas dan begitu teliti (sampai pada bulanya) di dalam Firman Tuhan, sehingga menjadi sukar untuk menguranginnya demikian. Jadi misalnya th. 1446 SM diterima untuk keluaran, bagaimanakah skema masa Hakim-hakim itu? Musa sudah berumur 80 tahun pada waktu keluaran terjadi dan pada waktu kematiaanya sudah berumur 120 tahun (Ulangan 34:7), berarti ia mati kira-kira 1407 SM. Kemudian Israel dipinpin oleh Yosua dengan para tua-tua selama periode kira-kira th 1407 – 1383 SM, dan skema masa pemerintahan Hakim-hakim seterusnya dapat diperkirakan sebagai berikut:

Hakim Tanggal Sebutan dalam Kitab Hakim-hakim
Otniel 1376 – 1336 SM Hakim-hakim 3: 9,11
Ehud 1320 – 1240 SM Hakim-hakim 3:15,30
Debora & Barak 1240 – 1200 SM Hakim-hakim 4:4; 5:31
Gideon 1197 – 1157 SM Hakim-hakim 6:11; 8:28
Abimelekh 1157 – 1154 SM Hakim-hakim 9:22
Tola 1154 – 1131 SM Hakim-hakim 10:1,2
Yair 1131 – 1109 SM Hakim-hakim 10:3
Yefta 1089 – 1083 SM Hakim-hakim 12:7
Ebzan 1083 – 1076 SM Hakim-hakim 12: 8,9
Elon 1076 – 1066 SM Hakim-hakim 12:11
Abdon 1066 – 1058 SM Hakim-hakim 12:13,14
Simson 1071 – 1051 SM Hakim-hakim 16:30,31

Masa Hakim-hakim merupakan zaman yang gelap dalam sejarah Israel. Sifat zaman tersebut dapat diringkaskan dengan suatu ucapan dari Hakim-hakim 17:6 “Setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.” Sepanjang masa itu agama mengalami kemunduran. Untuk lebih jelasnya kita akan membahas hal itu dalam pembahasan yang selanjutnya.

E. Zaman Kerajaan Bersatu (kira-kira tahun 1050 – 931 SM)

Zaman ini zaman yang pling gemilang dan makmur bagi Israel. Zaman gelapan telah berubah menjadi zaman keemasan bagi Israel. Dalam periode ini Israel mencapai derajat yang tinggi dalam pandangan bangsa-bangsa sekelilingnya. Rakyatnya maju dalam ilmu pengetahuan, kesusastraan, pembangunan dan segala hal yang penting untuk perkembangan yang baik.
Sebelum itu bangsa Israel merupakan suatu “teokrasi” (Israel diperintah langsung oleh Tuhan) melalui seorang yang dipilih/ ditunjuk oleh Tuhan sendiri. Tetapi karena bangsa Israel melihat bangsa tetanggannya yang diperintah oleh seorang raja yang mereka pilih sendiri, dan karena mereka merasa bahwa kepemimpinan terus-menerus oleh seorang hamba Tuhan terlalu berat bagi mereka, maka nabi Samue diminta untuk menunjuk seorang raja bagi mereka. Walaupun ini kurang sesuai dengan kehendak Tuhan, namun Dia memperbolehkannya karena memang bangsa itu telah menolak Tuhan sendiri sebagai raja mereka (1Samuel 8:1-9) tetapi izin-Nya juga disertai dengan suatu peringatan bahwa nanti mereka akan menyesal (1Sam 8:10-18).
Raja pertama adalah Saul, pada awal kepemimpinannya bangsa itu aman tenag dan damai. Pada saat itu kesatuan bangsa itu terjamin. Namun seringkali Saul bertindak tidak seperti kehendak Tuhan, tetapi menurut kehendak sendiri, sehingga akhirnya dia ditolak Tuhan. Diakhir pemerintahannya persatuan bangsa itu terancam pecah karena permusuhannya dengan Daud.
Selanjutnya dalam masa pemerintahan Daud, dimana tujuh tahun pertamannya dia berhasil mempersatukan kembali seluruh bangsa Israel. Sehingga kedua belas suku Israel semuanya mengakui dia sebagai Raja. Dia juga merebut Yerusalem dari tangan orang Yebus dan menjadikannnya sebagai ibukota kerajaannya, yang sebelum itu dipusatkan di Hebron. Kemudian dia juga memantapkan kekuatan bangsa Israel dengan menundukkan bangsa-bangsa di sekelilingnya seperti Filistin, Moab, Amon dan Edom kesemuanya itu jatuh ketangannya. Di bagian Timur kekuasaannya dirasakan sampai ke Damsyik, dibagian barat laut dia mempunyai hubungan baik dengan Fenesia. Dengan demikian Israel telah dikenal sebagai bangsa yang sungguh-sungguh berdiri sendiri, mendapatkan sumber-sumber alam dan juga mempunyai peranan penting dalam usaha perdagangan seluruh daerah Timur Tengah. Keadaan demikian memberi kesempatan yang paling baik bagi kemajuan bangsa Israel.
Setelah Daud meninggal Salomo menggantikan kedudukannya sebagai raja. Salomo menggalang persahabatan dengan bangsa-bangsa disekitarnya. Mula-mula Salomo memerintah dengan bijaksana. Dia juga memperkokoh tembok bentengnya dan membangun sebuah istana yang sangat indah bagi dirinya sendiri beserta 700 isterinya dan 300 gundiknya. Usahanya yang tertinggi adalah membangun bait suci, yang menyebabkan aktifitas-aktifitas keagamaan mulai dipusatkan pada Yerusalem dan sangat berkembang. Tetapi lama-kelamaan Salomo mulai dipengaruhi oleh bermacam-macam penyembahan berhala yang dilakukan oeh isteri-isterinya yang berasal dari bangsa-bangsa kafir. Sehingga ia memberi teladan yang sangat kurang baik kepada rakyat yang dirajainya. Maka pada akhir masa pemerintahannya Israel sudah mulai mengalami masa kemunduran lagi.
Cara menentukan waktu pemerintahan ketiga raja tersebut masing-masing, ialah menghitung kebelakang mulai dari akhir pemerintahan Salomo. Menurut IRaja-raja 11:42 Salomo memerintah selama 40 tahun yang rupanya berakhir kira-kira th 930 SM. Ini berarti dia mulai memerintah th 970 SM. Daud juga memerintah 40 tahun, yaitu 7 tahun di Hebron sebagai raja Yehuda, dan 33 tahun di Yerusalem sebagai Raja seluruh Israel (1 Raja-raja 2:11) – berarti dia mulai memerintah kira-kira th 1010 SM. Lamanya pemerintahan Saul kurang jelas sebab pada teks 1Sam 13:1 ada angka-angka yang hilang. Akan tetapi dalam Kisah Para Rasul 13:21 Paulus mengatakan bahwa Saul memerintah selama 40 tahun, dan tidak ada alas an yang kuat untuk meragukan keterangan itu. Kalau bukan 40 tahun penuh, mungkin hanya kurang sedikit, sehingga boleh diperkirakan bahwa Saul mulai memerintah kira-kira tahun 1045 –1050 SM. Jadi skema masa pemerintahan Saul, Daud dan Salomo masing-masin adalah kira-kira sebagaimana berikut ini:
Saul tahun 1050 – 1010 SM
Daud tahun 1010 – 970 SM
Salomo tahun 970 – 930 SM

F. Zaman Kerajaan Terpisah (kira-kira tahun 930-586 SM)
Ketika Salomo meninggal, Rehabeam anaknya menjadi raja (kira-kira tahun 930 SM), akan tetapi suku-suku di Israel bagian utara, dipimpin oeh Efraim sebagai suku yang terbesar, memberontak dan mendirikan kerajaannya sendiri dengan Yerobeam sebagai rajannya. Perpecahan kerajaan itu disebabkan oleh:
1. Perasaan iri hati dari suku-suku utara karena pusat penyembahan Tuhan pindah dari tempat-tempat tradisional, seperti Betel & Dan di bagian utara, ke bait suci yang baru didirikan di Yerusalem, dibagian selatan.
2. Pajak yang sangat berat, yang dipungut oleh raja Salomo untuk membiayai program pembangunannya serta penghidupan istananya, kemudian diteruskan oleh Rehabeam walaupun rakyat Israel telah meminta supaya pajak itu diringankan.
3. Orang-orang saleh di Israel merasa tersinggung karena raja Salomo membiarkan hal penyembahan berhala yang dibawa oleh isteri-isterinya.
4. Suku-suku Utara sebenarnya belum betul-betul dipersatukan dengan suku-suku selatan. Bahwa mereka kelihatan seolah-olah sudah menjadi satu dibawa pimpinan Daud disebabkan hanya karena mereka terpaksa kerja sama untuk melawan musuh-musuh dari luar, bukan karena mereka memiliki rasa persatuan yang sungguh-sungguh. Maka dengan adanya kepemimpinan negara yang lemah di bawah raja Rehabeam, terjadinya perpecahan sudah hampir pasti.
Selama masa pemerintahan beberapa raja yang kemudian menjadi perioed peperangan antara Israel (kerajaan Utara yang terdiri dari 10 suku) dan Yehuda (Kerajaan elatan yang terdiri dari dua suku). Masa pemerintahan tiap raja dapat ditentukan dengan cukup pasti kalau dibuat perbandingan antara keterangan Alkitab dengan tulisan Sejarah kerajaan Asyur dan bangsa-bangsa lain. Dari keterangan tersebut dapat ditentukan bahwa raja Israel Ahab, dibunuh dalam pertempuran dengan orang Aram (Siria) pada tahun 853 SM., dan anaknya Ahazia pada tahun itu menjadi raja (1 Raja-raja 22:29-40) demikian pula sudah dapat ditentukan bahwa Yehu menjadi raja Israel (setelah ia membunuh baik raja Yoram dari Israel, maupun raja Ahazia dari Yehuda) pada tahun 841 SM dari tanggal-tanggal tersebut dapat dihitung kebelakang untuk menentukan masa pemerintahan tiap-tiap raja Israel dan Yehuda sampai kepada Rehabeam (raja selatan yang pertama) dan Yerobeam (raja utara yang pertama). Demikian pula dengan menghitung kedepan dapat ditentukan masa pemerintahan tiap-tiap raja sampai pada keruntuhan kerajaan Yehuda oleh tangan Babel pada tahun 587 SM. Memang untuk mencocokkan semua keterangannya, perlu diakui beberapa masa pemerintahan bersama baik dalam kerajaan Yehuda maupun dalam kerajaan Israel, tetapi ini merupakan suatu hal yang biasa pada waktu itu. Jadi skema urutan dan masa pemerintahan raja-raja Yehuda dan Israel adalah sebagai berikut:


Israel Masa Pemerintahan Pemerintahan Bersama Yehuda Masa Pemerintahan Pemerintahan Bersama
Yerobeam I 931 - 910 Rehabeam 931 – 913
Abiam 913 – 911
Nadab 910 - 909 Asa 911 – 870
Baesa 909 - 886
Ela 886 - 885
885 873 - 870
Tibni 885 - 880 885 - 880
Omri 885 - 874
Ahab 874 - 853 Yosafat 873 – 848 853 - 848
Ahazia 853 - 852 Yoram 853 – 841
Yoram 852 - 841 Ahazia 841
Yehu 841 - 814 Atalya 841 – 835
Yoas 835 – 796
Yoahas 814 - 798 Amazia 796 - 767 790 - 767
Yoas 798 - 782 793 - 782 Azarya/Uzia 790 - 740
Yerobeam II 797 - 753
Zakaria 753 - 752 750 – 740
Salum 752
Menahem 752 - 742 Yotam 750 - 732
Pekahnya 742 – 740 752 – 740
Pekah 752 - 732
Hosea 732 - 722 Ahas 732 – 716
Kerajaan Israel Runtuh Hizkia 716 – 687 696 – 687
Mansye 696 - 642
Amon 642 – 640
Yosia 640 – 609
Yoahas 609
Yoyakim 609 – 597
Yoyakin 597
Zedekia 597 - 587
Kerajaan Yehuda Runtuh

Keruntuhan kerajaan Utara (Isarel) terjadi ketika orang Asyur di bawah pimpian raja Salmenester V menyerbu tanah Israel. Sebelumnya orang Asyur telah menaklukkan Damsyik, ibukota Siria yang menjadi sekutunya Israel. Mula-mula Raja Israel, Hosea membayar upeti kepada Asyur, tetapi kemudian dia mulei mengadakan perundingan dengan Mesir untuk bersama-sama melawan Asyur. Akibatnya ialah Hosea di tawan, tanah Israel di serbu lagi dan kota Samaria dikepung oleh Sargon II yang telah menggantikan Salmeneser sebagai raja Asyur. Sebagian dari penduduk Israel dibuang ke Mesopotamia dan Media, sedangkan banyak pendatang dari bagian-bagian kerajaan Asyur yang lain masuk ketanah Israel.
Kerajaan selatan (Yehuda) sanggup beratahan 136 tahun lebih lama daripada Kerajaan Israel. Pada tahun 700 SM., di bawah pimpinan raja Hizkia, ia dapat menahan serbuan orang Asyur yang pada waktu itu dirajai oleh Sanherib (II Raja-raja 18;19), tetapi selama hampir 100 tahun sesudah itu Yehuda harus membayar Upeti kepada Asyur. Akan tetapi pada akhir abad ke 7 SM., kekuasaan Asyur mulai mundur, maka pada tahun 598 SM adalah Nebukadnesar, raja Babel yang menyerbu Israel dan menaklukkan kota Yerusalem pada tahun berikutnya. Raja Yehuda Yoyakin, beserta sebagian dari kaum bangsawan di buang ke Babel. Zedekia dijadikan raja boneka oleh Babel dan selama periode beberapa tahun berikutnya menjadi masa dimana Yehuda berganti-gantian membereontak lalu dihukum oleh Babel. Akhirnya pada tahun 589 SM raja Zedekia sekali lagi memberontak dan Nebukadnezar mengepung kota Yerusalem. Selama satu setengah tahun Yerusalem dapat bertahan, tetapi pada tahun 587 SM tembok bentengnya diterobos dan kota ditaklukkan. Bait suci beserta kota dirampas serta dibakar semuanya, temboknya dirobohkan, dan banyak lagi dari kaum bangsawan di buang ke Babel.
Selama masa kerajaan terpisah, baik di Yehuda maupun di Israel ada beberapa nabi yang dibangkitkan atau yang dipakai oleh Tuhan untuk menyempaikan Firman=Nya kepada raja dan Rakyat kedua kerajaan tersebut. Diantaranya beberapa nabi yang terkemuka adalah sebagaimana berikut:

Kerajaan Israel atau Utara:

1. Elia
Dia bernubuat pada abad ke- 9 SM., ia adalah seorang dari Gilead yang berkuasa karena hubungannya dengan Tuhan. Ia datang ke Istana Ahab yang memperistrikan Izebel untuk mengutuki penyembahan berhala yang dipraktekkan dalam pemerintahan Ahab dan isterinya Izebel. Dengan perkataan yang keras Elia membuktikan bahwa berhala-berhala dan Baal hanya sia-sia saja.

2. Elisa
Dia menggantikan Elia sebagai Nabi. Ia bersifat lebih sopan dan sabar daripada Elia. Selama ia memegang jabatannya, ia mempunyai pengaruh besar, baik di Istana maupun dalam masyarakat. Dia sering mengadakan perbuatan ajaib pada masa pemerintahan Yoram sampai raja Yoas. Nabi Elia dan Elisa adalah nabi yang berjuang melawan atau menentang penyembahan berhala, khususnya pemyembahan Baal yang telah diperkenalkan kepada bangsa Israel oleh Ahab dan Izebel.

3. Amos
Pada abad ke-8, nabi Amos bernubuat pada zaman pemerintahan Raja Uzia (Kerajaan Yehuda) dan Raja Yerobeam II (di Kerajaan Israel). Amos berasal dari Yehuda, namun ia bernubuat di Samaria yaitu ibukota kerajaan Israel. Disana ia banyak mengecam dosa dan ketidak adilan yang terjadi dalam masyarakat itu. Ia bernubuat bawa karena dosa-dosa itu maka orang Israel akan ditawan oleh bangsa Asyur. Tetapi pada saat itu keadaan bangsa Israel makmur, maka orang Israel tidak memperhatikan peringatan yang dari Tuhan itu.

4. Hosea
Dia mulai bernubuat pada waktu yang bersamaan dengan Nabi Amos (yaitu di bawah pemerintahan Raja Yerobeam II). Hosea menekankan keinginan Tuhan agar bangsa Israel berbalik dari berhala-berhala dan dosa-dosannya untuk menyembah Allah dan mentaati Firman-Nya supaya mereka boleh meminta berkat dari Tuhan. Hosea juga memperingatkan Israel akan adanya sensara yang sebentar akan menimpa mereka jikalau mereka tetap mengabaikan perintah Tuhan serta tetap menyembah berhala.


Kerajaan Yehuda:

1. Yoel
Pada waktu pemerintahan Raja Yoas terjadilah wabah belalang (plague locust). Nabi Yoel mengatakan bahwa itu adalah tanda penghukuman Tuhan atas rakyat Yehuda, karena mereka telah berdosa kepada Tuhan. Yoel mengumandang berita yang datang dari Tuhan serta ajakan untuk bertobat dan berbalik kepada Tuhan.

2. Yesaya
Yesaya mulai bernubuat pada akhir pemerintahan raja Uzia sampai kepada pemerintahan raja Yotam, Ahaz dan Hizkia. Yesaya bernubuat tentang penghukuman Allah yang akan terjadi karena penyembahan berhala dan perbuatan dosa yang dilakukan oleh umat Israel. Ia memberitahukan bahwa suatu saat Israel akan di bawa ke negara pembuangan, tetapi kemudian Tuan akan membuka jalan supaya mereka dapat kembali ke tanah Israel. Disamping itu Yesaya juga bernubuat akan datangnya Mesias. Dia menggambarkan Mesias sebagai hamba Tuhan yang akan menderita untuk menyelamatkan umat Israel dari dosa, tetapi umat Israel menolak keterangan itu karena mereka mengharapkan raja dunia sebagai Mesias.

3. Mikha
Nabi Mikha adalah nabi yang hidup sezaman dengan nabi Yesaya. Mereka berdua mengutuk ketidakadilan yang terjadi dalam masyarakat dan kejahatan moral yang dilakukan oleh umat Israel karena mereka telah menolak Allah yang Maha Kuasa. Seluruh bangsa Israel telah melalaikan tanggung jawabnya sebagai umat Allah.

4. Nahum
Nahum bernubuat pada masa pemerintahan Yosia, yang menubuatkan kerajaan Asyur yng amat kuat itu akan dijatuhkan dan dihancurkan, sehingga rakyat Yehuda yang ditindas dengan kejam oleh Asyur akan dibebaskan. Nubuat yang mula-mula dianggap mustahil ini, kemudian sungguh-sungguh terjadi.

5. Zefanya
Dia adalah seorang nabi dan pengkotbah yang terus terang mencela dosa-dosa yang diperbuat oleh rakyat pada masa pemerintahan Yosia di Yehuda. Dia mempunyai pengaruh yang besar kepada Yosia yang membuat suatu kebangunan rohani yang besar di negara Yehuda.
6. Habakuk
setelah ia melihat negara-negara yang mengelilingi Yehuda, dia menggumuli persoalan ini: “Mengapakah Allah tidak menghalangi orang Kasdim yang memusnahkan negara-negara yang berdekatan dengan tanah Yehuda?” Tuhan mengwahyukan kepada dia bahwa Tuhan memakai orang Kasdim sebagai alat penghukuman di tangan Tuhan kepada bangsa-bangsa yang jahat. Kemudian Tuhan juga hendak memakai orang Kasdim untuk melawan bangsa Yehuda karena dosa-dosa mereka. Setelah itu orang Kasdim akan dihukum oleh Tuhan karena kekejamannya.
7. Yeremia
Yeremia bernubuat pada masa pemerintahan Raja Yosia, Yoahaz, Yoyakim, Yoyakhin dan Zedekia. Dia beruhasaha untuk menghapuskan suasana kejahatan yang menguasai kerajaan Yehuda pada masa itu. Ia berusaha keras untuk menyelamatkan bangsanya dari keruntuhan yang sudah lama mengancam dan hampir tiba itu. Tetapi usahanya tidak berhasil karena kaum Yehuda bersifat keras kepala, mereka terus menerus menyembah berhala, berbuat kejahatan dan tidak memperhatikan peringatan-peringatan Tuhan yang diberitahukan kepada mereka oleh nabi-nabi yang setia itu.

G. Zaman Pembuangan di Babel dan Pengembalian ke Tanah Israel (setelah 587 SM)
Masa pembuangan ini dimaksudkan oleh Tuhan sebagai hukuman atas dosa dan kejahatan orang-orang Yehuda, supaya mereka mengoreksi diri dan mentaati perintah-perintah Tuhan. Selama periode tersebut rakyat Yehuda merupakan jajahan. Mereka tidak diperhambakan, malah mereka bebas untuk melakukan segala kebiasaan umum, misalnya dalam bidang agama dan perdagangan. Banyak diantara mereka menjadi kaya dan ada lagi yang justru memiliki jabatan yang tinggi dalam pemerintahan.

Nabi-nabi Yang Terkemuka di Babel

1. Yehezkiel
Adalah seorang imam dan nabi yang menyakinkan bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan umat Yahudi. dia mengatakan bahwa mereka mengalami penderitaan karena dosa-dosa mereka, tetapi Tuhan masih mengasihi mereka. Tuhan menginginkan agar mereka menyembah Dia di tempat yang baru itu serta mentaati Firman-Nya, walaupun mereka tidak dapat berkumpul di kota Yerusalem dan bait Allah yang ada disana.

2. Daniel
Dia memperoleh suatu kedudukan yang sangat penting dalam pemerintahan Babel. Dengan tulus hati ia bernubuat dan berusaha sekuat tenaganya untuk memimpin rakyat Yehuda kembali kepada Tuhan. Dia adalah seorang teladan yang baik dan setia, karena dia tidak pernah berkompromi tetapi selalu patuh dan percaya kepada Tuhan. Nubuatannya tentang masa depan dan akhir zaman dimaksudkan untuk memberi pengharapan tentang pembebasn dari pembuangan dan penderian kerajaan Allah yang sejati di Yrusalem.

Hasil-hasil yang baik dari pembuangan rakyat Yahudi:

1. “Monotheisme” ditegakkan. Karena pengalaman ini, maka umat Yehuda berpaling dari penyembahan berhala dan “Polytheisme.” Sejak zaman itu orang Yehuda hanya menyembah dan berbakti kepada Allah.
2. Mereka menjadi sangat bersemangat dalam bidang pendidikan. Oleh sebab itu rumah sembahyang sebagai pusat pendidikan merupakan suatu lembaga yang kokoh bagi rakyat Yahudi.
3. Mereka lebih menghormati Taurat Musa, dan pengetahuan tentang Hukum Allah dipelajari hanya oleh para imam dan para nabi saja. Sayangnya, pada waktu itu jua timbul suatu sikap seolah-olah diperbudak oleh hukum taurat, yaitu bahwa orang Yahudi mulai menganggap semua peraturan, perintah yang ada dalam taurat Musa harus dipatuhi menurut tafsiran ahli-ahli taurat.
4. Mereka makin lama makin berharap akan kedatangan Mesias untuk melepaskan mereka dari penderitaan yang mereka alami dalam pembuangan di Babel. Sampai saat itu, cita-cia orang Yahudi tentang kemasyuran negara mereka belum tercapai, maka mereka ingat akan janji dan nubuat-nubuat mengenai Mesias yang akan datang. Dengan demikian mereka mengharapkan Mesias yang serupa dengan raja dunia, supaya ia dapat melepaskan mereka dari pembuangan itu dan mencapai cita-cita kebangsaan mereka di tanah Yehuda. Memang nabi-nabi Yehuda yang tinggal bersama dengan mereka di Babel mengobarkan semangat supaya kaum Yahudi berbakti dan mencintai bangsanya serta berharap bahwa di kemudian hari kelak mereka akan kembali ketanah Israel.

Pengembalian ke tanah Israel
Pada tahun 539 SM., Raja Koresy dari Persia menaklukkan kota Babel dan dengan demikian mendapat kekuasaan atas seluruh kerajaan Babel. Raja Koresy itu adalah seorang raja yang bersifat moderat/lunak terhadap tawanan yang dahulu di bawa ke Babel oleh raja-raja yang dahulu. Dia memegang prinsip bahwa akan lebih baik jika tawanan itu diijinkan kembali ke negeri asal mereka, dimana mereka dapat kembali membangun kebangsaan dan keagamaan mereka. Oleh sebab itu rakyat Yehuda mendapatkan kesempatan untuk kembali ketanah Yehuda, akan tetapi tidak semua orang yang mau kembali sebab ada banyak dari mereka yang telah menjadi kaya disana.
Rombongan pertama yang kembali dari Babel ke tanah Yehuda dipimpin oleh seorang yang bernama Sesbazar (Ezra 1:11; 5:14). Itu terjadi kira-kira tahun 538 SM. Mereka meletakkan pondasi untuk membngun Bait Suci yang baru (Ezra 5:16). Kemudian kira-kira tahun 520 SM rombongan kedua kembali ketanah Yehuda, dipimpin oleh nabi Tuhan yang bernama Hagai dan Zakaria, seorang pembesar bernama Zerubabel dan Imam besar Yesua (Ezra 2:1) jumlah rombongan kedua itu adalah 42000 orang lebih (Ezra 2:64). Bait suci selesai dibangun kira-kira tahun 525 SM (Hagai 1:14).
Kemudian pada tahun 458 SM. Seorang imam bernama Ezra beserta serombongan besar orang Yahudi diutus ke Yerusalem oleh Raja Persia bernama Artahsasta I (Ezra 7:1-7). Maksud pengutusan itu alah supaya pembangunan dapat dibantu dan dipercepat, sebab orang Yahudi dari rombongan-rombongan dulu yang mengerjakannya telah mendapat perlawanan dari orang-orang kafir sehingga pekerjaannya diganggu terus. Selain itu di Yerusalem sendiri sudah timbul bermacam-macam keburukan, misalnya orang miskin ditindas, hokum dilalaikan dan orang Yahudi mengawini orang kafir. Dengan bijaksana dan tekad, Ezra berusaha untuk membetulkan kesalahan-kesalahan tersebut.
Akhirnya pada tahun 445 SM, Nehemia datang ke Yerusalem untuk membantu pekerjaan pembangunan yang tealh terhenti lagi (Nehemia 2:1-11). Dalam waktu 52 hari tembo kota sudah selesai dibangun. Nehemia tinggal 12 tahun di Yerusalem, kemudian kembali ke Persia pada tahun 533 SM (Neh 5:14; 13:6). Sesudah “beberapa waktu” dia kembali lagi ke Yerusalem (Neh 13:6) – mungkin “beberapa waktu” itu berupa palin sedikit 18 bulan, sebab ketika dia tiba di Yerusalem Nehemia melihat banyak kejahatan lagi (Nehemia 13:7).

Nabi-nabi yang terkemuka:

1. Hagai dan Zakaria. Bernubuat pada waktu yang sama, yaitu sesudah th 520 SM. Mereka berdua mengingatkan rakyat Yahudi akan tanggungjawabnya untuk menyelesaikan Bait suci sebab pekerjaan tertunda selama 14 tahun.
2. Maleaki menentangkesalahan-kesalahan rakyat Yahudi dan memperingatkan supaya mereka taat akan taurat Musa. Ia bernubuat tentang seorang utusan besar yang akan datang untuk mempersiapkan orang-orang Yahudi menerima Mesias yang akan datang (Maleaki 3:1)

Pada titik sejarah Perjanjian Lama berakhir. Orang-orang Yahudi yang kembali pulang dari Babel ke tanah asal mereka melakukannya dengan keyakinan bahwa mereka adalah umat pilihan Allah, penjaga Hukum Taurat dan Bait Suci. Dalam keadaan demikian terdapatlah permulaan agama Yudaisme yang berkembang terus sampai bentuk terakhirna yang tercermin dalam Perjanjian Baru.

III. Kesusastraan Perjanjian Lama

Untuk mengerti isi dan ajaran Alkitab maka kita memerlukan pengertian mengenai jenis-jenis sastra, bahasa dan gaya penulisan yang dipakai di dalamnya. Kesusastraan Perjanjian Lama bersifat aneka-ragam, misalnya:
1. Prosa biasa, termasuk juga silsilah.
2. Prosa gaya cerita, kebanyakan catatan/riwayat-riwayat histories yang kadang-kadang juga mengandung khiasan.
3. Tulisan gaya puisi, yang dapat mengandung fakta dan khayalan, baying-bayangan tentang realitas rohani, dan juga keterangan bersejarah.
4. Catatan-catatan hokum yang merumuskan undang-undang dan hukuman atas pelanggarannya.
5. Perkataan-perkataan berupa nasehat dan himbauan.
6. Syair dan Amsal.
7. Nubuat, termasuk penglihatan, mimpi, perbuatan-perbuatan simbolis dan ramalan, sebagianya dengan arti yang sudah jelas dan sebagiannya yang memerlukan penafsiran.


IV. Kanon Perjanjian Lama
Kitab suci orang Yahudi berupa 24 kitab yang diatur dalam tiga bagian besar:

Hukum Taurat * Kejadian
(“Torah”) * Keluaran
* Imamat
* Bilangan
* Ulangan

Para Nabi # Yosua
(“Nebhim”) # Hakim-hakim
# Samuel
# Raja-raja Nabi-nabi terdahulu
# Yesaya Nabi-nabi terkemudian
# Yeremia
# Yehezkiel
# Nabi-nabi kecil Hosea s/d Maleakhi

Kitab-kitab * Mazmur
(Tulisan-tulisan) * Amsal
(“Khethubim”) * Ayub
* Kidung Agung
* Rut
* Ratapan
* Pengkotbah
* Ester
* Daniel
* Ezra
* Nehemia
* Tawarikh

Urutan Perjanjian Lama dalam Alkitab masa kini pada umumnya mengikuti terjemahan PL dalam Septuaginta (Alkitab PL yang diterjemahkan kedalam bahasa Yunani tahun 150 SM). Sementara urutan PB biasanya mengikuti urutan terjemahan Alkitab PB yang kedalam bahasa latin (Vulgata) yaitu kira-kira tahun 404 AD.

Pembagian biasa sekarang

Pentateukh
 Kejadian
 Keluaran
 Imamat
 Bilangan
 Ulangan
Kitab-kitab Sejarah
- Yosua
- Hakim-hakim
- Rut
- I & II Samuel
- I & II Raja-raja
- I & II Tawarikh
- Ezra
- Nehemia
- Ester

Kitab-kitab Syair
-Ayub
- Mazmur
- Amsal
- Pengkotbah
- Kidung Agung

Kitab Nabi-nabi Besar
- Yesaya
- Yeremia
- Ratapan
- Yehezkiel
- Daniel
Kitab Nabi-nabi Kecil
- Hosea
- Yoel
- Amos
- Obaja
- Yunus
- Mikha
- Nahum
- Habakuk
- Zefanya
- Hagai
- Zakaria
- Maleakhi

Dalam Septuaginta (LXX) kitab-kitab Apokrifa diterima sebagai kitab yang berotoritas. Kitab-kitab Apokrifa tersebut ditulis pada zaman antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Namun setelah reformasi Protestan pada abad ke –16 AD., kitab-kitab tersebut dikeluarkan dari Alkitab karena tidak diakui dalam kitab-kitab suci orang Yahudi.




Hubungan antara sejarah dan Kitab-kitab Perjanjian Lama

Peristiwa Bersejarah Kitab Perjanjian Lama
Penciptaan, kejatuhan manusia, Air Bah & Menara Babel Kejadian 1-11
Para Patriakh – Abraham, Ishak, Yakub dan Yusuf (Kira-kira th 1900-1500 SM) Israel menjadi bangsa dan masuk Mesir. Kejadian 12-50
Penawanan di Mesir, Keluaran (kira-kira th 1450 SM) Pengembaraan di Padang gurun. Keluaran, Imamat, Bilangan, Ulangan.
Penaklukan dan pembagian tanah Kanaan, pemerintahan Hakim-hakim (kira-kira tahun 1400-1050 SM) Yosua, Hakim-hakim, Rut, 1Samuel 1-8.
Kerajaan Bersatu dibawah:
Saul (kira-kira 1050-1010 SM)
Daud (kira-kira 1010-970 SM)
Salomo (Kira-kira 970 –931 SM) 1 Samuel 8.,
2 Samuel, 1Raja-raja 1-11
1Tawarikh, 2Tawarikh 1-9
Mazmur, Amsal, Kidung Agung, Pengkotbah.
Kerajaan terpisah – Israel (th 931-722 SM), Yehuda (931-587 SM)
Sampai keruntuhannya 1Raja-raja 12., 2Raja-raja, 2Tawarikh 10.,dst
Nabi-nabi: Amos, Yunus, Hosea (Israel); Yesaya, Mikha, Nahum, Zefanya, Habakuk, Yeremia, Obaja (Yehuda)
Pembuangan (th 605 –537 SM) Ratapan, Daniel, Yehezkiel (di Babel)
Penawanan dan kembali ke Israel di bawah Sesbazar (kira-kira th 537 SM), Zerubabel (kira-kira tahun 520 SM), Ezra (kira-kira tahun 458 SM), Nehemia (Kira-kira th 445 SM) Ezra, Nehemia, Ester, Hagai, Zakaria, Yoel, Maleaki.




II
SURVEY KITAB PENTATEUKH
( Diadopsi dari: Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan: http://www.sabda.org/sabdawebb)


KITAB KEJADIAN

Penulis : Musa
Tema : Permulaan
Tanggal Penulisan : + 1445 -- 1405 SM


Latar Belakang

Kejadian cocok sebagai kitab Perjanjian Lama yang pertama dan sebagai pendahuluan yang hakiki dari seluruh Alkitab. Judul kitab ini di dalam bahasa Ibrani diambil dari kata pertamanya, bereshith ("pada mulanya"). Nama "Kejadian" merupakan terjemahan judul Ibrani itu ke bahasa Yunani dan berarti "asal mula, sumber, penciptaan atau awal dari sesuatu." Kejadian merupakan "kitab permulaan."

Penulisnya tidak disebutkan dalam kitab ini. Akan tetapi, kesaksian lain dalam Alkitab menunjukkan bahwa Musa merupakan penulis seluruh Pentateukh (yaitu, kelima kitab PL pertama) dan oleh karenanya juga Kejadian (mis. 1Raj 2:3; 2Raj 14:6; Ezr 6:18; Neh 13:1; Dan 9:11-13; Mal 4:4; Mr 12:26; Luk 16:29,31; Yoh 7:19-23; Kis 26:22; 1Kor 9:9; 2Kor 3:15*).

Demikian pula para penulis Yahudi kuno dan para bapa gereja semuanya menyatakan bahwa Musa menjadi penulis/penyusun Kejadian. Karena seluruh sejarah dalam Kejadian terjadi sebelum kehidupan Musa, peranannya dalam menulis Kejadian adalah menyusun, di bawah pengilhaman Roh Kudus, semua catatan lisan dan tulisan yang ada sejak Adam hingga wafatnya Yusuf yang sekarang menjadi isi Kejadian. Yang mungkin merupakan petunjuk dipakainya catatan-catatan sejarah oleh Musa ketika menulis Kejadian ialah bahwa terdapat 11 kali pemakaian "Demikianlah riwayat" atau "Iniliah keturunan" (Ibr. 'elleh toledoth' ) yang dapat diterjemahkan "inilah sejarah oleh" (lih. Kej 2:4; Kej 5:1; Kej 6:9; Kej 10:1; Kej 11:10,27; Kej 25:12,19; Kej 36:1,9; Kej 37:2*).

Kejadian mencatat penciptaan, permulaan sejarah manusia, dan asal mula umat Ibrani dan perjanjian Allah dengan mereka melalui Abraham dan leluhur lainnya dengan tepat. Ketepatan sejarahnya selaku Alkitab yang terilham dipastikan dalam PB oleh Tuhan Yesus (Mat 19:4-6; Mat 24:37-39; Luk 11:51; Luk 17:26-32; Yoh 7:21-23; Yoh 8:56-58*) dan para rasul (Rom 4:1-25; 1Kor 15:21-22,45-47; 2Kor 11:3; Gal 3:8; Gal 4:22-24,28; 1Tim 2:13-14; Ibr 11:4-22; 2Pet 3:4-6; Yud 1:7,11*). Sejarah Kejadian masih diperkuat oleh berbagai penemuan purbakala pada zaman modern. Musa dipersiapkan secara luar biasa melalui pendidikan (Kis 7:22) dan oleh Allah untuk menulis kitab pertama yang unik dalam Alkitab.

Tujuan

Kejadian menyediakan suatu landasan hakiki bagi Pentateukh dan semua penyataan Alkitabiah selanjutnya. Kejadian memelihara satu-satunya catatan yang dapat dipercaya mengenai awal alam semesta, umat manusia, perkawinan, dosa, kota-kota, bahasa-bahasa, bangsa-bangsa, Israel dan sejarah penebusan. Kejadian ditulis sesuai dengan tujuan Allah untuk memberikan umat perjanjian-Nya suatu pemahaman mendasar tentang diri-Nya, ciptaan, umat manusia, kejatuhan, kematian, penghakiman, perjanjian, dan janji
penebusan melalui keturunan Abraham.

Survey

Kejadian dengan sendirinya terbagi atas dua bagian utama:
1. Pasal 1-11 (Kej 1:1--11:32) memberi suatu pandangan luas mengenai permulaan manusia dari Adam hingga Abraham dan berpusat pada lima peristiwa yang sangat penting.

a. Penciptaan: Allah menciptakan segala sesuatu, termasuk Adam dan Hawa yang ditempatkan-Nya di taman Eden (pasal 1-2; Kej 1:1--2:25).
b. Kejatuhan: Melalui pelanggaran mereka, Adam dan Hawa memasukkan kutukan dosa dan kematian ke dalam sejarah manusia (pasal 3; Kej 3:1-24).
c. Kain dan Habel: Tragedi ini menggerakkan dua arus utama dalam sejarah: peradaban humanistik dan kaum sisa yang tertebus (pasal 4-5; Kej 4:1--5:32).
d. Air bah: Dunia purbakala telah demikian jahat pada waktu angkatan Nuh sehingga Allah memusnahkannya dengan suatu banjir universal, hanya menyelamatkan Nuh yang benar dan keluarganya sebagai sisa (pasal 6-10; Kej 6:1--10:32).
e. Menara Babel: Ketika dunia pasca-air bah bersatu dalam penyembahan berhala dan pemberontakan, Allah membubarkan persatuan mereka dengan mengacaukan bahasa dan kebudayaan serta dengan menyebarkan umat manusia ke seluruh penjuru dunia (pasal 11; Kej 11:1-32).

2. Pasal 12-50 (Kej 12:1--50:26) mencatat permulaan umat Ibrani dan memusatkan perhatian kepada kesinambungan tujuan penebusan Allah melalui empat bapa leluhur besar -- Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf. Panggilan Allah kepada Abraham (pasal 12; Kej 12:1-20) dan perlakuan-Nya terhadap Abraham dan keturunannya dalam kaitan dengan perjanjian-Nya merupakan awal yang sangat penting dari pelaksanaan maksud Allah tentang seorang Penebus dan penebusan dalam sejarah. Kitab Kejadian berakhir dengan kematian Yusuf dan perbudakan yang akan datang di Mesir.

Ciri-ciri Khas
Tujuh ciri utama menandai Kejadian.

1. Kejadian adalah kitab pertama yang ditulis (mungkin kecuali Ayub), dan mencatat permulaan sejarah manusia, dosa, bangsa Ibrani, dan penebusan.
2. Sejarah dalam Kejadian meliputi jangka waktu yang lebih lama dari seluruh sisa Alkitab, dimulai dengan pasangan manusia pertama, berkembang hingga sejarah dunia pra-air bah, dan kemudian menyempit lagi pada sejarah bangsa Ibrani sebagai arus penebusan yang dirunut sepanjang sisa PL.
3. Kejadian menyatakan bahwa alam semesta dan hidup di bumi ini adalah jelas karya Allah dan bukan suatu proses lepas dari alam. Lima puluh kali dalam pasal 1-2 (Kej 1:1--2:25) Allah menjadi subyek dari kata kerja yang menunjukkan apa yang dilakukan-Nya selaku Pencipta.
4. Kejadian mengisahkan berbagai peristiwa perdana -- pernikahan pertama, keluarga pertama, kelahiran pertama, dosa pertama, pembunuhan pertama, tokoh poligami pertama, alat-alat musik pertama, janji penebusan pertama, dan sebagainya.
5. Perjanjian Allah dengan Abraham, yang dimulai dengan panggilannya (Kej 12:1-3), diresmikan dalam pasal 15 (Kej 15:1-21) dan disahkan dalam pasal 17 (Kej 17:1-27), merupakan inti dari seluruh Alkitab.
6. Hanya Kejadian menerangkan asal mula kedua belas suku Israel.
7. Kejadian menyatakan bagaimana keturunan Abraham akhirnya tinggal di Mesir (selama 430 tahun) dan demikian menyiapkan untuk keluaran, peristiwa penebusan yang utama dalam PL.

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

Kejadian menyatakan sejarah nubuat penebusan dan seorang Penebus yang akan datang melalui benih wanita (Kej 3:15), melalui keturunan Set (Kej 4:25-26), melalui keturunan Sem (Kej 9:26-27), dan melalui keturunan Abraham (Kej 12:3). PB menerapkan Kej 12:3 langsung pada persediaan Allah untuk penebusan di dalam Yesus Kristus (Gal 3:16,29). Banyak tokoh dan peristiwa dari Kejadian disebut dalam PB berkaitan dengan iman dan kebenaran (mis. Rom 4:1; Ibr 11:1-22), penghakiman oleh Allah (mis. Luk 17:26-29,32; 2Pet 3:6; Yud 1:7,11), dan pribadi Kristus (mis. Mat 1:1; Yoh 8:58; Ibr 7:1).


KITAB KELUARAN

Penulis : Musa
Tema : Penebusan
Tanggal Penulisan : Sekitar 1445-1405 SM

Latar Belakang
Keluaran melanjutkan kisah yang dimulaikan dalam Kejadian. Judul kitab ini diambil dari kata Yunani exodus (judul yang dipakai di Septuaginta, yaitu PL dalam bahasa Yunani) yang artinya "keluaran" atau "keberangkatan." Kata ini menunjuk kepada pembebasan bangsa Israel secara luar biasa dari perhambaan di Mesir oleh Allah dan keberangkatan mereka dari negeri itu sebagai umat Allah.

Dua persoalan mengenai latar belakang kitab Keluaran telah menimbulkan pertentangan besar: tanggal bangsa Israel keluar dari Mesir dan penulis kitab ini.
1. Para ahli telah mengusulkan dua tanggal keluarnya bangsa Israel itu.
a. "Tanggal yang dini" (juga disebut tanggal alkitabiah) diambil dari 1Raj 6:1 yang menyatakan bahwa peristiwa tersebut terjadi 480 tahun sebelum "tahun keempat, sesudah Salomo menjadi raja atas Israel"; berarti peristiwa ini terjadi sekitar 1445 SM. Juga dalam Hak 11:26, Yefta (+ 1100 SM) menyatakan bahwa bangsa Israel telah menduduki tanah mereka selama 300 tahun, yang akan menempatkan saat penaklukan kurang lebih tahun 1400 SM. Kronologi peristiwa keluaran, penaklukan tanah Kanaan, dan periode para hakim ini cocok dengan sejarah Israel yang tercatat selama pemerintahan tiga raja yang pertama (Saul, Daud, dan Salomo).
b. "Tanggal yang belakangan" terjadinya keluaran (+ 1290 SM), diusulkan oleh para peneliti Alkitab yang liberal, berlandaskan anggapan-anggapan tertentu mengenai raja-raja Mesir dan penanggalan arkeologis tentang hancurnya kota-kota di Kanaan.
c. sepanjang masa penaklukan pada abad ke-13.

2. Juga terdapat perselisihan pendapat antara para sarjana Alkitab konservatif dan liberal mengenai kepenulisan Musa.

a. Para penafsir modern sering kali memandang kitab ini sebagai hasil karya beberapa orang, yang diselesaikan pada waktu yang lama sekali setelah zaman Musa (disebut teori JDEP).
b. Akan tetapi, tradisi Yahudi sejak zaman Yosua (Yos 8:31-35), ditambah kesaksian Yesus (bd. Mr 12:26), kekristenan yang mula-mula, dan hasil penelitian konservatif masa kini, semuanya menghubungkan asal mula kitab ini dengan Musa (Lihat "PENDAHULUAN ULANGAN") Lagi pula, bukti-bukti dalam kitab itu sendiri mendukung kepenulisan Musa. Banyak hal-ihwal dalam kitab Keluaran menunjukkan bahwa penulisnya merupakan seorang saksi mata peristiwa-peristiwa yang tercatat (mis. Kel 2:12; Kel 9:31-32; Kel 15:27); juga, bagian-bagian tertentu dalam kitab ini sendiri membuktikan bahwa Musa terlibat langsung dalam penulisannya (mis. Kel 17:14; Kel 24:4; Kel 34:27).

Tujuan

Keluaran ditulis untuk memberikan laporan tentang tindakan-tindakan Allah yang bersejarah dan bersifat menebus sehingga Israel dibebaskan dari Mesir, ditetapkan sebagai bangsa pilihan-Nya, dan diberi penyataan tertulis mengenai perjanjian-Nya dengan mereka. Kitab ini juga ditulis sebagai mata rantai yang teramat penting dalam keseluruhan penyataan diri Allah yang bertahap-tahap yang mencapai puncaknya di dalam diri Yesus Kristus dan dalam PB.

Survey
Kitab Keluaran dimulai dengan penderitaan keturunan Yakub akibat penindasan, perbudakan, dan pembunuhan bayi di Mesir; kitab ini diakhiri dengan kehadiran, kuasa, dan kemuliaan Allah dinyatakan (yaitu, berdiam) ditengah-tengah umat-Nya yang dibebaskan di tengah padang gurun. Kitab Keluaran terbagi atas tiga bagian.
1. Pasal 1-14 (Kel 1:1--14:31) mengisahkan Israel di Mesir menderita penindasan di bawah raja yang tidak mengenal Yusuf dan Allah yang menebus Israel "dengan tangan yang teracung dan dengan hukuman-hukuman yang berat" (Kel 6:5). Termasuk peristiwa-peristiwa bersejarah dalam bagian ini ialah:
a. Kelahiran Musa, perlindungan dan persiapannya (pasal 2; Kel 2:1-25);
b. Panggilan Musa di semak yang menyala (pasal 3-4; Kel 3:1--4:31);
c. kesepuluh tulah (pasal 7-12; Kel 7:1--12:51);
d. Paskah (pasal 12; Kel 12:1-51); dan
e. Penyeberangan Laut Merah (pasal 13-14; Kel 13:1--14:31). Keluaran Israel dari Mesir di sepanjang PL dipandang sebagai pengalaman penebusan terbesar di dalam perjanjian yang lama.

2. Pasal 16-18 (Kel 16:1--18:27) menggambarkan Israel di padang gurun menuju ke Gunung Sinai. Allah menuntun umat-Nya yang tertebus dengan tiang awan dan tiang api dan menyediakan manna, burung puyuh serta air, sambil melatih mereka untuk berjalan dengan iman dan ketaatan.
3. Pasal 19-40 (Kel 19:1--40:38) mencatat Israel di Gunung Sinai menerima penyataan yang meliputi:

a. Perjanjian (pasal 19; Kel 19:1-25),
b. Sepuluh Hukum (pasal 20; Kel 20:1-17), dan
c. Kemah suci dan keimaman (pasal 25-31; Kel 25:1--31:18). Kitab ini berakhir dengan penyelesaian kemah suci dan kemuliaan Allah yang memenuhinya (pasal 40; Kel 40:1-38).

Ciri-ciri Khas
Lima ciri utama menandai Keluaran.

1. Kitab ini mencatat keadaan sejarah dari kelahiran Israel sebagai bangsa.
2. Dalam Kesepuluh Hukum (pasal 20; Kel 20:1-17), kitab ini memuat ringkasan hukum moral dan tuntutan kebenaran Allah bagi umat-Nya, dan dengan demikian memberikan landasan bagi etika dan prinsip-prinsip moral alkitabiah dalam penyataan selanjutnya.
3. Merupakan kitab PL terpenting dalam menggambarkan sifat kasih karunia dan kuasa penebusan Allah dalam tindakan. Dari segi PL, Keluaran melukiskan sifat adikodrati pembebasan umat Allah dari bahaya dan perbudakan dosa, Iblis, dan dunia.
4. Seluruh kitab ini penuh dengan penyataan yang agung mengenai Allah yang

a. Mulia dalam sifat-sifat-Nya (benar, murah hati, setia, kudus, dan mahakuasa);
b. Tuhan atas sejarah dan raja-raja perkasa;
c. Penebus yang mengikat perjanjian dengan orang yang tertebus;
d. Adil dan benar sebagaimana terungkap dalam hukum moral dan pertimbangan-Nya; dan
e. layak disembah dengan tulus sebagai Allah yang mahatinggi yang turun untuk "berdiam" dengan umat-Nya.

5. Kitab Keluaran menekankan bagaimana, apa, dan mengapa ibadah sejati harus menyusul sebagai akibat dari penebusan umat Allah.

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

Sepanjang Keluaran terdapat bayangan mengenai penebusan yang ditawarkan dalam perjanjian yang baru. Paskah pertama, penyeberangan Laut Merah, dan pemberian Hukum Taurat di Gunung Sinai adalah penting bagi PL sebagaimana kematian, kebangkitan Yesus, dan pemberian Roh Kudus pada hari Pentakosta adalah penting bagi PB.

Lambang-lambang dalam Keluaran yang menggambarkan Kristus dan penebusan dalam PB adalah:

(1) Musa,
(2) Paskah,
(3) Penyeberangan Laut Merah,
(4) Manna,
(5) Batu karang dan air,
(6) Kemah Suci, dan
(7) Imam besar.

Tuntutan-tuntutan moral yang mutlak dari Sepuluh Hukum diulangi dalam PB sebagai tuntutan bagi orang percaya perjanjian baru.



KITAB IMAMAT

Penulis : Musa
Tema : Kekudusan
Tanggal Penulisan : 1445 -- 1405 SM


Latar Belakang

Imamat berhubungan erat dengan kitab Keluaran. Keluaran mencatat bagaimana Israel dibebaskan dari Mesir, menerima hukum Allah, dan membangun Kemah Suci sesuai dengan pola Allah; Keluaran diakhiri dengan datangnya Yang Kudus untuk tinggal di dalam Kemah Suci yang baru saja didirikan itu (Kel 40:34). Imamat berisi pengarahan yang diberikan Allah kepada Musa selama dua bulan di antara selesainya pembangunan Kemah Suci (Kel 40:17) dan keberangkatan Israel dari Gunung Sinai (Bil 10:11). Judul "Imamat" diambil bukan dari Alkitab bahasa Ibrani, tetapi dari terjemahan Yunani dan Latin. Judul ini mungkin membuat orang berpikir bahwa kitab Imamat hanya membahas imam-imam Lewi; akan tetapi, tidak demikian halnya karena sebagian besar kitab ini berkenaan dengan seluruh bangsa Israel. Imamat adalah kitab Musa yang ketiga. Lebih dari lima puluh kali disebutkan bahwa isi kitab ini adalah firman dan penyataan Allah yang langsung kepada Musa bagi Israel, yang kemudian disimpan oleh Musa dalam bentuk tertulis. Yesus mengacu kepada sebuah bagian dalam kitab Imamat dan menghubungkannya dengan Musa (Mr 1:44). Rasul Paulus mengacu kepada suatu bagian dalam kitab ini dengan mengatakan, "Sebab Musa menulis ... " (Rom 10:5). Para pengeritik yang mengatakan bahwa kitab ini ditulis oleh seorang imam penyusun yang hidup jauh di kemudian hari melakukannya dengan menolak integritas kesaksian Alkitab (Lihat "PENDAHULUAN KELUARAN")

Tujuan
Imamat ditulis untuk mengajar bangsa Israel dan para imam perantara mereka mengenai cara menghampiri Allah melalui darah pendamaian dan untuk menjelaskan standar kehidupan kudus yang ditetapkan Allah bagi umat pilihan-Nya.

Survey

Imamat terutama meliputi dua tema penting: pendamaian dan kekudusan.
1. Pasal 1-16 (Im 1:1--16:34) berisi ketetapan Allah untuk penebusan dari dosa dan dari pengasingan antara Allah dengan manusia yang diakibatkan oleh dosa. Berbagai variasi dari kata kerja "mendamaikan" (Ibr. _kaphar_) dipakai sekitar 48 kali dalam Imamat; kata bendanya, "pendamaian," dipakai 3 kali. Arti dasarnya ialah "menutupi atau membuat penutup." Korban-korban darah PL (pasal 1-7; Im 1:1--7:38) merupakan darah penutup dosa yang bersifat sementara (bd. Ibr 10:4) sampai tiba saatnya Yesus Kristus mati sebagai korban sempurna untuk menghapus dosa dunia (bd. Yoh 1:29; Rom 3:25; Ibr 10:11-12). Imam-imam Lewi (pasal8-10; Im 8:1--10:20) melambangkan pelayanan Kristus sebagai perantara, sedangkan Hari Pendamaian tahunan (pasal 16; Im 16:1-34) melambangkan penyaliban.
2. Pasal 17-27 (Im 17:1--27:34) menyajikan serangkaian standar praktis yang dengannya Allah memanggil umat-Nya kepada kemurnian dan hidup kudus. Perintah Allah yang diulang-ulang ialah, "Kuduslah kamu, sebab Aku TUHAN, Allahmu, kudus" (mis. Im 19:2; Im 20:7,26). Kata-kata Ibrani untuk "kudus" dipakai lebih dari 100 kali, dan ketika diterapkan kepada manusia menunjukkan hidup yang murni dan taat. Kekudusan terungkap dalam pelaksanaan upacara (pasal 17; Im 17:1-16) dan ibadah (pasal 23-25; Im 23:1--25:55), tetapi khususnya di dalam masalah-masalah kehidupan sehari-hari (pasal 18-22; Im 18:1--22:33). Imamat diakhiri dengan suatu nasihat dari Musa (pasal 26; Im 26:1-46) dan pengarahan mengenai beberapa nazar khusus (pasal 27; Im 27:1-34).

Ciri-ciri Khas
Empat ciri utama menandai Imamat.

1. Penyataan sebagai firman yang langsung dari Allah lebih ditekankan di dalam Imamat dibandingkan dengan kitab lain di Alkitab. Tidak kurang dari 38 kali dikatakan dengan tegas bahwa Tuhan berbicara kepada Musa.
2. Pengarahan mengenai sistem pengorbanan dan pendamaian melalui pengganti diberikan secara terinci dalam kitab ini.
3. Pasal 16 (Im 16:1-34) merupakan pasal Alkitab terpenting yang menerangkan Hari Pendamaian.
4. Imamat menekankan tema bahwa bangsa Israel harus memenuhi panggilan keimaman mereka dengan cara hidup suci secara rohani rohani dan moral, terpisah dari bangsa-bangsa lainnya dan taat kepada Allah.

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Karena penekanan gandanya pada pendamaian darah dan kekudusan, kitab ini tetap ada sangkut-paut dengan orang percaya di bawah perjanjian yang baru. PB mengajarkan bahwa darah pendamaian dari binatang yang dikorbankan, hal yang menonjol dalam Imamat, menjadi "bayangan saja dari keselamatan yang akan datang" (Ibr 10:1) dan menunjuk kepada Kristus sebagai korban penghapus dosa yang dipersembahkan satu kali untuk selama-lamanya (Ibr 9:12). Perintah untuk hidup kudus dapat dicapai sepenuhnya melalui darah Kristus yang mahal di dalam diri seorang percaya perjanjian baru, yang terpanggil untuk kudus di dalam semua bidang hidupnya (1Pet 1:15). Hukum terbesar kedua sebagaimana dinyatakan oleh Yesus diambil dari Im 19:18, "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri" (Mat 22:39).


KITAB BILANGAN

Penulis : Musa
Tema : Pengembaraan di Padang Gurun
Tanggal Penulisan : + 1405 SM

Latar Belakang

Judul kitab ini muncul pertama kali dalam naskah versi Yunani dan Latin dan diambil dari dua sensus kaum pria Israel yang dicatat dalam kitab ini (pasal 1, 26; Bil 1:1-54 dan Bil 26:1-65). Akan tetapi, sebagian besar kitab ini mengisahkan pengalaman-pengalaman Israel selama mengembara "di padang gurun"; oleh karena itu di dalam Alkitab PL berbahasa Ibrani kitab ini dikenal dengan nama "Di Padang Gurun."

Secara kronologis, Bilangan merupakan sambungan sejarah yang dicatat di kitab Keluaran. Setelah tinggal di Gunung Sinai selama sekitar satu tahun ketika itu Allah menetapkan perjanjian dengan Israel, memberikan hokum Taurat dan pola Kemah Suci kepada Musa, serta memberikan pengarahan mengenai isi kitab Imamat -- bangsa Israel bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan mereka menuju tanah yang dijanjikan Allah kepada mereka sebagai keturunan Abraham, Ishak, dan Yakub. Akan tetapi, sejenak sebelum meninggalkan Gunung Sinai, Allah menyuruh Musa membuat sensus menghitung semua laki-laki Israel yang sanggup berperang (Bil 1:2-3). Sembilan belas hari kemudian bangsa itu berangkat mengadakan perjalanan singkat ke Kadesy (Bil 10:11). Bilangan mencatat pemberontakan serius Israel di Kadesy dan hukumannya di padang gurun selama 39 tahun, sehingga Allah membawa suatu angkatan orang Israel yang baru ke dataran Moab, yang terletak di seberang Sungai Yordan dari Yeriko dan tanah perjanjian.

Sejarah menganggap bahwa kitab ini ditulis oleh Musa.

(1) Hal ini dinyatakan oleh Pentateukh Yahudi dan Samaria,

(2) Tradisi Yahudi,

(3) Oleh Yesus dan para penulis PB,

(4) Para penulis Kristen kuno,

(5) Para cendekiawan konservatif zaman modern dan

(6) Bukti di dalam kitab itu sendiri (mis. Bil 33:1-2).

Rupanya Musa mencatat dalam buku hariannya sepanjang pengembaraan di padang gurun dan kemudian menyusun isi kitab Bilangan dalam bentuk narasi menjelang kematiannya (sekitar 1405 SM). Kebiasaan Musa untuk menyebut dirinya dengan kata ganti orang ketiga memang biasa dilakukan dalam tulisan-tulisan kuno dan karena itu tidak melemahkan kredibilitasnya sebagai penulisan.

Tujuan
Bilangan ditulis untuk mengisahkan mengapa Israel tidak langsung masuk tanah perjanjian setelah meninggalkan Gunung Sinai. Bilangan menggambarkan tuntutan Allah akan iman dari umat-Nya, balasan dan hukuman-Nya atas pemberontakan, dan bagaimana maksud-Nya yang berkelanjutan itu akhirnya diwujudkan.

Survai
Amanat utama Bilangan jelas: umat Allah maju terus hanya dengan mempercayai Dia dan janji-janji-Nya dan dengan menaati sabda-Nya. Sekalipun melewati padang gurun perlu untuk waktu tertentu, bukanlah maksud Allah semula bahwa ujian padang gurun diperpanjang sehingga satu angkatan orang Israel hidup dan mati di situ. Akan tetapi, perjalanan singkat dari Gunung Sinai ke Kadesy menjadi penderitaan dan hukuman selama 39 tahun karena ketidakpercayaan mereka. Sepanjang sebagian besar kitab Bilangan, "angkatan Keluaran" Israel tidak beriman, memberontak, dan tidak berterima kasih atas mukjizat-mukjizat dan pemeliharaan Allah. Umat itu mulai bersungut-sungut segera setelah meninggalkan Gunung Sinai (pasal 11; Bil 11:1-35); Miryam dan Harun menentang Musa (pasal 12; Bil 12:1-16); Israel secara keseluruhan memberontak dengan ketidakpercayaan yang membandel di Kadesy dan menolak masuk ke Kanaan (pasal 14; Bil 14:1-45); Korah dan banyak orang Lewi membangkang terhadap Musa (pasal 16; Bil 16:1-50); karena didesak sampai hilang kesabarannya oleh umat yang membangkang itu,
akhirnya Musa berbuat dosa dengan meluapkan kejengkelannya (pasal 20; Bil 20:1-29); dan Israel menyembah Baal (pasal 25; Bil 25:1-18). Semua orang Israel berusia 20 tahun ke atas di Kadesy (kecuali Yoshua dan Kaleb) wafat di padang gurun. Akhirnya suatu angkatan baru orang Israel diantar hingga batas timur tanah perjanjian (pasal 26-36; Bil 26:1--36:13).

Ciri-ciri Khas
Enam ciri utama menandai Kitab Bilangan.

1. Kitab Bilangan merupakan "Kitab Pengembaraan di Padang Gurun," yang menyatakan dengan jelas mengapa Israel tidak segera menduduki tanah perjanjian setelah meninggalkan Gunung Sinai, tetapi sebaliknya harus mengembara tanpa tujuan selama 39 tahun lebih.
2. Bilangan merupakan "Kitab Keluhan," dan berkali-kali mencatat keluhan ketidakpuasan dan keluhan pahit orang Israel terhadap Allah dan perlakuan-Nya terhadap mereka.
3. Kitab ini menunjukkan prinsip bahwa tanpa iman, tidak mungkin kita berkenan kepada Allah (bd. Ibr 11:6). Sepanjang kitab ini kita dapat melihat bahwa umat Allah bergerak maju hanya karena mempercayai-Nya dengan iman yang kokoh, mempercayai janji-janji-Nya dan bersandar kepada-Nya sebagai sumber hidup dan pengharapan mereka.
4. Bilangan dengan jelas sekali menyatakan prinsip bahwa jikalau satu angkatan gagal, Allah akan membangkitkan angkatan lain untuk memenuhi janji-janji-Nya dan melaksanakan misi-Nya.
5. Sensus sebelum Kadesy (pasal 1-4; Bil 1:1--4:49) dan sensus kemudian di dataran Moab sebelum memasuki Kanaan (pasal 26; Bil 26:1-65) menyatakan bahwa bukan kekuatan yang tidak memadai dari tentara Israel yang membuat mereka tidak bisa masuk Kanaan di Kadesy tetapi kekurangan iman dan ketaatan mereka.
6. Bilangan merupakan "Kitab Disiplin Ilahi," yang menunjukkan bahwa Allah memang mendisiplin dan menghukum umat-Nya sendiri ketika mereka terus mengeluh dan tidak percaya (bd. pasal 13-14; Bil 13:1--14:45).

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

Keluhan dan ketidakpercayaan Israel disebutkan sebagai peringatan bagi orang percaya di bawah perjanjian yang baru (1Kor 10:5-11; Ibr 3:16--4:6). Hebatnya dosa Bileam (pasal 22-24; Bil 22:1--24:25) dan pemberontakan Korah (pasal 16; Bil 16:1-50) juga disebutkan (2 Petrus 2:15-16; Yud 1:11; Wahy 2:14*). Yesus mengacu kepada ular tembaga (Bil 21:7-9) sebagai ilustrasi dari diri-Nya yang diangkat sehingga mereka yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan memperoleh hidup yang kekal (Yoh 3:14-16); juga Kristus dibandingkan dengan batu karang di mana orang Israel minum air di padang gurun (1Kor 10:4) dan dengan manna surgawi yang mereka makan (Yoh 6:31-33).



KITAB ULANGAN

Penulis : Musa
Tema : Pembaharuan Perjanjian
Tanggal Penulisan : Sekitar 1405 SM

Latar Belakang

Kitab ini berisi amanat perpisahan Musa yang dalamnya ia mengulas kembali dan memperbaharui perjanjian Allah dengan Israel demi angkatan Israel yang baru. Mereka kini sudah mencapai akhir dari pengembaraan di padang gurun dan siap masuk ke Kanaan. Sebagian besar angkatan ini tidak mengingat Paskah yang pertama, penyeberangan Laut Merah, atau pemberian Hukum di Gunung Sinai. Mereka memerlukan pengisahan kembali yang bersemangat mengenai perjanjian, hukum Taurat, dan kesetiaan Allah, dan suatu pernyataan baru mengenai berbagai berkat yang menyertai ketaatan dan kutuk yang menyertai ketidaktaatan. Berbeda dengan kitab Bilangan yang mencatat pengembaraan "angkatan keluaran" bangsa Israel yang suka memberontak selama 39 tahun, kitab Ulangan meliputi masa yang pendek sekitar satu bulan pada satu tempat di dataran Moab sebelah timur Yerikho dan Sungai Yordan.

Ulangan ditulis oleh Musa (Ul 31:9,24-26; bd. Bil 4:44-46; Bil 29:1) dan diwariskan kepada Israel sebagai dokumen perjanjian untuk dibacakan seluruhnya di hadapan seluruh bangsa setiap tujuh tahun (Ul 31:10-13). Musa mungkin menyelesaikan penulisan kitab ini menjelang kematiannya sekitar tahun 1405 SM. Bahwa Musa menulis kitab ini ditegaskan oleh:

1. Pentateukh Samaria dan Yahudi,
2. Para penulis PL (mis. Yos 1:7; 1Raj 2:3; 2Raj 14:6; Ezr 3:2; Neh 1:8-9; Dan 9:11),
3. Yesus (Mat 19:7-9; Yoh 5:45-47) dan penulis PB yang lain (mis. Kis 3:22-23; Rom 10:19),
4. Para cendekiawan Kristen zaman dahulu,
5. Cendekiawan konservatif masa kini, dan
6. Bukti di dalam kitab Ulangan sendiri (mis. kesamaan susunan dengan bentuk-bentuk perjanjian yang ditulis pada abad ke-15 SM). Kisah kematian Musa (pasal 34; Ul 34:1-12) sudah pasti ditambahkan segera sesudah peristiwa itu terjadi (sangat mungkin oleh Yosua) sebagai penghargaan yang layak bagi Musa, hamba Tuhan itu.

Tujuan
Sebelum menyerahkan kepemimpinan kepada Yosua untuk penaklukan Kanaan, maksud Musa mula-mula ialah untuk menasihati dan mengarahkan angkatan Israel yang baru tentang:

1. Perbuatan-perbuatan perkasa dan janji-janji Allah,
2. Kewajiban mereka bertalian dengan perjanjian untuk beriman dan taat, dan,
3. Perlunya mereka menyerahkan diri untuk takut kepada Tuhan, hidup di dalam kehendak-Nya, serta mengasihi dan menghormati Dia dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan mereka.

Survey

Sebagai dokumen pembaharuan perjanjian, Ulangan disusun sesuai dengan perjanjian antar dua kerajaan ketika itu:

1. Pengantar (Ul 1:1-5);
2. Pendahuluan bertalian dengan sejarah (Ul 1:6--4:43);
3. Syarat-syarat utama (Ul 4:44--26:19);
4. Berbagai kutukan dan berkat (Ul 27:1--30:20); dan
5. B berbagai ketetapan mengenai kesinambungan perjanjian itu (Ul 31:1--33:39).

Dengan segala kesungguhan yang dimilikinya, Musa mengulas kembali perjanjian Allah dengan Israel terutama melalui tiga amanat yang bersemangat.

1. Amanat Musa yang pertama membahas kembali sejarah dan kegagalan Israel sejak Gunung Sinai serta menantang angkatan yang baru itu untuk takut akan Allah dan taat kepada-Nya (Ul 1:6--4:43).
2. Amanat Musa yang kedua mengulas dan menerapkan banyak hukum perjanjian berhubungan dengan soal-soal seperti melaksanakan Sabat, penyembahan, kaum miskin, hari raya tahunan, warisan, hak milik atas harta benda, kebejatan seks, perlakuan hamba-hamba, dan pelaksanaan kehakiman (Ul 4:44--26:19).
3. Amanat Musa yang ketiga bernubuat tentang berkat dan kutukan yang akan menimpa Israel sesuai dengan ketaatan atau ketidaktaatan mereka (Ul 27:1--30:20). Pasal-pasal yang sisa termasuk pengangkatan Yosua oleh Musa sebagai penggantinya serta kesaksian mengenai wafatnya Musa (Ul 31:1--34:12).

Ciri-ciri Khas
Empat ciri khas menandai Kitab Ulangan:

1. Ulangan menyediakan bagi angkatan Israel yang baru (yang sebentar lagi akan masuk Kanaan) landasan dan motivasi yang diperlukan untuk mewarisi tanah yang dijanjikan dengan memusatkan perhatian kepada tabiat Allah dan perjanjian-Nya dengan Israel.
2. Ulangan merupakan "Kitab Hukum Kedua" karena di dalamnya Musa, pemimpin Israel yang berusia 120 tahun, menyatakan kembali dan merangkum (dalam bentuk khotbah) sabda Tuhan yang terdapat di dalam keempat kitab sebelumnya.
3. Ulangan merupakan "Kitab Kenangan." Nasihat yang khas dari Ulangan ialah, "Ingatlah ... dan jangan melupakan." Daripada mengemukakan usaha untuk mencari "kebenaran baru," Ulangan menasihati Israel untuk mempertahankan dan menaati kebenaran yang sudah dinyatakan Allah sebelumnya dalam Firman-Nya yang mutlak dan tidak berubah.
4. Dasar pikiran yang penting dalam kitab ini adalah rumusan "iman-tambah-ketaatan." Israel dipanggil untuk mempercayai Allah dengan segenap jiwa raga dan menaati perintah-perintah-Nya dengan tekun. Iman-tambah-ketaatan akan memungkinkan mereka mewarisi janji-janji berkat Allah yang penuh; ketiadaan iman dan ketaatan, pada pihak lain, akan mengakibatkan kegagalan dan hukuman.

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

Ketika Yesus dicobai oleh Iblis, Ia menanggapinya dengan mengutip ayat-ayat dari Ulangan (Mat 4:4,7,10 mengutip Ul 8:3; Ul 6:16; Ul 6:13). Ketika Yesus ditanya tentang hukum mana yang paling besar, Ia menjawab dari Ulangan (Mat 22:37; bd. Ul 6:5). Kitab-kitab PB mengutip atau mengacu kepada Ulangan hampir sebanyak 100 kali. Sebuah nubuat Mesianis yang jelas (Ul 18:15-19) disebutkan dua kali dalam Kisah Para Rasul (Ul 3:22-23; Ul 7:37). Sifat rohani Ulangan merupakan landasan dari penyataan PB.




III
SURVEY KITAB-KITAB SEJARAH
(Dari Diktat Pengantar Kitab sejarah oleh Wisma Pandia, Th.M)

A. Istilah Sejarah

Ada tiga Pengertian tentang sejarah:
1. Rangkaian fakta
2. Catatan rangkaian fakta
3. Studi tentang fakta

B. Definisi
a. Sejarah ialah Ilmu yang tugas utamanya menyelidiki kemudian mencatat aktivitas-aktivitas manusia pada masa lalu berdasarkan perkembangan dan hubungan sebaba akibat sebagaimana mereka adanya pada (a) waktu dan tempat tertentu (b) kalangan dengan kemasyarakatan dan (c) arti pentingnya bagi masyarakat.
b. Sejarah ialah cerita tentang pengalaman orang-orang yang hidup dalam masyarakat beradab.
c. Sejarah adalah jenis ilmu pengetahuan dimana satu peradaban memberikan laporan-laporan tentang keadaannya sendiri dimasa lalu.
d. Sejarah adalah pekerjaan memberikan laporan mengenai peristiwa-peristiwa penting btertentu dimasa lalu, peristiwa mana terjadi secara khusus dan saling berkaitan satu dengan yang lain serta memepengaruhi kehidupan manusia.

RED LINE
1. Kejadian yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat.
2. Suatu usaha untuk mencatat hanya peristiwa-peristiwa penting dalam masyarakat.

* Sejarah Sebagai Rangkaian Fakta
 “Sesuatu yang pernah dilakukan dan dialami manusia”, yaitu “Proses Sejarah” atau “realitas yang telah lewat”.
* Sejarah Sebagai Catatan Mengenai Rangkaian Fakta
 Penulisan sejarah atau “Histografi”
 Historia – “pendidikan, investegasi, penelitian”.

C. Tujuan Studi Kesejarahan
 Apologia

D. Ciri-Ciri Kisah Sejarah
1. Bersifat Kesejarahan
2. Artistik
3. Menghibur
4. Bunga rampai
5. Selektif
6. Realistis
7. Romantis
8. Bersifat penyataan
9. Membangkitkan respon
10. Bersifat teologis.

E. Unsur-Unsur Utama Dalam Kisah Sejarah
1. Alur Cerita
2. Tokoh
3. Fakta (Tempat Kejadian)

G. Gaya Bahasa
1. Repetisis
2. Dialog
3. Pengabaian
4. Ironi


KITAB YOSUA


I. Pendahuluan

Kitab yosua merupakan satu diatara kitab-kitab PL yang banyak mengandung dinamika serta petualangan kitab ini memperlihatkan mujijat besar ketika Allah menghentikan aliran sungai Yordan, menghancurkan tembok Yerikho, mengirim hujan batu dan membuat siang hari yang sangat panjang. Paruh kedua kitab Yosua memuat suasana yang lebih mapan negri telah aman dan keadaan bangsa ini lebih patuh, Yosua semakin tua, dan tanah negri itu dibagi-bagi. Allah memberkati bangsa ini dengan janjiNya.

II. Judul

Judul kitab ini sama dengan tokoh utamanya Yosua-yaitu pengganti Musa dan pemimpin Israel. Arti kata Yosua adalah “ Tuhan menyelamatkan” atau “semoga Tuhan menyelamatkan.” Nama asli Yosua adalah Hosea tetapi musa mengubahnya menjadi Yosua, (Bil. 13:8,16). Pernjanian Lama Versi bahasa Yunani (septuaginta) menyebut nama tersebut “Iesous” (sama dengan nama Yesus dalam PB) dan vulgata dalam bahasa latin menyebutnya Iosue.

III. Karangan Dan Tanggal Penulisan

Walaupun banyak kalangan meragukan bahwa kitab ini ditulis oleh Yosua, karena identiti dari penulis tidak disebutkan dalam Alkitab. Namun menurut tradisi orang Yahudi kitab ini ditulis oleh Yosua sendiri. Beberapa faktor yang mendukung pendapat tersebut yaitu:
1. Penulis rupanya menjadi saksi mata terhadap beberapa kejadian yang disebutkan (mis. Pasal 5 & 6).
2. Penggunaan ucapan “sampai sekarang” cukup sering dalam konteks yang menuntut waktu yang tidak jauh dari Yosua (6:25).
3. Penggunaan nama “Sidang Besar” (11:8; 19:28) menunjuk pada waktu sebelum abad 12 B.C. sebab dalam abad itu Tirus menggantikan Sidon sebagai kota Fenesia yang utama.
4. Pasal 24:26 menunjuk kepada Yosua

Tanggal penulisan kitab ini adalah sepanjang kehidupan Yosua. Kalau keluarnya Israel menurut penanggalan awal, yaitu 1446 maka kitab Yosua ditulis kira-kira tahun 1400-an S.M.

IV. Tujuan Penulisan

Kitab ini menceritakan sejarah mulai dari kematian Musa, sampai dengan kematian Yosua. Bagian pertama menceritakan periode 5 atau 6 tahun pertama sesudah kematian Musa, sedangkan Kejadian-Kejadian yang diceritakan dalam psl 23 & 28 barangkali terjadi 20 tahun kemudian. Dari catatan sejrah ini bangsa Israel dapat melihat bagaimana Tuhan memang menepati janjiNya kepada nenek moyang mereka untuk memberikan tanah sebagai warisan mereka. Selain itu, mereka menyaksikan pula bagaimana Tuhan memberkati bangsa yang setia kepadaNya, sesuai dengan perjanjianNya, yaitu dengan menghalau musuh-musuh dari depan mereka ( Ul. 11:22-23; 28:7). Keadaan demikian berbeda sekali dengan sejarah Israel selanjutnya, dimana bangsa itu sering menjadi murtad sehingga kena hukuman Tuhan melalui musuh-musuh mereka (Ul. 28:25-26; band. Hakim-Hakim 2:11-15).

V. Struktur Sastra dan Isi

Seperti kitab sejarah pada umunya maka kitab Yosua berisi tentang catatan histories atau rangkaian peristiwa yang dilakukan oleh bangsa Israel dibawah pimpinan Yosua dalam memasuki dan menaklukkan bangsa Kanaan. Dari sudut satra kisah ini dilukiskan dengan artistik yang diramu dengan kisah pengalaman yang bersifat Agamais, pernyataan, realistis, romantis dan bersifat membagikan respon.
Secara ringkas kitab Yosua dapat dibagi menjadi empat bagian besar. Bagian yang pertama dimulai dengan kisah memasuki Kanaan, kisah dua orang pengintai dan penyebrangan suangai Yordan. Kemudian bagian kedua tentang penaklukkan Kanaan yang dimulai dengan pertolongan Tuhan dalam menaklukkan Yerikho selanjutnya penaklukkan Kanaan selatan dan utara. Setelah penaklukkan maka diadakan pembagian wilayah Kanaan kepada suku-suku Israel. Dan bagian terkahir ditutup dengan pidato perpisahaan Yosua.

VI. Garis Besar Kitab Yosua

I. Memasuki Negri Perjanjian (1-5)
A. Peneguhan Yosua (1)
B. pengintaian Yerikho (2)
C. Penyebrangan Yordan (3-5)
II. Penaklukkan Kanaan (6-12)
A. Yerikho dan Ai (6-8)
B. Bagian selatan (9-10)
C. Bagian utara (11-12)

III. Pembagian Kanaan (13-22)
A. Sebelah timur Yordan (13)
B. Sebelah barat Yordan (14-19)
C. Kota-kota perlindungan (20)
D. Kota-kota orang Lewi (21)
E. Sebelah timur Yordan diduduki (22)

VI. Pidato Perpisahan Yosua (23-24)



VII. Tema-Tema Utama Kitab Yosua

A. Negri Perjanjian

Tema utama kitab ini ialah menguasai tanah pernjanjian yang telah dijanjikan kepada Abraham. Janji itu diucapkan kembali kepada Ishak dan keturunan-keturuna berkutnya. Negri ini juga merupakan tujuan pokok dalam pemikiran pentatuekh. Negri Kanaan juga dilihat sebagai pemberian Allah secara terus-menerus dan faktanya bahwa sebagian besar kitab Yosua di gunakan untuk rincian khusus tentang pembagian tanah Kanaan.

B. Perjanjian

Tema lain yang menonjol dalam kitab Yosua ialah perjanjian atau lebih tepat penggenapan perjanjian. Dalam kitab ini tercatat dua upacara pembaharuan perjanjian. Kemudian pasal 3 mencatat bagaimana tabut perjanjian memiliki posisi yang penting, para Imam bertugas mengangkat tabut itu bersama-sama dengan hukum-hukum Musa. Dalam pasal ini Tabut disebut dengan berbagai nama, tetapi istilah yang paling umum dipakai ialah “Tabut Perjanjian”.

C. Kesetiaan Tuhan

Konsep tentang identitas bangsa Israel yang ekslusif di Kanaan khususnya dalam hal keagamaan ada diseluruh kitab Yosua. Kata “qados” (“Kudus”) dalam bahasa Ibrani pada dasarnya mengandung konsep keterpisahan dari keduniawian. Pasal 5 kitab Yosua merupakan bagian penting yang membicarakan kekudusan. Bagian lain yang berbicara tentang kemurnian ibadah bisa ditemukan dalam Yosua 22. kekudusan bersumber dari karakter Allah. Dan penyerahan kepada Tuhan adalah bagian dari kekudusan,


D. Kesetiaan Tuhan

Penaklukan Kanaan adalah realisasi dari janji Tuhan kepada Israel.

E. Keselamatan Dari Tuhan

Kitab Yosua menggambarkan aspek keselamatan yang cukup penting. Dalam kitab Keluaran mencakup keselamatan dari Tuhan, tetapi Yosua melanjutkan dengan mengajarkan bahwa keselamatan juga mencakup kemenangan, kepemilikan dan perhentian.



HAKIM-HAKIM


I. Pendahuluan

Kitab Hakim-hakim merupakan kitab yang melanjutkan catatan sejarah bangsa Israel setelah periode Yosua. Berbeda dengan kitab Yosua, kitab ini merupakan rangkaian episode-episode lepas tetapi mempunyai tema yang sama yaitu kemurtadan Israel dan kasih setia Allah, yang secara tidak langsungjuga menggambarkan kekacauan kehidupan politik maupun kehidupan rohani Israel yang selalu jatuh bangun. Kitab ini juga sangat kontras dengan kitab Yosua yang menampilkan peristiwa-peristiwa yang berlangsung mulus dan ditutup dengan laporan tentang keadaan yang damai.

Catatan tentang kekontrasan antara kedua kitab ini dapat didaftarkan sebagai berikut.

Yosua Hakim-Hakim

a. Kejayaan (Victory) a. Ditindas/dikalahkan
b. Kebebasan (freedom) b. Diperbudak
c. Iman (faith) c. Tidak percaya
d. Ketaatan (Obidience) d. Tidak taat
e. Berkembang (Proqress) e. Mandek
f. Visi Surgawi f. Keduniawian
g. kuat g. lemah
h. Persatuan suku-suku h. perpecahan antara suku
i. Pemimpin yang kuat i. Kepemimpinan Lemah
j. Sukacita j. Menderita.

Kitab Yosua juga memberikan catatan bahwa penaklukan belum selesai, dan bahwa ketidaktaatan Israel sungguh menjadi kenyataan dalam kitab Hakim-Hakim. Kita melihat bagaimana peringatan terus menerus disampaikan terhadap keikut sertaan Israel dalam perkatek agama asing, sebab bangsa ini berulang-ulang meninggalkan Tuhan dan mengikuti praktek agama bangsa lain.
Satu-satunya catatan positif dalam kitab ini adalah kesetiaan Allah dan isyarat bahwa di bawah tatanan yang baru segala sesuatu menjadi lebih baik.

II. Judul

Alkitab bahasa Inggris mengambil judul kitab ini dari bahasa Ibrani yaitu “Sophethim” yang diterjemahkan menjadi “Hakim-Hakim”. Judul ini ditemukan dari gelar atau panggilan yang diberikan kepada pemimpin-pemimpin yang diangkat oleh Tuhan untuk memerintahkan Israel jaman itu.
Sedangkan salinan dalam terjemahan Yunani (septuginta) memeberi judul “Kritai” dan salinan bahasa latin (Vulgata) memberi judul “Judicum”, yang keduanya memiliki acuan yang sama yaitu “Hakim-Hakim”.

III. Penulisan dan Tanggal Penulisan

Tradisi orang Yahudi mendukung Samuel sebagai penulis kitab ini. beberapa sarjana juga berpendapat bahwa kitab ini ditulis oleh Samuel beberapa Tahun sesudah saul menjadi Raja. Dukungan pendapat ini terdapat dalam psl. 18:31, yang memberi kesan bahwa Kemah Suci yang duluterletak di Silo sudah dipindahkan waktu ayat ini dituliskan. Dari Samuel I:21 dijelaskan bahwa saul memindahkan Kemah Suci Ke Nob. Demikian juga psl 1:21 memberi kesan bahwa ayat tersebut dituliskan sebelum kotaYerusalem direbut oleh Daud.
Akan tetapi psl. 18:30 memberi kesan bahwa kitab ini ditulis setelah pembuangan ke Asyur. Oleh sebab itu, maka ada beberapa sarjana lain berpendapat bahwa kitab Hakim-Hakim disusun oleh seorang redaktur sesudah reformasi yang diadakan oleh raja Yosia (621 B.C). reformasi tersebut menyebabkan orang Yahudi kembali setia kepada Tuhan dan menjadi dorongan penulisan sejarah bangsa Israel yang termuat dari kitab Yosua sampai dengan Raja-Raja (kecuali Rut). Sekaligus juga dengan memakai tulisan-tulisan dari zaman dulu.

IV. Tujuan Penulisan

Kitab ini ditulis untuk menunjukkan ketidaktaatan kepada Allah, dan memberi tahu kepada Raja, bahwa jika dia seorang yang benar, tentu akan membawa rakyatnya kepada Allah. Kitab ini juga menunjukkan ketidaktaatan bangsa Israel yang terus berkembang dan bertambah parah, yang terus berulang-ulang seperti sebuah siklus. Kitab ini mempertegaskan perulangan yang bukan saja sama intensitasnya; sebaliknya bahwa setiap putaran membawa Israel semakin jauh dari Allah dan semakin sesat dalam praktek keagamaan mereka. Bagian akhir dari kitab ini menjelaskan bagaimana Israel telah melanggar perjanjiannya dengan Allah dan memberontak dalam setiap langkahnya
Akibat dari kemurtadan Israel, muncullah Allah sebagai “pahlawan” yang sebenarnya; disini terdapat satu ironi, karena focus perhatian kitab ini adalah pahlawan-pahlawan yang berurutan membebaskan Israel Allahlah yang membangkitkan Hakim-Hakim pemberani ini untuk mengeluarkan Israel dari krisis, dan hanya Dia yang tetap setia kepada perjanjian. Bangsa ini gagal sebab mereka bukan melakukan kebenaran Allah, melainkan kebenarannya sendiri.

V. Posisi Kitab Hakim-Hakim Dalam Kanon Alkitab

Dalam kanon Ibrani, kitab Hakim-Hakim adalah bagian dari kitab-kitab “Nabi-Nabi awal” atau “Nabi-Nabi yang dahulu” dan olkeh para sarjana modern dikenal sebagai “ssejarah Deutronomika” secara kronologis dan logis ia muncul sesudah kitab Yosua untuk mengembangkan tema-tema kitab tersebut dan menunjukkan perbedaan mencolok dengan gambaran ideal yang ditampilkan disana. Aslinya ia menjadi keterangan tambahan bagi kitab-kitab Samuel (dimana dalam kanon Ibrani muncul di belakangnya) untuk menggambarkan mulai berdiri dari berkembangnya sistem kerajaan.



VI. Struktur Isi Kitab Hakim-Hakim

Kitab Hakim-Hakim meliputi suatu periode yang panjang, dimulai sesudah kematian Yosua (awal abad 14 S.M) dan berakhir sebelum tampilnya Samuel dan penobatan Saul (+ 1050 S.M). pembukaan Hakim-Hakim mirip dengan kitab Yosua. Ini jelas memperlihatkan permulaan era yang baru. Satu hal yang jelas muncul juga yaitu bahwa kitab ini melaporkan penaklukan yang tidak tuntas. Kemudian ringkasan pula bangsa Israel yang berulang-ulang pada bagian ini : mereka meninggalkan Tuhan dan mengikuti allah lain, Tuhan membiarkan mereka ditindas musuh. Kemudian Tuhan membangkitkan seorang hakim untuk mmenyelamatkan mereka.
Apabila hakim itu mati, mereka berlaku jahat kembali. Karena itu Tuhan tidak dapat memberkati usaha mereka, untuk menghalau bangsa-bangsa Kanaan, yang selanjutnya dipakai Tuhan menguji kesetiaan mereka. Kitab ini mencatat setidaknya ada 12 hakim yang dipakai Tuhan untuk memimpin mereka.
Bagian terakhir kitab ini tidak diakhiri dengan happy ending, sebaliknya kitab ini diakhiri dengan kemunduran dalam ibadah dan kemunduran dalam moral.

VII. Garis Besar Kitab Hakim-Hakim

A. Penaklukan Kanaan Yang Tidak Tuntas (1-2:5)
1. Penaklukan daerah selatan : yang berhasil direbut dan tidak (1:1-21)
2. Penaklukan daerah utara : yang berhasil direbut dan yang tidak (1:22-36)
3. Malaikat Tuhan dan pelanggaran janji (2:1-5)

B. Israel Pada Masa Hakim-Hakim (2:6-16:31)
1. Pengenalan zaman Hakim-Hakim (2:6-3:6)
2. Otniel melawan raja Aram (3:7-11)
3. Ehud melawan Eglon, Raja Moab (3:12-30)
4. Samgar melawan orang filistin (3:31)
5. Debora melawan Yabin, Raja Kanaan (4:1-5:31)
6. Gideon melawan orang Midiam (6:1-8:32)
7. Sistem kerajaan yang gagal dibawah Abimelekh (8:33-9:57)
8. Hakim-Hakim kecil (Bag.1) : Tola dan Yair (10:1-5)
9. Yefta melawan bani Amon (10:6-12:7)
10. Hakim-Hakim kecil (Bag. 2) Ebzan,Elon,Abdon (12:8-15)
11. Simson melawan orang Filistin (13-16)

C. Penutup : Ancaman dari Dalam (17-21)
1. Praktek agama yang dilakukan Mikha dan suku Dan (17-18)
2. Kemunduran moral bangsa Israel (19-21)



VIII. Tema utama Kitab Hakim-Hakim

A. Negri/ Tanah

Kitab Hakim-Hakim hampir sama dengan kitab Yosua sehubungan dengan tanah/negri warisan, tetapi ada satu perbedaan persoalannya kenapa Israel belum dapat merebut negri itu sepenuhnya adalah karena Israel tidak taat pada perintah untuk membinasakan seluruh Kanaan dan khususnya karena bangsa-bangsa ini mengikuti Allah mereka.

B. Kemurtadan Israel

Kemurtadan Israel menjadi penyebab datang ancaman atas negri ini. penindasan, kekacauan, dan gambaran buruk dalam kitab ini disebabkan oleh dosa yang berulang-ulang.

C. Kasih Setia Allah

Kasih setia dalam kitab ini merupakan kebalikan dari kemurtadan Israel. Kendati bangsa ini berkali-kali jatuh, Allah tetap memberi kelepasan. Allah tidak melakukan hal ini secara mekanis, tanpa berpikir, atau karena diperdaya oleh seruan minta tolong, dan Dia membiarkan Israel menanggung kosekuensi tindakan-tindakannya. Namun, Dia melepaskan Israel oleh karena perjanjianNya tentang negri ini, Dia tetap setia pada janji ini.

D. Kitab Hakim-Hakim Sebagai Contoh Kasus Sistem Kerajaan

Kitab Hakim-Hakim secara tidak langsung mengemukkan proposisi bahwa Israel memerlukan seorang raja. Kitab ini menampilkan kasusnya bahwa sistem kerjaan adalah positif.



KITAB RUT

I. Pendahuluan

Kitab Rut memuat satu diantara kisah-kisah yang paling menarik dalam Alkitab. Disan kita melihat bagaimana tokoh-tokoh utama “berjalan lurus” dan selesai membaca kitab ini orang bisa merasa lega karena penyelesaian cerita begitu bagus. Segala sesuatu berjalan “untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasiha Dia” seperti ditulis Paulus bertahun-tahun sesudahnya (Rom. 8:28).
Peristiwa-peristiwa yang dipaparkan dalam kitab Rut berlangsung selama zaman Hakim-Hakim. Kisah ini dikemukakan tidak menyebut peperangan dan perselisihan, tetapi memaparkan berbagai pengalaman manusia yang normal dan emosi manusia yang dasar. Jelaslah bahwa sekalipun dalam zaman para Hakim banyak sekali terjadi perang dan kekacauan, tetapi dalam banyak masyarakat kehidupan terus berlangsung secara aman dan normal selama jangka waktu yang panjang.

II. Judul

Judul kitab ini diambil dari tokoh utamanya Rut, perempuan saleh dari Moab menantu Naomi. Rut adalah seorang teladan yang bagus dari orang asing yang datang untuk mengenal AllahIsrael melalui kontak dengan orang Israel.

III. Penulis dan Waktu Penulisan

Menurut tradisi orang Yahudi, mereka percaya bahwa Samuel menulis kitab ini dan kkitab ini ditulis pada jaman pemerintahan Daud. Sebagai dukungan, nama Daud disebutkan dalam Psl.4:17,22.

IV. Tujuan Penulisan

Kitab Rut kelihatannya ditulis dengan maksud untuk memberi keterangan mengenai silsilah Daud karena informasi semacam itu tidak diberikan dalam kitab –kitab yang ditulis oleh Samuel. Demikianlah kitab tersebut menuntunn kepada silsilah yang terdapat pada akhir kitab ini dengan Daud sebagai kata terakhir yang dicatatnya. Namun hal menarik juga yang bisa ditarik adalah bahwa tujuan lain dalam penulisan kitab ini berkaitan dengan pemeliharaan Allah, dimana Allah adalah pribadi yang mengendalikan kejadian-kejadian dalam kitab ini (Konf. 2:12;20;3:10,13;;4:14).

V. Posisi Kitab Rut Dalam Kanon

Dalam kitab bahasa ibrani sekarang, kitab ini muncul sebagai kitab keempat (setelah Mazmur, Ayub dan Amsal),dan diurutkan pertama diantara lima “kitab gulungan” (megilot) : Rut, Kidung Agung, Pengkotbah, Ester. Lima megilot ini dipakai dalam liturgy dan dibaca pada perayaan-perayaan utama.
Catatan Ibrani yang paling kuno menempatkan kitab Rut didepan kitab Mazmur. Ini sungguh bisa dimengerti, sebab dengan demikian akan berfungsi sebagai pengantar atau memoar tentang Daud, si “pengarang”. Karena kitab ini menunjukan campur tangan Allah dalam kehidupan leluhur Daud. Catatan Ibrani yang lain menempatkan Rut sebagai bagian dari Hakim-Hakim yang dirujuk oleh septuaginta dan Alkitab yang dipakai oleh orang Kristen.

VI. Struktur Dan Isi

Kitab ini sangat singkat, tetapi merupakan sebuah prosa kecil yang amat bagus, suatu gambaran yang diperkuat oleh seorang pembaca yang cerdas, beberapa sarjana menganalisis kitab ini secara mendalam dari sudut pandang sastra dan menyebutnya sebuah novella. Maksudnya cerita pendek yang ditulis secara cermat, sangat memperhatikan para pelaku dan alur ceritanya, banyak menggunakan dialog disertai gerak kearah klimaks.
Kitab Rut adalah kisah cinta yang tidak begitu banyak membicarakan antara hubungan pemuda dan pemudi, tetapi antara seorang wanita muda dengan mertuanya. Jalannya peristiwa-peristiwa menggambarkan Rut menjadi salah seorang leluhur Daud mengiringi usahanya dalam mencari perlindungan.

VII. Garis Besar Kitab Rut

A. Keluarga saleh yang Tersingkir (1)
1. Kisah Sebuah Keluarga yang Tragis 1:1-5)
2. Pulang ke Kampung Halaman (1:6:22)

B. Rut dan Boas Bertemu (2)

C. Rut dan Boas Bertunangan (3)

D. Keluarga Saleh Diberkati (4)
1. Sebuah Rumah tangga baru yang dibangun (4:1-10)
2. Kisah Keluaga yang baru (4:11-22)


VIII. Tema-Tema Kitab Rut

A. Keteguhan dan Kedaulatan Allah
Keteguhan serta kedaulatan Allah dalam kitab ini bisa dilihat dari berbagai cara:
1. Fokus istimewa tentang Allah khususnya melalui tokoh-tokohnya.
2. Fokus bahwa Allah terus menerus bekerja dalam kitab ini.
3. Kesetiaan Allah pada umatnya.

B. Allah Hadir dalam Kesenyapan
Kitab ini juga menggambarkan bahwa kehadiran serta pimpinan tangan Allah cenderung tidak langsung (tersembunyi) jika dibanding pada kitab lain.
C. Rencana Allah bagi Semua Bangsa
Kitab Rut dengan penuh semangat menyampaikan pesan bahwa rancangan Allah tidak terbatas bagi bangsa Israel, tetapi juga untuk bangsa-bangsa lain.

D. Penebusan
Penebusan Rut oleh Boas merupakan gambaran yang indah tentang penebusan kita oleh Kristus.

E. Ketaatan Menuntut Pengorbanan
Penyerahan dan ketaatan yang utuh kepada Tuhan kadang-kadangf menuntut pengorbanan . Mis. Keluarga, tanah asala dan lain-lain.



KITAB I DAN II SAMUEL


I. Pendahuluan

Kitab-kitab Samuel mengisahkan bagaimana kerajaah Israel berdiri dan apa makna teologisnya. Kitab-kitab ini dimulai ketika Israel masih dipimpin Hakim-Hakim dengan sistem desentralisasi dan diakhiri dengan keadaan kerajaan yang berdiri kokoh. Kitab ini dibuka bersamaan dengan masa pelayanan masa Hakim-Hakim terakhir (Samuel), dan ditutup ketika Daud . . . raja terbesar pertama suku Yehuda . . . naik takhta.
Bagianibagian pertama kitab Sam,uel didominasi pertanyaan-pertanyaan tentang apakah perlu dibentuk sistem kerajaan dan bagaimna sistem itu dibangun. Kemudian disusul pertanyaan mengenai siapa yang semestinya menjadi raja Israel. Setelah jelas bahwa raja pertama, Saul, kehilangan kekuasaan kemudian Daud menggantikannya, pertanyaan tersebut menjadi “apakah Daud bisa menghadapi upaya-upaya Saul untuk membunuhnya”. Kematian Saul sedemikian menjadi kemenangan Daud, diakhir kitab ini menjawab semuanya.
Kitab II Samuel seluruhnya meliputi masa pemerintahan raja Daud. Diawali denngnan konsolidasi dalam pemerintahannya dan detail tentang janji luar biasa Allah kepada Daud untuk memberikan tampuk pemerintahan terus-menerus kepada pemerintahannya. Segera sesudah itu Daud melakukan dosa besar, dan paruh keuda dari kitab ini menjelaskan kemerosotan Daud, yang direpotkan oleh masalah-masalah intern dalam kerajaannya, sebagian besar berputar-putar disekitar anak-anaknya.kendati begitu, garis rajani dari Daud dan janji itu ditegaskan diakhir kitab.
Kedua kitab ini juga mengungkap latar belakang ancaman Filistin terhadap Israel secara terus-menerus. Mulai dari Samuel, kemudian Saul dan akhirnya Daud, terlibat pertempuran melawan mereka, dan ancaman itu akhirnya bisa ditundukan Iarael sampai zaman Daud. Isi kedua kitab ini juga berputar disekitar para tokoh utamanya yaitu : Samuel, Saul dan Daud.

II. Judul Kitab Dan Waktu Penulisan

Nama “Samuel” memang tepat untuk kitab-kitab ini karena dialah tokoh terpenting dalam pasal-pasal pertama dan dialah yang mengurapu baik Saul maupun Daud, yang menjadi tokoh terpenting dalam sisa-sisa kitab tersebut. Pasal-pasal pendahuluan memfokus pada Samuel, namun sesudah I Sam.. 15, dia tidak lagi mkenjadi figuran yang menonjol karena perbuatannya. Bagaimanapun juga, sampai disini dialah yang menolong mengurapi dua tokoh utama yang lain, Saul dan Daud, jadi pengaruh Samuel tetap ada meskipun dia sudah tiada.
Dalam ktab suci orang Yahudi pada mulanya kitab ini merupakan satu kitab saja. Namun ketika kitab ini diterjemahkan kedalam bahsasa Yunani, penerjemah Yunani memberikan judul “1 & 2 pemerintahan”, sedang kitab yang kita kenal sekarang ini sebagai I & II Raja-Raja dulunya dikenal sebagai “3 & 4 pemerintahan” salinan vulgata meringkasnya menjadi “Raja-Raja”. Pembagian ini mulai dipakai dalam kitab suci Yahudi pada abad . . . . A.D., dan akhirnya terjemahan-terjemahan bahasa Inggris mulai memakai nama I & II Samuel dan I & II Raja-Raja.
Mengenai kepenulisan, ajaran Talmud mengaitkan penulisan kitab Samuel bersama kitab Hakim-Hakim kepada Samuel sandiri. Namun karena kematiannya tercatat dalam I Sam.25:1 maka sampai sekarang banyak meragukan, sebab setelah pasal 25:1 masih banyak pasal-pasal yang belum dituliskan dari keseluruhan kitab Samuel. Akan tetapi banyak bagian dari kedua kitab Samuel yang menegaskan bahwa penulis adalah orang-orang yang mengamati dari dekat kejadian-kejadian yang ada didalamnya. Jadi kemungkinan kitab Samuel bagian awal ditulis oleh Samue sendiri dan diterbitkan oleh generasi selanjutnya. Penulis-penulis alternatif yang diajukan oleh banyak sarjana adalah Nathan, Sefayah, Ahimaas atau Abyatar. Disisi lain ada juga sarjana yang berpendapat bahwa penulis adalah seseorang yang tidak diketahui identitasnya tetapi dia memiliki sumber-sumber atau bahan yang dapat dipercaya-misalnya tulisan-tulisan Samuel, nabi Gad Dan nabi Nathan (I Taw.29:29). Dan rupanya dia menulis sesudah masa pemeintahan Salomo, oleh karena I Sam. 27:6 menunjukan bahwa kerajaan itu sudah terpish waktu penulisan kitab ini.
Waktu kepenulisan sendiri terkait dengan siapa penulis kitab ini. banyak sarjana yang berpendapat bahwa penulisan terjadi sekitar tahun 1050-970 S.M., Hal tersebut didasarkan bahwa penulis mengamati tiap-tiap kejadian dari dekat, namun keterangan dari I Sam 27:6 . . . menjelaskan bahwa bentuk akhir kedua kitab tersebut belum tersusun setidak-tidaknya sampai waktu kerajaan terpecah (+ 930 S.M). jadi alternatif yang terbaik adalah penulis kitab ini menulis sekitar tahun 9…. Tetapi penulisnya menggunakan sumber-sumber asli yang dapat dipercaya untuk menuliskan tentang kejadian-kejadian dan peristiwa didalamnya. Dan terlepas dari itu semua, satu hal yang pasti adalah bahwa Allah adalah Author dari kitab Samuel ini.

III. Tujuan Penulisan

Perhatian utama kitab-kitab Samuel adalah hal-hal yang berkaitan dengan kerajaan Israel. Semua tulisan didalamnya bertujuan menerangkan secara rinci bagaimana kerajaan itu didirikan, termasuk :
1. Tuntutan awal untuk memilikinya
2. Kenyataan dari kerajaan yang didirikan
3. Ppemerintahan tragis Saul, raja pertama
4. Konsolidasi kekuasaan oleh Daud, raja kedua
5. Janji-janji luar biasa Allah kepada Daud
6. Kemerosotan Daud pada tahun-tahun terakhirnya.

Kitab ini juga secara jelas memperlihatkan baik manfaat maupun jerat dari sistem kerajaan. Saul digambarkan sebagai pahlawan yang tragis, dan daud yang memiliki karakter yang menonjol ditampilkan dengan noda-noda yang tak dapat disembunyikan. Klimaks dari kedua kitab ini tentu bisa ditemukan dalam II Sam. 7, dimana Daud mendapatkan janji bahwa keturunannya akan terus memerintah. Keistimewaan lain yang bisa dilihat dan digambarkan dalam kitab ini adalah bahwa penyimpangan-penyimpangan pemimpin negara dari hukum Taurat mengakibatkan kesusahan bagi yang lain.



IV. Struktur Dan Isi Kitab I Dan II Samuel

Agak berbeda dengan kitab-kitab lain, kitab Samuel memperlihatkan perhatian yang lebih mendetail terhadap karya penulisan sastra. Termasuk dialog-dialog kata perkata yang panjang, dan detil-detail tentang tokoh-tokoh dan kejadian-kejadian dicatat secara format. Berdasarkan itu, banyak sarjana berpendapat bahwa kitab-kitab Samuel ditulis oleh orang yang terlibat dalam kejadian-kejadian itu sendiri (saksi mata). Oleh sebab itu ususlan tentang kepenulisan Samuel dan diteruskan oleh nabi Nathan dan nabi Gad merupakan hal yang sungguh-sungguh mendapat perhatian yang besar (I Taw. 29:29).
Kemudian isi dari kedua kitab ini lebih berputar-putar disekitar para tokoh utamanya Samuel, Saul dan Daud. Pada dasarnya ada empat cerita utama yaitu tentang Samuel (I Sam.1-7), Samuel dan Saul (I Sam.8-15), Saul dan Daud (I Sam.16-31) dan Daud (II Sam. 1-24).dan melalui tokoh-tokoh ini Allah mengerjakan rencananya dalam kehidupan bangsa Israel.

V. Garis Besar Kitab I Dan II Samuel

A. Pelayanan Sameul (I Sam. 1-7)
1. Kelahiran Samuel (1:1-2:10)
2. Samuel dan kaum keluarga Eli : kejayaan dan kemerosotan (2:11-4:1)
3. Orang Israel, Filistin dan tabut perjanjian (4:16-7:1)
a. Tabut perjanjian dirampas dan kematian Eli (4:16-22)
b. Tabut perjanjian ditanah Filistin (5:1-12)
c. Tabut perjanjian kembali dan tinggal di Kiryat Yearim (6:1-7:1)
4. Samuel menjadi Hakim (7:2-17)

B. Permulaan Sistem Kerajaan (I Sam. 8-15)
1. Tuntutan untuk memiliki raja (8:1-22)
2. Saul dipilih dan diurapi (9:1-10:27)
3. Kemenangan pertama Saul (11:1-15)
4. Pembaharuan perjanjian (12:1-25)
5. Saul ditolak sebagao raja (13:1-15a)
6. Kepahlawanan Saul dan Yonathan (13:15b-14:52)
7. Saul kembali ditolak sebagai raja (15:1-35)

C. Daud Memegang Kekuasaan (I Sam. 16:1-II Sam. 5:10)
1. Daud diurapi menjadi raja di Betlehem (I Sam. 16:1-13)
2. Daud diistana (I Sam.16:14-23)
3. Daud dan Goliath (I Sam. 17-18:5)
4. Daud menghadapi banyak ancaman (I Sam. 18:6-21:1)
5. Daud menjadi Buronan (I Sam. 21:2-30:31)
6. Saul membunuh para imam di Nob (22:6-23)
7. daud dalam pelarian (23:1-24:1)
8. Di En-Gedi Daud membiarkan Saul hidup (24:2-23)
9. Daud, Nabal dan Abigail (25:1-44)
10. Dipadang Gurun Zif kebali Daud membiarkan Saul hidup (26:1-23)
11. Daud kembali kepada Akhis, raja Gad (27:1-28:2)
12. Saul dan perempuan pemanggil Roh di en-Dor (28:3-25)
13. Daud meninggalkan Akhis, raja Gad (29:1-11)
14. Kematian Saul (I Sam. 31:1-II Sam. 1:27)
15. Daud menjadi raja Yehuda (II Sam. 2:1-11)
16. Daud menghadapi banyak musuh (II Sam. 2:12-4:12)
17. Di Hebron, Daud diurapi menjadi raja Iarael (II Sam. 5:1-5)
18. Daud merebut Yerusalem (II Sam. 5:6-10)

D. Daud mengadakan konsolidasi kekuatan (II Sam. 5:11-8:18)
1. Keberhasilan Daud dalam perkara jasmani (5:11-25)
2. Keberhasilan Daud dalam perkara Rihali (6:1-7:29)
3. Kegemilangan dan kejayaan Daud (8:1-18)

E. Kemerosotan Daud (II Sam. 9-25)
1. Daud dan Mefiboset (9:1-13)
2. Perang melawan orang Amon . . .A (10:1-19)
3. Skandal dengan Betsyeba (11:1-12:25)
4. Perang melawan orang Amon . . .B (12:26-31)
5. Dua anak yang memberontak (13:1-19:1)
6. Pegawai-pegawai Daud (20:23-26)
7. Perbuatan-perbuatan terakhir Daud (II Sam. 21-24)

VI. Tema-Tema Utama Kitab I Dan II Samuel

A. Pembenaran Atas Kerajaan Daud
Sesudah Allah memberi Daud perhentian terhadap musuh-musuhnya, Dia memberikan rangkaian janji kepadanya. Banyak sarjana menganggap hal ini sebagai sorotan teologis kitab Samuel. Setidaknya ada 4 hal pokok yang dalam hal perjanjian Daud ini (2 Samuel 7:13 dst).
1. Satu pondok bagi Daud
2. Satu keturunan bagi Daud
3. Satu kerajaan bagi Daud
4. Janji tentang Anak allah melalui keturunan Daud

B. Akibat-Akibat Dari Dosa
Tema tentang akibat-akibat dari dosa ini bisa ditemukan hampir dalam setiap kiotab di Alkitab, namun dalam kedua kitab Samuel hal ini sangat menonjol. Dapat dilihat keseluruhan kitab I & II Samuel menceritakan tokoh-tokohnya yang secara berurutan diikuti naiknya tokoh-tokoh lain. Dalam beberapa hal kemerosotan tokoh ini disebabkan oleh dasarnya.

C. Kedaulatan Allah
Ada kait-mengait dari seluruh pembahasan mengenai sistem kerajaan dan konsekuensi dari dosa, serta dalam kisah-kisah keperkasaan Daud, yang bersumber dari kemahakuasaan Allah. Pada akhirnya dialah yang mengendalikan semua. Dia menyerahkan orang Filistin dan orang Amon kedalam tamgan Samuel (I sam. 7:9-14), ketangan Saul (11:6,13), ketangan Yonathan (14:12,15,23), dan berkali-kali ketangan Daud. Pilihan Allah atas Daud sebagai raja didukung pemeliharaanNya atas di dalam menghadapi banyak pertempuran sekaligus perjalanan yang panjang untuk dapat duduk diatas takhta kerajaan Israel.


KITAB I DAN II RAJA-RAJA


I. Pendahuluan

Kitab Raja-Raja mencatatat rangkaian kejadian disekitar pasangan kerajaan Israel yang bersatu, juga peristiwa-peristiwa setelah kerajaan terpecah menjadi Israel dan Yehuda, dan akhirnya tentang Yehuda yang dibuat kitab ini juga mencatatat tentang masalah kerohanian secara berturut-turut baik dari kerajaan Yehuda maupun Israel, disertai kisah tentang nabi-nabi tertentu. Secara keseluruhan, keduanya terputus-putus mencatat berulangnya perbuatan jahat raja-raja dan kemerosotan moral mereka.
Namun di balik itu terdapat pesan dan pengharapan bagi umat Allah. Pesan dari kitab ini bersumber pada janji-janji yang diberikan Allah kepada Daud dalam kitab II Samuel. Ada 3 hal penting yang didapat umat Allah selama masa pembuangan di Babel dan sesudahnya yaitu: (1) bahwa Israel belajar dari kesalahan para pendahulunya serta mengikuti perkataan para yang merupakan juru bicara Allah, agar terhindar dari hukuman berat seperti itu lagi; tetapi (2) bagaimanapun juga, Tuhan adalah Allah yang baik dan panjang sabar, tetapi mau mengampuni jika umat benar-benar bertobat ; dan (3) bahwa Allah tetap memberikan harapan pada umat-Nya, terlepas betapapun para keadaan mereka.
Catatan kitab ini dimulai ketika Daud sudah uzur serta lemah, sementara kekuasaan berpindah kepada Salom, anaknya yang kemudian menjadi pusat perhatian. Dosa-dosa Salomo menyebabakan kerajaan terpecah menjadi dua negara yang bermusuhan. Sementara itu berbagai tulisan didalamnya secara bergantian melaporkan Serta memberikan penilaian terhadap sejarah mereka, setelah kerajaan utara jatuh, kerajaan selatan juga melaporkan jatuh, sebagai akibat dosa-dosa mereka. Akhirnya kitab ini ditutup dengan catatan yang menunjukan pandangan kedepan dan gambaran tentang harapan bahwa Allah tetap menyertai umat-Nya.

II. Judul Kitab

Dalam bahasa Ibrani judul yang diberikan untuk versi yang permulaan kitab ini adalah “Melakim” (Raja-Raja). Kitab ini dipecah menjadi dua karena alasan-alasan yang praktis, edisi ini pertama kali muncul dalam salinan bahasa Yunani septuaginta, versi Yunani menyebut keduanya sebagai “kitab pemerintahan ketiga dan keempat”, kitab “pemerintahan” yang pertama adalah kitab-kitab I dan II Samuel. Jadi dalam bahasa Inggris “Kings” atau “Raja-Raja”, berasal dari salinan bahasa Latin, vulgata,dimana keduanya disebut kitab “Raja-Raja ketiga dan keempat”.

III. Penulis Dan Tanggal Penulisan

Kitab Raja-Raja tidak memberikan petunjuk tentang siapa penulisnya, namun tradisi Yahudi dalam Talmud menganggap Yeremia sebagai penulisnya. Hal ini didasarkan ……… kesamaan antara Yeremia 52 Dan II Raja-Raja 24-25. dan perlu juga dicatat bahwa didalam kitab Raja-Raja memeberikan tempat yang menonjol bagi kehidupan para Nabi dan kecermatan nubuat dalam kaitannya dengan kerajaan Israel dan Yehuda Daud juga perlu dicatat bahwa dalam kitab ini ada cara pandang kenabian yang kuat jadi masuk akal jika ada pendapat penulis kitab ini adalah seorang nabi. Namun siapapun penulis kitab ini, ia telah menggunakan sumber sejarah (11:41,14:19,29). Ia haruslah seseorang yang menulis dengan mengambil dari sumber-sumber yang lebih tua. Selain itu sering juga terdapat sisipan-sisipan catatan dari saksi-saksi mata tentang riwayat nabi Elia, Elisa dan Mikha :mungkin catatan tersebut tersimpan dalam catatan-catatan yang dibuat oleh rombongan/sekolah nabi-nabi. Selain nama Yermia, penulis alternatif kitab ini adalah Ezra dan Yehezkiel.
Penulisan kitab ini tidak mungkin terjadi dimasa kepulangan bangsa Yehuda dari masa pembuangan Babel (538 S.M), karena penulis tidak menyebutkan itu. Dibebaskannya Yehoakin dari penjara adalah peristiwa terakhir yang dicatat dalam 2 Raja-Raja, jadi ada kemungkinan penulisan kitab ini baru diselesaikan antara tahun 560 dan 538 S.M.

IV. Tujuan Penulisan

Salah satu tujuan yang terlihat jelas dalam penulisan kitab ini adalah menyelesaikan penulisan sejarah raja-raja Israel sebagai lanjutan kitab Samuel. Catatan mengenai Raja-raja Isreal secara tersirat mengimbangkan ide mengenai kedaulatan tangan Allahdalam sejarah perjanjian Israel dan realitas dari kebebasan dan pertanggungan jawaban manusiabagi orang-orang yang bersatu dengan Dia dalam hubungan perjanjian.pandangan kenabian dari sejarah Israel berfungsi untuk memberi nasihat kepada raja dan rakyat sehubungan dngan pelanggaran-pelanggaran dimasa laludalam hal mematuhi perjanjian itu dan untuk mempringatkan mereka terhadap berbagai aliran yang seius tidak taat kepada perjanjian-perjanjian dari Tuhan. Oleh karena itu tujuan utama kitab ini adalah untuk memperlihatkan betapa ketidaktaatan memberi kehancuran bagi kerajaan. Kesejahteraan bangsa bergantung pada kesetiaan raja dan rakyatnya kepada perjanjian Allah dengan Israel. Kitab ini tidak hanya mencatat sejarah Raja-Raja ! melaikan juga mengakui keberhasilan raj dan bangsanya secara keseluruhan dan memuji mereka yang setia memegang teguh hukum-hukum Allah. Secara …….. kitab ini menggambarkan betapa “kebenaran mengangkat derajat bangsa, sedangkan dosa adalah noda bangsa”. Ketidak setiaan terhadap perjanjian Allah mengakibatkan kemerosotan moral dan spiritual, hukuman pembuangan merupakan salah satu ……. Mengembalikan mereka.

V. Struktur Dan Isi Kitab

Catatan sejarah para raja dalam I dan II Raja-Raja disusunsecara kronologis mulai dari naik taktanya Salomo sampai jatuhnya Yerusalem, dengan beberapa pengecualian, karena sorotan terhadap beberapa tema-tema tertentu. Misalnya ringkasan mengenai para pegawai Salomo ditambahkan pada narasi yang bercerita mengenai hikmatnya yang luar biasa, pandangan sekilas mengenai prestasi Salomo dibidangarsitektur, ringkasan pelayanan nabi Elia dan Elisa, yang semuanya disusun berdasarkan temanya. Ciri khas yang juga terdapat dalam kitab ini adalah mengenai laporan singkat dan tepat mengenai peristiwa-peristiwa penting dibidang politik dan militer selama pemerintahan seorang raja tertentu.
Kitab Raja-Raja juga merupakan sebuah sejarah Israel yang selektif mulai dari akhir masa pemerintahan Daud sampai pada penaklukan Yerusalem oleh orang Babel. Berdasarkan kronologi, 1-2 Raja-raja memerincikan sejarah politik Israel selama kerajaan kesatuan yang dimulai tahun 970 S.M., terus masa pembuangan Israel kerajaan utara oleh Asyur (722 S.M) dan pembuangan Yehuda, kerajaan selatan ke Babel (587/586 S.M).
Dua catatan kaki ditambahkan pada akhir kitab II Raja-raja yang pertama (25:22-26) menceritakan pengangkatan Gedalya yang dilakukan oleh komplotan orang Yahudi dibawah pimpinan seorang yang bernama Ismail. Pemburukan ini terjadi antara tahun 586 dan 582 S.M. Catatan kaki yang kedua (25:27-30) mencatat pembebasan RajaYoyakim dari penjara Babel sesudah kematian Raja Nebukadnesar.
Sejarah dalam kitab Raja-Raja meminjam “zaman keemasan” Israel dari kerajaan kesatuan dibawah Salomo, pecahnya kerajaan selama pemerintahan Rehabeam dan naik turunnya keberuntungan politik dan agama dari kerajaan yang terpecah sampai keruntuhan kedua kerajaan itu. Interaksi umat Israel dengan bangsa-bangsa asing disekitar mereka dimasukan juga kedalam catatan kitab Raja-Raja.
Arkeologi juga memberikan sumbangan yang sangat penting untuk menjelaskan dan memperkuat catatan Alkitab dikitab Raja-Raja. Penemuan-penemuan tertentu, termasuk penggalian-penggalian, di tempat-tempat yang berkaitan dengan periode-periode kerajaan kesatuan dan kerajaan yang tepisah. Bukti-bukti dari berbagai prasasti luar Alkitab juga sangat menjelaskan kebenaran-kebenaran peristiwa dalam kitab Raja-Raja ini.

VI. Garis Besar Kitab I & II Raja-Raja

A. Raja Salomo (1 Raja-Raja)
1. Penobatannya (1-2)
2. Hikmatnya (3)
3. Pemerintahannya (4-11)

B. Raja Rehabeam (12:1-22)

C. Kerajaan Israel dan Yehuda dari 931-853 S.M.
1. Yerobeam I (12:22- 14:20)
2. Rehabeam (14:21-31)
3. Abiam (15:1-8)
4. Asa (15:9-24)
5. Nadab (15:25-32)
6. Baesa (15:33- 16:7)
7. Ela ( 16:8-14)
8. Zimri (16:5-20)
9. Ahab (16:29-34)

D. Pelaayanan Nabi Elia dan Elisa
1. Elia dan Raja Ahab (I Raja-Raja 17:1- 22:40)
2. Raja Yosafat (I Raja-Raja 22:41-50)
3. Raja Ahazia (I Raja-Raja 22:51- II Raj. 1:18)
4. Elisa dan Raja Yoram (II Raj. 2:19- 8:15)

E. Kerajaan Israel dan Yehuda dari 852-722 S.M. (II Raja-Raja)
1. Yoram (8:16-24)
2. Ahazia (8:25-29)
3. Yehu (9-10)
4. Atalya dan Yoas (11-12)
5. Yoahas (13:1-9)
6. Yoas (13:10-25)
7. Amazia (14:1-22)
8. Yerobeam II (14:23-29)
9. Azarya (15:1-7)
10. Zakharia (15:8-12)
11. Salum (15:13-16)
12. Menahem (15:17-22)
13. Pekahya (15:23-26)
14.
15. Yotam (15:32-38)
16. Ahas (16)
17. Hosea (17:1-6)
18. Jatuhnya Samaria ketangan Asyur (17:4-41)

F. Kerajaan Yehuda dari 729-587/586 S.M.
1. Hizkia (18-20)
2. Manasye (21:1-18)
3. Amon (21:19-26)
4. Yosia (22:1-23:20)
5. Yoahas (23:31-35)
6. Yoyakhim / penyerbuan pertama Babilonia (23:36-24:7)
7. Yoyakhim / penyerbuan kedua Babilonia (24:8-17)
8. Zedekia (24:18-20)

G. Jatuhnya Yerusalem ketangan Babilonia (25:1-21)
H. Tambahan sejarah A : Gubernur Gedalya (25:22-26)
I. Tambahan sejarah B : Yoyakhim dalam pembuangan (25:27-30).

VII. Tema-Tema Utama

A. Kerajaan Allah dan Kerajaan Daud

Kitab Raja-Raja menunjukkan bagimana janji-janji Allah kepada Daud ini digenapi dalam sejarah. Dalam kitab ini kita melihat, meskipun banyak pembunuhan terjadi di Israel dan berulang-ulang Dinasti menguasaia kerajaan, namun kerajaan Yehuda dan kekuasaan Dinasti tetap berlanjut. Memang banyak keturunan Daud yang berlaku jahat. Janji-janji Allah untuk memelihara kelanjutan Dinasti Daud tidak pernah dalam wujud lahiriah dari kerajaan Daud merupakan simbol kerajaan Allah sendiri.
B. Harapan Anugrah Allah untuk Masa Depan

Penekanan kitab ini terhadap janji-janji Allah kepada Daud yang penuh rahmat merupakan pesan tentang harapan bagi umat Allah, khususnya ….. yang menggap janji itu untuk selama-lamanya. Figure Daud merupakan faktor yang selalu menjadi pertimbangan bagi Tuhan saat Ia menyatakan kemurahan-Nya

C. Komitmen Terhadap Perjanjian

Kitab ulangan 17:18-19 menyebutkan tentang Raja dan perkara yang harus diperhatikan secara terus menerus di seluruh kerajaan Salomo diperintahkan untuk menaati hal tersebut (I Raj.3:14). Kerajaan utara secara eksplisit dikemukakan bahwa kejatuhannya terjadi akibat ketidaktaatan terhadap perjanjian itu (II Raj. 17:7-23; 18:12). Sementara dibagian lain kitab Raja-Raja menjelaskan bahwa Raja yang baik adalah Raja yang dikatakan memelihara dan menaati perjanjian itu dan hukum-hukum Musa.

D. Perspektif Kenabian

Kitab Raja-Raja juga menjelaskan tentang presfektif kelebihan. Tugas mereka sebagai juru bicara Allah sangat berpengaruh dalam kehikdupan Raja-Raja. Kitab ini mencatat istilah nabi-nabi sebayak 94 kali dan istilah abdi Allah sebayak 60 kali.

E. Pertobatan dan Hukuman

Kitab Raja-Raja memberi pesan yang jelas bahwa hukuman memainkan peranan utama dalam kitab ini terpecahannya dan keruntuhan kerajaan tersebut merupakan hukuman atas ketidaksetiaan mereka pada Allah. Menyertai tema tentang hukuman adalah pemberitaan yang menekankan pertobatan. Seruan pertobatan ini bersumber pada kemurahan Allah atau kebaikannya. Artinya Israel harus mempunyai tempat berpaling dan itu adalah Yahwe.



KITAB I DAN II TAWARIKH


I. Pendahuluan

Sebagaimana kitab Samuel dan kitab Raja-Raja, maka pada mulanya I dan II Tawarikh merupakan satu kitab pada waktu naskah Ibrani yang asli diterjemahkan ke bahasa Yunani. Kitab Tawarikh terdapat setelah Ezra dan Nehemia dlam Alkitab Ibran, yang menunjukan bahwa kitab tersebut diterima dalam kanon PL dan dipandang sebagai kelanjutan sejarah yang terdapat dalam I dan II Samuel dan I dan II Raja-Raja. Versi bahasa Inggris mengikuti Perjanjian Lama dalam bahasa Yunani didalam menempatkan kitab Tawarikh, Raja-Raja dan Samuel.
Sebagian besar kitab-kitab Tawarikh tidaklah berisis bahan yang baru. Sebaliknya kitab-kitab ini meninjau kembali dan sedikit banyak mengulang dan menggunakan data historis dari kitab-kitab Samuel dan Raja-Raja serta bagian permulaan kitab Ezra. Menurut perhitungan seorang ahli dalam kitab-kitab Tawarikh, terdapat 27 kisah yang tidak ditemukan dalam kitab-kitab sejarah yang lain. Jikalau dibandingkan dengan kitab Samuel dan Raja-Raja maka 50 % dari isi kitab Tawarikh sama dengan kitab Samuel dan Raja-Raja. Hal ini merupakan kekayaan kitab Tawarikh.

II. Judul Kitab Dan Penulisan

Pertama kali kitab ini dikenal dengan judul “Paralei pomenon”, artinya “segala sesuatu yang tertinggal”. Ini terdapat pada salinan-salinan versi Yunani (Septuaginta) dan pada Vulgata kara Jerome, dan jelas mewakili fakta bahwa I dan II Tawarikh melengkapi banyak tuisan dari I dan II Samuel serta I dan II Raja-Raja.
Judul kitab dalam bahasa Ibrani ialah “Dibre hayyamim”, masalah sehari-hari (“persoalan sehari-hari” atau “ perbuatan sehari-hari”), ini harus dianggap sebagai “sejarah” atau” Tawarikh”. Memang, judul dalam bahasa Inggris berasal dari Jerome : artinya “Tawarikh dari seluruh sejarah Suci” (“the Chronicle (Cronikhon) of the whole of sacred history”). Jerome menulis dalam bahasa latin, pemakaian istilah Yunani disini membuktikan dia melihatnya sebagai satu judul. Karya Jerome adalah penokohan (karakterisasi) yang bisa dibenarkan, cakupannya meluas mulai dari Adam (1:1) sampai kepada Koresy (II Tawarikh 36:22-23).
Mengenai masalah kepenulisan di bagian manapun Alkitab tidak menyebutkan siapa penulis kitab ini. menurut ajaran Talmud dan tradisi Yahudi menyebutkan, Ezra-lah penulisnya. Hal ini masuk akal mengingat setelah 1 dan 2 Tawarikh berakhir, disusun kitab Ezra. Di samping itu banyak gaya serta perbendaharaan kata yang mirip. Dan berdasarkan asumsi bahwa Ezra adalah penulis kedua kitab ini, banyak orang memberi tanggal sekitar 450 atau 400 SM.

III. Tujuan Penulisan

Kitab Tawarikh bertujuan menyampaikan kisah tentang umat Allah kepada pembacanya yang hidup sesudah kejadian-kejadian tersebut atau masyarakat pasca pembuangan dengan perhatian khusus antara lain: pada perjanjian Daud, tempat beribadah yang tepat, dan kepastian mengenai hukuman Allah. Sorotan terhadap Yehuda sebagai objek yang dipakai Allah untuk mewujudkan janji-janji-Nya tidak mengabarkan visi kitab yang mengisahkan umat Allah ini, termasuk di dalamnya semua yang tetap setia, baik dari Israel maupun dari Yehuda.
Pesan lain yang dapat dilihat dari kitab Tawarikh adalah pentingnya kerajaan kesatuan dari seluruh Israel, oleh sebab itu penulis kitab ini kembali mengingatkan peranan penting yang dimainkan oleh Daud dan Salomo. Penulis ini mengutamakan kedudukan Daud sebagai raja untuk menyampaikan sifat Bait Suci sebagai pusat bangsa itu dan keberhasilan Salomo digambarkan secara langsung berhubungan dengan penyembahan yang layak terhadap Yahweh.
Tinjauan kembali sejarah Yehuda juga menggaris bawahi pesan penting lainnya untuk Yerusallem pasca pembungan, yaitu, pembalasan Ilahi yang berhubungan dengan berbagai kutuk dan berkat dari perjanjian bersyarat Yahweh dan Israel. Hormat pada tokoh-tokoh penguasa yang diangkat oleh Allah dan ketaatan pada syarat-syarat perjanjian mutlak diperlukan untuk masyarakat pasca pembuangan.
Pada akhirnya sejarah dalam kitab Tawarikh menim,bulkan pengharapan di Yerusallem pada masa pasca pembungan dengan meyakinkan komunitas pada waktu itu bahwa Tuhan adalah Allah yang berdaulat atas sejarah, yang giat dalam pemerintahan Daud dan Salomo, akan terus memelihara dan campur tangan dalam sejarah umat Ibrani untuk mewujudkan penglihatan nabi tentang Sion sebagai pusat politik dan agama bagi bangsa-bangsa.

IV. Struktur Dan Isi

Penulis Tawarikh merupakan seorang teolog dan imam disamping menjadi seorang sejarawan. Sejarah Israel yang ditulisnya itu bersifat menafsir dan membela serta dirancang secara khusus untuk membangunkan Iman perjanjian dan membangkitkan harapan ditengah masyarakat Ibrani pasca pembungan yang terkepung. Struktur makro dari kitab-kitab Tawarikh yang menonjolkan adanya pengharapan ini.
Dari segi isinya kitab-kitab Tawarikh merupakan laporan sejarah tentang jalannya peristiwa-peristiwa dalam kehidupan umat Israel. Kitab-kitab ini juga menyebutkan sejumlah besar kitab yang merupakan sumber dari bahan yang terhimpun di dalamnya, atau yang menyediakan informasi tambahan. Kitab-kitab ini mencakup kitab nabi Natan (I Taw. 29:29), kitab Gad, pelihat itu (I Taw. 29:29), nubuat Ahia orang Silo (II Taw. 9:29), sejarah kitab I dan II Raja-Raja (II Taw. 24:27), kitab Samuel, pelihat itu (I Taw. 29:29), dan riwayat Yehu bin Hanani (II Taw. 20:34). Tentu saja, karya-karya asli ini telah lama hilang sehingga tidak ditemukan para ahli.
Dari penyajiannya yang bersifat sejarah, kitab-kitab Tawarikh hampir semata-mata berbicara tentang kerajaan Yehuda. Penulis kelihatannya beranggapan bahwa para pembacanya telah terbiasa tentang cerita kerajaan Israel. Ia bermaksud memberikan keterangan lebih lanjut dalam merurut keluarga yang memerintah dari garis keturunan yang dijanjikan. Sungguh menarik untuk memperhatikan bahwa kutipan-kutipan yang diambil dari kitab Raja-Raja tidak disertai kata penghargaan terhadap sumbernya. Rupanya hal ini dilakukan berdasarkan alasan bahwa mereka yang membacanya tidak memerlukan pengakuan semacam itu. Kitab-kitab Tawarikh ditulis khususnya dari segi pandangan para imam Yehuda: silsilah yang berhubungan dengan imam-imam ditulis secara cermat dan lengkap, dan mencakup banyak peristiwa dan kejadian yang khususnya menarik para imam. Sebaliknya, nabi Elia dan Elisa hampir tidak disebut dalam kitab Tawarikh, karena kehidupan mereka tidak khusus berhubungan dengan tujuan penulisan kitab.
Karena penulisan kitab Tawarikh diselesaikan pada masa bangsa Israel kembali ke tanah perjanjian, maka kiotab itu berusaha melaporkan informasi yang sebenarnya dipulangkan umat yang dipulangkan itu. Silsilah keluarga pada umumnya menjadi berarti sekarang, dan pasti silsilah raya dan latar belakang garis keturunana imam yang sangat menonjol dalam kepemimpinan umat itu perlu dilaporkan. Pembagian tanah ditetapkan menurut hubungan keluarga, dan sungguh penting bagi setiap orang untuk mengetahui lokasi dan batas dari tanah yang dimiliki keluarganya. Dalam merurut silsilah, adalah menarik untuk memperhatikan bahwa kitab Tawarikh dimulai dengan tokoh Adam.

V. Garis Besar Kitab I Dan II Tawarikh

A. Pendahuluan Yang Bersifat Silsilah
1. Para leluhur (I Taw. 1)
2. Anak-anak Israel (2-3)
3. Keluarga Yehuda (4:1-23)
4. Simeon (4:24-43)
5. Ruben, Gad, Manasye (5)
6. Lewi (6)
7. Isakhar, Beyamin, Naftali, Efraim, Asyer (7)
8. Saul (8)
9. Orang-orang yang kembali dari pembuangan (9)

B. Kerajaan Kesatuan
1. Pemeintahan Daud (I Taw. 10-29)
a. Kematian Saul (10)
b. Penobatan Daud (11-12)
c. Kembalinya Tabut Perjanjian (13-17)
d. Penaklukan-penaklukan yang dilakukan Daud (18-20)
e. Susunan Kerajaan Daud (21-27)
f. Pesiapan-persiapan Daud untuk Bait Suci (28:1-29:9)
g. Ucapan terakhir Daud dan kematiannya (29:10-30)
2. Pemerintahan Salomo (II Taw. 1-9)
a. Salomo sebagai raja (1)
b. Pembangunanan Bait Suci (2:1-5:1)
c. Pentabisan Bait Suci (5:2-7:22)
d. Kegiatan-kegiatan Salomo (8-9)
C. Sejarah Yehuda
1. Rehabeam (10-12)
2. Abia (13:1-14:1)
3. Asa (14:2-16:14)
4. Yosafat (17:1-21:3)
5. Yoram (21)
6. Ahazia (22:1-9)
7. Atalya dan Yoas (22:10-24:27)
8. Amazia (25)
9. Uzia (26)
10. Yotam (27)
11. Ahas (28)
12. Hizkia (29-32)
13. Manasye (33:1-20)
14. Amoan (33:21-25)
15. Yosia (34:1-36:1)
16. Yoas (36:2-4)
17. Yoyakhim (36:5-8)
18. Yoyakhim (36:9-10)
19. Zedekia (36:11-16)

IV. Pembuangan (36:17-23).0

VI. Tema-Tema Utama

A. Seluruh Israel Sebagai Kesatuan Umat Allah
Penulis kitab Tawarikh bermaksud menunjukan bahwa umat Allah masih merupakan satu kesatuan, bahwa pada zamannya sendiri, yakni beberapa dasawarsa setelah pembuangan bangsa Yehuda dan beberapa abad sesudah jatuhnya, serta musnahnya kerajaan utara. Meski dia tidak mencatat kejadian-kejadian atau nasib kerajaan utara itu sendiri, namun dia sendii tampak menaruh perhatian untuk menunjukan bahwa “seluruh Israel” tetap merupakan satu kesatuan yang bisa dilihat.

B. Pemerintahan Kerajaan Daud
Figur Daud begitu menonjol dalam kitab Tawarikh. Sesungguhnya, hampir semua sarjana setuju bahwa kitab Tawarikh menganggap Daud dan Dinasti Daud sebagai tema sentral.

C. Ibadah Dalam Bait Suci
Bait Suci dan ritual Ibadah yang terkait dengannya begitu menonjol dalam kitab Tawarikh. Bait Suci mempunyai arti penting sebab memiliki simbo kehadiran Allah di tengah-tengan umat-Nya. Ia dibangun dengan meniru kemah Suci yang juga menjadi symbol kehadiran allah. Sebenarnya kata aslinya yang diterjemahkan menjadi “Tabernacle” ialah mishkan yang artinya “tempat kediaman”. Bait Suci dikaitkan secara erat dengan perhatian terhadap kota dimana ia berdiri : Yerusalem adalah ibu kota, pusat bagi seluruh negeri atau lota di Israel dan Yehuda. Ia menjadi tempat kediaman allah dan satu-satunya tempat ibadah yang syah.

D. Ganjaran atau Upah dan Hukuman
Satu diantara tema-tema utama kitab Tawarikh ialah bahwa Allah memberikan upah atas ketaatan serta hukuman atas dosa. Tema ini menonjol setelah kerajaan terpecah. Balasan adalah ukuran utama, jika tidak boleh dikatakansatu-satunya ukuran yang dipakai dalam penulisan sejrah para raja pasca Salomo. Pernyataan langsung tentang gagasan ini tertuang dalam pesan Daud kepada Salomo : “jika engkau mencari Dia, maka Ia berkenan ditemui olehmu; tetapi jika engkau meninggalkan Dia maka Ia akan membaung engkau selamanya”.

E. Pendirian atau Sikap Hati
Istilah yang berkaiotan dngan hati muncul kira-kira 850 kali dalam Perjanjian Lama, dimana 63 terdapat dalam kitab Tawarikh (19 kali dalam I Tawarikh dan 44 kali dalam II Tawarikh). Oleh sebab itu sangat tepatlah jika sikap hati merupakan salah satu tema dari kitab Tawawrikh. Bagi penulis Tawarikh, ketaatan lahiriah terhadap setiap perkataan dalam hukum Taurat saja belum cukup;yang lebih penting ketaatan tersebut harus dijalani dengan kemauan, keiklasan dan kesucian hati seta penuh sukacita.

F. Doa
Doa memainkan peranan penting dalam kitab Tawarikh. Kita menemukan lim do utama dimana isinya juga ditunjukan dalam kedua kitab ini. Mereka adalah raja-raja yang baik; Daud (2), Salomo, Yosafat dan Hizkia. Doa-doa dicatat karena setidak-tidaknya mempunyai dua fungsi : isinya memperkaya wawasan kita mengenai Allah, apa yang diinginkan-Nya dari umat-Nya dan yang kedua kali bagaimana cara berhubungan yang benar dengan Allah.

G. Otoritas Alkitab
Perlu dijelaskan bahwa penulis Tawarikh sangat menghargai kitab-kitab Suci. Dapat kita klihat bahwa dia berusaha keras menyesuaikan Pentateukh dengan karya-karya sejarah yang dia gunakan. Pada analisis terakhir, dia mutlak meyakini bahwa kitab Suci tidak bertentangan satu dengan yang lainnya. Dia menyadari bahwa tugasnyalah untuk menemukan kesinambungan dalam perikop-perikop yang tidak cocok satu dengan yang lain, dan membawanya kepada keserasian yang benar serta memiliki makna. Ini adalah sikap atau pendirian penting dan beberapa orang menganggap pendirian ini adalah pendekatan yang sangat baik terhadap kitab-kitab Suci.



KITAB EZRA & NEHEMIA

I. Pendahuluan

Kitab Ezra dan Nehemia menyajikan catatan tentang akhir dari pembuangan bangsa Israel di Babel dan peristiwa kembalinya mereka ke tanah Israel. Pasal-pasal pendahuluan kitab Ezra membeikan gambaran sukacita dari bangsa Israel dan semangat untuk membangun kembali Bait Suci. Bagian selanjutnya menceritakan kepulangan serupa dibawah Ezra, seorang yang ditugasi raja Persia untuk mengajarkan Hukum Taurat. Nehemia pulanh beberapa tahun sesudahnya dengan memikul tugas kenegaraan untuk membangun kembali tembok Yerusalem. Tembok dibangun kembali, Taurat dibacakan dan perayaan-perayaan penuh sukacita diadakan.
Akan tetapi, segala sesuatu tidak berjalan dengan mulus. Ezra maupun Nehemia mendapati bahwa umat Allah mengotori diri mereka sendiri, dan ini membahayakan kelangsungan Israel sebagai kesatuan etnik dan kesatuan rohani. Karena mereka mengawini bangsa-bangsa kafir. Nehemia melihat banyak pelanggaran lain seperti itu. Lebih jauh kita juga membaca tentang ketegaran rakyat setempat, yang menentang upaya-upaya pembangunan Bait Suci pada zaman Ezra, serta perbaikan tembok pada zaman Nehemia. Pada seluruh lipatan kedua kitab tersebut, orang-orang Yahudi masih dalam perbudakandibawah bangsa Persia namun dibawah bentuk yang sangat toleran.
Kitab-kitab ini dikemas begitu ketata dengan pesan-pesan spiritual yang siap untuk digali. Kedua kitab ini menyajikan kekayaan rohani dimana umat Allah diliputi oleh hal-hal yang tidak menyenangkan. Kedua kitab ini juga berbicara tentang catatan-catatan yang memperlihatkan kesatuan umat Allah. Pentingnya disiplin atau tertib rohani seperti doa, puasa, berkorban dan membaca kitab Suci menjadi contoh-contoh diseluruh bagian kedua kitab ini.

II. Judul Kitab Dan Waktu Penulisan

Kitab Ezra dan Nehemia diberi judul sama dengantokoh-tokoh utamanya. Nama Ezra adalah bentuk singkat dari “Azaria” yang artinya “Yahwe Menolong”, sedangkan nama Nehemia berarti “Yahwe Menghibur”.
Pandangan dari mayoritas diantara para ahli Alkitab menyajikan bahwa Ezra sebagai penulis kedua kitab ini, juga menghubungkan gabungan kitab Ezra-Nehemia dengan penulis Tawarikh. Hal yang bisa dilihat yaitu dalam II Taw. 36:22-23 merupakan suatu kolofon, atau tulisan penutup, yang mensyaratkan ayat-ayat pembukaan dari Ezra 1:1-2. Tradisi Yahudi menyebutkan Ezra, ahli kitab itu sebagai sebagai penulis Tawarikh dari sejarah masa pasca pembuangan sebagaimana dipaparkan dalam I & II Tawarikh dan Ezra-Nehemia demikian juga menurut Talmud orang Yahudi. Oleh sebab itu maka kita apat menyimpulkan bahwa kedua kitab ini ditulis antara tahun 465-424 B.C.
Kitab Ezra dan Nehemia juga merupakan satukitab dalam Perjanjian Lama Ibrani. Bersama dengan kitab-kitab sejarah lainnya seperti Samuel, Raja-Raja dan Tawarikh, kita Ezra ini di bagi menjadi dua kitab dalam Septuaginta. Di dalam tradisi Kristen kitab ini juga dibagi menjadi dua bagian. Origen (185-253). Rupanmya adalah orang pertama yang membedakan keduanya, dalam karya terjemahannya dalam bahasa latin, Jerome pada abad keempat membaginya menjadi dua kitab. Alkitab bahasa Ibrani pertama yang membuktikan perpecahan dua kitab dibuat pada akhir pertengahan, dan itu terjadi karena pengaruh dari salinan-salinan Alkitab Kristiani.

III. Tujuan Penulisan

Kedua kitab ini bertujuan menampilkan kehidupan umat Allah sebagaimana kemudian diungkap sepenuhnya dalam masa pasca pembuangan, baik segera sesudah pembuangan maupun sekian tahun berikutnya. Hal ini ditulis dari persefektif keagamaan sehingga Bait Suci dan upacara-upacara agama menjadi hal pokok yang dianggap penting sekali. Oleh karena traumatentang pembuangan suatu masa dimana tidak ada Bait Suci maupun korban-korban persembahan dan suatu masa dimana keberadaan umat Allah sedang dipertaruhkan maka kesatuan dan persatuan serta kemurnian umat Allah menjadi sorotan utama kitab ini. jadi keduanya ditulis untuk menunjukan bahwa Allah masih tetap setia dan penuh rahmat kepada umat-Nya, dan bangsa yang memperoleh identifikasi asal-usul mereka berabad-abad sebelumnya ini, masih tetap hidup dan berjuang untuk tetap setia kepada tradisi-tradisi yang diletakkan oleh Musa.
Tujuan lain dari kita ini adalah penulisan sejarah, dengan adanya kebutuhan untuk memelihara catatan mengenai pemulangan umat Ibrani dari pembuangan di Babel ke Yerusalem. Karen itu, kisah-kisah ini juga menyoroti kesetiaan Yahwel dan dengan demikian membutuhkan pengharapan dalam hati umat Israel pada masa pasca pembuangan dengan cara menunjukkan pemeliharaan Allah yang bekerja diantara raja-raja dan pemerintah-pemerintah. Dari segi teologi narasi yang menceritrakan pelayanan Ezra dan Nehemia dalam memulihkan kembali Yerusalem secara fisik dan rohani menegaskan janji-janji Yahweh untuk membaharui sisa-sisa Israel.

IV. Struktur Sastra dan Isi

Kitab Ezra dimulai dengan menceritakan proklamasi Koresy untuk pemugaran Yerusalem, dan kitab Nehemia diakhiri dengan berbagai pembaharuan yang dilakukan oleh Nehemia selama masa jabatan yang kedua sebagai bupati Yerusalem yang diangkat oleh kerajaan Persia. Kisah-kisah yang tumpang-tindih dari pelayanan Ezra dan Nehemia di Yerusalem pada masa pascah pembuangan menunjukan ketelitian dalam menyusun karya ini.
Bagian-bagian dari kedua kitab ini disusun secara logis berdasarkan tujuan teologis dari penyusun yang berkaitan dengan penegasan kembali hubungan perjanjian Yahwe dengan Israel. Unik-unik tulisan itu bekerja bersama-sama untuk menggambarkan urutan dari migrasi umat Ibrani untuk kembali ke Palestina dan pembangunan kembali Yerusalem secara fisik dan pembaharuan rohaninya.
Keaneka ragaman jenis sastra di dalam unit-unit yang lebih luas meliputi kisah yang menceritakan dengan memakai kata ganti orang pertama dari riwayat hidup Ezra dan Nehemia, bahan cerita dengan kata ganti orang ketiga (Ezra 8:35-36), dokumen-dokumen sejarah dan surat menyurat resmi (Mis. Maklumat Koresy, komonikasi antara Tatnai dan Darius), berbagai pidato dan doa, sejumlah daftar dan catatan sensus perseorangan dan keluarga yang ikut serta dalam perjalanan pulang ke Yerusalem bahkan daftar infentaris dari perlengkapan Bait Suci yang dikembalikan ke Yerusalem.
Keabsahan sejarah kitab Ezra dan Nehemia sudah di tegaskan oleh penemuan-penemuan arkeologi yang terus berlangsung. Bukti-bukti diluar Alkitab yang dikumpulkan dari inkripsi-inkripsi di Papirus, materai-materai resmi, dan bejana-bejana peringatan menyokong catatan Alkitab dalam berbagai hal, termasuk nama-nama tokoh penting dalam narasi Alkitab (seperti Sanbalat, Yodaya, Yohanan), pengertian umat Ibrani mengenai kronolagi pasca pembuangan dan penjelasan peristiwa-peristiwa tertentu dalam sejarah Ibrani pasca pembuangan.

V. Garis Besar Kitab

A. Kisah Sesbazar dan Zerubabel (Ezra)
1. Dekrit koresy (1:1-4)
2. Pengulangan dibawah Sesbazar (1:5-11)
3. Pengulangan dibawah Zerubabel (2)
4. Pembangunan kembali Mezbah dan Bait Suci (3-6)

B. Riwayat Hidup Ezra ; Bagian 1 (Ezra)
1. Kedatangan Ezra (7-8)
2. Pembaharuan agama dan sosial yang diadakan Ezra (9-10)

C. Riwayat Hidup Nehemia : Bagian 1 (Nehemia)
1. Kedatangan Nehemia (1-2)
2. Pembangunan kembali Tembok Yerusalem waktu menghadapi perlawanan (3-4)
3. Pembaharuan ekonomi dan sosial oleh Nehemia (5:1-7:3a)

D. Riwayat Hidup Ezra : Bagian 2 (Nehemia)
1. Pembelaan Taurat (7:73b-8:12)
2. Penyembahan dan pengakuan (8:13-9:37)
3. Pembaharuan perjanjian (9:38-10:39)

E. Riwayat Hidup Nehemia : Bagian 2 (Nehemia)
1. Pemulihan kembali kota Yerusalem (11:1-12:26)
2. Penabisan tembok Yerusalem (12:27-13:3)
3. Pembaharuan lebih lanjut yang diadakan Nehemia dibidang sosial dan agama (13:4-31)

VI. Tema-Tema Utama

A. Umat Allah : memiliki kesinambungan dengan Israel pra pembuangan
Banyak bukti kuat dalam Ezra dan Nehemia menunjukan bahwa umat Allah sesudah pembuangan jelas harus diakui berasal dari umat Allah sebelum pembuangan, sehingga menjadi pewaris perjanjian kepada generasi-generasi sebelumnya.

B. Umat Allah : Satu Kesatuan
Tema penting dalam kitab Ezra dan Nehemia ialah kesatuan Umat Allah. Keberadaan daftar-daftar panjang memberikan kesan seperti itu, juga menunjukan kesadaran bahwa semua orang sudah tercakup kesana.

C. Umat Allah : Dikhususkan (Taktercemar)
Yang pentingbagi masyarakat pasca pembuangan adalah keberadaan mereka yang tetap tidak tercemar meskipun bergaul dengan para tetangga yang adalah orang kafir. Hubungan atau pergaulan seperti itu menyebabkan kehancuran Israel sehingga akhirnya ditawan di negeri pembuangan.

D. Ibadah Dalam Bait Suci
Perhatian utama kedua kitab ini, khususnya Ezra ialah Bait Suci dan Ibadah yang disana. Bait Suci sudah hancur selama jaman pembuangan dan tidak ada kurban-kurban yang dipersembahkan.

E. Arti Penting Kitab Suci
Ketaatan kepada kitab Taurat Musa merupakan tema penting dalam kitab Ezra maupun Nehemia, seperti telah disinggung diatas. Kitab-kitab Musa sendiri menonjol dalam kedua kitab ini. pembacaan kitab Suci sama pentingnya dengan mempersembahkan kurban yaitu sebagai bagian utama ibadah keagamaan orang Yahudi.

F. Doa
Berkaitan dengan berbagai ciri Ibadah keagamaan, doa memainkan peranan menonjol dalam kitab Ezra dan Nehemia. Tercatat tiga doa pengakuan yang panjang.

G. Kasih Karunia Allah
Dalam kitab Ezra dan Nehemia, Kasih Karunia atau Rahmar Allah kepada umatNya merupakan satu tema penting. Kebijakan penguasa Persia yang menguntungkan terhadap bangsa-bangsa yang dijajah.




KITAB ESTER

I. Pendahuluan

Kitab Ester merupakan kitab kedua dalam kanon Alkitab yang menempatkan wanita sebagai tokoh utamanya. Tema yang paling menonjol juga hampir sama yaitu Allah bekerja dalam kesenyapan. Kitab Ester menceritakan kembali bagaimana Allah memebebaskan umat-Nya pada waktu mereka terancam pembinaan fisik. Kitab ini khususnya bersifat patriotik dan bersifat keagamaan. Ester, sang pahlawan, disebut 52 kali, sehingga dengan mudah ia memenuhi syarat untuk dijuluki “wanita yang paling dibicarakan didalam Alkitab”. Pembebasan dibawah Ester diakui sebagai peristiwa yang sama penting dan berarti seperti pembebasan dibawah Musa pada waktu paskah. Sampai hari ini, orang-orang Yahudi membaca kitab Ester pada hari-hari raya mereka, dan mereka menghargai kisahnya sebagai asal mula hai raya purim.
Satu keanehan yang patut diperhatikan dari kitab Ester ialah bahwa nama Allah tidak disebut dimanapun juga dalam kitab ini. Demikian pula tak satupun kata mengacu kepada doa. Penjelasan yang mungkin dapat diberikan ialah bahwa kitab ini merupakan ringkasan dari laporan-laporan utama Persia yang resmi yang dengan sengaja menghilangkan denan kepada kepercayaan dan kebiasaan Agama Orang Yahudi.

II. Judul Kitab Dan Waktu Penulisan

Kitab ini tidak memberi petunjuk apa-apa tentang siapa penulisnya. Siapapun dia, ia tahu betul tentang kebudayaan Persia. Dari isinya terdektesi semua tanda ssoran yang pernah berada disana, sebab ia dapat menjelaskan banyak peristiwa layaknya ia seorang saksi mata. Beberapa sarjana Alkitab menyatakan bahwa orang sezaman yang paling memenuhi syarat sebagai penulis menurut situasi itu adalah Mordekhai dan pilihan ini juga di sokong oleh Yosephus, sementara penulis alternatif yang dikemukakan adalah Ezra atau Nehemia.
Segala peristiwa yang terjhadi dalam kitab Ester, muncul juga dalam kitab Ezra pasal 6 dan 7, antara kepulangan pertama yang dipimpin oleh Zerubabel dan kepulangan yang kedua yang dipimpin oleh Ezra. Kitab Ester ditulis sekitar tahun 470-465, selam tahun-tahun terakhir kekuasaan Ahasveros atau pada masa kekuasaan putranya Zerkes (464-424 SM). Ahasveros adalah nama Ibrani untuk Xerxes, nama Yunani Khshayarsh, raja Persia (486-464 SM).
Judul kitab ini diambil dari nama tokoh utamanya. Nama Ester muncul 52 kali dalam kitab ini dan tidak muncul pada bagian-bagian lain dalam Alkitab.

II. Tujuan Penulisan

Kitab Ester menyampaikan beberapa pendapat yang amat khusus mengenai tindakan-tindakan penyelamatan yang dilakukan oleh Tuhan. Sejarah Israel penuh dengan kejadian-kejadian mengagumkan ketika Tuhan turun tangan demi umat perjanjiannya. Kembalinya orang-orang buangan dari Babel merupakan bukti Allah masih sanggup untuk melakukan hal-hal yang kelihatannya tidak mungkin.
Tetapi didalam kitab Ester, seakan-akan Allah tidak begitu kelihatan. Di mana orang ,lain barang kali melihat kejadian-kejadian yang kebetulan, Israel justru melihat tangan Allah yang bekerja. Keadaan sukar tidur yang dialami raja dapat mendatangkan kelepasan, sama mudahnya dengan membelah air. Oleh karena itu, kitab ini menjelaskan bahwa tema dan nubuat hikmat yang sudah sangat di kenal masih dapat mengungkapkan tujuan Allah kendatipun Israel terserak diantar bangsa-bangsa. Tema nubuat dari perlindungan Allah terhadap Israel dan hukuman terhadap musuh-musuhnya tetap berlaku sebagaimana dikemukakan dalam alur cerita. Yang lebih nyata lagi adalah bahwa Allah akan memberkati orang yang benar dan menggagalkan rencana orang-orang jahat.
Pesan yang disampaikan dalam kitab ini jelas sekali: cara yang dipakai Allah bisa berubah-ubah, tetapi tujuan-Nya tidak. Pekerjaan Tuhan barangkali tidak jelas bagi orang-orang yang tidak percaya dan menganggap semuanya itu adalah kebetulan, tetapi umat Allah mengenal tangan-Nya yang maha kuasa dalam pasang surutnya sejarah, nama-Nya memang tidak disebut-sebut, tetapi pengaruhnya jelas sekali.
Tujuan lain yang bisa dilihat dalam kitab ini adalah masalah hari raya Purim. Kitab Ester memberikan kepada orang Yahudi laporan tentang asal mula mereka Masa Raya Purim. Karena perayaan keagamaan ini, yang dilangsungkan pada pertengahan Maret, tidak disahkan dalam Taurat, maka perlulah hal ini terdapat dalam sejarah. Begitu efektifnya kitab Ester menyampaikan berita tentang latar belakang orang Yahudi sehingga diantara kaum Yahudi tradisional telah menjadi kebiasaan untuk mendorong anak-anak dan kaum muda mencemooh dan menghentakkan kaki mereka setiap kalinama Haman yang diberi itu disebut dalam pembacaan kitab itu pada perayaan Purim.

IV. Struktur Sastra dan Isi

Semakin banyak ahli yang menganalisa kitab Ester ini mencapai konsessus bahwa alur kisahnya dibangun dan pesannya disampaikan melalui tehnik balikan nasib. Ini terjadi pada saat keadaan yang sedang berlangsung berubah atau ketika alur cerita berkembang dengan cara yang berlawanan dengan apa yang dipikirkan. Diantara contoh-contoh yang patut diperhatikan adalah peninggian Mordekhai, kejatuhan Haman dan ihwal orang-orang Yahudi membinasakan mush-musuh mereka dari pada dibinasakan oleh musuh-musuh itu.
Dampak balikan ini dipertegas melalui penggunaan ironi sepanjang narasi. Ironi terjadi manakala pembaca memiliki informasi yang tidak dimiliki tokoh-tokoh dalam narasi. Arti ironi ini penting karena menunjukkan bahwa ada selalu banyak hal yang tersembunyi dan ada lebih banyak kemungkinan tersedia daripada yang dapat dimengerti atau disadari oleh seseorang. Pengaturan Allah tidak dapat diperehitungkan dan pemecahan Allah tidak dapat diantisipasi, dan rencana Allah tidak dapat digagalkan karena tak seorangpun yang mempunyai informasi yang diperlukan. Penggunaan ironi berdaya guna sepanjang alur cerita inilah yang menjadikan pesannya jelas. Ketegangan narasi yang ditimbulkan oleh krisis menimpa Mordekhai dan orang-orang Yahudi dapat diatasi m3elalui serangkaian peristiwa yang pasti tidak dapat dikendalikan oleh siapapun selain oleh Allah yang Maha Kuasa.
Aliran pokok dari alur cerita menjadi nyata pada waktu kita membaca narasi itu sampai selesai. Sebagaimana dilihat dari garis besarnya, 5 pasal pertama mempersiapkan situasi, membawa Ester kedalam Istana dan memperlihatkan permusuhan antara Mordekhai dan Haman yang meningkat dengan usaha Haman untuk memusnahkan orang-orang Yahudi. Perubahan penting terjadi pada pasal 6, diantara dua perjamuan makan, beberapa saat sebelum Ester menyingkapkan rencana jahat Haman. Dari saat itu apa yang diramalkan oleh istri Haman menjadi kenyataan ketika Haman dijatuhi hukuman dan rencananya untuk memusnahkan bangsa Yahudi dibalik menjadi kematian musuh mereka. Mordekhai dan Ester memperoleh kedudukan tinggi dan orang-orang Yahudi diselamatkan dari musuh mereka.

V. Garis Besar Kitab Ester

A. Ester mulai berkuasa (1&2)
B. Mordekhai menolak untuk sujud (3)
1. Kemarahan Haman: Mordekhai dalam bahaya (3:1-6)
2. Dekrit Ahasyweros: Israel dalam bahaya (3:7-15)
C. Rencana pelepasan: Ester dalam bahaya (4&5)
D. Jamuan makan pertama Ester (6)
1. Ahasyweros tidak dapat tidur: Mordekhai diperingati (6:1-5)
2. Haman direndahkan: Mordekhai dihormati (6:6-13)
E. Jamuan makan kedua Ester (7&8)
1. Kemarahan Ahasyweros: Haman terbukti bersalah dan dihukum (7)
2. Dekrit Ahasyweros: Israel diberi hak untuk membela diri (8)
F. Musuh-musuh Israel dibinasakan (9:1-9)
G. Marayakan hari raya Purim (9:20-32)
H. Kebesaran Mordekhai (10:1-3)

VI. Tema-Tema Utama Kitab Ester

A. Pemeliharaan Allah
Kebanyakan pembahasan mengenai kitab ini menempatkan tema pemeliharaan, yaitu bahwa Allah yang mengendalikan semua kejadian yang merupakan inti teologi kitab Ester. Dalam kitab Ester hal-hal diatas dialami oleh Ester dan Mordekhai merupakan bagaimana Allah secara tidak langsung melakukan intervensi melalui cara-cara spesifik dan memberikan alasan yang bersifat melindungi.

B. Campur Tangan Allah dalam Kesenyapan

Kitab Ester penulis juga sedang memberikan penegasan bahwa Allah sebenarnya hadir atau turut campur memelihara umatNya, sementara sisi lain itu juga berarti bahwa keterlibatan seperti itu menunjukkan cara kerja Allah yang tersembunyi. Sementara penulis dan pembacanya secara akal tahu bahwa Allah selalu hadir dan memegang kendali, pengalaman. Pengalaman hidup menunjukkan bahwa manifestasi kehadiranNya tidak selalu jelas atau secara langsung.




C. Hari Raya Purim

Purim adalah perayaan yang diperkenalkan oleh kitab Ester dan merupakan salah satu perayaan dalam Alkitab yang tidak disebut dalam kitab Pentateukh. Perayaan ini diperintahkan oleh Mordekhai guna memperingati peristiwa-peristiwa yang telah mengubah nasib orang-orang Yahudi dan ancaman hukum maut yang akan menimpa mereka.
Nama perayaan ini diambil dari kata “Pur” (jamak Purim) yang artinya “undi”. Kta ini jarang dipakai dalam bahasa Ibrani. Istilah ini hanya dijumpai dalam kitab Ester, sedang dalam PL kta yang biasa dipakai untuk “undi” adalah “goral”. Haman telah membuang undi (pur) untuk menentukan bulan terbaik dalam mengeksekusi orang Yahudi tetapi dengan ironis terjadi perubahan pemakaian kata menjadi “purim”, yang menunjuk pada upacara Yahudi memperingati nasib baiknya.



IV
SURVEY KITAB-KITAB PUISI DAN HIKMAT
(Disadur dari berbagai sumber)

I. Pendahuluan
Batas-batas dari sastra puitis dalam PL tiaklah mudah untuk ditentukan karena sedikit sekali yang diketahui tentang sifat yang tepat dari puisi Ibrani di Alkitab. Tidak seperti puisi klasik dan puisi modern, puisi Ibrani kuno tidak memiliki pola yang khas berupa penekanan, matra atau irama untuk membedakannya dari prosa. Hanya dalam dua abad terakhir kenyataan ini dipahami dengan sepenuhnya dikalangan sarjana-sarjana Alkitab. Sumbangan paling awal yang paling berarti kepada pengkajian puisi Ibrani diberi oleh Uskup Robert Lawth pada pertengahan abad ke-18. Beliaumemperhatikan paraelisme, atau mengimbangi gagasan-gagasan dalam bebagai ungkapan, sebagi suatu ciri menasar yang meledakan puisi Ibrani dan prosa. Garis besarnya tentang berbagai jenis pararelisme tetap perlu sekali untuk memahami struktur puisi Perjanjian Lama.

II. Sifat Sastra Puisi Baru
Dua ciri khas dari puisi Ibrani (termasuk kitab-kitab hikmat puitis) adalah irama bunyi dan irama pikiran. Irama bunyi adalah pola yang tetap dari suku-suku kata yang ditekan dalam baris/ bait puisi Ibrani; irama bunyi itu juga bisa berupa bunyi yang diulang-ulang dengan cara memakai kata-kata yang huruf awalnya sama (Aliterasi) atau berupa ulangan bunyi vokal dalam deretan kata (Asonansi). Irama pikiran atau pengertian adalah hal mengimbangkan gagasan-gagasan dalam bentuk yang tersusun atau sistematis. Wahana utama untuk menyampaikan irama pemikiran dalam puisi Alkitabiah adalah suatu ciri khas yang digambarkan sebagai “Pararelisme anggota-anggota”. Suatu cara berpikir yang meresap dikalangan sastra timur dekat kuno, parerelisme ini ditingkatkan melalui keahlian seni yang luar biasa oleh penyair-penyair Ibrani.

A. Irama Pikiran

Dibawah ini merupakan unsur-unsur yang menjadi bagian dari irama pikiran.

1. Pararelisme antitesis ; mengembangkan pikiran-pikiran atau gagasan-gagasan dalam pasangan baris dari puisi dengan mengungkapkan kebenaran di baris pertama secara bertentangan atau negatif atau dengan memperkenalkan suatu kontras. Contohnya dapat di lihat pada Mazmur 1:6.
2. Pararelisme kiastis atau terbalik mengajukan secara bertentangan kata-kat atau frasa-frasa dalam baris-baris yang berurutan atau mengganti-gantinya. Contoh : Mazmur 51:5; Yesaya 11:13.
3. Pararelisme emblematis menggunakan menggunakan kiasan atau metafora untuk menyampaikan arti yang terkandung dalam puisi itu. Satu baris mengungkapkan sebuah pikiran secara harafiah, sementara baris yang lain mengulang atau membangun diatasnya secara kiasan. Contohnya mazmur 103:13 dan yer 17:11.
4. Pararelisme sinonim, kadang-kadang disebut sebagai parelisme identik atau menyeluruh, adalah mengimbangkan secara tepat berbagai pikiran atau pengertian dalam dua baris syair. Pada dasarnya, sang penyair mengungkapkan hal yang sama dua kali dengan struktur gramatika yang sama dengan cara mengubah baris, baris syair dengan arti yang sama, tetapi dengan kata-kata yang berbeda. Contoh maz 49:2.
5. Pararelisme sintetis atau klimaktis mempunyai baris kedua yang menambah pada atau melengkapkan pikiran dari baris pertama. Kadang-kadang pararelisme jenis ini terdiri atas suatu struktur betingkat dimana setiap baris dimulai dari titik yang sama, tetapi meningkat melampaui pikiran yang sebelumnya denga cara merangkum atau memperluas. Bandingkan Amsal 4:23 dan Maz 29:1-2

B. Irama Bunyi

Ciri khas kedua dari puisi Ibrani, yaitu irama bunyi, ditunjukan melalui berbagai teknik yang dipergunakan oleh penyair kuno.

1. Syair Akrostik yang dimaksudkan dengan aknostik adalah syair yang huruf pertama pada baris-baris yang berurutan dari sebuah bait membentuk alfabet, kata atau frase. Di pl terdapat tiga belas syair akrostik alfabet yang lengkap (maz 9, 10, 25, 34, 37, 111, 112, 119, 145; Amsal 31:10-31; Rat 1, 2, 3, 4), dan barangkali satu akrostik alfabet yang tidak lngkap (Nah. 1:2-10). Syair akrostik itu bukan sekedar suatu gaya pibadi, melainkan adalah sarana yang dipakai untuk membantu menghafal atau untuk meningkatkan ingatan, dalam pendidikan karang-mengarang pada zaman dahulu
2. Aliterasi. Seluruh unsure yang umum dalam syair pl adalah aliterasi, bunyi konsonan pada awal kata atau suku katab yang beurutan. Biasanya terjemahan dalam bahasa lain tidaklah memadai untuk menunjukan irama gema atau gaung dari huruf Ibrani.
3. Asonansi. Asonansi adalah irama bunyi yang mengunakan bunyi vokal pada deretan kata, seringkali pada akhir kata-kata. Seperti halnya aliterasi, asonansi bisa juga dipakai sebagai suatu taktik untuk menekankan satu ide atau tema atau menetapkan suatu nada tertentu untuk sebuah syair.
4. Poronomasia. Para penyair Ibrani dan istimewa nabi-nabi seringkali memasukan poronomasia, atau permainan kata, kedalam syair dan nubuat yang mereka sampaikan. Permainan kata ini terdiri dari pengulangan kata-kata yang memiliki kesamaan bunyi, tetapi tidak sama artinya, untuk menambah pesan yang hendak disampaikan.
5. Onomatope. Penggunaan kata-kata yang bunyinya mirip dengan apa yang digambarkannya adalah suatu unsure lain yang disesuaikan dengan sifat oral dari puisi Ibrani. Para penyair Ibrani mempertinggi sifat bersemangat dari penggambaran mereka tentang realitas disekeliling mereka dengan menimba dari persediaan kata-kata yang bersifat onomatope dalam kosa kata Ibrani.
6. Elips. Penghilangan sebuah kata atau kata-kata yang seyogyanya menyempurnakan suatu susunan pararel tertentu memang lazim dalam puisi Ibrani dan telah ditandai sebagai salah satu criteria untuk membedakan puisi dari prosa.
7. Inklusio. Inklusio adalah suatu bentuk khusus pengulangan yang lazim terdapat dalam puisi Ibrani. Cara ini kadang-kadang disebut gambaran amplop, karena dengan mengulang kata-kata atau frase-frase penting, penyair itu kembali kepada pokok yang semula. Contoh Mazmur 118.

C. Irama Bentuk

1. Matra. Matra tel;ah diduga dalam puisi Ibrani berdasarkan analogi dengan jenis-jenis puisi lainnya. Berbagai pengkajian yang dilakukan belakangan ini telah meragukan dugaan ini. sifat sebanarnya matra ini tetap merupakan pokok pembahasan karena ciri-ciri formal yang membentuk puisi Ibrani masih tidak jelas.
2. Strof. Pola-pola yang berhubungan dengan strof, pengelompokan baris-baris menjadi unit-unit yang lebih besar, tidak dapat dilihat dengan segera dalam kebanyakan puisi Ibrani. Sementara beberapa sayir akrostiktertentu menunjukan struktur strof alfabet (seperti Mzr. 119; Rat. 1,2,dan 4), sebagian usaha untuk memisahkan unit-unit yang lebih besar dari puisi alkitabiah ini masih tetap tidak menyakinkan.

Sebagaimana dengan semua puisi maka puisi yang ada di Alkitab merupakan pengungkapan tentang semua segi kenyataan yang terdiri dari pengalaman-pengalaman dalam bahasa gambaran. Kitab-kitab puisi ini membagikan pengalaman sebuah bangsa, khususnya kaum Ibrani, dan juga mendalami cetusan hati manusia.

III. Gagasan Hikmat

A. Istilah dan Defenisi
Gagasan hikmat berasal dari kebutuhan manusia untuk membatasi realitas keberadaan manusia untuk bertahan hidup. Keinginan untuk dapat menguasai kehidupan melalui daya nalar menandai fenomena universal baik dari masyarakat kuno maupun modern.
Aspek lain yang meresapi tradisi hikmat manusia adalah kepercayaan bahwa pengetahuan yang terhimpun melalui pengalaman dan pengamatan dapat di ajarkan pada generasi berikutnya. Oleh karena itu, sebagian sastra yang diterbitkan oleh para pemegang tradisi hikmat itu berbentuk pengajaran yang dirancang untuk “membimbing” agar orang berhasil dengan aman dalam menelusuri jalan hidup ini.
Konsep “takut akan Tuhan” membedakan hikmat Ibrani dari hikmat bangsa-bangsa lain di Timur dekat kuno. Bagi Israel, hikmat dan pengetahuan akan Allah tidak dapat dipisahkan karena Allah merupakan sumber dari pemberi pengetahuan dan pengertian. Hikmat Ibrani yang “berorientasi pada YHWH” ini berarti bahwa pengetahuan akan Allah berpengaruh atas kehidupan Israel baik secara emosional maupun rohani yang tergambar dalam berbagai pengalaman hidup.
Kata untuk “hikmat” pada mulanya menunjukan semacam ketrampilan atau berkat, atau kemampuan teknis. Kata yang paling umum untuk hikmat yaitu “hokmah” mencerminkan aspek praktis dari istilah ini dalam beberapa konteks yang berbada-beda dalam PL. yang penting juga adalah konotasi filosofis dan intelektual dari istilah ini. kata hikmat juga berarti “kemampuan mental yang unggul”.
Berkenaan dengan hikmat yang sebenarnya, kata Ibrani yang sama ini telah memperoleh arti yang sama dengan “pengalaman” atau bahkan “akal budi”. Pada dasarnya hikmat yang disebutkan dalam ayat-ayat ini mengandung arti penerapan yang bijaksana atau cakap dari kemampuan nalar manusia dalam menghadapi berbagai persoalah kehidupan.
Jadi, di dalam PL, hikmat pada dasarnya adalah kepandaian yang amat praktis untuk bertindak dengan hati-hati, bijaksana dan pengertian yang dalam sehingga orang menjadi tak kekurangan dan berhasil dengan baik dalam kehidupan. Hikmat juga berarti prilaku yang tertib dan baik serta berjalan bagaimana melakukan apa yang baik, yang benar dan yang adil. Hikmat membuka pengalaman hidup selama bertahun-tahun dan memanfaatkan pengetahuan dan pengertian itu di dalam kehidupan. Akhirnya, hikmat adalah belajar bagaimana seharusnya menempuh jalan kehidupan agar disenangi dan mendapatkan nama baik dalam pandangan manusia dan Allah.

B. Bentuk Hikmat
Pada dasarnya ada dua ragam sastra hikmat di PL. Yesus yang pertama dan yang lazim adalah hikmat yang bersifat mendidik dan praktis. Kitab Amsal merupakan contoh yang paling tepat dari pengajaran yang praktis ini. hikmat yang bersifat mendidik terdiri dari pepatah-pepatah hikmat atau amsal-amsal yang popular yang bermanfaat untuk mengembangkan watak moral.
Ragam kedua dari hikmat Perjanjian Lama terdapat dalam kitab Pengkotbah dan sampai tingkat tertentu di kitab Ayub. Ragan ini biasanya dikategorikan sebagai hikmat filosofis, spekulatif bahkan pesimistis. Untaian tradisi hikmat ini bersifat mengecam, merenungkan, dan sementara mempelajari dan menyelidiki berbagai pokok persoalan yang lebih mendalam dan lebih mengesalkan yang dihadapi umat manusia. Sikap skeptis yang menjadi ciri khas dari sastra yang spekulatif dan filosofis ini dengan sangat hidup menggambarkan kekosongan dan kebodohan pencarian dari pengatahuan yang dalam dan pemahaman bila terlpas dari Allah.

C. Praktik Hikmat
Alkitab hanya mengenal dua jalan kehiupan. Seseorang akan mengikuti jalan orang benar, atau ia akan berjalan dalam jalan orang fasik. Dan yang paling penting disini adalah pengertian bahwa “jalan hikmat” bukanlah terdiri dari pengetahuan dan intelek, melainkan dari prilaku dan watak. Hikmat yuang sejati bukan sekedar pepatah yang singkat dan tajam dan peri bahasa yang cerdik. Himat Alkitabiah adalah sekumpulan peraturan etika yang berakar dalam tradisi Hukum Taurat Musa. Tujuannya adalah mendidik sikap, watak, dan prilaku seseorang dalam hal takut akan Tuhan sehingga baik pria dan wanita dapat berjalan di jalan orang baik, dan tetap tinggal dijalan orang benar. Lawan orang bijak dalam sastra hikmat adalah orang bodoh dan orang bebal.

D. Personifikasi Hikmat
Personifikasi hikmat dalam kitab Amsal menggambarkan aspek-aspek pribadi dengan takut akan Tuhan. Hikmat dilukiskan bagaikan seorang wanita pendidik yang berkeliling mencari muridnya di pintu gerbang kota, juga sebagai seorang ahliarsitek yang sudah ada sebelumnya yang berperan serta dalam karya penciptaan Allah. Dalam setiap hal, yang dititik beratkan adalah pengalaman yang diperoleh dari berhubungan dengan “personifikasi hikmat”.

IV. Kandungan Hikmat

A. Teodise.
Pokok-pokok yang diketengahkan dalam sastra hikmat PL adalah sama banyaknya dengan pengalaman hidup manusia. Diskusi filosofis dalam kitab Ayub dan Pengkotbah adalah Teodise yaitu, kenyataan penderitaan yang dialami manusia dalam dunia ini dalam hubungannya dengan keadilan Allah.

B. Prinsip Pembalasan
Gagasan ilahi yang didasarkan pada kebaikan atau keburukan prilaku manusia adalah sebuah tema umum dalam puisi dan sastra hikmat PL. prinsip pembalasan ini selalu tertanam dalam banyak pesan yang disampaikan.

C. Pengajaran
Sastra hikmat yang didaktis pada dasarnya adalah ulasan sosial yang praktis yang bertolak dari tuntutan etis hukum Ibrani. Karena itu, petunjuk-petunjuk praktis yang terkandung dalam kitab hikmat dimaksudkan untuk mengatur hal-hal praktis dalam kehidupan sehari-hari.


KITAB AYUB

I. Pendahuluan

Pelajaran dari kitab Ayub dititik beratkan pada inti hakikat pengalaman iman Ayub dalam meresponi penderitaan lahir batin. Tujuannya bukan mengarah pada pesimisme nasib atau mencari-cari alasan untuk memaafkan diri sebagai manusia yang lemah, melainkan untuk mengetahui bahwa bagi mereka yang mengasihi Allah segala sesuatu bekerjasama untuk mendatangkan kebaikkan bagi mereka yang dipanggil sesuai dengan rencana Allah yaitu menjadi serupa dengan gambar anak-Nya.
Kisah ini adalah fakta yang pernah terjadi di bumi dan tokoh Ayub bukanlah khayalan atau rekayasa seorang penulis: dia adalah manusia biasa seperti kita. Beberapa pakar modern menganggap kitab Ayub hanyalah fiksi model kesabaran orang yang sedang menderita. Bila sangkaan mereka benar, maka tak ada gunanya kita mempelajari tokoh simbolis, sebab apapun yang terjadi atas dirinya, tidak bkal memberi dampak apapun terhadap kehidupan nyata, dan kitab ini pun tidak layak dikanonkan. Yang lebih telak lagi adalah penafsiran itu telah mengabaikan kitab Yakobus, yang ditulis oleh saudara Yesus, yang memasukan nama Ayub sebagai teladan hidup.

II. Judul Kitab dan Waktu Penulisan

Nama tokoh merupakan judul dari kitab ini. nama Ayub berasal dari kata Ibrani, “Iyob”, dari akar kata “Ayub” atau “menjadi musuh”; “aku ingin menjerit”, “membenci” dan “celaka”. Arti sesungguhnya sulit dipastikan, karena kurangnya bukti-bukti otentik. Yang pasti namanya mengingatkan pembaca tentang ‘aib’ yang harus ditanggung Ayub yang saleh dan berintegrasi tinggi, sehingga disangka orang ia kena tulah Allah.
Mengenai kepenulisan, siapapun yang menuliskan kisah Ayub, kitabnya sudah cukup membuktikan bahwa Ayub adalah seorang pribadi yang pernah hidup dalam sejarah, apalagi didukung oleh kitab-kitab lain yang ditulis belakangan, seperti Yehez. 14:14 dan Yak. 5:11. karena memang tidak ada ayat yang menunjukkan identitas sipenulis, beberapa ahli kitab mengusulkan nama-nama seperti Elihu, Musa dan Salomo, namun dilihat dari detail yang tercatat dan dari nama kitabnya saja, kemungkinan tyang opaling besar adalah bahwa Ayub yang menulis autobiografinya sendiri.
Tanggal peristiwa dalam kitab dan tanggal penulisan kitabnya adalah dua hal yang berbeda. Peristiwanya telah terjadi dalam masyarakat patriakh sekitar zaman Abraham. Beberapa fakta mendukung tanggal penulisan.
- Ayub hidup selama lebih dari 140 tahun; umur yang agak langkah di masa Patriakh.
- Pengukur ekonomi di masa Ayub, dimana harta kekayaan di banding dengan jumlah tanah, yang merupakan tipe khas pada zamannya.
- Seperti halnya dengan Abraham, Ishak dan Yakub, Ayub adalah iman dalam keluarganya.
- Tidak disebut-sebutnya “Bani Israel” atau “Taurat Musa” menunjukkan masa itu sebelum Musa (1500 SM).

Dan dari laporan yang begitu rinci dari orasi-orasi Ayub dan sobat-sobatnya, lebih mengukuhkan tanggal yang lebih dini, yaitu peristiwa itu ditulis tidak lama setelah peristiwa itu terjadi.

III. Tujuan Penulisan

Tujuan kitab Ayub adalah menyelidiki keadilan perlakuan Allah terhadap orang benar. Penyelidikan ini mengusut dua pokok utama. Pertama iblis secara tak langsung menyatakan dalam pasal 1:9-11 bahwa kebijakkan Allah dalam memberkati orang benar justru menghalangi perkembangan kebenaran yang sejati. Berkat menyebabkan orang-orang mau hidup benar karena keuntungan yang akan mereka peroleh. Iblis meyatakan bahwa pernyataannya dapat dibuktikan dengan cara menghentikan berkat-berkat Ayub. Iblis beranggapan tidak ada orang yang mau hidup benar tanpa pamrih, dan hal itu tak mungkin ada dalam sistem Allah. Dalam kasus ini kebijakan Allah yang diuji bukan Ayub. Kedua, Ayub bertanya-tanya bagaimana mungkin Allah dapat membiarkan orang benar menderita sekali lagi kebijakkan Allah diuji.
Dalam melaksanakan tujuan ini, kitab Ayub menolak untuk mengambil jalan pintas apapun. Pesan yang disampaikan dalam kitab ini sehubungan denagn masalah setan ialah bahwa kebiasaan Allah untuk memberkati orang benar tidaklah menghalangi pengembangan kebenaran yang sejati. Berkenaan dengan situasi Ayub, pesannya adalah bahwa Allah tidak berkewajiban untuk memastikakan bahwa orang benar menerima berkat dan hanya berkat. Dunia ini lebih kompleks dalam hal itu.
Kemudian berkenaan dengan masalah Theodicy atau mengapa orang benar harus menderita? Kitab Ayub menegaskan beberapa hal yaitu; bahwa Allah tetap kasih sekalipun tidak mencurahkan berkat; kemudian Allah mengijinkan kesengsaraan sebagai cara memurnikan dan mengukuhkan kesalehan dan yang terakhir adalah Allah mempunyai rancangan yang jauh melampaui akal manusia. Sekalipun manusia tidak mampu menelaah isu kehidupan dengan visi Ilahi yang luas, Allah tahu benar apa yang tepat untuk kebaikkan kita.

IV. Sruktur Sastra dan Isi

Kitab Ayub mengarahkan kita untuk memikirkan salah satu pertanyaan yang paling filosofis yang mendasar bagi kehidupan manusia. Kitab ini dianggap sebagai kitab yang sangat praktis karena pertanyaan-pertanyaan yang terdapat di dalamnya tidak banyak mengalami perubahan sepanajang sejarah manusia. Kita masih mencari-cari alasan dari penderitaan pribadi dan penderitaan bersama serta bertanya-tanya logika apakah yang dapat memberikan pembelaan memadai sehubungan dengan penderitaan yang tampaknya sewenang-wenang. Kitab Ayub mengemukakan pembelaan sejati itu dan memberikan segi pandang Alkitab terhadap penderitaan.
Mengenai bentuk sastra, tidak perlu diragukan lagi bahwa kitab Ayub yang kita miliki sekarang ini mempunyai struktur komposis sastra yang terpadu. Kitab ini berisi aneka ragam gaya sastra, termasuk dialog, percakapan seorang diri, wacana, narasi dan nyanyian pujian. Bentuk-bentuk sastra ini adalah umum bagi sastra hikmat, tetapi jarang sekali dipadu secara demikian indah dan mahir sebagaiman dijumpai dalam kitab Ayub.
Berdasarkan bentuk isi kitab Ayub dapat dibagi menjadi beberapa bagia. Kata pengantar kitab Ayub berfungsi dalam beberapa hal. Pertama, memperkenalkan tokoh-tokoh yang terlibat dan menetapkan kondisi dimana drama itu dibeberkan. Hal ini diuraikan sedemikian rupa sehingga sidang pembaca mengetahui detail-detail tertentu yang tidak diketahui sama sekali oleh tokoh-tokoh yang terlibat. Oleh karena itu, pembaca dengan mudah dapat mengerti bahwa sahabat-sahabat Ayuub keliru dalam tuduhan yang dilemparkan kepada Ayub.
Kedua, prolog itu memperkenalkan salah satu masalah filosofis kitab ini dalam tantangan Iblis kepada Allah. Dua adegan dalam prolog ini yang mengakibatkan kehancuran keluarga dan kekayaan Ayub dan kemudian berlanjut dengan memburuknya kesehatan Ayub.
Ratapan Ayub dalam pasal 3 memperkenalkan tiga siklus dialog yang menepati pasal 4-27. Dibagian dialog, sikap sahabat-sahabat Ayub semakin bermusuhan, sementara Ayub semakin memisahkan dirinya dan mengarahkan pertanyaannya kepada Allah. Pasal 28 menepatkan nyanyian hikmat dan akhir dari dialog. Pasal 29,30 dan 31, Ayub mengingat masa lalu, meratapi penderitaan yang sedang dilami dan yang paling penting adalah sumpahnya bahwa dia tidak berdosa.
Pasal selanjutnya merupakan percakapan kedua dengan Elihu, Elihu menegaskan bahwa Allah menjalankan kekuasaan-Nya dengan adil. Bagian-bagian selanjutnya adalah penegasan Allah tentang keadilan dan hikmat-Nya. Sebab musabab penderitaan tidak dapat disimpulkan secara konsisten dan akurat, danh tidak ada seorangpun yang cukup memiliki hikmat untuk menyangsikan keadilan Allah. Dalam tanggapan Ayub yang singkat ini tidak dapat berkata apa-apa, sebab kesombongan dan kebenaran diri sendiripun sudah dapat dijadikan pijakan untuk menyangsikan keadilan Allah.
Bagian epilog merangkum beberapa hal yang semula tidak jelas arah dan tujuannya. Laporan mengenai pemulihan kemakmuran Ayub bukannya tidak beralasan. Kendatipun Iblis tidak muncul dalam epilog ini, kemakmuran yang dicurahkan atas Ayub merupakan jawaban pada iblis: Allah akan meneruskan kebijaksanaan-Nya untuk campur tangan dan memberkati orang benar. Sahabat-sahabat Ayub ditegur karena pemahaman yang salah tentang Allah. Para pembaca tidak pernah bimbang akan kebenaran Ayub atau tentang bagaimana penderitaannya bisa terjadi. Dengan memelihara integritasnya, Ayub membenarkan kebiasaan Allah untuk menjadikan orang benar makmur. Allah membenarkan Ayub dihadapan sahabat-sahabatnya. Keadilan Allah dipertahankan, bukan dengan menetapkan penyebab “sah” dari penderitaan, tetapi dengan menunjukkan hikmat-Nya yang besar.

V. Tema-Tema Utama

A. Hikmat, Keadilan danKedaulatan Allah

Sifat-sifat khas ilahi yaitu hikmat, keadilan dan kedaulatan ditekankan dalam kitab Ayub dan dalam sastra hikmat pada umumnya. Dalam kitab Ayub kita milihat berbagai kategori yang lebih luas dari sifat-sifat khas Allah. Kemahatahuan hanya satu bagian kecil dan secara relatif tidak penting dari hikmat Allah yang terbatas. Demikian juga kemahakuasaan hanya merupakan suatu aspek dari kedaulatan Allah. Kemurahan kadang-kadang lebih merupakan cerminan yang lebih banyak bersifat pribadi dari keadilan Allah. Kategori yang lebih luas menolong kita untuk berfokus lebih pada siapa Allah itu dari pada kepada apa yang dapat dilakukan-Nya pada orang tertentu.

B. Perantara

Persoalan tentang seorang perantara muncul beberapa kali dalam kitab ini. Ayub memohon dengan sangat agar dibantu dengan seorang perantara dan tampaknya ia sangat yakin seorang perantara akan muncul. Dan sangat muncul bahwa perantara yang diharapkan Ayub adalah oknum Allah sendiri.

C. Theodise

Kitab ini memang membahas pertanyaan yang sangat klise: “ Mengapa orang benar menderita kalau Allah penuh belas kasihan?” Kisah Ayub dengan ssengaja mengajarkan tentang kedaulatan Allah dan kebutuhan manusia untuk memahami-Nya. Ketiga sobat Ayub memberikan jawaban yang pada hakikatnya sama. Semua penderitaan diakibatkan oleh dosa. Namun Elihu menyatakan bahwa penderitaan sering terjadi untuk memurnikan orang benar. Tujuan Allah untuk melucuti semua pembenaran Ayub adalah untuk membawanya ke penyerahan diri yang lebih total kepada Allah.

VI. Garis Besar Kitab Ayub

A. Prolog : Kesengsaraan Ayub (1-2)

1. Karakter Ayub dipaparkan
2. Karakter Ayub dibahas
3. Karakter Ayub diuji coba
a. Iman dan fasilitas
b. Iman dan integritas
B. Diolog : Ayub dan para sahabat (3-26)
1. Ratapan Ayub
2. Keluhan sahabat
a. Tanggapan Elifas
b. Tanggapan Bildad
c. Tanggapan Zofa
3. Kegelisahan sahabat
a. Komentar Elifas
b. Komentar Bildad
c. Komentar Zofar
C. Monolog : Elihu (27-41
1. Dari Ayub untuk Ayub
a. Mengingat masa silam
b. Melihat masa sekarang
2. Dari Elihu untuk Ayub
3. Dari Tuhan Untuk Ayub
a. Dimanakah Engkau ?
b. Dapatkah Engkau ?
c. Siapakah yang dapat
D. Epilog : Allah
1. Peyesahan Ayub
2. Pemilihan Ayub



KITAB MAZMUR


Kitab Mazmur bukan saja kitab terpanjang di Alkitab, tetapi mungkinsaja merupakan kitab yang paling luas penggunaannya dalam firman, karena menyentuh hati manusia di seluruh area pengalaman hidup kita. Lagi-lagi keluhan (sighing) berubah menjadi kidung (singing) melalui doa dan pujian. Sekalipun sebagian besar teks Mazmur tidak menunjuk siapa penulisnya, namun judulnya sering memberi petunjuk tentang pemazmurnya. Daftar dibawah menunjukan nama pemazmur ditinjau dari judulnya :

DIVISI MAZMUR

Kitab Mazmur benar-benar merupakan kesatuan Lima-Kitab. Setiap bagian kitab diakhiri dengan doxologi dan Mazmur 150 sepenuhnya berisikan doxology serta membentuk kesimpulan yang tepat tentang seluruh koleksi mazmur :
Epiphanies berkata : “Orang Ibrani membagi Kitab Mazmur menjadi Lima-Kitab seperti Pentateukh lain.” Midrash Mazmur 1 : 1 mencatat, “Musa memberikan Lima Kitab Hukum kepada bangsa Israel, demikian juga Daud memberi mereka Kitab Mazmur dalam Lima-Kitab.”

HUBUNGANNYA DENGAN PENTATEUKH :

I. Mazmur Manusia dan Ciptaan-Nya (1 – 41) --- Kejadian
II. Mazmur Israel dan Penebusan-Nya ( 42 - 47) --- Keluaran
III. Mazmur Ibadah dan Bait-Nya (73 – 89) --- Imamat
IV. Mazmur Ziarah kita di Bumi-Nya (90 – 106) --- Bilangan
V. Mazmur Pujian dan Firman-Nya (107 – 150) --- Ulangan


PERIODE PENULISAN

Karena cakupan kronologis yang sangat luas, pengaturan tema yang melebar, dan banyaknya orang yang hidup dalam beragam kondisi, Kitab Mazmur merefleksikanmulti-suasana dan pengalaman yang sangat relevan bagi para pembacanya tanpa menghiraukan di zaman apa ia hidup. Sehubungan dengan penanggalan berbagai macam Mazmur, Archer menulis :

Dengan data di atas wajarlah apabila Mazmur 90 merupakan mazmur pertama yang ditulis Musa, sekitar 405 S.M. mazmur Daud, aslinya ditulis sekitar 1020–975 S.M. mazmur Asaf diperkirakan ditulis pada periode yang sama, Mazmur 127 pada masa pemerintahan Salomo, mungkin 950 M. sulit memastikan keturunan Korah dan dua orang bani Ezra yang disebutkan ; kemungkinan pada masa pra-pengasingan. Mazmur yang tak berjudul, beberapa di antaranya tak perlu diragukan lagi adalah Mazmur Daud (mis., Maz. 2 dan 33), dan yang lain-lainnya, diperkirakan dari periode belakangan hingga pasca-pengasingan (mis., Maz 126 dan 137, yang mungkin ditulis pada masa pengasingan). Tidak ada bukti yang meyakinkan, namun, sudah ditawarkan sebagai masa Mazmur yang ditulis lebih lambat dari 500 S.M. (Archer, E-Media)


JUDUL

Dalam bahasa Ibrani, Kitab Mazmur berjudul “Tehilim” * atau “Sefer Tehilim” (Kitab Tahlil-Tahlil) atau disingkat “Tilim” [kidung pujian]. Hanya satu mazmur yang berjudul “tahlil”, tetapi segala bentuk pujian adalah jiwa / spirit mazmur. Septuaginta memberi nama Psalmoi (Mazmur), yaitu “lagu-lagu atau puisi-puisi yang dinyanyikan dengan iringan musik. Kata Psalmos berasal dari psallein. “memetik senar” pengiring lagu.

TEMA DAN TUJUAN :

Mazmur memberi kita pesan pengharapan dan keselamatan dalam tema umum ibadah yang secara hakiki merupakan penawar keresahan melalui respon pribadi terhadap karya Allah. Mazmur merupakan ekspresi ibadah, iman, dan kehidupan rohani umat Israel. Dalam mazmur, kita punya cermin hati umat Allah yang mencatat pengalaman manusia yang sederhana, universal, dalam pancaran pribadi, perjanjian, rancangan, dan kehadiran Allah.
Kumpulan 150 mazmur mencakup beragam persamaan, keadaan dan tema. Hal ini menambah kesulitan untuk menggeneralisasi sebuah tema dan tujuan, namun boleh dikatakan seluruh seluruh mazmur mengekspresikan respon pribadi orang percaya atas kebajikan dan anugerah Allah. Kebanyakan mazmur berisikan catatan isi hati pemazmur yang terdalam tentang keputusasaan, kecemasan, atau syukur yang muncul bahkan disaat menghadapi perlawanan dari musuh-musuh Allah, atau ketika mengalami pemeliharaan Allah. Baik itu membawa suka atau pun duka, ia selalu mengekspresikan dirinya seperti berhadapan dengan Allah yang hidup. Tentunya ada sedikit mazmur, yang kebanyakan berisi pikiran dan penyataan Tuhan sendiri, seperti Mazmur 2, tetapi ini merupakan perkecualian [diadaptasi dari Archer, Survey of the Old Testament, E-Media].

EMPAT CARA MENAFSIR MAZMUR :

(1). Berdasarkan latar belakang peristiwanya
(2). Berkaitan dengan aspek-aspek tata ibadah Israel.
(3). Berhubungan dengan struktur dan motif penulisnya.
(4). Berdasarkan metode gramatika-historika, memperhatikan :

Penggenapan nubuat-nubuat mazmur khusus mengacu pada Yesus Kristus [YESHUA HAMASSIACH] :

1. Tipikal-Mesianik :
Pemazmur mempunyai tipe Kristus (34 : 20), namun unsure-unsur lainnya kurang sesuai. Dalam hal ini, mungkin Yesus dan para rasul-Nya mengaplikasikan ungkapan mazmur yang mirip dengan pengalaman mereka (109 : 8 bd. Kis. 1 : 20).
2. Tipologi-Mesianik
Kendati para pemazmur mendeskripsikan penmgalaman pribadi, bahasa mereka yang melampaui akal mereka, menjadi kenyataan histories dalam diri Kristus, secara :
a. Mesianik
Mengacu pada keluarga Daud atau raja tertentu, namun hanya akan mencapai puncak penggenapannya dalam pribadi Kristus, Anak Daud (2).
b. Profetik
Mengacu langsung pada Kristus tanpa acuan kepada orang lain, kecuali Anak Daud (110).



KITAB AMSAL

PENULIS :

Menurut 1 Raja-Raja 4 : 32, Salomo menggubah 3000 amsal dan 1005 lagu. Sekalipun dia memang menulis sebagian besar dari Kitab Amsal ini, paruh terakhir menunjukan bahwa dia bukan satu-satunya penulis kitab ini.
I. Koleksi Salomo [1 – 24]
II. Koleksi Hiskia [25 – 29]
III. Koleksi Anggur [30]
IV. Koleksi Lamuel [31]

PERIODE PENULISAN : 950 – 700 S.M.
Sebagai Kitab Hikmat, Amsal bukanlah sebuah kitab sejarah tetapi lebih kepada hasil karya sekolah hikmat di Israel. Amsal-amsal Salomo ditulis sebelum wafatnya di tahun 931 S.M., dan koleksinya disimpan para jurutulis Raja Hizkia sekitar 700 S.M.
Talmud dan teks Masoretik menyusun kata akronim untuk tiga Kitab Puisi : Ayub […] Amsal […] dan Mazmur […] dibaca “EMET”, yang artinya, “kebenaran” [Keil and Delitzsch].

JUDUL

Amsal memperoleh namanya dari isinya, yaitu pepatah atau peribahasa yang menyampaikan kebenaran dengan cara yang ringkas dan tajam. Kata Ibrani “Mashal” (terjemahan Indonesia : “isal”, atau “perumpamaan”) yang juga berarti “paralel”, “serupa”, atau “perbandingan”. Amsal merujuk pada suatu perbandingan atau tamsil yang menggarisbawahi peribahasa moral. Sebagai pepatah ringkas, sebuah amsal merujuk pada suatu antitesis. Judul ini berasal dari fakta bahwa tulisan ini adalah ringkasan pengajaran moral dan spiritual yang dirancang untuk memungkinkan seseorang dapat hidup bijaksana.

TEMA DAN TUJUAN

Seperti saran judulnya dan arti istilah Amsal, tema dan tujuan kitab ini adalah hikmat untuk hidup melalui pengajaran khusus dalam setiap persoalan hidup : kebebalan, dosa, kebaikan, kesehatan, kemiskinan, lidah, kesombongan, kerendahan hati, keadilan, keluarga (orangtua, anak-anak, disiplin), dendam, perselisihan, keserakahan, kasih, kemalasan, sahabat, kehidupan, dan kematian. Tidak ada kitab selain Amsal yang lebih praktis dalam menyampaikan hikmat hidup sehari-hari.
Tesis : “Takut akan TUHAN adalah awal hikmat” (1 : 17; 9 : 10). Absennya takut akan Allah menuju kepada kebebalan hidup tanpa kendali. Takut akan TUHAN artinya berdiri takjub karena karakter-Nya dan kekuasaan-Nya yang kudus. Pada saat bersamaan, Amsal menunjukan bahwa hikmat sejati mengarahkan pembaca pada takut akan TUHAN (2 : 1 –5).


HIKMAT DALAM KITAB AMSAL

Dalam Amsal 8, hikmat dipersonifikasikan sebagai spirit [RUACH] hikmat [HOKMAH]. Ia tidak diciptakan, sebab sejak semula ia telah bersama-sama dengan TUHAN.
TUHAN telah ‘menciptakan’ aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala [8 : 22, LAI]
“The LORD ‘possessed’ me in the beginning of his way before his works of old.”
[Authorized Version]
“The LORD ‘made’ me as the beginning of His way, the first of His works of old.” [Jewish Publication Society]

Kata yang digunakan untuk ‘menciptakan’ bukanlah kata ‘BARA’ (mencipta) atau ‘ASA’ (membuat), melainkan ‘QANAH’ yang artinya lebih merujuk pada memiliki, mendapatkan, atau mengupayakan ukuran standar (kanon / ruler) hikmat untuk memulai segala sesuatu pada mulanya. Pengertian ini menunjukan bahwa hikmat itu sudah ada sejak kekal sebagai standar pengukur pekerjaan Allah sumber hikmat itu.
a. Hikmat ini bersifat Ilahi (8 : 22 – 31);
b. Hikmat ini sumber kehidupan (3 : 18; 8 : 35 – 36);
c. Hikmat ini benar dan pengukur moral (8 : 8 – 9);
d. Hikmat ini tersedia bagi yang mau menerimanya (8 : 1 – 6)
e. Hikmat ini di dalam Kristus “sebab dalam Dialah tersembunyi seluruh harta hikmat dan pengetahuan” (Kolose 2 : 3).


KITAB PENGKHOTBAH

Penulis

Ada dua pendapat yang berbeda tentang siapa yang menjadi penulis kitab Pengkotbah :
Pendapat pertama, memakai bukti eksternal, tradisi Yahudi yang mengaitkan kitab ini dengan Salomo, ditambah pula dengan bukti-bukti internal yang merujuk pada Salomo, sebagai berikut :
Penulis memperkenalkan dirinya sebagai “Anak Daud, raja di Yerusalem” (1 : 1). Porsi hikmatnya tak ada tandingannya (1 : 16 bd. 1 Raja 4 ), kekayaannya tak habis-habisnya (2 : 7), kesempatan bersukaria (2 : 3), dan pembangunan yang tak henti-hentinya, (2 : 4 – 6) seluruhnya memberi kesan bahwa hanya orang sekaliber Salomo sajalah yang sanggup melakukannya. Gamblangnya, tak ada anak Daud lainnya yang memiliki deskripsi seperti sang putra ini.
Pendapat kedua menyanggah pendapat di atas, dengan menunjukan bahwa Kitab Pengkhotbah mempunyai gaya bahasa abad 5 S.M. yang tidak sezaman dengan Salomo, misalnya adanya pengaruh bahasa Aramaik serta adanya pinjaman kata-kata asal Persia, ditambah lagi dengan kegiatan-kegiatan agamis yang baru muncul di Palestina sekitar abad 2 S.M., di tengah-tengah gejolak isme-isme dan perilaku hidup yang yang dipaparkan Pengkhotbah. Menurut bahasa Ibrani yang digunakan oleh Ezra-Nehemia [abad 5 S.M.), maka Pengkhotbah tidak dimungkinkan menuliskannya lebih dini dari abad 4 S.M. belum lagi ada kesan yang seakan menunjuk si penulis bukan seorang raja, sehingga ia tak dapat mengambil keputusan dalam pengadilan (3 : 16).
Hikmat Salomo yang melampaui kaum bijak sebelum dan sesudahnya, justru lebih meyakinkan bahwa hanya dialah yang mampu menuliskan literature hikmat Mesir di abad 3 S.M, yang melampaui zamannya. Hanya Salomo sajalah yang paling sanggup menempatkan diri di posisi siapa pun, karena ia menganalisis hikmat dari segala sudut kehidupan dari posisi teratas hingga ke posisi terbawah sekali pun.
Untuk hikmat yang dianggap tidak sewarna dengan amsal-amsal sebelumnya, adalah alas an yang mengada-ngada, sebab berasumsi bahwa gaya penulisan tidak bisa berubah. Mengingat bahwa setiap insane pasti berubah dalam karakter mau pun sudut pandangnya, seiring pertambahan usia dan berkembangnya bentuk literature dari masa ke masa. Yang pasti adalah bahwa kebenaran isi kitab tak dapat diganggu gugat, sebab inspiratornya adalah Roh allah, Sang Penulis ilahi.

Judul

Nama “Pengkhotbah” berasal dari judul yang diberikan oleh Septuaginta. Istilah Yunani : ecclesiastes, berarti “perhimpunan” yang berasal dari kata ekklesia, yaitu yang dipanggil keluar untuk berhimpun bersama [kaum beriman]. Judul Ibrani : “Qoheleth” berarti “seseorang yang berbicara dalam suatu qahalayak ramai”, yang biasanya disebut “pengkhotbah”.



Periode Penulisan : Sekitar abad ke-10 S.M.
Menurut tradisi Yahudi, Salomo menulis Kidung Agung pada masa mudanya, untuk mengekspresikan cinta anak muda. Dia menulis Kitab Amsal pada masa akil-balik, yang memanifestasikan hikmat pria separuh baya. Menurut laporan, Salomo menulis Kitab Pengkhotbah pada masa tuanya, seakan mengungkapkan penderitaan orang lanjut usia (bd. 12 : 1). Siapa tahu, Kitab Pengkhotbah merupakan catatan jurnal penyesalan Salomo dan pertobatannya dari penyelewengan imoralitasnya yang tercatat dalam 1 Raja-Raja 11. kitab Pengkhotbah mungkin saja ditulis antara menjelang kematian Salomo hingga kerajaannya terbagi dua pada 931 S.M.

Tema dan Tujuan Penulis :

Tema dasarnya adalah kesia-siaan hidup yang terpisah dari Allah. Dalam perkembangan temanya, muncul empat tujuan kunci.
Pertama : hidup tanpa Allah sia-sia saja, Pengkhotbah mencoba meruntuhkan kepercayaan diri (self-confidence) yang didasari oleh keberhasilan dan kebijaksanaan manusiawi; Pengkhotbah menunjukan bahwa tujuan manusia atau “jalan manusia yang diperkirakan benar” ternyata membawa kepuasan yang nihil. Pengkhotbah membeberkan kesia-siaan dan kenihilan dari pengalamannya sendiri, untuk memicu pembacanya agar tidak mengikuti jejaknya yang keliru, tetapi sebaiknya bersama-sama mendambakan Allah. Dia berusaha menegaskan bahwa pengajaran mereka akan kebahagiaan dunia tak mungkin terpuaskan.
Kedua : Pengkhotbah menegaskan bahwa tidak semua kenyataan hidup dapat seutuhnya terpahami, yang berarti kita harus hidup dengan mata rohani (faith) bukan mata jasmani (sight). Hidup ini penuh teka-teki yang tak tertebak, kejanggalan yang tak terpecahkan, dan ketidak adilan yang sulit dibawah ke pengadilan. Ada banyak hal yang hidup dalam hal tak terselami maupun tak dapat dikendalikan manusia, namun oleh iman, kedaulatan hikmat dan karya Allah dapat sepuasnya dinikmati. Seperti halnya dengan Ayub, Pengkhotbah tidak hanya menyatakan bahwa manusia itu fana, tetapi juga bahwa manusia juga harus belajar hidup dalam misteri. Hidup di atas bumi atau “hidup di bawah matahari”, tak mampu menyediakan kunci kehidupan itu sendiri, sebab dunia sudah jatuh ke lobang tak berdasar. Karena itu, manusia harus berpandangan jauhke depan yang melampaui horizontal; dan pandangan ke atas yang mengarah kepada allah Penciptanya. Kuncinya adalah takut akan Allah atau tunduk dan takluk kepada hokum-hukum-Nya. Teka-teki ketidakadilan harus diserahkan ke dalam keputusan tangan-Nya, sebab manusia tak dapat berbuat apa-apa- tanpa Dia.
Ketiga : Pengkhotbah menyajikan pandangan realistis tentang hidup yang mengimbangi optimisme Kitab Amsal. Pengkhotbah menunjukan bahwa ada perkecualian untuk hokum-hukum dan janji-janji Amsal, paling tidak dari sudut pandang kehidupan ini. Amsal 10 : 16 menegaskan bahwa keadilan berlaku bagi kedua pihak, yang benar dan yang jahat, namun Pengkhotbah mencatat bahwa hal ini tidak senantiasa demikian, paling tidak bukan untuk hidup di atas bumi.
“Ada suatu kesia-siaan yang terjadi di atas bumi; ‘ada orang-orang benar yang menerima ganjaran yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang-orang fasik yang menerima pahala yang patut untuk perbuatan orang benar: ‘Inipun sia-sia!’” (8 : 14).

Apakah ini bukan berarti kontradiksi? Sama sekali tidak! Karena Amsal mencatat hokum Allahsecara umum, tanpa terkecuali,karena kita hidup dalam dunia yang telah jatuh bergelimang dosa. Pengkhotbah menunjukan bahwa ketika ada ordo kebenaran, seperti yang ditegaskan Amsal, hal ini tidak selalu mencelikkan mata manusia ketika ia melihat hidup “di bawah matahari” dari perspektif yang terbatas.
Keempat, Pengkhotbah menunjukan bahwa manusia yang meninggalkan strateginya sendiri akan selalu menemukan hidup yang hampa, mengecewakan, dan misterius. Bagaimana pun juga kitab ini bukan mengartikan hidup tanpa jawaban, dan bahwa hidup itu bukannya sama sekalitak berguna dan tak berarti.
Arti dan signifikansi dapat ditemukan, jelasnya, dalam takut akan Allah.hikmat menghadapi kehidupan dibatasi dengan rasa tanggung jawab dalam penghakiman Allah yang akan datang. Hikam tanusia tak mampu menjawab arti hidup dan tidak memahami esensi hidup yang sesungguhnya. Yang nampak secara kasat mata, itulah yang sering dikejar manusia pada umumnya, dan hasilnya adalah fana, bahkan sia-sia, sebab tidak bertahan lama. Semuanya hanya sementara, yaitu sementara kita berada di dunia saja. Frustasi dapat diganti dengan kenikmatan hanya melalui persekutuan dengan si Pemberi hidup itu sendiri.

Garis Besar Kitab

I. Pendahuluan
A. Permasalahan Hidup Dipaparkan (1 – 2)
1. Kefanaan Lingkaran Kehidupan
2. Kefanaan Hikmat Manusia
3. Kefanaan Kesukaan dan Kekayaan
4. Kefanaan Materialisme
5. Kesimpulan
B. Perencanaan Allah Yang Kekal (3)
1. Ia Menetapkan Peristiwa Kehidupan
2. Ia Menetapkan Kondisi Kehidupan
3. Ia Menghakimi Semua
4. Kesimopulan
C. Kefanaan Keadaan Hidup (4 – 5)
1. Kekuasaan Kejahatan
2. Kefanaan Kerja Keras
3. Kefanaan Kesuksesan Politik
4. Kefanaan Kepercayaan Manusia
5. Kefanaan Kekayaan Manusia
6. Kesimpulan
D. Kefanaan Hidup secara Keseluruhan (6)
1. Kekayaan tak akan memuaskan
2. Kematian lebih baik dari pada kehidupan
3. Kerja keras tak akan menuaskan
E. Nasihat untuk Hidup dalam Kefanaan (7 – 12)
1. Nasehat mengingat akan Kejahatan Manusia
2. Nasehat mengingat akan Providensia Allah
3. Nasehat mengingat Ketidakpastian Hidup
4. Nasehat mengingat Proses Penuaan Hidup
II. Penutup


KITAB KIDUNG AGUNG


Penulis

Kendati ada beberapa kritikus menolak Salomo sebagai penulis karena mengartikan of Salomo, pada pasal satu ayat satu, bukan dalam pengertian “oleh Salomo”, melainkan “tentang Salomo”, bukti internal mendapat pendapat tradisional bahwa Salomo adalah penulisnya. Isi kitab yang senada denga segala sesuatu yang kita ketahui tentang hikmat Salomo, menyulitkan mereka yang menyulitkan Salomo sebagai sang penulis. Nama salomo disebut tujuh kali (1 : 1 / 5; 3 : 7 / 9 / 11; 8 :11 / 12), dan dia diidentifikasi sebagai sang mempelai pria.
Ayat pembuka yang menyatakan bahwa Salomo menulis kidung ini merupakan salah satu koleksi dari banyaknya kidung nyanyian yang ia tulis, ternyata kitab yang satu ini merupakan Kitab Kidung yang teragung, dan teks ini tidak sekadar menyebutkan, “Kidung Salomo” melainkan “Kidung Teragung” atau “Kidung segala Kidung”, dari dan oleh salomo.

Periode Penulisan : + 965 S.M.

Kidung Agung ini mungkin ditulis pada awal karir pemerintahan salomo sekitar 965 S.M. Saat itu, Salomo baru mempunyai 60 istri dan 80 selir (6 : 8); selanjutnya 700 istri dan 300 selir (1Raj. 11 : 3).

Judul

Berkenaan dengan judul kitab ini Ryrie menulis ; Kitab ini diberi judul dengan beberapa cara : Judul Ibraninya di ayat 1, Kidung dari segala Kidung, yang artinya “paling indah, atau kidung terindah”; judul Inggrisnya juga diambil dari ayat 1, Kidung salomo yang menunjuk sang penulis; dan Canticles [Latin] yang artinya “kidung pujian”.

Tema dan Tujuan Penulisan

Kidung agung adalah kidung cinta yang penuh dengan beragam metafora dan ibarat dan ibarat yang dirancang untuk melukiskan cara pandang tentang kasih dan pernikahan: keindahan cinta suami-istri. Kitab ini disajikan sebagai sebuah derama dengan beberapa babak dengan tiga utama pemerannya: mempelai wanita (Sulam), raja (Salomo), dan paduan suara (putri-putri Yerusalem). Tujuan kitab bergantung pada sudut pandang yang disesuaikan dengan interpretasi kitab ini. Berikut ini adalah sajian diskusi dari tiga sudut pandang:

(1) Pandangan Alegorikal
Ada yang meletakan kitab ini dalam kategori alegori yang melukiskan karakter fiksi yang mengajarkan kebenaran kasih Allah terhadap umat-Nya. Mengenai pandangan ini, Archer menulis: Interpretasi alegori pernah berjaya dahulu kala sampai munculnya interpretasi modern disitu Salomo diidentifikasi sebagai Yahwe (atau menurut Kristen sebagai Kristus) dan Sulam sebagai Israel, umat-Nya (atau Gereja, Tubuh Kristus). Sejarah kisah cinta Salomo tidak terlalu dipentingkan dalam teori Alegori. Mereka cenderung mengartikan setiap detal perilaku secara simbolik, misalnya 80 selir Salomo disimbolkan sebagai 80 bidat yang bakal menyesatkan gereja; halnya yang tidak berdasar, kecuali memang telah menyesatkan orang yang terikat dengan selir-selir yang menyesatkan imannya.

(2) Pandangan Literal
Ada pula yang sekadar menghargai Kidung Agung sebagai lagu cinta sekuler yang tidak bermaksud menyampaikan sepiritual, melainkan membeberkan cinta manusia secara sangat romantis yang diangkat dari peristiwa sejarah kehidupan peribadi Salomo.

(3) Pandangan Tipikal
Pandangan ini melihat kombinasi peristiwa sejarah yang memotret keidahan cinta fisik sesuai dengan potret kasih Allah dan kasih Kristus terhadap Gereja.

Ada pula yang betul-betul memahami kitab ini sebagai biografi sejarah kisah romantika Salomo dengan seorang wanita Sulam “Cuplikan-cuplikan” dalam kitab ini
melukiskan kebahagian percintaan dan pernikah untuk melawan kedua ekstrim, yaitu selibat paksa, hawa nafsu, dan hubungan tak wajar.
Pernikahan telah ditetapkan sebagai satu-satunya wadah yang terhormat dan sah untuk bercinta. Dalam kerangka histeris, kita juga telah melihat cinta kasih TUHAN terhadap umat-Nya. Salomo tentunya tak dapat memberi contoh yang baik untuk kesetiaan pernikahan, karna dia mempunyai banyak istri dan selir (140 saat itu, 6:8; masih bertambah banyak lagi kemudian, 1 Raj. 11:3). Pengalaman pribadi dengan pasangannya yang dipaparkan dalam kitab ini mengetengahkan kisah cinta romantis yang mereka miliki.
Kombinasi perspektif ini terlihat dalam penjelasan Archers pada tema Kidung Agung, yaitu cinta Salomo kepada wanita Sulam, mempelainya, dan cinta Sulam yang mendalam terhadap kekasihnya, sang gembala. Kisah cinta ini dimaksudkan untuk melambangkan kehangatan hubungan pribadi yang Allah inginkan Mempelai-Nya, yang adalah
kaum tebusan dan yang telah menerima gagasan-Nya. Dari sudut Kristen, titik ini menunjukkan komitmen timbal-balik antara Allah dan Gereja-Nya dan terjalinnya persekutuan intim yang senantiasa terbina diantara keduanya.



V
SURVEY KITAB NABI-NABI BESAR
Diadopsi dari Alkitab Penuntun Hidup Berkelimpahan



KITAB YESAYA

Penulis : Yesaya
Tema : Hukuman dan Keselamatan
Tanggal Penulisan : + 700-680 SM

Latar Belakang

Latar belakang sejarah bagi pelayanan nubuat Yesaya, anak Amos adalah Yerusalem pada masa pemerintahan empat raja Yehuda: Uzia, Yotam, Ahas, dan Hizkia (Yes 1:1). Raja Uzia wafat pada tahun 740 SM (bd. 1Sam 6:1) dan Hizkia pada tahun 687 SM; jadi, pelayanan Yesaya meliputi lebih daripada setengah abad sejarah Yehuda. Menurut tradisi Yahudi, Yesaya mati syahid dengan digergaji menjadi dua (bd. Ibr 11:37) oleh Raja Manasye putra Hizkia yang jahat dan penggantinya (+ 680 SM). Yesaya rupanya berasal dari keluarga kalangan atas di Yerusalem; dia orang berpendidikan, memiliki bakat sebagai penggubah syair dan berkarunia nabi, mengenal keluarga raja, dan memberikan nasihat secara nubuat kepada para raja mengenai politik luar negeri Yehuda. Biasanya, Yesaya dipandang sebagai nabi yang paling memahami kesusastraan dan paling berpengaruh dari semua nabi yang menulis kitab. Ia menikahi seorang wanita yang juga berkarunia kenabian, dan pasangan ini memiliki dua putra yang namanya mengandung pesan yang simbolik bagi bangsa itu.

Yesaya hidup sezaman dengan Hosea dan Mikha; ia bernubuat selama perluasan yang mengancam dari kerajaan Asyur, keruntuhan terakhir Israel (kerajaan utara) serta kemerosotan rohani dan moral di Yehuda (kerajaan selatan).Yesaya memperingati raja Yehuda, Ahas, untuk tidak mengharapkan bantuan dari Asyur melawan Israel dan Aram; ia mengingatkan Raja Hizkia, setelah kejatuhan Israel tahun 722 SM, agar jangan mengadakan persekutuan dengan bangsa asing menentang Asyur. Ia menasihati kedua raja itu untuk percaya Tuhan saja sebagai perlindungan mereka (Yesaya 7:3-7; 30:1-17). Yesaya mempunyai pengaruhnya terbesar pada masa pemerintahan Raja Hizkia.

Beberapa cendekiawan meragukan apakah Yesaya menulis seluruh kitab ini. Mereka menentukan pasal 1-39 (Yes 1:1--39:8) saja yang ditulis Yesaya dari Yerusalem; biasanya mereka beranggapan pasal 40-66 (Yes 40:1--66:24) berasal dari seorang atau beberapa orang pengarang lain sekitar satu atau satu setengah abad kemudian. Akan tetapi, tidak ada data alkitabiah yang mengharuskan kita menolak Yesaya sebagai penulis seluruh kitab ini. Nubuat-nubuat Yesaya dalam pasal 40-66 (Yes 40:1--66:24) untuk para buangan Yahudi di Babel jauh setelah kematiannya menekankan kemampuan Allah untuk menyatakan berbagai peristiwa khusus di masa depan melalui para nabi-Nya (mis. Yes 42:8-9; Yes 44:6-8; Yes 45:1; Yes 47:1-11; Yes 53:1-12). Jikalau seorang dapat menerima perwujudan penglihatan dan penyataan kenabian (bd. Wahy 1:1; Wahy 4:1--22:21), maka lenyaplah sudah halangan utama untuk percaya bahwa Yesaya menulis seluruh kitab ini. Bukti-bukti pendukung positif cukup banyak dan tergolong di bawah dua bagian yang luas.

(1) Bukti dari dalam kitab ini sendiri mencakup pernyataan pembukaan (Yes 1:1) (yang berlaku untuk seluruh kitab) dan banyak kesamaan ungkapan dan pikiran yang mencolok di antara kedua bagian utama kitab ini. Salah satu contoh terkenal ialah ungkapan "Yang Mahakudus, Allah Israel" yang muncul 12 kali dalam pasal 1-39 (Yes 1:1--39:8) dan 14 kali dalam pasal 40-66 (Yes 40:1--66:24), dan hanya enam kali di seluruh bagian PL lainnya. Tidak kurang dari 25 bentuk kata Ibrani muncul dalam kedua bagian utama Yesaya, tetapi tidak terdapat di kitab nubuat yang lain di PL.
(2) Bukti dari luar kitab ini mencakup kesaksian Talmud Yahudi dan PB sendiri, yang menghubungkan seluruh bagian kitab ini dengan nabi Yesaya (mis. bd. Mat 12:17-21 dengan Yes 42:1-4; Mat 3:3 dan Luk 3:4 dengan Yes 40:3; Yoh 12:37-41 dengan Yes 6:9-10 dan Yes 53:1; Kis 8:28-33 dengan Yes 53:7-9; Rom 9:27 dan Yes 10:16-21 dengan Yes 10:1-34; Yes 53:1-12; Yes 65:1-25).

Tujuan
Tujuan lipat tiga jelas kelihatan dalam tulisan Yesaya:

(1) Sang nabi pertama-tama menghadapi bangsanya sendiri dan bangsa lain yang sezaman dengan firman Tuhan mengenai dosa mereka dan hukuman Allah yang akan datang.
(2) Lalu, melalui berbagai penglihatan yang mengandung wahyu dan Roh nubuat, Yesaya menubuatkan pengharapan bagi angkatan masa depan orang Yahudi buangan. Mereka akan dikembalikan dari pembuangan dan akan ditebus Allah untuk menjadi terang bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi.
(3) Akhirnya, Yesaya bernubuat bahwa Allah akan mengirim Mesias dari keturunan Daud, yang keselamatan-Nya pada akhirnya akan meliputi semua bangsa di bumi ini, sehingga memberikan pengharapan bagi umat Allah di bawah perjanjian yang lama dan yang baru.

Survey

Sebagian besar sarjana berpendapat bahwa ke-66 pasal kitab ini dengan sendirinya terbagi menjadi dua bagian utama: pasal 1-39 (Yes 1:1--39:8) dan pasal 40-66 (Yes 40:1--66:24). Dalam hal-hal tertentu kitab Yesaya adalah seperti suatu Alkitab kecil:

1. Kedua bagian besar ini menekankan tema umum penghukuman dan keselamatan, sesuai dengan tema-tema umum di PL dan PB; dan
2. Dalam kedua bagian Yesaya dan Alkitab, hal yang menyatukannya adalah karya penebusan Kristus.

1. Bagian pertama Yesaya (pasal 1-39; Yes 1:1--39:8) berisi empat kelompok besar materi.

(a) Dalam pasal 1-12 (Yes 1:1--12:6) Yesaya mengingatkan dan mengecam Yehuda karena penyembahan berhala, kebejatan, dan ketidakadilan sosial selama masa kemakmuran yang menyesatkan. Terjalin dengan berita mengenai hukuman yang akan datang adalah beberapa nubuat penting tentang Mesias (mis. Yes 2:4; Yes 7:14; Yes 9:5-6; Yes 11:1-9), bersama kesaksian Yesaya tentang pentahiran dirinya dari dosa dan penugasan ilahi untuk pelayanan kenabian (pasal 6; Yes 6:1-13).
(b) Dalam pasal 13-23 (Yes 13:1--23:18) Yesaya bernubuat kepada bangsa-bangsa sezaman Yehuda mengenai dosa mereka dan hukuman Allah yang akan datang.
(c) Pasal 24-35 (Yes 24:1--35:10) berisi bermacam-macam janji bersifat nubuat tentang keselamatan dan hukuman yang akan datang.
(d) Pasal 36-39 (Yes 36:1--39:8) mencatat aneka cuplikan sejarah dari kehidupan Hizkia yang serupa dengan 2Raj 18:13--20:21.

2. Bagian utama kedua (pasal 40-66; Yes 40:1--66:24), berisi berbagai nubuat yang paling akbar dalam Alkitab mengenai kebesaran Allah dan kemegahan rencana penebusan-Nya. Pasal-pasal ini membangkitkan harapan dan hiburan dalam umat Allah pada tahun-tahun terakhir pemerintahan Hizkia (Yes 38:5) dan untuk abad-abad selanjutnya. Bagian ini penuh dengan penyataan nubuat mengenai kuasa dan kemuliaan Allah dan janji-janji-Nya untuk memulihkan kaum sisa di Israel yang benar dan berbuah dan di antara bangsa-bangsa sebagai perwujudan penuh dari kasih penebusan-Nya. Janji-janji dan penggenapannya ini secara khusus dikaitkan dengan tema penderitaan dan berisi "nyanyian hamba" gubahan Yesaya (lih. Yes 42:1-4; Yes 49:1-6; Yes 50:4-9; Yes 52:13--53:12), yang menunjuk kepada titik waktu melewati pengalaman orang buangan Yahudi kepada kedatangan Yesus Kristus di kemudian hari dan kematian-Nya yang mendamaikan (pasal 53; Yes 53:1-12). Sang nabi menubuatkan bahwa datangnya Mesias akan memungkinkan kebenaran bersinar dengan terang dan keselamatan keluar kepada bangsa-bangsa bagaikan obor yang menyala (pasal 60-66; Yes 60:1--66:24). Yesaya mengutuk kebutaan rohani mengenai jalan-jalan Allah (Yes 42:18-25) dan menghargai doa syafaat dan rasa sakit melahirkan oleh umat Allah sebagai perlu agar segala sesuatu dapat digenapi (bd. Yes 56:6-8; Yes 62:1-2,6-7; Yes 66:7-18).


Ciri-ciri Khas
Delapan ciri utama menandai kitab Yesaya ini.

1. Sebagian besar kitab ini ditulis dalam bentuk syair Ibrani dan sebagai karya sastra tidak dapat dibandingi keindahan, kuasa, dan keanekaragaman dalam syairnya. Kekayaan kosakata Yesaya mengungguli semua penulis PL lainnya.
2. Yesaya disebut "nabi injili" karena, dari semua kitab PL, nubuat-nubuatnya tentang Mesias berisi pernyataan yang paling lengkap dan jelas dari Injil Yesus Kristus.
3. Penglihatannya tentang salib dalam pasal 53 (Yes 53:1-12) adalah nubuat yang paling khusus dan terinci dalam seluruh Alkitab mengenai kematian Yesus yang mendamaikan bagi orang berdosa.
4. Kitab ini menjadi kitab nubuat PL yang paling teologis dan luas; ia menjangkau ke belakang kepada saat Allah menciptakan langit dan bumi serta hidup manusia (mis. Yes 42:5) dan memandang ke depan kepada saat Allah mengakhiri sejarah dan menciptakan langit baru dan bumi baru (mis. Yes 65:17; Yes 66:22).
5. Kitab ini berisi lebih banyak penyataan tentang tabiat, keagungan, dan ekudusan Allah daripada kitab nubuat PL lainnya. Allah yang diperlihatkan Yesaya adalah kudus dan mahakuasa, Yang akan menghakimi dosa dan ketidakbenaran dalam umat manusia dan bangsa-bangsa. Ungkapan yang digemari untuk Allah ialah "Yang Mahakudus, Allah Israel".
6. Yesaya, yang artinya "Tuhan menyelamatkan", adalah nabi keselamatan. Ia memakai istilah "keselamatan" hampir tiga kali lebih banyak daripada seluruh kitab para nabi lainnya. Yesaya menyatakan bahwa maksud penuh keselamatan Allah akan digenapi hanya dalam kaitan dengan Mesias.
7. Yesaya sering kali mengacu kembali kepada peristiwa-peristiwa penebusan sebelumnya dalam sejarah Israel, mis. peristiwa keluaran (Yes 4:5-6; Yes 11:15; Yes 31:5; Yes 43:16-17), pemusnahan Sodom dan Gomora (Yes 1:9), dan kemenangan Gideon atas suku Midian (Yes 9:4; Yes 10:26; Yes 28:21); ia juga mengutip dari nyanyian Musa yang bersifat nubuat dalam Ul 32:1-52 (Yes 1:2; Yes 30:17; Yes 43:11,13).
8. Bersama dengan Ulangan dan Mazmur, Yesaya termasuk kitab PL yang paling banyak dikutip dalam PB.

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

Yesaya bernubuat tentang Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu yang ditentukan bagi Mesias (Yes 40:3-5; bd. Mat 3:1-3). Berikut ini adalah sebagian dari nubuat-nubuat Yesaya tentang Mesias serta penerapan PB-nya dalam kehidupan dan pelayanan Yesus Kristus:

- Penjelmaan dan ke-Tuhanan-Nya (Yes 7:14; lih. Mat 1:22-23; Luk 1:34-35;
Yes 9:5-6; lih. Luk 1:32-33; Luk 2:11);
- Masa remaja-Nya (Yes 7:15-16 dan Yes 11:1; lih. Luk 3:23,32
dan Kis 13:22-23);
- isi-Nya (Yes 11:2-5; Yes 42:1-4; Yes 60:1-3; Yes 61:1; lih. Luk 4:17-19,21);
- Ketaatan-Nya (Yes 50:5; lih. Ibr 5:8);
- Berita dan pengurapan-Nya oleh Roh Kudus (Yes 11:2; Yes 42:1 dan Yes 61:1
- Mukjizat-mukjizat-Nya (Yes 35:5-6; lih. Mat 11:2-5);
- Penderitaan-Nya (Yes 50:6; lih. Mat 26:67; Mat 27:26,30; Yes 53:4-5,11; lih. Kis 8:28-33);
- Penolakan-Nya (Yes 53:1-3; lih. Luk 23:18; Yoh 1:11; Yoh 7:5);
- Rasa malu-Nya (Yes 52:14; lih. Fili 2:7-8);
- Kematian-Nya yang mendamaikan (Yes 53:4-12; lih. Rom 5:6);
- Kenaikan-Nya (Yes 52:13; lih. Fili 2:9-11); dan
- Kedatangan-Nya yang kedua (Yes 26:20-21; lih. Yud 1:14; Yes 61:2-3; lih. 2Tes 1:5-12; Yes 65:17-25; lih. 2Pet 3:13).

KITAB YEREMIA

Penulis : Yeremia
Tema : Hukuman Allah bagi Yehuda yang Tidak bertobat.
Tanggal Penulisan : + 585 -- 580 SM

Latar Belakang
Pelayanan Yeremia sebagai nabi diarahkan kepada kerajaan selatan Yehuda, sepanjang 40 tahun terakhir dari sejarahnya (626-586 SM). Ia masih hidup untuk menyaksikan serbuan Babel ke Yehuda yang berakhir dengan kebinasaan Yerusalem dan Bait Suci. Karena tugas Yeremia ialah bernubuat kepada bangsa itu selama tahun-tahun akhir dari kemunduran dan kejatuhannya, dapatlah dimengerti bahwa, kitabnya penuh dengan kesuraman dan firasat buruk.

Yeremia, putra seorang imam, lahir dan dibesarkan di Anatot, desa para imam (6 km di timur laut dari Yerusalem) selama pemerintahan Raja Manasye yang jahat. Yeremia memulai pelayanan sebagai nabi pada tahun ke-13 pemerintahan Raja Yosia yang baik, dan ia ikut mendukung gerakan pembaharuan Yosia. Akan tetapi, ia segera menyadari bahwa gerakan itu tidak menghasilkan perubahan yang sungguh-sungguh dalam hati bangsa itu; Yeremia mengingatkan bahwa jika tidak ada pertobatan nasional sejati, maka hukuman dan pemusnahan akan datang dengan tiba-tiba.

Pada tahun 612 SM, Asyur dikalahkan oleh suatu koalisi Babel. Sekitar empat tahun setelah kematian Raja Yosia, Mesir dikalahkan oleh Babel pada pertempuran di Karkemis (605 SM; lih. Yer 46:2). Pada tahun yang sama pasukan Babel di bawah pimpinan Nebukadnezar menyerang Palestina, merebut Yerusalem dan membawa sebagian pemuda pilihan dari Yerusalem ke Babel, diantara mereka terdapat Daniel dan ketiga sahabatnya. Penyerbuan kedua ke Yerusalem terjadi tahun 597 SM; ketika itu dibawa 10.000 orang tawanan ke Babel, di antaranya terdapat Yehezkiel. Selama ini nubuat Yeremia yang memperingatkan tentang hukuman Allah yang mendatang tidak diperhatikan. Kehancuran terakhir menimpa Yerusalem, Bait Suci, dan seluruh kerajaan Yehuda dalam tahun 586 SM.

Kitab nubuat ini menunjukkan bahwa Yeremia, sering kali disebut "nabi peratap," merupakan seorang yang membawa amanat keras namun berhati lembut dan hancur (mis. Yer 8:21--9:1). Sifatnya yang lembut itu menjadikan penderitaannya makin mendalam ketika firman nubuat Allah ditolak dengan angkuh oleh kerabat dan sahabat, imam dan raja, dan sebagian besar bangsa Yehuda. Walaupun sepi dan ditolak seumur hidupnya, Yeremia termasuk nabi yang paling tegas dan berani. Kendatipun berhadapan dengan perlawanan yang berat, dengan setia ia melaksanakan panggilannya sebagai nabi untuk memperingatkan sesama warga Yehuda bahwa hukuman Allah makin dekat. Ketika merangkum kehidupan Yeremia, seorang penulis mengatakan: "Tidak pernah manusia fana memperoleh beban yang begitu meremukkan. Sepanjang sejarah bangsa Yahudi tidak pernah ada teladan kesungguhan yang begitu mendalam, penderitaan tak henti-hentinya, pemberitaan amanat Allah tanpa takut, dan syafaat tanpa kenal lelah dari seorang nabi seperti halnya Yeremia. Tetapi tragedi kehidupannya ialah: bahwa ia berkhotbah kepada telinga yang tuli dan menuai hanya kebencian sebagai balasan kasihnya kepada orang-orang senegerinya" (Farley).

Penulis kitab ini jelas disebut yaitu Yeremia (Yer 1:1). Setelah bernubuat selama 20 tahun di Yehuda, Yeremia diperintahkan Allah untuk menuangkan amanatnya dalam bentuk tertulis; hal ini dilakukannya dengan mendiktekan nubuat-nubuatnya kepada Barukh, juru tulisnya yang setia (Yer 36:1-4). Karena Yeremia dilarang menghadap raja, Barukh diutus untuk membacakan nubuat-nubuat itu di rumah Tuhan, dan setelah itu Yehudi membacakannya kepada Raja Yoyakim. Raja itu menunjukkan sikap menghina kepada Yeremia dan firman Allah dengan menyobek-nyobek kitab gulungan itu dengan pisau lalu melemparkannya ke dalam api (Yer 36:22-23). Yeremia kemudian mendiktekan kembali nubuat-nubuatnya kepada Barukh, kali ini ia mencantumkan lebih banyak daripada di gulungan pertama. Kemungkinan besar, Barukh menyusun kitab Yeremia dalam bentuk terakhirnya segera sesudah wafatnya Yeremia (+585 -- 580 SM).

Tujuan
Kitab ini ditulis,

1. Untuk menyediakan suatu catatan abadi dari pelayanan dan berita nubuat Yeremia,
2. Untuk menyatakan hukuman Allah yang pasti jadi dan tidak terelakkan ketika umat-Nya melanggar perjanjian dan bersikeras dalam pemberontakan terhadap Allah dan firman-Nya, dan
3. Untuk menunjukkan keaslian dan kekuasaan firman nubuat. Banyak nubuat Yeremia tergenapi pada zamannya sendiri (mis. Yer 16:9; Yer 20:4; Yer 25:1-14; Yer 27:19-22; Yer 28:15-17; Yer 32:10-13; Yer 34:1-5); nubuat lainnya yang meliputi masa depan yang amat jauh digenapi kemudian atau masih belum digenapi (mis. Yer 23:5-6; Yer 30:8-9; Yer 31:31-34; Yer 33:14-16).

Survey
Kitab ini pada dasarnya merupakan kumpulan nubuat-nubuat Yeremia, yang terutama dialamatkan kepada Yehuda (pasal 2-29; Yer 2:1--29:32), tetapi juga kepada sembilan bangsa asing lainnya (pasal 46-51; Yer 46:1--51:64); nubuat-nubuat ini terutama dipusatkan pada hukuman, walaupun ada beberapa yang membahas pemulihan (lih. Khususnya pasal 30-33; Yer 30:1--33:26). Nubuat-nubuat ini tidak secara teliti disusun menurut kronologi atau tema, sekalipun kitab ini menyajikan susunan menyeluruh sebagaimana yang tampak dalam Garis Besar di atas. Sebagian kitab ini ditulis dalam bentuk syair, sedangkan bagian lainnya dalam bentuk prosa atau cerita. Berita nubuatnnya terjalin dengan aneka kilasan sejarah dari:

1. Kehidupan pribadi dan pelayanan sang nabi (mis. pasal 1; Yer 1:1-19; Yer 34:1--38:28; Yer 40:1--45:5),
2. Sejarah Yehuda terutama selama masa Raja Yosia (pasal 1-6; Yer 1:1--6:30), Yoyakim (pasal 7-20; Yer 7:1--20:18), dan Zedekia (pasal 21-25, 34; Yer 21:1--25:38; Yer 34:1-22), termasuk runtuhnya Yerusalem (pasal 39; Yer 39:1-18), dan
3. Aneka peristiwa internasional yang melibatkan Babel dan bangsa-bangsa lainnya (pasal 25-29, 46-52; Yer 25:1--29:32; Yer 46:1--52:34).

Seperti Yehezkiel, Yeremia memakai berbagai tindakan yang bersifat perumpamaan dan lambang untuk mengilustrasikan berita nubuatnya dengan lebih jelas: mis. ikat pinggang yang lapuk (Yer 13:1-14), musim kering (Yer 14:1-9), larangan oleh Allah untuk menikah dan mempunyai anak (Yer 16:1-9), penjunan dan tanah liat (Yer 18:1-11), buli-buli yang dihancurkan penjunan (Yer 19:1-13), dua keranjang buah ara (Yer 24:1-10), kuk di pundaknya (Yer 27:1-11), pembelian ladang di kota kelahirannya (Yer 32:6-15), dan batu-batu besar yang disembunyikan dalam pelataran istana Firaun (Yer 43:8-13). Pemahaman Yeremia yang jelas akan panggilannya sebagai nabi (Yer 1:17), seiring dengan penegasan Allah yang berulang-ulang (mis. Yer 3:12; Yer 7:2,27-28; Yer 11:2,6;
Yer 13:12-13; Yer 17:19-20*), memungkinkan dia untuk memberitakan nubuatnya dengan tegas dan setia kepada Yehuda kendatipun tanggapan yang terus diterimanya adalah permusuhan, penolakan, dan penganiayaan (mis.Yer 15:20-21). Setelah kebinasaan Yerusalem, Yeremia dipaksa pergi ke Mesir di mana ia tetap bernubuat sampai kematiannya (pasal 43-44; Yer 43:1--44:30).

Ciri-ciri Khas
Tujuh ciri utama menandai kitab Yeremia.

1. Kitab ini menjadi kitab terpanjang kedua dalam Alkitab, berisi lebih banyak kata (bukan pasal) daripada kitab lainnya selain Mazmur.
2. Kehidupan dan pergumulan pribadi Yeremia selaku nabi diungkapkan dengan lebih mendalam dan terinci dibandingkan nabi PL lainnya.
3. Kitab ini sarat dengan kesedihan, sakit hati, dan ratapan dari "nabi peratap" itu karena pemberontakan Yehuda. Kendatipun berita Yeremia itu keras, ia menderita kesedihan dan hancur hati yang mendalam karena umat Allah; namun kesetiaannya adalah terutama kepada Allah, dan ia merasa kesedihan yang paling dalam karena hati Allah terluka.
4. Salah satu kata kunci ialah "murtad," (dipergunakan 8 kali) dan "tidak setia" (dipakai 9 kali), dan tema yang muncul terus ialah hukuman Allah yang tidak terelakkan lagi atas pemberontakan dan kemurtadan.
5. Satu-satunya penyataan teologis yang terbesar di kitab ini ialah konsep "perjanjian baru" yang akan ditetapkan Allah dengan umat-Nya yang setia pada saat pemulihan kelak (Yer 31:31-34).
6. Syairnya mengesankan dan penuh perasaan seperti syair Alkitab lainnya, dengan kelimpahan metafora, ungkapan-ungkapan yang hidup dan bagian-bagian patut diingat.
7. Rujukan terhadap Babel di dalam nubuat Yeremia (164) lebih banyak daripada di semua bagian lain di Alkitab.

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Yeremia terutama di kutip dalam PB berkenaan dengan nubuatnya tentang"perjanjian baru" (Yer 31:31-34). Sekalipun Israel dan Yehuda berkali-kali melanggar perjanjian-perjanjian Allah dan kemudian dihancurkan dalam hukuman akibat kemurtadan mereka, Yeremia menubuatkan suatu saat ketika Allah akan mengikat perjanjian yang baru dengan mereka (Yer 31:31). PB menjelaskan bahwa perjanjian yang baru ini ditetapkan dengan kematian dan kebangkitan Kristus (Luk 22:20; bd. Mat 26:26-29; Mr 14:22-25), dan kini digenapi di dalam gereja selaku umat perjanjian baru Allah (Ibr 8:8-13) dan akan mencapai puncak kesempurnaan dalam penyelamatan Israel yang luar biasa (Rom 11:27).
Bagian-bagian lain tentang Mesias di Yeremia yang diterapkan kepada Yesus Kristus dalam PB adalah:

1. Mesias sebagai gembala yang baik dan tunas Daud yang adil (Yer 23:1-8; lih. Mat 21:8-9; Yoh 10:1-18; 1Kor 1:30; 2Kor 5:21);
2. Ratapan yang hebat di Rama (Yer 31:15) digenapi saat Herodes berusaha membunuh bayi Yesus (lih. Mat 2:17-18); dan
3. Semangat Mesias akan kesucian rumah Allah (Yer 7:11) ditunjukkan ketika Yesus menyucikan Bait Allah. (lih. Mat 21:13; Mr 11:17; Luk 19:4).


KITAB RATAPAN

Penulis : Yeremia
Tema : Kesusahan yang Sekarang dan Harapan Masa Depan
Tanggal Penulisan : 586 - 585 SM

Latar Belakang
Judul kitab ini diambil dari judul tambahannya dalam naskah PL terjemahan Yunani dan Latin -- "Ratapan Yeremia." PL Ibrani memasukkan kitab ini sebagai salah satu di antara lima kitab gulungan (bersama Rut, Ester, Pengkhotbah dan Kidung Agung) dari bagian ketiga Alkitab Ibrani, yaitu bagian Hagiographa ("Tulisan-tulisan Kudus"); masing-masing dari kelima kitab ini secara tradisional dibacakan pada saat tertentu dalam tahun liturgi Yahudi. Ratapan ini ditetapkan untuk dibaca pada hari kesembilan dari bulan Ab (sekitar pertengahan Juli), bilamana orang Yahudi memperingati penghancuran kota Yerusalem. Versi Septuaginta menempatkan Ratapan langsung setelah kitab Yeremia, tempatnya dalam kebanyakan Alkitab masa kini. Sudah lama para pakar Yahudi dan Kristen menyetujui bahwa Yeremia adalah penulis kitab ini. Di antara berbagai bukti yang mendukung kesimpulan ini terdapat yang berikut:

1. Dari 2Taw 35:25 kita mengetahui bahwa Yeremia biasa menggubah syair ratapan; apalagi, kitab nubuat Yeremia sering kali menyebut bagaimana ia meratapi kebinasaan Yerusalem yang akan datang. (lih. Yer 7:29; Yer 8:21; Yer 9:1,10,20).
2. Gambaran yang hidup dalam kitab Ratapan tentang peristiwa malapetaka itu memberikan kesan bahwa ini dikisahkan oleh seorang saksi mata; Yeremia adalah satu-satunya penulis kitab PL yang diketahui telah menyaksikan langsung musibah Yerusalem pada tahun 586 SM.
3. Terdapat beberapa persamaan tema dan gaya bahasa di antara kitab Yeremia dengan kitab ini. Misalnya, kedua kitab ini menghubungkan penderitaan Yehuda dan kebinasaan Yerusalem karena dosa dan pemberontakan yang terus-menerus terhadap Allah. Dalam kedua kitab ini Yeremia menyebut umat Allah sebagai "anak dara" -Nya (Yer 14:17; Yer 18:13; Rat 1:15; Rat 2:13). Fakta-fakta ini, bersama dengan kesamaan di antara kedua kitab ini dalam gaya penulisan syairnya, menunjuk kepada penulis yang sama.

Ketandusan Yerusalem digambarkan demikian jelas dan hidup dalam Ratapan sehingga menunjukkan bahwa peristiwa itu baru saja dialami penulisnya. Yeremia sendiri berusia 50-an ketika kota itu jatuh; dia mengalami sepenuhnya traumanya dan dipaksa ke Mesir pada tahun 585 SM (lih Yer 41:1--44:30), di mana dia wafat (mungkin sebagai orang syahid) dalam dasawarsa kemudian. Jadi, kitab ini mungkin sekali ditulis segera
setelah pembinasaan Yerusalem (586-585 SM).

Tujuan
Yeremia menulis serangkaian lima ratapan untuk mengungkapkan kesedihan yang sangat dan penderitaan emosionalnya atas kerusakan Yerusalem yang tragis:

1. Keruntuhan yang memalukan dari kerajaan dan keturunan Daud,
2. Pembinasaan sama sekali dari tembok-tembok kota, Bait Suci, istana raja dan kota pada umumnya, dan
3. Pembuangan yang menyedihkan ke Babel dari kebanyakan orang yang tidak dibunuh.

"Yeremia duduk sambil menangis dan meratap dengan ratapan ini atas Yerusalem," bunyi sebuah super skripsi pada kitab ini dalam versi Septuaginta dan Vulgata Latin. Dalam kitab ini, kesedihan sang nabi menyembur keluar bagaikan kesedihan seorang peratap pada saat penguburan kerabat dekat yang mati secara tragis. Semua ratapan ini mengakui bahwa tragedi tersebut merupakan hukuman Allah atas Yehuda karena pemberontakan berabad-abad para pemimpin dan penduduknya terhadap Dia; kini hari perhitungan telah tiba dan hari itu amat dahsyat. Dalam Ratapan, Yeremia bukan hanya mengakui bahwa Allah benar dan adil dalam segala jalan-Nya, tetapi juga bahwa Dia itu murah hati dan berbelas kasihan kepada mereka yang berharap kepada-Nya (Rat 3:22-23,32). Jadi, Kitab Ratapan memungkinkan umat itu memiliki pengharapan di tengah-tengah keputusasaan mereka dan memandang lebih jauh dari hukuman pada saat itu, kepada saat Allah
akan memulihkan umat-Nya kelak.

Survey
Kitab ini merupakan serangkaian lima ratapan, tiap ratapan itu dalam sendirinya lengkap. Ratapan pertama (pasal 1; Rat 1:1-22) menggambarkan kerusakan Yerusalem dan ratapan sang nabi atas kota itu ketika ia berseru kepada Allah dalam penderitaan jiwanya; kadang-kadang ratapannya melambangkan ratapan Yerusalem (Rat 1:12-22). Dalam ratapan kedua (pasal 2; Rat 2:1-22), Yeremia melukiskan penyebab kerusakan ini sebagai murka Allah atas umat pemberontak yang menolak untuk bertobat. Musuh Yehuda menjadi sarana penghukuman Allah. Syair berikutnya (pasal 3; Rat 3:1-66) mendesak bangsa itu untuk ingat kembali bahwa Allah sungguh-sungguh pemurah dan setia, dan bahwa Dia itu baik kepada mereka yang mengandalkan diri-Nya. Yang keempat (pasal 4; Rat 4:1-22) mengulang kembali tema ketiga syair sebelumnya. Di dalam syair yang terakhir (pasal 5; Rat 5:1-22), setelah pengakuan dosa dan kebutuhan Yehuda untuk pengampunan, Yeremia berdoa kepada Allah untuk mengembalikan umat itu kepada perkenan-Nya lagi.

Kelima ratapan di dalam kitab ini, yang sama dengan jumlah pasalnya, masing-masing terdiri atas 22 ayat (kecuali pasal 3; Rat 3:1-66 yang memiliki 22 kali 3, yaitu 66 ayat); nomor 22 adalah jumlah huruf dalam abjad bahasa Ibrani. Empat syair pertama merupakan akrostik abjad, yaitu setiap ayat (atau dalam pasal 3; Rat 3:1-66 setiap perangkat dari tiga ayat) dimulai dengan huruf Ibrani yang berbeda dari Alef hingga Taw. Susunan menurut abjad ini, di samping mempermudah penghafalan, juga melaksanakan mencapai dua hal:

1. Susunan ini menyampaikan gagasan bahwa ratapan-ratapan ini lengkap, meliputi segala sesuatu dari A hingga Z (Ibr- Alef hingga Taw).
2. Dengan menyusun semua ratapan sedemikian, sang nabi dibatasi untuk terus-menerus meratap dan menangis; semua ratapan ada akhirnya, sebagaimana halnya suatu saat pembuangan akan berakhir dan Yerusalem akan dibangun kembali.

Ciri-ciri Khas
Lima ciri utama menandai kitab Ratapan.

1. Sekalipun di dalam Mazmur dan kitab para nabi ada ratapan pribadi dan ratapan umum, hanya kitab ini di Alkitab yang semata-mata terdiri atas syair-syair duka.
2. Susunan kesusastraan kitab ini sama sekali syair; dengan empat dari kelima syair itu bersifat akrostik (lihat alinea terakhir bagian "Survai"). Sesuai dengan susunan syair kitab ini, syair kelima juga terdiri atas 22 ayat.
3. Sedangkan 2Raj 25:1-30 dan Yer 52:1-34 melukiskan peristiwa sejarah pembinasaan Yerusalem, hanya kitab ini yang dengan hidup menggambarkan emosi dan perasaan orang-orang yang benar-benar mengalami musibah tersebut.
4. Pada inti kitab ini terdapat salah satu pernyataan paling kuat tentang kesetiaan dan keselamatan dari Allah di dalam Alkitab (Rat 3:21-26). Walaupun kitab Ratapan dimulai dengan sebuah ratapan (Rat 1:1-2), secara tepat kitab itu berakhir dengan nada pertobatan dan harapan untuk pemulihan (Rat 5:16-22).
5. Tidak ada kutipan dari kitab ini dalam PB selain beberapa ibarat (bd. Rat 1:15 dengan Wahy 14:19; Rat 2:1 dengan Mat 5:35; Rat 3:30 dengan Mat 5:39; Rat 3:45 dengan 1Kor 4:13).

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Sekalipun Ratapan tidak dikutip sama sekali dalam PB, kitab ini memiliki relevansi langsung bagi mereka yang percaya pada Kristus. Seperti halnya Rom 1:18--3:20, kelima pasal ini meminta orang percaya untuk merenungkan kehebatan dosa dan kepastian hukuman ilahi. Pada saat yang sama, kitab itu mengingatkan bahwa oleh karena belas kasihan dan kemurahan Tuhan, keselamatan tersedia bagi orang-orang yang bertobat dari dosa mereka dan berbalik kepada-Nya. Selanjutnya, air mata sang nabi mengingatkan kita tentang air mata Yesus Kristus, yang menangisi dosa-dosa Yerusalem karenamengetahui kebinasaannya yang akan datang oleh tentara Romawi (Mat 23:37-38; Luk 13:34-35; Luk 19:41-44).
KITAB YEHEZKIEL

Penulis : Yehezkiel
Tema : Hukuman dan Kemuliaan Allah
Tanggal Penulisan : 590-570 SM

Latar Belakang
Latar belakang sejarah Kitab Yehezkiel ialah Babel pada tahun-tahun awal pembuangan (593-571 SM). Nebukadnezar telah membawa tawanan orang Yahudi dari Yerusalem ke Babel dalam tiga tahap:

1. Pada tahun 605 SM, pemuda-pemuda Yahudi pilihan dibawa ke Babel, antara lain Daniel dan ketiga sahabatnya;
2. Pada tahun 597 SM, 10.000 tawanan dibawa ke Babel, di antaranya Yehezkiel; dan,
3. Pada tahun 586 SM, pasukan Nebukadnezar telah membinasakan kota dan Bait Sucinya, lalu membawa sebagian besar orang yang tidak terbunuh ke Babel.

Pelayanan Yehezkiel sebagai nabi terjadi pada masa sejarah PL yang paling gelap: tujuh tahun sebelum kebinasaan itu pada tahun 586 SM (593-586 SM) dan 15 tahun setelah kebinasaan itu (586-571 SM). Kitab ini mungkin selesai sekitar tahun 570 SM.

Yehezkiel, yang namanya berarti "Allah menguatkan", berasal dari keluarga imam (Yeh 1:3) dan tinggal di Yerusalem sepanjang 25 tahun pertama hidupnya. Dia sedang dalam pendidikan untuk menjadi imam di Bait Suci ketika dibawa ke Babel pada tahun 597 SM. Sekitar lima tahun kemudian, pada umur 30 tahun (Yeh 1:2-3), Yehezkiel menerima panggilan sebagai nabi dan penugasan ilahinya, setelah itu ia melayani dengan setia selama sekurang-kurangnya 22 tahun (Yeh 29:17); Yehezkiel berusia sekitar 17 tahun ketika Daniel dibawa pergi, sehingga keduanya kurang lebih sama umurnya. Baik Yehezkiel maupun Daniel merupakan rekan sezaman yang lebih muda daripada Yeremia dan sangat mungkin banyak dipengaruhi oleh nabi Yerusalem yang lebih tua ini (bd.Dan 9:2). Pada saat Yehezkiel tiba di Babel, Daniel sudah terkenal sebagai orang yang memiliki hikmat nubuat yang luar biasa; Yehezkiel menyebutnya tiga kali di dalam kitab ini (Yeh 14:14,20; Yeh 28:3). Berbeda dengan Daniel, Yehezkiel berkeluarga (Yeh 24:15-18) dan hidup sebagai warga biasa di antara para buangan Yahudi di tepi Sungai Kebar. (Yeh 1:1; Yeh 3:15,24; bd.Mazm 137:1).

Kitab ini dengan jelas menyebutkan bahwa nubuat-nubuatnya adalah dari Yehezkiel (Yeh 1:3; Yeh 24:24). Pemakaian kata ganti "aku" dalam seluruh kitab, bersama dengan kesatuan kitab ini dalam gaya dan bahasa yang dipakai, menunjuk kepada Yehezkiel sebagai penulis tunggalnya. Nubuat-nubuatnya dapat diberi tanggal dengan tepat karena cara penanggalannya yang teratur (bd. Yeh 1:1-2; Yeh 8:1; Yeh 20:1; Yeh 24:1; Yeh 26:1; Yeh 29:1,17; Yeh 30:20; Yeh 31:1; Yeh 32:1,17; Yeh 33:21; Yeh 40:1*). Pelayanannya dimulai bulan Juli tahun 593 SM dan berlangsung sampai sekurang-kurangnya nubuat terakhir yang dicatat pada bulan April, 571 SM.

Tujuan
Tujuan nubuat-nubuat Yehezkiel terutama bersifat ganda:

1. Untuk menyampaikan berita Allah mengenai hukuman atas Yehuda dan Yerusalem yang sudah murtad (pasal 1-24; Yeh 1:1--24:27) dan tujuh bangsa asing di sekitar mereka (pasal 25-32; Yeh 25:1--32:32) dan,
2. Untuk menopang iman sisa umat Allah dalam pembuangan mengenai pemulihan umat perjanjian-Nya dan kemuliaan akhir dari kerajaan-Nya (pasal 33-48; Yeh 33:1--48:35). Sang nabi juga menekankan tanggung jawab pribadi setiap orang di hadapan Allah dan bukan memikirkan hukuman pembuangan sebagai sekadar akibat dosa-dosa leluhur saja (Yeh 18:1-32; Yeh 33:10-20).

Survey
Kitab Yehezkiel disusun dengan baik, dan ke-48 pasalnya dengan sendirinya terbagi menjadi empat bagian utama.

1. Bagian pengantar (pasal 1-3; Yeh 1:1--3:27) menguraikan penglihatan penuh kuasa Yehezkiel tentang kemuliaan dan takhta Allah (pasal 1; Yeh 1:1-28) dan dilanjutkan dengan penugasan ilahi sang nabi ke dalam tugas kenabian (pasal 2-3; Yeh 2:1--3:27); perhatikan pengalaman Musa di semak yang menyala (Kel 3:1--4:31) dan penglihatan Yesaya di Bait Suci (Yes 6:13) sebagai penyataan luar biasa yang sama dari Allah pada permulaan tugas-tugas kenabian mereka.
2. Bagian kedua (pasal 4-24; Yeh 4:1--24:27) mencatat amanat Yehezkiel yang keras dan menghilangkan harapan mengenai hukuman atas Yehuda dan Yerusalem yang tidak terelakkan lagi karena mereka terus memberontak dan murtad. Sepanjang tujuh tahun terakhir dari Yerusalem (593-586 SM), Yehezkiel memperingatkan orang Yahudi di Yerusalem dan para buangan di Babel tentang harapan palsu bahwa Yerusalem akan lolos dari hukuman. Dosa-dosa Yerusalem pada masa lalu dan masa kini memastikan kehancurannya yang sekarang. Yehezkiel mengumandangkan amanat kenabian tentang malapetaka dahsyat ini melalui berbagai penglihatan, perumpamaan, dan tindakan simbolik. Ps Yeh 8:1--11:25 menggambarkan Yehezkiel dibawa Allah ke Yerusalem dalam penglihatan untuk menyampaikan nubuat-nubuat kepada kota itu. Dalam pasal 24 (Yeh 24:1-27) kematian istri tercinta Yehezkiel menjadi suatu perumpamaan dan tanda tentang akhir Yerusalem.
3. Bagian ketiga (pasal 25-32; Yeh 25:1--32:32) berisi nubuat-nubuat hukuman terhadap tujuh bangsa asing yang bersukacita atas malapetaka Yehuda. Dalam nubuat yang cukup panjang terhadap Tirus muncul suatu penggambaran samar-samar tentang Iblis (Yeh 28:11-19) sebagai kekuatan sesungguhnya di belakang raja Tirus.
4. Bagian terakhir (pasal 33-48; Yeh 33:1--48:35) menandai suatu peralihan dalam berita sang nabi dari hukuman suram ke penghiburan dan harapan di masa depan (bd. Yes 40:1--66:24). Setelah Yerusalem jatuh, Yehezkiel bernubuat tentang kebangunan rohani dan pemulihan dimasa depan, ketika Allah akan menjadi gembala yang sejati bagi umat-Nya (pasal 34; Yeh 34:1-31) dan memberi mereka "hati yang baru" dan "roh yang baru" (pasal 36; Yeh 36:1-38). Di dalam konteks ini terdapat penglihatan Yehezkiel yang terkenal mengenai sejumlah besar tulang yang secara nubuat dihidupkan kembali (pasal 37; Yeh 37:1-28). Kitab ini ditutup dengan melukiskan bahwa pada akhir zaman Bait Suci, kota suci, dan tanah suci akan dipulihkan (pasal 40-48; Yeh 40:1--48:35).

Ciri-ciri Khas
Tujuh ciri utama menandai kitab Yehezkiel.

1. Kitab ini penuh dengan penglihatan misterius, perumpamaan yang berani dan perbuatan simbolik yang aneh sebagai sarana penyataan nubuat Allah.
2. Isinya diatur dan diberi tanggal dengan saksama; terdapat lebih banyak tanggal daripada kitab nubuat PL lainya.
3. Dua frase khusus muncul berkali-kali:
a. "Mereka akan tahu bahwa Aku ini Tuhan" (65 kali dengan aneka variasi) dan
b. "kemuliaan Tuhan" (19 kali dengan aneka variasi).

4. Yehezkiel secara khusus disapa oleh Allah dengan sebutan "anak manusia" dan "penjaga".
5. Kitab ini mencatat dua penglihatan luar biasa mengenai Bait Suci -- yang pertama sebagai Bait Suci yang dinajiskan dan menanti kebinasaan (pasal 8-11; Yeh 8:1--11:25) dan yang lain sebagai dipulihkan dan disucikan dengan sempurna (pasal 40-48; Yeh 40:1--48:35).
6. Lebih dari nabi lain, Yehezkiel disuruh oleh Allah untuk menyatukan dirinya secara pribadi dengan sabda kenabian dengan melakukannya selaku lambang nubuat.
7. Yehezkiel menekankan tanggung jawab pribadi kepada Allah.

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru

Nubuat pasal 33-48 (Yeh 33:1--48:35) pada hakikatnya mengenai karya penebusan Allah di masa depan sebagaimana dinyatakan di dalam PB. Bagian ini bukan hanya berbicara tentang pemulihan Israel secara jasmaniah ke negeri mereka, tetapi juga suatu pemulihan akhir di masa depan yang mencakup penggenapan sempurna dari tujuan Allah bagi Israel
rohani dalam hubunganya dengan kemuliaan dan kuasa Allah di Bait Suci (penyembahan), dan tujuan Allah bagi bangsa-bangsa sebagai hasil pekabaran Injil. Nubuat-nubuat Yehezkiel yang penting mengenai Mesias PB ialah Yeh 17:22-24; Yeh 21:26-27; Yeh 34:23-24; Yeh 36:16-38 dan Yeh 37:1-28.




KITAB DANIEL

Penulis : Daniel
Tema : Kedaulatan Allah Dalam Sejarah
Tanggal Penulisan : Sekitar 536-530 SM

Latar Belakang
Daniel, yang namanya berarti "Allah adalah Hakim(ku)," adalah tokoh utama dan penulis kitab dengan namanya ini. Kepenulisan oleh Daniel bukan hanya dinyatakan secara tegas dalam Dan 12:4, tetapi juga tersirat dengan banyak petunjuk riwayat hidupnya sendiri dalam pasal 7-12 (Dan 7:1--12:13). Yesus menghubungkan kitab ini dengan "nabi Daniel" (Mat 24:15) ketika mengutip Dan 9:27.

Kitab ini mencatat berbagai peristiwa dari penyerbuan pertama Nebukadnezar ke Yerusalem (tahun 605 SM) hingga tahun ketiga pemerintahan Koresy (tahun 536 SM); jadi latar belakang sejarah kitab ini ialah Babel selama 70 tahun pembuangan yang dinubuatkan oleh Yeremia (bd. Yer 25:11). Daniel adalah seorang remaja ketika peristiwa dalam pasal 1 (Dan 1:1-21) terjadi dan sudah mencapai akhir usia 80-an ketika
menerima berbagai penglihatan dalam pasal 9-12 (Dan 9:1--12:13). Ia mungkin hidup sampai sekitar tahun 530 SM, menyelesaikan kitab ini dalam usia lanjutnya (bd. Yohanes dan kitab Wahyu). Para pengeritik modern yang menganggap kitab ini ditulis sekitar abad ke-2 SM dengan nama samaran Daniel telah berkesimpulan demikian lebih karena dibimbing praduga filsafat mereka dan bukan oleh fakta-fakta.

Pengetahuan kita tentang nabi Daniel ini diperoleh hampir sepenuhnya dari kitab ini (bd. Yeh 14:14,20). Daniel mungkin menjadi keturunan Raja Hizkia (bd. 2Raj 20:17-18; Yes 39:6-7); dia pasti berasal dari keluarga terdidik kalangan atas Yerusalem (Dan 1:3-6), karena Nebukadnezar pasti tidak akan memilih pemuda asing dari kalangan bawah untuk istananya (Dan 1:4,17). Daniel mungkin dijadikan sida-sida di Babel seperti kebiasaan ketika itu bagi pegawai laki-laki di istana (bd. Dan 1:3; 2Raj 20:18; Mat 19:12*). Keberhasilan Daniel di Babel disebabkan oleh integritas kepribadian, karunia-karunia nubuat, dan campur tangan Allah yang mengakibatkan dia segera mendapat kenaikan pangkat kepada kedudukan penting dan penuh tanggung jawab (Dan 2:46-49; Dan 6:1-3).

Secara kronologis, Daniel termasuk salah satu nabi PL yang terakhir. Hanya Hagai, Zakharia, dan Maleakhi mengikutinya dalam aliran nubuat PL. Dia adalah rekan sezaman yang lebih muda dari Yeremia dan mungkin sama umurnya dengan Yehezkiel.

Tujuan
Ada dua maksud untuk penulisan kitab Daniel:

1. Untuk menenteramkan hati umat perjanjian PL bahwa hukuman pembuangan mereka di antara bangsa-bangsa kafir tidak akan menjadi nasib tetap mereka; dan
2. Untuk mewariskan kepada umat Allah sepanjang sejarah berbagai penglihatan bersifat nubuat tentang kedaulatan Allah atas bangsa-bangsa dan kemenangan terakhir kerajaan-Nya di bumi.
Kedua maksud ini ditunjukkan sepanjang kitab ini dalam kehidupan Daniel dan ketiga sahabatnya dan dilukiskan dalam nubuat dan pelayanan Daniel. Kitab ini menegaskan bahwa janji-janji Allah untuk memelihara dan mengembalikan umat perjanjian-Nya adalah sama pastinya dengan kerajaan Mesias yang akan datang yang akan bertahan selama-lamanya.

Survey
Isi kitab Daniel adalah paduan riwayat hidup, sejarah, dan nubuat. Bentuk tulisannya ialah sastra apokalips, yang artinya bahwa berita nubuatnya menyingkapkan penyataan Allah

1. Melalui berbagai penglihatan, mimpi, dan lambang,
2. Untuk memberikan semangat kepada umat Allah pada masa krisis dalam sejarah, dan
3. Untuk membayangkan pengharapan Israel mengenai kemenangan akhir kerajaan Allah dan kebenarannya di bumi (Lihat "PENDAHULUAN WAHYU").

Kitab ini dengan sendirinya terbagi menjadi tiga bagian utama.

1. Pasal 1 (Dan 1:1-21) ditulis dalam bahasa Ibrani dan memberikan latar belakang sejarah kitab ini.
2. Pasal 2-7 (Dan 2:1--7:28), dimulai Dan 2:4, ditulis dalam bahasa Aram, menggambarkan kebangkitan dan keruntuhan empat kerajaan yang kuat di dunia yang berturut-turut dan diikuti oleh penetapan Kerajaan Allah sebagai kerajaan yang kekal (khususnya pasal 2, 7; Dan 2:1-49; Dan 7:1-28). Pasal-pasal ini menekankan kedaulatan Allah atas dan campur tangan-Nya dalam hal ihwal manusia dan bangsa-bangsa dengan menguraikan:

a. Naiknya Daniel hingga kedudukan tinggi di istana Nebukadnezar (pasal 2; Dan 2:1-49);
b. Seseorang seperti "anak dewa" di dalam perapian yang menyala-nyala bersama ketiga kawan Daniel (pasal 3; Dan 3:1-30);
c. Kegilaan sementara Nebukadnezar sebagai hukuman Allah (pasal 4; Dan 4:1-37);
d. Peranan Daniel dalam perjamuan Belsyazar, yang menyatakan akhir kerajaan Babel (pasal 5; Dan 5:1-30);
e. Pembebasan ajaib Daniel dari gua singa (pasal 6; Dan 6:1-29); dan
f. Penglihatan mengenai empat kerajaan dunia berturut-turut yang dihakimi oleh "Yang Lanjut Usia" (pasal 7; Dan 7:1-28).

3 Dalam pasal 8-12 (Dan 8:1--12:13), Daniel kembali menulis dalam bahasa Ibrani dan menguraikan berbagai penyataan yang luar biasa dan kunjungan malaikat dari Allah mengenai:
a. Umat Yahudi di bawah pemerintahan kafir kelak (pasal 8-11; Dan 8:1--11:45),
b. Periode "tujuh puluh kali tujuh" sebagai waktu yang ditetapkan Allah untuk menyelesaikan misi Mesias demi mereka (pasal 9; Dan 9:1-27), dan
c. Pembebasan akhir mereka dari semua penganiayaan pada akhir zaman (pasal 12; Dan 12:1-13).

Berita nubuat Daniel ini mencakup dua dimensi:

1. Masa depan yang dekat dan,
2. Masa depan yang jauh, sekalipun sering kali keduanya terpadu.

Misalnya, dalam pasal 8,11 (Dan 8:1-27) dan (Dan 11:1-45), Daniel menubuatkan tentang lambang "antikristus" yaitu Antiokhus IV Epifanes, yang menajiskan Bait Suci Yerusalem pada tahun 168 SM, sedangkan ia juga bernubuat tentang antikristus akhir zaman (Dan 8:23-26; Dan 11:36-45; bd. Wahy 13:1-10). Hal saling mempengaruhi di antara dua masa depan ini secara umum menandai nubuat alkitabiah dan secara khusus nubuat Daniel. Allah menyatakan kepada Daniel bahwa nubuat tentang masa depan yang jauh adalah berita terselubung "sampai pada akhir zaman" (Dan 12:4,9), ketika pengertian akan diberikan kepada umat Allah yang di dalam kesucian dan hikmat mencari Dia untuk memperoleh pengertian sama seperti Daniel (Dan 12:3,10).

Ciri-ciri Khas
Delapan ciri utama menandai kitab ini.

1. Kitab ini adalah kitab nabi besar terpendek dan kitab nabi PL yang paling banyak dibaca dan dikaji.
2. Di bagian-bagian nubuat PB, Daniel disebut atau dikutip lebih sering daripada kitab PL lainnya.
3. Kitab ini merupakan kitab "Apokalips" PL, sebagaimana Wahyu untuk PB, yang menyatakan tema-tema nubuat akbar yang sangat penting bagi gereja akhir zaman.
4. Kitab ini berisi ringkasan sejarah nubuat paling terinci dalam PL. Dalamnya terdapat satu-satunya nubuat PL yang menetapkan waktu kedatangan pertama Mesias (Dan 9:24-27).
5. Kitab ini menerangkan lebih banyak tentang penulisnya daripada kitab nubuat PL lainnya (mungkin terkecuali Yeremia). Perhatikan khususnya bahwa Daniel ditandai sifat integritas yang tinggi, hikmat nubuat yang besar, dan ketekunan dalam doa dan berpuasa.
6. Kitab ini berisi teladan terpenting di Alkitab tentang doa syafaat untuk pemulihan umat Allah berlandaskan janji-janji diilhamkan dari firman Allah (lih. pasal 9; Dan 9:1-27, diilhamkan oleh Yer 25:11-16; Yer 29:7,10-14).
7. Kisah-kisah tentang Daniel dan kawan-kawannya termasuk kisah yang paling digemari dalam Alkitab (khususnya pasal 3, 6; Dan 3:1-30; Dan 6:1-29).
8. Drama "tulisan di dinding" pada perjamuan Belsyazar menjadikan frasa itu sebagian dari pepatah bahasa Inggris hingga hari ini.
Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Pengaruh Daniel terhadap PB jauh melampaui lima atau enam kali kitab ini dikutip langsung. Banyak dari sejarah dan nubuat Daniel muncul kembali dalam bagian-bagian nubuat di Injil-Injil, Surat-Surat, dan kitab Wahyu. Nubuat Daniel tentang kedatangan Mesias meliputi penggambaran diri-Nya sebagai:

1.Batu besar yang akan meremukkan kerajaan dunia (Dan 2:34-35,45),
2.Anak Manusia, yang akan diberikan kekuasaan, kemuliaan, dan suatu kerajaan oleh Yang Lanjut Usia (Dan 7:13-14), dan
3."Yang diurapi, seorang raja" yang akan datang lalu disingkirkan (Dan 9:25-26).

Beberapa penafsir percaya bahwa penglihatan Daniel dalam Dan 10:5-9 merupakan penampakan Kristus sebelum penjelmaan (bd. Wahy 1:12-16).

Daniel berisi banyak tema nubuat yang secara lengkap dikembangkan dalam PB; mis. kesengsaraan besar dan antikristus, kedatangan Tuhan kita kali kedua, kemenangan kerajaan Allah, kebangkitan orang benar dan orang fasik, dan hari penghakiman. Kehidupan Daniel dan ketiga kawannya menunjukkan ajaran PB tentang pemisahan pribadi dari dosa dan dunia, yaitu hidup di dunia yang tidak percaya tanpa ikut serta dalam suasana dan cara-caranya. (Dan 1:8; Dan 3:12; Dan 6:10; bd. Yoh 17:6,15-16,18; 2Kor 6:14--7:1).



VI
SURVEY KITAB NABI-NABI KECIL


KITAB HOSEA

Penulis : Hosea
Tema : Hukuman dan Kasih Penebusan Allah
Tanggal Penulisan : 715 - 710 SM

Latar Belakang
Hosea, yang namanya berarti "keselamatan", diperkenalkan sebagai putra Beeri (Hos 1:1). Tidak ada lagi yang diketahui tentang nabi ini selain beberapa kilasan otobiografis di dalam kitab itu sendiri. Hosea adalah penduduk Israel, bukan Yehuda, dan ia bernubuat kepada bangsanya sendiri. Hal ini tampak dari

1. Banyak acuannya kepada "Israel" dan "Efraim" (dua sebutan terkemuka bagi kerajaan utara) serta "Samaria" (ibu kota kerajaan utara),
2. Acuannya kepada raja Israel di Samaria sebagai "raja kita" (Hos 7:5), dan
3. Perhatiannya yang mendalam akan kebobrokan rohani, moral, politik dan sosial Israel.

Pelayanan Hosea kepada kerajaan utara terjadi segera setelah pelayanan Amos (seorang nabi Yehuda yang bernubuat kepada Israel). Hanya kitab nabi Amos dan Hosea di PL yang seluruh beritanya dialamatkan ke kerajaan utara dan menubuatkan kebinasaannya yang akan datang. Hosea dipanggil Allah untuk bernubuat kepada kerajaan Israel yang sedang ambruk selama sekitar 30 tahunnya yang terakhir, seperti yang kemudian dilakukan oleh Yeremia kepada Yehuda. Ketika Hosea memulai pelayanannya pada masa akhir pemerintahan Yerobeam II, Israel sedang mengalami kemakmuran ekonomi dan kestabilan politik untuk sementara waktu yang menciptakan rasaaman yang palsu. Akan tetapi, segera setelah Yerobeam II wafat (753 SM), keadaan bangsa itu mulai memburuk dengan pesat dan menuju kehancurannya yang terjadi pada tahun 722 SM. Dalam 15 tahun setelah kematiannya, empat raja Israel terbunuh; dalam 15 tahun lagi Samaria merupakan puing-puing berasap dan penduduk Israel dibuang ke Asyur dan kemudian disebarkan di antara berbagai bangsa. Pernikahan Hosea yang tragis dan firman nubuatnya dipadukan sebagai pesan Allah kepada Israel sepanjang tahun-tahun terakhir yang kacau menuju kehancurannya ini.

Allah memerintahkan Hosea untuk "kawini seorang perempuan sundal" (Hos 1:2) untuk melukiskan ketidaksetiaan rohani Israel kepada Allah. Sekalipun ada yang menafsirkan pernikahan Hosea sebagai kiasan khayalan, kebanyakan sarjana Alkitab yang konservatif memandangnya sebagai benar-benar terjadi. Akan tetapi, kelihatan tidak mungkin bahwa Allah akan memerintahkan seorang nabi yang saleh menikahi perempuan sundal untuk menggambarkan berita-Nya kepada Israel; rupanya kemungkinannya lebih besar bahwa Hosea menikahi Gomer ketika ia masih perawan dan kemudian ia menjadi pelacur. Jadi, perintah untuk "kawinilah seorang perempuan sundal" diberikan sebagai nubuat yang mengantisipasi apa yang akan terjadi. Latar belakang sejarah pelayanan Hosea disebutkan sebagai dalam pemerintahan Yerobeam II dari Israel dan empat raja Yehuda (Uzia, Yotam, Ahas dan Hizkia; lih. Hos 1:1) -- yaitu, sekitar 755-715 SM -- yang tidak hanya menjadikannya rekan sezaman yang lebih muda daripada Amos, tetapi juga dari Yesaya dan Mikha. Kenyataan bahwa Hosea menetapkan tanggal dari sebagian besar pelayanannya dengan mengacu kepada empat raja Yehuda dan bukan kepada masa pemerintahan yang singkat dari enam raja Israel terakhir, mungkin menunjukkan bahwa ia melarikan diri dari kerajaan utara untuk tinggal di Yehuda menjelang kehancuran Samaria, oleh Asyur (tahun 722 SM); di sanalah dia menyusun nubuat-nubuatnya menjadi kitab yang berjudul namanya ini.

Tujuan
Nubuat Hosea adalah usaha terakhir Allah untuk memanggil orang Israel supaya bertobat dari penyembahan berhala dan kefasikan mereka yang tak kunjung berakhir sebelum menyerahkan mereka kepada hukuman penuh atas dosa-dosa mereka. Kitab ini ditulis untuk menyatakan

1. Bahwa Allah mempertahankan kasih-Nya kepada umat perjanjian-Nya dan dengan sungguh-sungguh ingin menebus mereka dari kejahatan mereka, dan
2. Bahwa hal-hal menyedihkan terjadi apabila orang terus-menerus tidak menaati Allah dan menolak kasih-Nya yang menebus.

Ketidaksetiaan istri Hosea dicatat sebagai gambaran ketidaksetiaan Israel kepada Allah. Gomer mengejar-ngejar laki-laki lain, sedangkan Israel mengejar-ngejar dewa-dewa lain; Gomer melakukan zina jasmaniah, sedangkan Israel zina rohani.

Survey
Pasal 1-3 (Hos 1:1--3:5) menerangkan pernikahan Hosea kepada Gomer. Nama ketiga anak mereka adalah tanda-tanda nubuat bagi Israel: Yizreel ("Allah mencerai-beraikan"), Lo-Ruhama ("Tidak dikasihi") dan Lo-Ami ("Bukan umat-Ku"). Kasih Hosea yang tekun kepada istrinya yang pezina melambangkan ketabahan kasih Allah kepada Israel.

Pasal 4-14 (Hos 4:1--14:10) berisi serangkaian nubuat oleh Hosea yang menyamakan ketidaksetiaan Israel dengan ketidaksetiaan istrinya. Perbuatan Gomer yang meninggalkan Hosea untuk kekasih lainnya (pasal 1; Hos 1:1-22) melambangkan Israel yang meninggalkan Allah (pasal 4-7; Hos 4:1--7:16). Gomer direndahkan (pasal 2; Hos 2:1-22) untuk melambangkan rasa malu dan hukuman atas Israel (pasal 8-10; Hos 8:1--10:15). Perbuatan Hosea yang menebus Gomer dari pasar budak (pasal 3; Hos 3:1-5) melambangkan keinginan dan rencana Allah untuk memulihkan Israel di masa depan (pasal 11-14; Hos 11:1--14:10). Kitab ini menekankan bahwa karena Israel telah menolak kasih Allah dan panggilan-Nya untuk bertobat, maka hukuman tidak bisa ditunda lagi.


Ciri-ciri Khas
Tujuh ciri utama menandai kitab Hosea.

1. Inilah kitab pertama dalam kumpulan PL yang namanya "Kitab Dua Belas" atau juga dikenal dengan nama "Nabi-Nabi Kecil" ("kecil" karena singkat dibandingkan dengan Yesaya, Yeremia, dan Yehezkiel).
2. Hosea adalah satu dari hanya dua nabi dari utara yang menulis kitab nubuat di PL (yang lain adalah Yunus).
3. Seperti halnya Yeremia dan Yehezkiel, pengalaman pribadi Hosea melukiskan berita nubuatnya.
4. Kitab ini berisi sekitar 150 pernyataan tentang dosa-dosa Israel, dan lebih dari separuhnya berkaitan dengan penyembahan berhala.
5. Melebihi nabi PL lainnya, Hosea mengingatkan Israel bahwa Tuhan telah sabar dan setia dalam kasih-Nya terhadap mereka.
6. Tidak ada tatanan khusus dari nubuat-nubuat Hosea dalam bagian utama kitab ini (pasal 4-14; Hos 4:1--14:10); sulit untuk mengetahui akhir sebuah nubuat dan awal nubuat berikutnya.
7. Nubuat-nubuat kitab Hosea penuh dengan kiasan-kiasan yang hidup, kebanyakan diambil dari daerah pedesaan.

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Kitab Hosea mempunyai beberapa ayat yang dikutip oleh PB sebagai tergenapi di dalam Yesus Kristus:

1. Pemanggilan putra Allah dari Mesir (Hos 11:1; bd. Mat 2:15);
2. Kemenangan Kristus atas kematian (Hos 13:14; bd. 1Kor 15:55);
3. Kerinduan Allah akan kasih setia bukan korban sembelihan (Hos 6:6; bd. Mat 9:13; Mat 12:7); dan,
4. Orang bukan Yahudi yang bukan umat Allah, kini menjadi umat Allah (Hos 1:6,9-10; Hos 2:22; bd. Rom 9:25-26; 1Pet 1:10).

Selain dari ayat-ayat khusus, PB memperluas tema kitab ini tentang Allah sebagai suami umat-Nya, dalam hal Kristus menjadi mempelai laki-laki dari mempelai wanita yang ditebus, gereja (lih 1Kor 11:2; Ef 5:22-32; Wahy 19:6-9; Wahy 21:1-2,9-10*). Hosea menekankan berita PB mengenai perlunya pengenalan akan Allah untuk memasuki hidup (Hos 2:19; Hos 4:6; Hos 5:15; Hos 6:3,6*; bd. Yoh 17:1-3). Terpadu dengan berita ini, Hosea dengan jelas menunjukkan hubungan langsung di antara dosa yang terus-menerus dengan hukuman yang tidak terelakkan. Kedua penekanan utama Hosea dirangkum Paulus dalam Rom 6:23, "Upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup
yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita."



KITAB YOEL

Penulis : Yoel
Tema : Hari Tuhan yang Besar dan Mengagumkan
Tanggal Penulisan : 835-830 SM (?)

Latar Belakang
Yoel, yang namanya berarti "Tuhan adalah Allah", memperkenalkan dirinya sebagai "bin Petuel" (Yoel 1:1). Banyaknya acuan ke Sion dan pelayanan di dalam Bait Suci sepanjang kitab ini menunjukkan bahwa ia seorang nabi kepada Yehuda dan Yerusalem. Keakrabannya dengan imam-imam menyebabkan beberapa orang mengira bahwa dia seorang nabi "imam" (bd. Yer 28:1,5) yang mengucapkan firman Tuhan yang sejati.

Karena Yoel tidak menyebutkan raja atau peristiwa bersejarah yang diketahui tanggalnya, maka saat pelayanan dan berita nubuatnya tidak pasti. Beberapa orang beranggapan bahwa pelayanan Yoel terjadi setelah para buangan Yahudi kembali ke Yerusalem dan membangun kembali Bait Suci (+ 510-400 SM). Pada waktu ini tidak ada raja di Yehuda dan para pemimpin rohani yang terkemuka adalah imam. Orang lain beranggapan bahwa berita Yoel terjadi sementara masa awal pemerintahan Raja Yoas (835-830 SM) yang naik takhta Yehuda pada usia 7 tahun (2Raj 11:21) dan tetap berada di bawah perwalian imam besar Yoyada selama ia di bawah umur; situasi itu mungkin menjelaskan keunggulan para imam dalam kitab ini dan tidak adanya acuan kepada raja. Tema nubuat
dan gaya sastra Yoel lebih dekat dengan nabi-nabi abad kedelapan, Amos, Mikha, dan Yesaya daripada dengan nabi-nabi pasca-pembuangan seperti Hagai, Zakharia dan Maleakhi. Semua fakta ini dan beberapa fakta lainnya cenderung mengarah ke abad ke-9 SM sebagai latar belakang kitab ini.

Peristiwa langsung yang mengakibatkan penulisan kitab ini ialah serbuan belalang dan musim kering yang hebat, perpaduan yang menghancurkan hampir setiap lapisan masyarakat Yehuda. Kemampuan wabah belalang untuk melahap segala sesuatu yang hijau seluas beberapa mil persegi cukup sering terjadi di wilayah itu pada zaman dahulu dan sekarang.

Tujuan
Yoel berkhotbah dan menulis karena dua bencana alam yang baru terjadi serta kemungkinan adanya serbuan pasukan asing ke Yehuda tidak lama lagi. Tujuannya itu lipat tiga:

1. Untuk mengumpulkan umat itu di hadapan Tuhan dalam suatu perkumpulan raya yang kudus (Yoel 1:14; Yoel 2:15-16); Untuk menasihati mereka agar bertobat dan dengan rendah hati kembali
2. Kepada Tuhan Allah dengan berpuasa, menangis, berkabung, dan bersyafaat memohon kemurahan Allah (Yoel 2:12-17); dan
3. Untuk mencatat firman nubuat Allah kepada umat-Nya pada saat mereka sungguh-sungguh bertobat (Yoel 2:18--3:21).

Survey
Isi kitab ini terbagi atas tiga bagian.

1. Bagian satu (Yoel 1:2-20) menggambarkan kehancuran Yehuda ketika pasukan belalang yang besar melahap daun-daunan dari kebun anggur, pohon, dan ladang mereka (Yoel 1:7,10), dengan demikian mendatangkan kesengsaraan besar atas umat itu. Di tengah malapetaka itu, nabi Yoel meminta para pemimpin rohani Yehuda untuk memimpin bangsa itu kepada pertobatan nasional (Yoel 1:13-14).
2. Bagian dua (Yoel 2:1-17) mencatat dekatnya hukuman Allah yang bahkan lebih besar lagi dari utara (Yoel 1:1-11), baik dalam bentuk

a. Bencana belalang lain yang secara kiasan dilukiskan sebagai pasukan perusak, atau
b. Serbuan sebuah pasukan asing yang sungguh. Sekali lagi sang nabi mencanangkan tanda bahaya rohani di Sion (Yoel 2:1,15), memanggil perkumpulan raya yang kudus di mana para imam dan seluruh bangsa itu dengan sungguh-sungguh akan mencari kemurahan Allah didalam pertobatan, puasa, syafaat dan kehancuran yang ikhlas dihadapan-Nya (Yoel 2:12-17).

3. Bagian terakhir (Yoel 2:18--3:21) diawali dengan pernyataan bahwa Allah mengasihani umat-Nya ketika melihat pertobatan mereka yang sungguh-sungguh (kata kerja Ibrani dalam Yoel 2:18-19 menunjuk tindakan yang sudah dikerjakan).

Pertobatan Yehuda yang rendah hati dan kemurahan Allah yang besar menjadi alasan bagi nubuat-nubuat Yoel tentang masa depan, yang mencakup janji-janji pemulihan (Yoel 2:19-27), pencurahan Roh Kudus atas seluruh umat manusia (Yoel 2:28-31) dan hukuman dan keselamatan Allah pada akhir zaman (Yoel 3:1-21).

Ciri-ciri Khas
Lima ciri utama menandai kitab ini.

1. Kitab ini menjadi salah satu adikarya sastra yang terindah dalam PL.
2. Kitab ini berisi nubuat PL yang paling terkemuka tentang pencurahan Roh Kudus atas seluruh umat manusia pada hari Pentakosta.
3. Kitab ini mencatat banyak malapetaka nasional -- bencana belalang, kekeringan dan kelaparan, kebakaran, serbuan pasukan asing, bencana-bencana di langit -- sebagai hukuman Allah atas kemerosotan rohani dan moral.
4. Kitab ini menekankan bahwa Allah kadang-kadang bekerja secara berdaulat di dalam sejarah melalui bencana-bencana alam dan serbuan pasukan supaya mendatangkan pertobatan, kebangunan rohani dan penebusan.
5. Kitab ini memperagakan seorang pengkhotbah kenabian yang, karena hubungannya dekat dengan Allah dan keunggulan rohani, dapat memanggil umat Allah secara meyakinkan untuk bertobat sebagai bangsa pada masa krisis dalam sejarah mereka dan menghasilkan hal-hal positif melalui pertobatan itu.

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Beberapa ayat kitab Yoel sangat menyumbang kepada berita PB.

1. Nubuat tentang kedatangan Roh Kudus (Yoel 2:28-32) secara khusus dikutip Petrus dalam khotbahnya pada hari Pentakosta (Kis 2:16-21), setelah Roh Kudus turun dari sorga dengan kuasa atas 120 anggota gereja mula-mula dengan manifestasi-manifestasi rohani berupa berbicara dalam bahasa roh, bernubuat, dan memuji Allah (Kis 2:4,6-8,11,17-18).
2. Lagi pula, ajakan Petrus kepada banyak orang yang berkumpul pada hari raya Yahudi itu mengenai perlunya berseru kepada nama Tuhan dan menerima keselamatan telah diilhami (sebagian) oleh apa yang dikatakan Yoel (Yoel 2:32; Yoel 3:14, lih. Kis 2:21,37-41); Paulus juga mengutip ayat yang sama dari Yoel (lih Rom 10:13).
3. Tanda-tanda apokaliptis di langit yang dinubuatkan Yoel akan terjadi pada akhir zaman (Yoel 2:30-31) bukan saja dikutip oleh Petrus (Kis 2:19-20) tetapi juga diacu oleh Yesus (mis. Mat 24:29) dan Yohanes di Patmos (Wahy 6:12-14)
4. Akhirnya, nubuat Yoel tentang penghakiman Allah atas bangsa-bangsa di Lembah Yosafat (Yoel 3:2,12-14) dikembangkan lebih jauh dalam kitab terakhir di Alkitab (Wahy 14:18-20; Wahy 16:12-16; Wahy 19:19-21; Wahy 20:7-9).

Ada unsur masa kini dan masa depan dalam semua penerapan kitab Yoel oleh PB ini Karunia-karunia Roh yang mulai mengalir melalui umat Allah pada hari Pentakosta masih tersedia bagi orang percaya hari ini (bd. 1Kor 12:1--14:40). Demikian pula, ayat-ayat yang langsung mendahului nubuat Yoel tentang Roh Kudus (yaitu gambaran masa menuai dari hujan musim gugur dan musim semi, Yoel 2:23-27) dan ayat-ayat setelah itu (yaitu tanda-tanda di langit pada akhir zaman, Yoel 2:30-32) menunjukkan bahwa nubuat tentang pencurahan Roh Kudus (Yoel 2:28-29) mencakup bukan hanya hujan awal Roh Kudus pada hari Pentakosta, tetapi juga pencurahan akhir Roh Kudus atas seluruh umat manusia pada akhir zaman.


KITAB AMOS

Penulis : Amos
Tema : Keadilan, Kebenaran dan Hukuman Ilahi Karena Dosa
Tanggal Penulisan : + 760 - 755 SM

Latar Belakang
Amos adalah seorang nabi abad ke-8 SM, rekan sezaman Yesaya dan Mikha di Yehuda, dan Yunus serta Hosea di Israel. Ia menyatakan empat fakta penting tentang dirinya dalam Am 1:1.

1. Ia adalah seorang peternak (yang juga "pemungut buah ara hutan", lih. Am 7:14) dari Tekoa, sebuah desa Yehuda sekitar 19 km sebelah selatan Yerusalem.
2. Amos "melihat" beritanya (yaitu, ia mendapat beberapa penglihatan nubuat; bd. Am 7:1,4,7; Am 8:1-2; Am 9:1) mengenai Israel, kerajaan utara. Sekalipun dia orang awam tanpa status nabi yang resmi, Allah memberikan kepadanya beban dan pelayanan kenabian bagi Israel yang memberontak (bd. Am 7:14-15); namanya berarti "terbeban" atau "pemikul beban."
3. Pelayanan Amos kepada Israel terjadi ketika Uzia menjadi raja Yehuda dan Yerobeam II raja Israel. Masa pemerintahan kedua raja ini saling tumpang tindih pada tahun 767-753 SM. Sangat mungkin Amos melayani sekitar 760-755 SM.
4. Amos bernubuat dua tahun sebelum "gempa bumi".

Para ahli purbakala telah menemukan bukti terjadinya sebuah gempa bumi besar yang merusak dari waktu ini di beberapa tempat di Israel, termasuk ibukotanya Samaria. Zakharia juga menyebutkan gempa bumi yang sama (Za 14:5) lebih dari 200 tahun kemudian, serta menyatakan bahwa gempa itu sangat besar. Acuan oleh Amos menyinggung bahwa ia memandangnya sebagai pengesahan dari berita dan pelayanannya sebagai nabi kepada Israel (bd. Am 9:1).

Ketika Amos bernubuat kepada kerajaan utara pada pertengahan abad ke-8 SM, bangsa itu secara lahiriah berada di puncak perluasan wilayah, stabilitas politik dan kemakmuran nasional, tetapi secara batiniah sudah bobrok. Kemunafikan dan penyembahan berhala sudah merata, masyarakat hidup mewah secara berlebihan, kebejatan merajalela, sistem peradilan rusak dan penindasan orang miskin merupakan kebiasaan umum. Dalam rangka mengikuti panggilan Allah, Amos pergi ke Betel, tempat tinggal raja Yerobeam II dan pusat agama yang dibanjiri para penyembah. Di sanalah Amos dengan berani emberitakan berita keadilan, kebenaran dan hukuman ilahi karena dosa kepada umat yang tidak mau mendengarkan apa yang dikatakan Tuhan kepada mereka.

Tujuan
Kemakmuran Israel hanyalah memperdalam kebobrokan mereka. Ketika Allah dalam kemurahan-Nya mengutus Amos ke Betel untuk memberitakan amanat "bertobat atau mati", sang nabi diusir dari kota itu dan diperintahkan jangan bernubuat di situ lagi (bd. tanggapan Niniwe kepada berita Yunus). Pada waktu itu atau tidak lama sesudah itu, rupanya Amos pulang ke rumahnya di Yehuda dan menulis beritanya. Maksudnya melakukan itu adalah:

1. Menyampaikan sebuah salinan tertulis dari peringatan kenabiannya kepada Raja Yerobeam II.
2. Menyebarluaskan berita di Israel (dan Yehuda) tentang kepastian hukuman Allah yang menjelang atas Israel dan bangsa-bangsa di sekitarnya kecuali mereka bertobat dari penyembahan berhala, kebejatan dan ketidakadilan. Kebinasaan Israel terjadi hanya 30 tahun kemudian.

Survey
Kitab ini dengan sendirinya terbagi ke dalam tiga bagian utama.
1. Dalam bagian pertama (Am 1:3--2:16), Amos pertama-tama mengalamatkan berita hukuman kepada tujuh bangsa di sekitar Israel, termasuk Yehuda. Setelah pada mulanya membujuk Israel hingga dengan senang hati menyetujui hukuman Allah atas bangsa-bangsa lain (Am 1:3--2:5), maka Amos dengan jelas menguraikan dosa-dosa Israel dan hukuman Allah atas mereka (Am 2:6-16). Bagian ini menentukan suasana untuk berita penghukuman kitab ini, yang menghasilkan kebinasaan dan pembuangan bangsa itu.
2. Bagian kedua (Am 3:1--6:14) mencatat tiga berita tegas, yang masing-masing dimulai dengan frase "Dengarlah firman ini" (Am 3:1; Am 4:1; Am 5:1). Dalam berita yang pertama, Allah menuduh Israel sebagai umat yang diistimewakan yang telah dibebaskan-Nya dari Mesir; "Hanya kamu yang Kukenal dari segala kaum di muka bumi, sebab itu Aku akan menghukum kamu karena segala kesalahanmu" (Am 3:2). Berita kedua diawali dengan menyapa wanita-wanita Israel yang makmur di Samaria sebagai "lembu-lembu Basan ... yang memeras orang lemah, yang menginjak orang miskin, yang mengatakan kepada tuan-tuanmu: 'bawalah ke mari, supaya kita minum-minum!' " (Am 4:1). Amos bernubuat bahwa mereka akan digiring kedalam tawanan dengan kait dan kail sebagai hukuman yang layak dari Allah (Am 4:2-3). Amos mempunyai kata-kata yang sama bagi pedagang yang tidak jujur, penguasa korup, pengacara dan hakim yang mencari untung, dan para imam dan nabi yang berkompromi. Berita ketiga (pasal 5-6; Am 5:1--6:14) mencatat dosa-dosa Israel yang menjijikkan, dan Amos mengimbau mereka untuk bertobat. "Celaka atas orang-orang yang merasa aman di Sion" (Am 6:1); kehancuran dahsyat dan hukuman atas dosa sedang datang.
3. Bagian utama terakhir (Am 7:1--9:10) mencatat lima penglihatan nubuat Amos mengenai hukuman Allah yang menjelang. Penglihatan keempat secara jelas sekali menggambarkan Israel sebagai keranjang dengan buah musim kemarau yang ranum, yang segera akan disingkapkan sebagai membusuk dalam panasnya hukuman Allah (Am 8:1-14). Penglihatan terakhir melihat Allah sedang berdiri dekat mezbah, siap memukul ibu kota Samaria dan kerajaan yang merosot itu (Am 9:1-10). Kitab ini ditutup dengan janji yang singkat tetapi mengesankan tentang pemulihan kaum sisa yang selamat di masa depan (Am 9:11-15).

Ciri-ciri Khas
Enam ciri utama menandai kitab Amos.

1. Kitab ini terutama merupakan seruan kenabian untuk keadilan dan kebenaran, berdasarkan sifat Allah. Sedangkan hati Hosea hancur oleh ketidaksetiaan Israel kepada Allah, Amos sangat marah atas pelanggaran Israel terhadap standar-standar keadilan dan kebenaran Allah bagi umat-Nya.
2. Kitab ini secara jelas melukiskan betapa jijiknya agama bagi Allah ketika dipisahkan dari perilaku yang benar dalam hidup sehari-hari.
3. Kitab ini bersifat konfrontasi yang tidak tanggung-tanggung dan penuh semangat. Konfrontasi Amos dengan imam Amazia (Am 7:10-17) merupakan adegan yang istimewa dalam nubuat Ibrani.
4. Gaya yang tegas dan penuh semangat mencerminkan kesetiaan sang nabi yang kuat dan kokoh kepada Allah dan standar-standar kebenaran-Nya bagi umat perjanjian itu.
5. Kitab ini menunjukkan kesediaan dan kesiapan Allah memakai orang-orang yang takut akan Allah, meskipun mereka tidak memiliki mandat kependetaan yang formal untuk memberitakan amanat-Nya pada zaman profesionalisme ini.
6. Kitab ini berisi banyak bagian terkenal, di antaranya ialah: Am 3:3,7; Am 4:6-12; Am 5:14-15,21-24; Am 6:1; Am 7:8; Am 8:11; Am 9:13.

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Berita Amos adalah tampak dengan jelas sekali dalam ajaran Yesus dan kitab Yakobus. Yesus dan Yakobus keduanya menerapkan berita Amos bahwa ibadah yang sejati kepada Allah bukanlah pelaksanaan formal dari tatacara agama, tetapi "mendengar" dan "melaksanakan" kehendak Allah, yang ditunjukkan dengan perlakuan yang adil dan benar terhadap sesama manusia (mis. Mat 7:15-27; Mat 23:1-39; Yak 2:1-26). Juga, Amos dan Yakobus menekankan prinsip bahwa "agama yang sejati menuntut perilaku yang benar". Akhirnya, Yakobus mengutip Am 9:11-12 pada Sidang di Yerusalem (lih. Kis 15:16-18) dalam hubungan dengan penerimaan orang bukan Yahudi di dalam gereja.


KITAB OBAJA

Penulis : Obaja
Tema : Hukuman atas Edom
Tanggal Penulisan : + 840 SM

Latar Belakang
Penulis kitab yang pendek ini ialah seorang nabi bernama Obaja; di dalam kitab ini, keturunan dan keterangan lain tentang hidupnya tidak diberikan. Nama "Obaja" cukup umum, dan berarti "hamba Tuhan"; 12 atau 13 orang dalam Alkitab memakai nama ini (mis. 1Raj 18:3-16; 2Taw 17:7; 2Taw 34:12-13).

Apakah Obaja yang menulis kitab ini disebut di lain tempat dalam PL tergantung pada tanggal nubuatnya. Karena tidak disebutkan seorang raja, kita tidak mengetahui dengan pasti tanggal penulisan kitab ini. Satu-satunya fakta sejarah yang disinggung dalam teksnya ialah saat orang Edom bersukacita atas suatu penyerbuan Yerusalem, dan bahkan ikut serta dalam menjarahnya (ayat Ob 1:11-14); akan tetapi, tidak jelas penyerbuan mana terhadap Yerusalem yang dimaksudkan Obaja. Ada lima penyerbuan penting
sepanjang zaman PL:

1. Oleh Sisak, raja Mesir tahun 926 SM, di masa pemerintahan Rehabeam (1Raj 14:25-26);
2. Oleh pasukan Filistin dan Arab pada masa pemerintahan Yoram sekitar tahun 848-841 SM (lih. 2Taw 21:16-17);
3. Oleh Raja Yoas dari Israel pada masa pemerintahan Amazia sekitar tahun 790 SM (lih. 2Raj 14:13-14);
4. Oleh Sanherib, raja Asyur, pada masa pemerintahan Hizkia tahun 701 SM (2Raj 18:13); dan
5. Oleh pasukan Babel selama tahun 605-586 SM (2Raj 24-25:30).

Sebagian besar ahli percaya bahwa Obaja bernubuat pada masa (2) atau (5). Kebinasaan Yerusalem oleh Nebukadnezar kelihatannya kurang mungkin dari keduanya karena tidak disebut tentang kebinasaan seluruh Yerusalem atau diangkutnya penduduknya ke dalam pembuangan. Nabi yang lain ketika mengacu kepada kebinasaan Yerusalem selalu memperkenalkan musuh itu sebagai Nebukadnezar dan Babel, bukan hanya "orang-orang
luar" dan "orang-orang asing" (ayat Ob 1:11). Demikianlah peristiwa yang mengakibatkan nubuat Obaja sangat mungkin yang kedua di atas, ketika pasukan Filistin dan Arab menjarah Yerusalem. Menjelang terjadinya peristiwa ini, orang Edom (yang dikuasai Yerusalem) telah berhasil membebaskan diri (2Taw 21:8-10). Sukacita mereka atas kejatuhan Yerusalem tidak lama sesudah itu dapat dipahami. Karena masa pemerintahan Yoram adalah 848-841 SM, dan karena penjarahan Yerusalem telah terjadi ketika Obaja menulis, maka 840 SM merupakan tanggal yang mungkin bagi penulisan kitab ini.

Sebagian dari latar belakang nubuat ini mengingatkan kembali pada Kej 25:19-34; Kej 27:1--28:9 yaitu persaingan berkepanjangan di antara Esau (bapak orang Edom) dan Yakub (bapak ke-12 suku Israel). Sekalipun kita membaca dalam kitab Kejadian tentang perdamaian kedua saudara ini (Kej 33:1-20), kebencian di antara keturunan mereka sering kali menimbulkan pertempuran sepanjang sejarah alkitabiah (bd. Bil 20:14-21; 1Sam 14:47; 2Sam 8:14; 1Raj 11:14-22*). Sesuai dengan sejarah permusuhan mereka, orang Edom bersukacita karena kesulitan Yerusalem.

Tujuan
Kitab nubuat ini ditulis

1. Untuk menyatakan murka Allah yang hebat terhadap Edom karena sukacita mereka atas penderitaan Yehuda, dan
2. Untuk menyampaikan firman Allah tentang hukuman yang akan datang atas Edom.

Obaja menubuatkan hasil akhir dari tindakan Allah: bagi orang Edom --kebinasaan; bagi umat Allah Israel -- pembebasan pada hari Tuhan yang akan datang.

Survey
Kitab Obaja terdiri atas dua bagian utama. Di dalam bagian pertama (ayat Ob 1:1-14), Allah mengungkapkan melalui sang nabi ketidaksenangan-Nya dengan Edom dan menuntut pertanggungjawaban karena dosa-dosa mereka, khususnya dosa kesombongan (karena perlindungan geografis) dan dosa sukacita atas jatuhnya Yehuda. Hukuman Allah yang diramalkan akan mendatangi mereka, dan sang nabi tidak menawarkan harapan untuk penangguhan berdasarkan ajakan untuk bertobat dan berbalik kepada Tuhan; mereka akan dimusnahkan untuk selama-lamanya (ayat Ob 1:10). Bagian kedua (ayat Ob 1:15-21) bernubuat tentang kedatangan hari Tuhan ketika Edom dan semua musuh Allah
akan dibinasakan, sedangkan umat Allah diselamatkan dan kerajaan-Nya menang.

Ciri-ciri Khas
Empat ciri utama menandai nubuat Obaja.

1. Kitab ini adalah kitab PL yang paling pendek.
2. Obaja menjadi salah seorang dari tiga nabi yang dipanggil Allah untuk mengalamatkan berita tertulis mereka hampir seluruhnya kepada bangsa lain dan bukan kepada Israel atau Yehuda (kedua nabi lain adalah Yunus dan Nahum).
3. Ada banyak persamaan di antara kitab Obaja dengan Yer 49:7-22.
4. Kitab ini tidak dikutip atau disebut dalam PB.

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Walaupun PB tidak secara langsung mengacu kepada Obaja, sengketa di antara Esau dan Yakub yang mendasari kitab ini juga diuraikan dalam PB. Paulus menunjuk kepada persaingan Esau-Yakub dalam Rom 9:10-13, tetapi melanjutkannya dengan mengingatkan kita akan berita pengharapan Allah: semua yang bertobat dari dosa-dosa mereka, Yahudi atau bukan Yahudi, dan berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan (Rom 10:9-13; Rom 15:7-12).


KITAB YUNUS

Penulis : Yunus
Tema : Luasnya Kasih Sayang Allah yang Menyelamatkan
Tanggal Penulisan : + 760 SM

Latar Belakang
Yunus, yang namanya berarti "merpati", diperkenalkan sebagai putra Amitai (Yun 1:1). Ia disebut dalam 2Raj 14:25 sebagai:
1. Nabi kepada kerajaan utara Israel semasa pemerintahan Yerobeam II (793-753 SM);
2. Ia berasal dari Gat-Hefer, tiga sampai lima kilometer utara Nazaret di Galilea.

Jadi, orang Farisi salah ketika mengatakan bahwa tidak pernah ada nabi dari Galilea (Yoh 7:52). Pelayanan nubuat Yunus terjadi tidak lama sesudah masa pelayanan Elisa (bd. 2Raj 13:14-19), bertumpang-tindih dengan masa pelayanan Amos (bd. Am 1:1) dan diikuti oleh pelayanan Hosea (bd. Hos 1:1). Sekalipun kitab ini tidak menunjukkan penulisnya, sangat mungkin penulis itu Yunus sendiri. Pertobatan Niniwe sebagai tanggapan terhadap pemberitaan Yunus sangat mungkin terjadi pada masa pemerintahan salah seorang dari dua raja Asyur:

1. Adad-nirari III (810-783 SM) yang pemerintahannya ditandai oleh peralihan ke monoteisme, atau
2. Asyurdan III (733-755 SM) yang pemerintahannya mengalami dua wabah besar (765 dan 759 SM) serta sebuah gerhana matahari (763 SM), yang masing-masing mungkin ditafsirkan sebagai tanda hukuman ilahi sehingga mempersiapkan ibu kota Asyur itu untuk menerima berita nubuat Yunus.
Niniwe terletak sekitar 800 kilometer timur laut Galilea.

Tujuan
Kitab ini tampaknya ditulis dengan tiga tujuan:

1. Untuk menunjukkan kepada Israel dan bangsa-bangsa lainnya besarnya dan luasnya kasih sayang tindakan Allah yang menyelamatkan melalui pemberitaan pertobatan;
2. Untuk menunjukkan melalui pengalaman Yunus betapa jauhnya Israel telah jatuh dari panggilan misioner yang semula untuk menjadi terang penebusan bagi orang-orang yang tinggal dalam gelap (Kej 12:1-3; Yes 42:6-7; Yes 49:6); dan
3. Untuk memperingatkan Israel yang murtad bahwa Allah dalam kasih dan kemurahan-Nya telah mengutus bukan hanya satu tetapi banyak nabi setia yang menyampaikan berita pertobatan-Nya agar menghindarkan hukuman atas dosa yang tak dapat dielakkan.

Tetapi berbeda dengan Niniwe, Israel telah menolak nabi-nabi Allah dan tawaran-Nya untuk bertobat dan menerima kemurahan-Nya.

Survey
Kitab Yunus mengisahkan panggilan sang nabi untuk pergi ke Niniwe dan tanggapannya. Pasal 1 (Yun 1:1-17) menceritakan ketidaktaatan Yunus pada mulanya serta hukuman Allah sesudah itu. Yunus tidak pergi ke timur laut ke Niniwe, malah naik kapal yang berlayar ke barat ke Tarsis (di Spanyol), tujuan terjauh yang mungkin ke arah yang berlawanan dengan kehendak Allah. Tidak lama kemudian Yunus menghadapi tindakan balasan Allah dalam bentuk badai besar di Laut Tengah, dipermalukan karena ketahuan para pelaut sehingga dibuang ke laut. Dengan takdir Tuhan telah tersedia seekor "ikan besar" yang siap menyelamatkan hidupnya. Pasal 2 (Yun 2:1-10) mengisahkan doa Yunus dari ruangan unik di dalam perut ikan, ketika ia bersyukur kepada Allah karena menyelamatkan hidupnya, berikrar untuk menaati panggilan Allah, lalu dimuntahkan oleh ikan itu ke darat. Pasal 3 (Yun 3:1-10) mengisahkan kesempatan kedua bagi Yunus untuk pergi ke Niniwe dan pemberitaan amanat Allah kepada penduduk kota itu. Dalam peristiwa kebangunan rohani satu kota yang paling mengesankan dalam sejarah, raja Niniwe menyerukan agar seluruh kota berpuasa dan bertobat, sehingga mereka diselamatkan dari hukuman Allah. Pasal 4 (Yun 4:1-11) berisi keluhan Yunus kepada Allah karena meluputkan kota yang memusuhi Israel ini. Dengan menggunakan pohon jarak, seekor cacing dan angin timur, Allah mengajarkan nabi-Nya yang marah-marah bahwa Dia senang menyediakan kasih karunia-Nya bagi setiap orang, bukan hanya Israel dan Yehuda.

Ciri-ciri Khas
Empat ciri utama menandai kitab ini.

1. Kitab ini salah satu di antara hanya dua kitab nubuat PL yang ditulis seorang nabi yang lahir dan dibesarkan di kerajaan utara Israel (yang lain adalah Hosea).
2. Kitab ini merupakan karya agung gaya sastra cerita prosa yang singkat; hanya doa ucapan syukur Yunus (Yun 2:2-9) ditulis dalam bentuk syair.
3. Kitab ini penuh dengan tindakan adikodrati Allah; selain dari penetapan waktu badai yang diatur dan munculnya si ikan besar, ada ponon jarak, seekor cacing dan angin timur, dan (yang paling hebat) pertobatan seluruh kota Niniwe.
4. Kitab ini berisi berita PL yang terjelas bahwa kasih karunia Allah yang menyelamatkan adalah bagi orang bukan Yahudi dan juga orang Yahudi.

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Yesus menyamakan diri-Nya dengan Yunus, "Angkatan yang jahat dan tidak setia ini menuntut suatu tanda. Tetapi kepada mereka tidak akan diberikan tanda selain tanda nabi Yunus. Sebab seperti Yunus tinggal di dalam perut ikan tiga hari tiga malam, demikian juga Anak Manusia akan tinggal di dalam rahim bumi tiga hari tiga malam. Pada waktu penghakiman, orang-orang Niniwe akan bangkit bersama angkatan ini dan menghukumnya juga. Sebab orang-orang Niniwe itu bertobat setelah mendengar pemberitaan Yunus, dan sesungguhnya yang ada di sini lebih daripada Yunus!" (Mat 12:39-41).

Keterandalan Sejarah Kitab Ini

Para teolog liberal dan orang tidak percaya memandang kitab ini sebagai kisah khayal yang dibuat antara abad ke-5 sehingga abad ke-3 SM yang dimaksudkan untuk menentang nasionalisme Yahudi yang sempit dalam Yudaisme pasca pembuangan. Menurut pandangan ini, kitab Yunus tidak berisi peristiwa-peristiwa sejarah yang aktual. Akan tetapi, bagian lain PL menyebut Yunus sebagai nabi yang diakui dari abad ke-8 SM (2Raj 14:25). Dalam PB, Yesus sendiri mengacu kepada Yunus:

1. Sebagai tanda nubuat PL terkemuka mengenai keberadaan-Nya selama tiga hari di dalam kubur dan kebangkitan-Nya sesudah itu (Mat 12:39-40; Luk 11:29),
2. Sebagai benar-benar memberitakan pertobatan kepada orang Niniwe yang kemudian bertobat (Mat 12:41; Luk 11:30,32), dan
3. Sebagai bagian sejarah PL sama seperti dengan kunjungan ratu Syeba ke istana Salomo (Mat 12:42; Luk 11:31).

Jelaslah, Yesus memandang kitab ini sebagai dapat diandalkan dari segi sejarah; memandang kitab ini secara lain bukan saja menyatakan bahwa kita mempunyai Alkitab yang bisa salah, tetapi juga Juruselamat yang bisa salah.



KITAB MIKHA

Penulis : Mikha
Tema : Hukuman dan Keselamatan Mesias
Tanggal Penulisan : + 740-710 SM

Latar Belakang
Nabi Mikha berasal dari kota kecil Moresyet-Gat (Mi 1:14) di bagian selatan Yehuda, suatu wilayah pertanian yang subur sekitar 40 kilometer barat daya Yerusalem. Seperti Amos, Mikha berasal dari daerah pedesaan, mungkin dari keluarga yang sederhana. Sedangkan Yesaya, rekannya di Yerusalem, bernubuat kepada raja dan tentang situasi internasional, Mikha adalah nabi pedesaan yang mengutuk para pemimpin Yehuda yang korup, nabi-nabi palsu, imam-imam fasik, pedagang-pedagang yang tidak jujur dan hakim-hakim yang kena suap. Ia berkhotbah menentang dosa-dosa ketidakadilan, penindasan para petani dan penduduk desa, keserakahan, kekikiran, kebejatan dan penyembahan berhala, dan mengingatkan akan dampak yang berat jikalau umat itu dan pemimpinnya terus bersikeras melakukan kejahatan. Ia meramalkan kejatuhan Israel dan ibu kotanya Samaria (Mi 1:6-7) dan juga kejatuhan Yehuda dan ibu kotanya, Yerusalem (Mi 1:9-16; Mi 3:9-12).

Pelayanan kenabian Mikha terjadi pada masa pemerintahan tiga raja Yehuda: Yotam (751-736 SM), Ahas (736-716 SM) dan Hizkia (716-687 SM). Walaupun sebagian dari nubuat Mikha diberitakan pada masa pemerintahan Raja Hizkia (bd. Yer 26:18), sebagian besar mencerminkan keadaan Yehuda sementara pemerintahan Yotam dan Ahas sebelum pembaharuan religius di bawah pimpinan Hizkia. Tidak dapat disangkal bahwa pelayanannya, bersama dengan pelayanan Yesaya, ikut berperan dalam membawa kebangunan rohani dan pembaharuan di bawah Raja Hizkia yang saleh.

Tujuan
Mikha menulis untuk memperingatkan bangsanya akan kepastian hukuman ilahi, menyebut dosa-dosa yang membangkitkan kemarahan Allah dan meringkas firman nubuat Allah mengenai Samaria dan Yerusalem (Mi 1:1). Dengan tepat dia
menubuatkan kejatuhan Israel sebelum hal itu terjadi pada tahun 722 SM; ia bernubuat bahwa kebinasaan yang serupa akan menimpa Yehuda dan Yerusalem karena dosa dan pemberontakan mereka yang menyolok. Jadi, kitab ini melestarikan berita nubuat Mikha yang serius bagi angkatan terakhir Yehuda sebelum orang Babel datang menyerbu bangsa itu. Kitab ini juga memberikan sumbangan penting kepada seluruh penyataan PL tentang Mesias yang akan datang.

Survai
Kitab Mikha terdiri atas berita yang terbagi tiga:

1. Menggugat Israel (Samaria) dan Yehuda (Yerusalem) karena dosa-dosa khusus termasuk penyembahan berhala, keangkuhan, penindasan orang miskin, suap-menyuap di antara pemimpin, ketamakan dan keserakahan, kebejatan, dan agama yang hampa;
2. Mengingatkan bahwa hukuman Allah akan datang karena dosa-dosa ini; dan
3. Menjanjikan bahwa damai sejahtera, kebenaran dan keadilan sejati akan berlaku di masa depan ketika Mesias memerintah.

Ketiga pokok tersebut diberikan perhatian hampir sama dalam kitab ini.

Dipandang dari segi lainnya, pasal 1-3 (Mi 1:1--3:12) mencatat celaan Tuhan atas dosa-dosa Israel dan Yehuda, para pemimpin yang korup, dan malapetaka yang akan datang atas bangsa-bangsa ini dan ibu kota mereka. Pasal 4-5 (Mi 4:1--5:14) menawarkan harapan dan hiburan bagi kaum sisa berhubungan dengan hari-hari yang akan datang ketika rumah Allah akan didirikan dalam damai dan kebenaran, sedangkan penyembahan berhala dan penindasan akan disingkirkan dari negeri itu. Pasal 6-7 (Mi 6:1--7:20) menguraikan keluhan Allah terhadap umat-Nya dalam bahasa sebuah sidang pengadilan besar: Allah mengajukan gugatan terhadap Israel; ini diikuti dengan pengakuan salah Israel lalu doa dan janji nubuat. Mikha menutup dengan permainan kata dari arti namanya sendiri, "Siapakah Allah seperti Engkau?" (Mi 7:18). Jawab: Hanya Dialah yang penuh kasih sayang dan dapat memberikan keputusan terakhir "diampuni" (Mi 7:18-20).

Ciri-ciri Khas
Lima ciri utama menandai kitab Mikha.

1. Kitab ini memperjuangkan kepentingan para petani sederhana yang menghadapi pemerasan oleh golongan kaya yang angkuh, mirip dengan berita Yakobus dalam PB (bd. Mi 6:6-8 dan Yak 1:27); dalam hubungan ini, Mikha memberikan nasihat yang paling mengesankan tentang tuntutan Tuhan bagi umat-Nya, "berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu" (Mi 6:8).
2. Sebagian bahasa Mikha itu tegas dan terus terang; lain kali berupa syair yang mengesankan dengan permainan kata yang halus sekali (seperti Mi 1:10-15).
3. Seperti nabi Yesaya (bd. Yes 48:16; Yes 59:21), Mikha mengungkapkan kesadaran yang tajam akan panggilan Allah dan pengurapannya oleh Roh Kudus, "Aku ini penuh dengan kekuatan, dengan Roh Tuhan, dengan keadilan dan keperkasaan, untuk memberitakan kepada Yakub pelanggarannya dan kepada Israel dosanya" (Mi 3:8).
4. Kitab ini berisi salah satu ungkapan terindah dalam Alkitab tentang kasih sayang dan kasih karunia pengampunan Allah (Mi 7:18-20).
5. Kitab ini berisi tiga nubuat penting yang dikutip di bagian Alkitab lainnya: satu yang menyelamatkan hidup Yeremia (Mi 3:12; Yer 26:18), satu tentang tempat kelahiran Mesias (Mi 5:1; Mat 2:5-6), dan satu yang dikutip Yesus sendiri (Mi 7:6; Mat 10:35-36).

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Seperti nabi PL lainnya, Mikha melihat melampaui hukuman Allah atas Israel dan Yehuda sampai kedatangan Mesias dan pemerintahan-Nya yang adil di bumi. Tujuh ratus tahun sebelum penjelmaan Kristus, Mikha bernubuat bahwa Ia akan lahir di Betlehem (Mi 5:1). Mat 2:4-6 mencatat bahwa para imam dan ahli Taurat mengutip ayat ini sebagai jawaban untuk pertanyaan Herodes mengenai tempat lahirnya Mesias. Mikha juga menyatakan bahwa kerajaan Mesias akan merupakan kerajaan damai (Mi 5:4; bd. Ef 2:14-18), dan bahwa Mesias akan menggembalakan umat Allah dengan benar (Mi 5:3; bd. Yoh 10:1-16; Ibr 13:20). Kenyataan bahwa Mikha sering mengacu kepada penebusan masa depan menunjukkan bahwa keinginan dan rencana Allah yang abadi bagi umat-Nya adalah penyelamatan bukan hukuman; kebenaran ini dikembangkan lagi dalam PB (mis. Yoh 3:16).


KITAB NAHUM

Penulis : Nahum
Tema : Kebinasaan Niniwe yang Menjelang
Tanggal Penulisan : + 630-620 SM

Latar Belakang
Kitab nubuat yang singkat mengenai kebinasaan Niniwe yang akan datang ini ditulis oleh seorang nabi yang namanya berarti "penghiburan". Tidak diketahui apa-apa tentang nabi ini kecuali bahwa ia berasal dari Elkosy (Nah 1:1), sebuah kota kecil yang tempatnya tidak diketahui. Hieronimus percaya bahwa Elkosy terletak dekat Rama di Galilea, ada orang yang mengusulkan dekat Kapernaum, sedangkan yang lain lagi percaya letaknya di
bagian selatan Yehuda. Mungkin sekali Nahum seorang nabi Yehuda karena kerajaan utara (Israel) sudah tidak ada lagi ketika kitab ini ditulis.

Nahum memberitakan nubuatnya sebelum kejatuhan Niniwe pada tahun 612 SM. Dalam Nah 3:8-10 ia mengacu pada kejatuhan Tebes sebagai peristiwa yang lampau (terjadi pada tahun 663 SM). Jadi, nubuat Nahum disampaikan di antara 663 SM dan 612 SM, lebih mungkin dekat 612 SM, yaitu sementara masa pemerintahan raja Yosia dan gerakan pembaharuannya (+ 630-620 SM).

Di zaman dahulu bangsa Asyur terkenal sangat kejam terhadap tawanan perang mereka. Setelah menyerbu sebuah kota, mereka tanpa mengenal ampun akan membantai ratusan orang dan mengangkut sisanya ke berbagai bagian kerajaan mereka; ketika menuju ke tempat pembuangan itu makin banyak lagi yang tewas akibat perjalanan berat dan sangat melelahkan (bd. Nah 3:3). Para pemimpin kota dan bangsa yang dikalahkan disiksa tanpa belas kasihan dan akhirnya dibunuh. Satu abad sebelumnya, Yunus diutus untuk berkhotbah di ibu kota Asyur, Niniwe. Untuk masa yang singkat orang Asyur bertobat dari dosa-dosa mereka, tetapi kemudian itu kembali ke cara hidupnya yang kejam. Allah memakai orang Asyur yang jahat ini sebagai pelaksana hukuman untuk membinasakan ibu kota Israel, Samaria, dan mengangkut kerajaan utara ke dalam pembuangan. Kini saat hukuman bagi Asyur sendiri menjelang dengan cepat.

Tujuan
Nahum mempunyai dua tujuan dalam kitab nubuat ini.

1. Allah memakai dia untuk memberitakan datangnya kebinasaan ibu kota Asyur, Niniwe, yang kejam dan jahat. Tidak ada bangsa sekejam Asyur yang dapat berharap akan lolos dari hukuman Allah.
2. Pada saat bersamaan, Nahum memberitakan penghiburan untuk umat Allah sendiri. Hiburan ini tidak diperoleh karena melihat darah musuh yang tertumpah, tetapi karena mengetahui bahwa Allah sedang menegakkan keadilan di dunia dan suatu hari akan mendirikan kerajaan damai-Nya.

Survey
Kitab Nahum terdiri atas tiga rangkaian ucapan ilahi yang terpisah terhadap Asyur, khususnya ibu kota Niniwe; ketiga ucapan ilahi ini sesuai dengan ketiga pasal kitab ini. Pasal 1 (Nah 1:1-15) berisi suatu uraian yang jelas dan terus-terang mengenai sifat Allah -- khususnya kemurkaan, keadilan, dan kuasa-Nya, yang menjadikan hukuman atas orang jahat pada umumnya dan kehancuran Niniwe khususnya tidak terelakkan lagi. Pasal 2 (Nah 2:1-13) menubuatkan hukuman Niniwe yang segera tiba dan melukiskannya dengan bahasa yang hidup. Pasal 3 (Nah 3:1-19) mencatat secara singkat dosa-dosa Niniwe, menyatakan bahwa Allah itu adil dalam hukuman-Nya dan mengakhiri dengan membayangkan hukuman yang telah dilaksanakan.

Ciri-ciri Khas
Empat ciri utama menandai kitab Nahum.

1. Nahum adalah satu dari tiga kitab nabi PL yang beritanya nyaris seluruhnya dialamatkan kepada bangsa asing (dua yang lain adalah Obaja dan Yunus).
2. Isi nubuat dan perbandingan puitisnya ditekankan dengan kiasan yang amat jelas, gambaran kata yang hidup serta bahasa yang paling berterus terang yang terdapat dalam Alkitab.
3. Menyolok sekali bahwa tidak ada nubuat kepada Yehuda tentang dosa-dosanya atau penyembahan berhala, mungkin karena ditulis sementara gerakan pembaharuan Raja Yosia (2Raj 22:8--23:5).
4. Namun kitab ini berisi beberapa kata yang memberi harapan dan hiburan bagi Yehuda (mis. Nah 1:12-13,15).

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
PB tidak secara langsung memakai kitab ini. Satu-satunya ayat yang mungkin dikutip dalam PB ialah Nah 1:15, sebuah ayat yang dipinjam Nahum dari Yes 52:7. Paulus memakai kiasan "eloknya kaki" (TL) untuk menekankan bahwa sama seperti seorang pembawa berita dalam PL diterima dengan penuh sukacita oleh umat Allah ketika menyampaikan kabar baik damai sejahtera dan pembebasan dari musuh mereka, yaitu Asyur (Nah 1:15) dan Babel (Yes 52:7), demikian pula pengkhotbah perjanjian yang baru membawa kabar baik pembebasan dari belenggu dosa dan kuasa Iblis melalui Yesus Kristus (Rom 10:15). Kitab Nahum juga menggarisbawahi amanat PB bahwa Allah tidak akan membiarkan orang berdosa bebas dari hukuman (Nah 1:3).



KITAB HABAKUK

Penulis : Habakuk
Tema : Hidup Dengan Iman
Tanggal Penulisan : + 606 SM

Latar Belakang
Penulis kitab ini memperkenalkan dirinya sebagai "nabi Habakuk" (Hab 1:1; Hab 3:1). selain itu ia tidak menceritakan latar belakang pribadi atau keluarganya, dan namanya (arti: merangkul) juga tidak muncul dalam bagian lain di Alkitab. Acuan Habakuk kepada "pemimpin biduan" (Hab 3:19) memberi kesan bahwa dia mungkin juga dari suku Lewi dan pemusik di Yerusalem.

Berbeda dengan nabi PL lainnya, Habakuk tidak menetapkan tanggal nubuatnya dengan mengacu kepada raja-raja yang sezaman dengannya. Akan tetapi, kenyataan bahwa dia bingung bahwa Allah akan memakai Babel sebagai alat pelaksana hukuman-Nya terhadap Yehuda menunjukkan suatu saat ketika Babel sudah menjadi negeri adi-kuasa dan penyerbuan mereka ke Yehuda sudah dekat (+ 608-598 SM). Nebukadnezar mengalahkan pasukan Mesir pada pertempuran di Karkemis (605 SM), negara kuat terakhir yang menentang perluasan bangsa Babel. Jikalau gambaran tentang pasukan Babel dalam Hab 1:6-11 mengacu kepada pasukan itu yang sedang berbaris menuju Karkemis, sebagaimana ditafsirkan banyak orang, maka tanggal nubuat Habakuk ialah + 606-605 SM, semasa awal pemerintahan Raja Yoyakim dari Yehuda.

Akibat-akibat berkembangnya Babel menjadi negara adikuasa berarti kehancuran bagi Yehuda yang murtad (lih. 2Raj 24-25:30). Ketika Nebukadnezar kembali dari Mesir, ia menyerang Yehuda dan membawa sejumlah orang tawanan ke Babel, di antaranya Daniel dan ketiga sahabatnya (605 SM). Pada tahun 597, pasukan Babel kembali menyerang Yerusalem, menjarah Bait Suci dan menyeret 10.000 orang tawanan kembali ke Babel, di
antara mereka ada nabi Yehezkiel. Ketika Raja Zedekia berusaha membebaskan Yehuda dari kekuasaan Babel 11 tahun kemudian (586 SM), Nebukadnezar dengan marah mengepung Yerusalem, membakar Bait Suci, dan membinasakan seluruh kota serta membawa kembali ke Babel sebagai tawanan perang sebagian besar penduduknya yang masih hidup. Habakuk mungkin hidup sepanjang sebagian besar atau seluruh masa hukuman Yehuda.

Tujuan
Berbeda dengan Yeremia rekan sezamannya, Habakuk tidak bernubuat kepada Yehuda yang sudah murtad; ia malah menulis untuk menolong kaum sisa yang saleh di Yehuda memahami cara-cara Allah dalam hubungan dengan bangsa mereka yang berdosa dan hukumannya yang menjelang. Karena dia sendiri telah bergumul dengan persoalan yang amat menggelisahkan, yaitu bagaimana Allah dapat memakai suatu bangsa yang begitu jahat seperti Babel untuk menghabiskan umat-Nya sebagai hukuman (Hab 1:6-13), Habakuk meyakinkan sesama orang percaya bahwa Allah akan bertindak melawan semua kefasikan pada saat-Nya. Sementara itu, "orang benar akan hidup oleh percayanya" (Hab 2:4) dan bukan oleh pengertiannya, dan akan "bersorak-sorak di dalam Tuhan" Allah Juruselamat mereka (Hab 3:18).

Survey
Pasal 1-2 (Hab 1:1--2:20) berisi pertanyaan-pertanyaan Habakuk yang membingungkan tentang cara-cara Allah dan jawaban Allah kepadanya. Karena telah melihat demikian banyak kejahatan dan penyembahan berhala di Yehuda, pertanyaan pertama adalah bagaimana Allah dapat membiarkan umat-Nya yang pemberontak itu berbuat begitu banyak dosa tanpa dihukum. Allah menjawab dengan menunjukkan kepada sang nabi bahwa Dia sebentar lagi akan memakai bangsa Babel untuk menghukum Yehuda. Pertanyaan kedua Habakuk langsung menyusul: bagaimana Allah dapat mengizinkan bangsa yang lebih jahat dan kejam daripada Yehuda untuk menghukum mereka? Allah menjawab dengan meyakinkan sang nabi bahwa juga akan datang hari pembalasan bagi orang Babel. Di seluruh kitab ini, Habakuk mengungkapkan imannya dalam kedaulatan Allah dan dalam kepastian bahwa di dalam segala hal Allah itu adil. Penyataan kasih Allah untuk orang benar dan rencana-Nya untuk membinasakan Babel yang jahat membangkitkan sebuah nyanyian nubuat berupa pujian dan janji mengenai keselamatan di Sion (pasal 3; Hab 3:1-19).

Ciri-ciri Khas
Lima ciri utama menandai nubuat Habakuk.

1. Kitab ini tidak bernubuat kepada Yehuda yang murtad, melainkan mencatat dari buku harian pribadi sang nabi percakapan-percakapannya dengan Allah dan penyataan nubuat yang mengikutinya.
2. Kitab ini berisi paling sedikit tiga bentuk bahasa sastra yang berbeda: "percakapan" di antara sang nabi dengan Allah (Hab 1:2--2:5), ucapan nubuat "celaka" yang klasik (Hab 2:6-20) dan suatu nyanyian nubuat (pasal 3; Hab 3:1-19) -- semuanya dengan gaya penulisan yang penuh semangat dan metafora yang jelas.
3. Sang nabi menunjukkan tiga ciri khas di tengah-tengah zaman kesengsaraan itu: pertanyaan secara jujur kepada Tuhan (pasal 1; Hab 1:1-17), iman yang kokoh (Hab 2:4; Hab 3:18-19), dan perhatian untuk kebangunan rohani (Hab 3:2).
4. Penglihatan sang nabi akan Allah dalam pasal 3 (Hab 3:1-19) termasuk yang paling megah dalam Alkitab, mengingatkan kita akan penampilan Tuhan kepada bangsa Israel di Gunung Sinai; bagian-bagian lain yang mengesankan dari Habakuk adalah (Hab 1:5; Hab 2:3-4,20; Hab 3:2,17-19).
5. Tidak ada seorang nabi PL-pun yang lebih fasih mengenai soal iman daripada Habakuk -- bukan hanya melalui pernyataannya bahwa "orang benar akan hidup oleh percayanya" (Hab 2:4), tetapi juga dalam kesaksian pribadinya (Hab 3:17-19).

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Pernyataan Habakuk bahwa orang benar akan hidup oleh percaya (Hab 2:4) adalah teks utama PL yang dipakai Paulus dalam teologi pembenarannya oleh iman; rasul iman itu mengutip ayat ini dalam Rom 1:17 dan Gal 3:11 (bd. juga Ibr 10:37-38).
KITAB ZEFANYA

Penulis : Zefanya
Tema : Hari Tuhan
Tanggal Penulisan : + 630 SM

Latar Belakang
Zefanya, yang namanya berarti "Tuhan menyembunyikan", adalah putra dari buyut Raja Hizkia yang bernubuat selama masa pemerintahaan Yosia (639-609 SM), penguasa saleh yang terakhir di Yehuda (Zef 1:1). Dengan mengacu kepada Yerusalem sebagai "tempat ini" (Zef 1:4) dan penggambaran yang tepat dari topografi dan dosa-dosanya, menunjukkan bahwa dia adalah penduduk ibu kota. Sebagai keturunan keluarga raja dan kerabat Raja Yosia berarti bahwa ia bisa keluar-masuk istana kerajaan. Dapat dipahami bahwa nubuat-nubuatnya berfokus pada firman Tuhan bagi Yehuda dan bangsa-bangsa lainnya.

Dosa-dosa yang dituduhkan Zefanya kepada Yerusalem dan Yehuda (Zef 1:4-13; Zef 3:1-7) menunjukkan bahwa ia bernubuat sebelum pembaharuan dan kebangunan di bawah Yosia, pada saat dosa-dosa yang hebat dari para pendahulu Yosia yang jahat (Manasye, Amon) masih merajalela di kalangan masyarakat. Pada tahun ke-12 dari pemerintahan Yosia (tahun 627 SM) barulah raja mulai membersihkan bangsa itu dari penyembahan berhala dan menghidupkan kembali ibadah yang benar kepada Tuhan; delapan tahun kemudian ia memerintahkan untuk memperbaiki dan menyucikan Bait Salomo. Pada waktu itu ditemukan sebuah salinan hukum Tuhan (bd. 2Raj 22:1-10). Gambaran yang diberikan Zefanya mengenai keadaan rohani dan moral Yehuda yang menyedihkan pasti ditulis sekitar 630 SM. Sangat mungkin pemberitaan nubuat Zefanya
secara langsung mempengaruhi raja dan membantu memberi semangat kepada gerakan pembaharuan raja. Tanggal 630 SM selanjutnya diperkuat oleh kenyataan bahwa Babel sama sekali tidak disebutnya sebagai kekuatan yang patut diperhitungkan pada skala internasional; Babel baru mulai bangkit dengan naiknya Nabopolasar ke takhta pada tahun 625 SM. Akan tetapi, Zefanya menubuatkan kebinasaan Asyur yang perkasa, suatu peristiwa yang terjadi pada tahun 612 SM bersama dengan jatuhnya Niniwe. Yeremia merupakan rekan Zefanya yang lebih muda.

Tujuan
Zefanya bernubuat dan menulis untuk memperingatkan Yehuda dan Yerusalem mengenai datangnya hukuman Allah yang mengancam yang disebut "hari Tuhan yang hebat" (Zef 1:14). Penerapan jangka pendek nubuat ini ialah bahwa Yehuda yang murtad akan menerima ganjaran yang sesuai dengan kejahatan mereka, sebagaimana halnya bangsa-bangsa kafir di sekitar mereka, yang disebut satu per satu oleh Zefanya. Penerapan jangka panjangnya berkenaan dengan gereja dan dunia pada akhir sejarah. Zefanya juga menulis untuk membesarkan hati orang saleh bahwa Allah kelak akan memulihkan umat-Nya; ketika itu Yehuda akan menyanyikan pujian kepada Allah mereka yang adil, yang tinggal di antara mereka.


Survey
Sebagian besar kitab ini adalah peringatan serius mengenai hukuman Allah yang akan datang. Zefanya melihat datangnya hukuman yang meliputi seluruh dunia karena dosa-dosa umat manusia (Zef 1:2; Zef 3:8), tetapi secara khusus ia memfokus pada hukuman yang akan menimpa Yehuda karena dosanya (Zef 1:4-18; Zef 3:1-7). Zefanya menyampaikan nubuat yang mengimbau agar bangsa itu bertobat dan mencari Tuhan dalam kerendahan hati sebelum keputusan itu dilaksanakan (Zef 2:1-3); pertobatan nasional itu terjadi sebagian selama kebangunan di bawah Yosia (627-609 SM).

Zefanya juga bernubuat mengenai datangnya hukuman atas lima bangsa asing: Filistia, Amon, Moab, Etiopia, dan Asyur (Zef 2:14-15). Setelah mengulas dosa-dosa Yerusalem lagi (Zef 3:1-7), sang nabi menubuatkan suatu waktu ketika Allah akan mengumpulkan kembali, menebus, dan memulihkan umat-Nya. Mereka akan bersorak dengan gembira sebagai penyembah sejati Tuhan Allah; Dia akan ada di tengah-tengah mereka sebagai pahlawan perang yang menang (Zef 3:9-20).

Ciri-ciri Khas
Lima ciri utama menandai kitab Zefanya.

1. Zefanya adalah satu-satunya nabi yang memberikan asal keturunannya dengan cukup terinci, mundur empat angkatan hingga Raja Hizkia.
2. Kitab ini menyajikan penyataan yang paling luas dalam PL mengenai "hari Tuhan" yang mendatang.
3. Kitab ini menunjukkan bahwa umat Allah perlu dihadapkan dengan peringatan-peringatan-Nya, dan juga dihibur dengan janji-janji-Nya.
4. Kitab ini berisi ajaran yang cukup rinci mengenai kaum sisa yang setia yang akan dipulihkan pada hari lawatan Tuhan itu (Zef 3:9-20).
5. Penyataan Zefanya mengenai hari murka Allah yang akan datang atas orang jahat dan hari keselamatan bagi umat-Nya menyumbang kepada penyataan PB tentang akhir zaman.

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Yesus mungkin dua kali menyinggung tentang Zefanya (Zef 1:2-3; bd. Mat 13:40-42; Zef 1:15; bd. Mat 24:29); kedua acuan itu berkaitan dengan kedatangan Yesus yang kedua kali. Para penulis PB memahami berita Zefanya tentang "hari Tuhan" sebagai suatu gambaran mengenai aneka peristiwa eskatologis yang diawali dengan kesengsaraan besar dan diakhiri dengan kembalinya Yesus untuk menghakimi orang yang hidup dan yang telah mati (bd. Zef 1:14 dengan Wahy 6:17; Zef 3:8* dengan Wahy 16:1). Sering kali PB mengacu kepada kedatangan Kristus yang kedua kali dan hari penghakiman sebagai "hari-Nya" (mis. 1Kor 3:13; bd. 2Tim 1:12,18; 2Tim 4:8).



KITAB HAGAI

Penulis : Hagai
Tema : Membangun Kembali Bait Suci
Tanggal Penulisan : 520 SM

Latar Belakang
Kitab Hagai adalah yang pertama dari ketiga kitab nabi pascapembuangan dalam PL (Hagai, Zakharia dan Maleakhi). Nama Hagai disebut dua kali dalam Ezra (Ezr 5:1; Ezr 6:14) dan 9 kali dalam kitab ini. Dia disebut "nabi" (Hag 1:1; Hag 2:2,11; Ezr 6:14) dan "utusan Tuhan" (Hag 1:13). Dia mungkin menjadi salah seorang dari sebagian kecil orang Yahudi yang, setelah kembali untuk tinggal di Yerusalem, dapat mengingat Bait Suci Salomo sebelum dibinasakan oleh pasukan Nebukadnezar pada tahun 586 SM (Hag 2:4). Jikalau demikian, maka usia Hagai ketika menulis ini sekitar 70 sampai 80 tahun. Tanggal penulisan kitab ini jelas, tahun kedua pemerintahan Raja Darius dari Persia (520 SM; Hag 1:1). Latar belakang sejarah kitab ini penting untuk memahami beritanya. Pada tahun 538 SM, Raja Koresy dari Persia mengeluarkan maklumat mengizinkan orang Yahudi buangan untuk kembali ke negeri mereka untuk membangun kembali Yerusalem dan Bait Suci sebagai penggenapan nubuat Yesaya dan Yeremia (Yes 45:1-3; Yer 25:11-12; Yer 29:10-14) dan syafaat Daniel (Dan 9:1-27). Rombongan orang Yahudi pertama yang kembali ke Yerusalem meletakkan dasar Bait Suci yang baru pada tahun 536 SM di tengah-tengah kegembiraan dan harapan besar (Ezr 3:8-10). Akan tetapi, tidak lama kemudian orang Samaria dan tetangga lainnya secara jasmaniah menentang rencana pembangunan itu dan mematahkan semangat para pekerja sehingga pembangunan itu terhenti pada tahun 534 SM. Kelesuan rohani mulai timbul, dan umat itu lalu mulai membangun rumah mereka sendiri. Pada tahun 520 SM, Hagai, dengan ditemani nabi Zakharia yang lebih muda (Lihat "PENDAHULUAN ZAKHARIA"), mulai mendorong Zerubabel dan umat itu untuk melanjutkan pembangunan rumah Allah. Empat tahun kemudian Bait Suci itu selesai dibangun dan ditahbiskan (bd. Ezr 4:1--6:22).

Tujuan
Sepanjang waktu empat bulan pada tahun 520 SM, Hagai memberitakan empat berita singkat yang tercatat dalam kitab ini (lih. Garis Besar). Berita ini bertujuan ganda:

1. Untuk menasihati Zerubabel (gubernur) dan Yoshua (imam besar) agar mengerahkan umat itu untuk membangun kembali Bait Suci, dan
2. Untuk memotivasi umat itu agar menata kembali hidup dan prioritas mereka untuk melanjutkan tugas mereka secara sungguh-sungguh dengan berkat Allah.

Survai
Kitab ini berisi empat berita, yang masing-masing dibuka dengan "firman Tuhan" (Hag 1:1; Hag 2:2,; Hag 2:11; Hag 2:21).

1. Hagai pertama-tama menegur para mantan buangan itu karena lebih memperhatikan rumah mereka sendiri yang dipapani dengan baik sedangkan rumah Allah masih merupakan reruntuhan (Hag 1:4). Dua kali nabi Hagai menasihati mereka untuk "perhatikanlah keadaanmu!" (Hag 1:5,7), yang menunjukkan bahwa Allah telah menarik berkat-Nya dari mereka karena cara hidup mereka (Hag 1:6,9-11). Sebagai tanggapan atas perkataan Hagai, maka Zerubabel, Yosua, dan semua orang itu takut akan Allah dan melakukan pekerjaan (Hag 1:12--2:1).
2. Beberapa minggu kemudian, penilaian beberapa orang buangan yang telah kembali mematahkan semangat mereka, yaitu mereka yang telah melihat kemuliaan bait Salomo sehingga menilai usaha membangun kembali itu tidak berarti jika dibandingkan (Hag 2:4). Hagai menasihati para pemimpin untuk meneguhkan hatinya karena:

a. Usaha mereka merupakan bagian dari gambaran nubuat yang lebih luas (Hag 2:5-8) dan,
b. "Kemegahannya yang kemudian akan melebihi kemegahannya yang semula" (Hag 2:10).

3. Berita Hagai yang ketiga, yang memanggil umat itu untuk hidup dalam ketaatan kudus (Hag 2:11-20) dan
4. Berita yang keempat (Hag 2:21-24) diberitakan pada hari yang sama. Berita keempat menubuatkan bahwa Zerubabel melambangkan kesinambungan keturunan dan janji Mesias (Hag 2:23).

Ciri-ciri Khas
Empat ciri utama menandai kitab Hagai.

1. Beritanya merupakan firman nubuat pertama yang terdengar di Yehuda sesudah pembuangan di Babel.
2. Kitab ini adalah kitab terpendek kedua dalam PL (hanya 38 ayat); yang paling pendek ialah kitab Obaja.
3. Frase "beginilah firman Tuhan semesta alam" (dan variasinya) terjadi 29 kali sehingga menggarisbawahi pentingnya beritanya bagi kaum sisa yang kembali ke Yerusalem.
4. Kitab ini mencatat nubuat PL yang paling terus-terang mengenai kunjungan Allah di masa depan (Hag 2:7-10).

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Beberapa ayat dalam pasal 2 (Hag 2:1-24) berbicara mengenai kedatangan Mesias (ayat Hag 2:7-10,22-24). Penggoncangan langit dan bumi, bangsa-bangsa dan kerajaan-kerajaan disebutkan oleh penulis surat Ibrani (Ibr 12:26-28). Juga, Hagai menubuatkan bahwa Zerubabel akan menjadi seperti "cincin meterai"; di dalam kedua silsilah Yesus Kristus (Mat 1:12-13; Luk 3:27), Zerubabel menjadi pusat yang mempersatukan kedua garis keturunan Mesias: dari Salomo (putra Daud) sampai Zerubabel sampai Yusuf, dan dari Natan (putra Daud) sampai Zerubabel sampai Maria.



KITAB ZAKHARIA

Penulis : Zakharia
Tema : Penyelesaian Terakhir Bait Suci dan Janji-Janji Mesias
Tanggal Penulisan : 520-470 SM

Latar Belakang
Ayat pembuka memperkenalkan nabi Zakharia putra Berekhya dan cucu Ido (Za 1:1) sebagai penulis kitab ini; kitab Nehemia selanjutnya menyatakan bahwa Zakharia adalah kepala keluarga imam Ido (Neh 12:16), yang menunjukkan bahwa ia berasal dari suku Lewi dan setelah pembuangan melayani di Yerusalem sebagai imam dan nabi.

Zakharia merupakan rekan sezaman yang lebih muda daripada Hagai. Ezr 5:1 menyatakan bahwa keduanya menjadi nabi yang menggugah orang Yahudi di Yehuda dan Yerusalem untuk melanjutkan pembangunan kembali Bait Suci pada zaman gubernur Zerubabel dan imam besar Yosua. Jadi, latar belakang sejarah pasal 1-8 (Za 1:1--8:23) (tertanggal 520-518 SM) adalah sama dengan latar belakang Hagai (Lihat "PENDAHULUAN HAGAI"). Akibat pelayanan kenabian Zakharia dan Hagai, pembangunan Bait Suci diselesaikan dan ditahbiskan pada tahun 516/515 SM.

Jikalau Zakharia masih muda (Za 2:4) ketika bernubuat bersama Hagai, dia rupanya sudah tua ketika menulis pasal 9-14 (Za 9:1--14:21) (sebagian besar ahli menanggalinya antara 480-470). Semua nubuat Zakharia terjadi di Yerusalem untuk 50.000 orang Yahudi buangan yang kembali ke Yehuda pada tahap pertama pemulihan. Menurut PB, pada akhirnya Zakharia bin Berekhya "dibunuh di antara tempat kudus dan mezbah" (yaitu, tempat syafaat) oleh pemimpin Bait Suci yang bermusuhan (Mat 23:35), dengan cara yang mirip dengan kematian seorang hamba Allah yang dahulu dengan nama yang sama (lih. 2Taw 24:20-21).

Tujuan
Tujuan ganda Zakharia dalam menulis itu selaras dengan dua bagian utama kitab ini.

1. Pasal 1-8 (Za 1:1--8:23) ditulis untuk mendorong kaum Yahudi sisa agar melanjutkan pembangunan kembali Bait Suci dan bertekun hingga tugas itu selesai.
2. Pasal 9-14 (Za 9:1--14:21) ditulis untuk memberi semangat kepada semua umat yang, setelah menyelesaikan pembangunan Bait Suci, berkecil hati karena Mesias tidak tampak segera, dan untuk menyatakan arti sebenarnya bila Mesias datang.

Survai
Kitab ini terbagi atas dua bagian besar.

1. Bagian pertama (pasal 1-8; Za 1:1--8:23) dimulai dengan menasihati orang Yahudi untuk kembali kepada Tuhan supaya Ia bisa kembali kepada mereka (Za 1:1-6). Sementara mendorong umat itu untuk menyelesaikan pembangunan kembali Bait Suci, nabi Zakharia menerima delapan penglihatan (Za 1:7--6:8) yang meyakinkan masyarakat Yahudi di Yehuda dan Yerusalem bahwa Allah memperhatikan umat-Nya dan memerintah atas nasib mereka di masa depan. Kelima penglihatan pertama menyampaikan pengharapan dan penghiburan; ketiga penglihatan terakhir mencakup penghukuman. Penglihatan keempat berisi suatu nubuat penting tentang Mesias (Za 3:8-9). Pemandangan pemahkotaan dalam Za 6:9-15 adalah nubuat Mesias PL yang klasik. Dua berita (pasal 7-8; Za 7:1--8:23) memberikan perspektif masa kini dan masa depan kepada para pembaca asli.
2. Bagian kedua (pasal 9-14; Za 9:1--14:21) berisi dua kumpulan nubuat akhir zaman, masing-masing didahului dengan istilah "ucapan ilahi" (Za 9:1; Za 12:1). Ucapan ilahi pertama (Za 9:1--11:17) mencakup janji-janji keselamatan Mesias bagi Israel, yang menyatakan bahwa Mesias-Gembala yang akan datang yang akan mengerjakan keselamatan ini, mula-mula akan ditolak dan dipukuli (Za 11:4-17; bd. Za 13:7). Ucapan ilahi kedua (Za 12:1--14:21) berfokus pada pemulihan dan pertobatan Israel. Dalam suatu nubuat yang menakjubkan, Allah meramalkan bahwa Israel akan meratapi Allah sendiri, "Dia yang telah mereka tikam" (Za 12:10). Pada hari itu suatu sumber air pembasuhan dosa akan terbuka bagi keluarga Daud (Za 13:1); Israel akan mengatakan, "Tuhan adalah Allahku" (Za 13:9), dan Mesias akan memerintah sebagai Raja atas Yerusalem (pasal 14; Za 14:1-21).

Ciri-ciri Khas
Enam ciri utama menandai kitab Zakharia.

1. Inilah kitab yang paling bersifat Mesias dari semua kitab PL karena banyaknya acuan yang jelas mengenai Mesias terjadi dalam 14 pasal. Hanya Yesaya (dalam 66 pasal) berisi lebih banyak acuan kepada Mesias daripada Zakharia.
2. Di antara para nabi kecil, kitab ini berisi nubuat-nubuat yang paling rinci dan lengkap mengenai peristiwa-peristiwa akhir zaman.
3. Kitab ini menunjukkan perpaduan peranan imam dan nabi dalam sejarah Israel.
4. Lebih daripada kitab PL lainnya, semua penglihatan dan bahasa lambangnya paling menyerupai kitab-kitab penyataan (apokaliptis) Daniel dan Wahyu.
5. Kitab ini mencatat suatu contoh berani dari ejekan ilahi dalam nubuat tentang pengkhianatan Mesias untuk 30 keping perak, sambil menunjuk kepadanya sebagai "nilai tinggi yang ditaksir mereka bagiku" (Za 11:13).
6. Nubuat Zakharia mengenai Mesias dalam pasal 14 (Za 14:1-21) sebagai Raja-Pahlawan Perang agung yang memerintah di Yerusalem menjadi nubuat PL yang menakjubkan.

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Dalam diri Zakharia terdapat penerapan PB yang mendalam. Perpaduan jabatan imam dan nabi dalam hidup pribadi Zakharia mungkin sekali menyumbang kepada pemahaman PB mengenai Kristus sebagai imam dan nabi. Juga, Zakharia bernubuat tentang kematian Yesus yang mendamaikan oleh orang Yahudi, yang pada akhir zaman akan membuat orang Israel meratap, bertobat dan diselamatkan (Za 12:10--13:9; Rom 11:25-27). Tetapi sumbangan terbesar Zakharia terkait dengan banyak nubuatnya mengenai Mesias, yang oleh para penulis PB dikutip sebagai digenapi di dalam Yesus Kristus. Di antaranya
ialah:

1. Dia akan datang dalam cara yang bersahaja dan sederhana (Za 9:9; Za 13:7; Mat 21:5; Mat 26:31,56);
2. Dia akan memulihkan Israel dengan darah perjanjian-Nya (Za 9:11; Za 14:24);
3. Dia akan menjadi Gembala bagi kawanan domba Allah yang terserak dan mengembara (Za 10:2; Mat 9:36);
4. Dia akan dikhianati dan ditolak (Za 11:12-13; Mat 26:15; Mat 27:9-10);
5. Dia akan ditikam dan dipukul roboh (Za 12:10; Za 13:7; Mat 26:31,56; Yoh 19:37);
6. Dia akan datang kembali dalam kemuliaan dan membebaskan Israel dari musuh-musuh mereka (Za 14:1-6; Mat 24:30-31; Wahy 19:15);
7. Dia akan memerintah sebagai Raja dengan damai dan adil (Za 9:9-10; Za 14:9,16; Rom 14:17; Wahy 11:15); dan
8. Dia akan mendirikan kerajaan-Nya yang mulia atas segala bangsa untuk selama-lamanya (Za 14:6-19; Wahy 11:15; Wahy 21:24-26; Wahy 22:1-5).


KITAB MALEAKHI

Penulis : Maleakhi
Tema : Tuduhan Allah Terhadap Yudaisme Pascapembuangan
Tanggal Penulisan : Sekitar 430-420 SM

Latar Belakang
Nama Maleakhi berarti "utusanku"; nama ini mungkin menjadi singkatan dari "Malakhiah" yang artinya "utusan Tuhan". Pendapat bahwa "Maleakhi" dalam Mal 1:1 merupakan gelar deskriptif dan bukan nama pribadi kurang dapat diterima. Walaupun kita tidak diberi tahu apa-apa tentang nabi ini di bagian PL lainnya, kepribadiannya sangat tampak dalam kitab ini. Dia adalah seorang Yahudi saleh yang tinggal di Yehuda masa pascapembuangan, rekan sezaman Nehemia, dan sangat mungkin seorang imam nabi. Kepercayaannya yang kokoh akan perlunya kesetiaan kepada perjanjian (Mal 2:4,5,8,10) dan yang melawan ibadah yang munafik dan tak bersungguh-sungguh (Mal 1:7--2:9), penyembahan berhala (Mal 2:10-12), perceraian (Mal 2:13-16), dan mencuri persepuluhan dan persembahan yang menjadi milik Allah (Mal 3:8-10) semua ini menunjuk kepada seorang yang memiliki integritas teguh dan pengabdian kuat kepada Allah.

Isi kitab ini menunjukkan bahwa

1. Bait Suci sudah dibangun kembali (516/515 SM) dan korban-korban serta hari raya dilaksanakan kembali,
2. Pengetahuan umum mengenai Taurat telah diperkenalkan kembali oleh Ezra (+457-455 SM; lih. Ezr 7:10,14,25-26), dan
3. Kemunduran yang kemudian terjadi di kalangan imam dan umat itu (+ 433 SM). Tambahan pula, suasana dan pengabaian rohani yang disebut Maleakhi sangat mirip dengan situasi yang dijumpai Nehemia ketika kembali setelah tinggal beberapa waktu di Persia (433-425 SM) untuk melayani sebagai gubernur kali kedua di Yerusalem (bd. Neh 13:4-30). Ketika itu,

a. Para imam telah menjadi korup (Mal 1:6--2:9; Neh 13:1-9),
b. Persepuluhan dan persembahan diabaikan (Mal 3:7-12; Neh 13:10-13), dan
c. Perjanjian pernikahan dilanggar ketika para suami menceraikan istri Ibrani mereka untuk menikahi wanita kafir (mungkin lebih muda dan cantik) (Mal 2:10-16; Neh 13:23-28). Karena itu, sangatlah mungkin Maleakhi memberitakan amanatnya sekitar 430-420 SM.

Tujuan
Ketika Maleakhi menulis, orang Yahudi pasca pembuangan di Palestina kembali mengalami kesusahan dan kemunduran rohani. Orang-orang telah menjadi sinis, meragukan kasih dan janji-janji Allah, menyangsikan keadilan-Nya dan tidak percaya lagi bahwa ketaatan kepada perintah-Nya itu berguna. Seiring dengan memudarnya iman, maka pelaksanaan ibadah menjadi otomatis dan tidak berperasaan. Mereka juga acuh tak acuh terhadap tuntutan hukum Taurat dan bersalah karena berbuat bermacam-macam dosa terhadap perjanjian. Maleakhi memperhadapkan para imam dan umat itu dengan
panggilan kenabian

1. Untuk bertobat dari dosa-dosa dan kemunafikan agama mereka sebelum Allah datang tiba-tiba dengan hukuman,
2. Untuk menyingkirkan semua rintangan ketidaktaatan yang menghalangi arus kemurahan dan berkat Allah, dan
3. Untuk kembali kepada Tuhan dan perjanjian-Nya dengan hati yang tulus dan taat.

Survey
Kitab ini terdiri dari enam "Ucapan ilahi: Firman Tuhan kepada Israel dengan perantaraan Maleakhi" (Mal 1:1), terjalin dengan serangkaian 10 pertanyaan retorik dan sarkastis dari Israel dan tanggapan Allah melalui sang nabi. Walaupun penggunaan cara tanya-jawab seperti dalam perdebatan ini bukan suatu keistimewaan Maleakhi di antara nabi-nabi PL, penggunaan gaya ini olehnya adalah khusus karena merupakan pokok dalam susunan sastra kitab ini (lih. Garis Besar). "Ucapan ilahi" Tuhan melalui Maleakhi adalah sebagai berikut:

1. Pertama, Allah menegaskan kasih perjanjian-Nya kepada Israel (Mal 1:2-5).
2. Yang kedua menuduh para imam karena mereka menjadi penjaga tidak setia dari hubungan perjanjian di antara Allah dengan Israel (Mal 1:6--2:9).
3. Ucapan ilahi yang ketiga menegur umat itu karena melanggar perjanjian yang dibuat dengan leluhur mereka (Mal 2:10-16).
4. Yang keempat mengingatkan Israel akan kepastian hukuman Allah karena berdosa terhadap perjanjian (Mal 2:17--3:6).
5. Ucapan ilahi kelima memanggil seluruh masyarakat Yahudi pascapembuangan di Palestina untuk bertobat dan berbalik kepada Tuhan supaya mereka sekali lagi dapat diberkati oleh-Nya (Mal 3:7-12).
6. Ucapan ilahi yang terakhir mengacu kepada "kitab peringatan" Allah mengenai orang-orang yang takut akan Dia dan menghormati nama-Nya (Mal 3:13-18). Maleakhi mengakhiri kitabnya dengan peringatan dan janji nubuat tentang "hari Tuhan" yang akan datang (Mal 4:1-6).

Ciri-ciri Khas
Lima ciri utama menandai kitab Maleakhi.

1. Dengan cara yang sederhana, terus terang dan tegas, kitab ini dengan hidup melukiskan pertemuan antara Allah dengan umat-Nya, sebagian besar dengan memakai kata ganti orang pertama.
2. Kitab ini mengutamakan metode tanya-jawab dalam menyampaikan amanat kenabian, berisi tidak kurang dari 23 pertanyaan yang diajukan timbal-balik di antara Allah dan umat-Nya. Seorang pakar mengemukakan bahwa "metode" tulisan Maleakhi ini mungkin berasal dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh para tukang ejek yang berteriak ketika dia mula-mula menyampaikan berita kenabiannya di jalan-jalan Yerusalem atau pelataran Bait Suci.
3. Sesudah Maleakhi, nabi PL terakhir, terdapat 400 tahun tanpa ada suara nabi yang utama di Israel. Ketiadaan seorang nabi utama selama itu kemudian berakhir dengan datangnya Yohanes Pembaptis, yang menurut nubuat Maleakhi akan mempersiapkan jalan bagi Mesias (Mal 3:1).
4. Istilah "Tuhan semesta alam" dipakai 20 kali dalam kitab yang singkat ini.
5. Penting sekali, bahwa nubuat terakhir (yang mengakhiri berita kenabian PL) menubuatkan bahwa pada suatu hari Allah akan mengirim roh Elia untuk memulihkan bapa-bapa saleh yang kuat di Sion, bertentangan dengan kecenderungan sosial di mana keluarga makin berantakan (Mal 4:5-6).

Penggenapan Dalam Perjanjian Baru
Tiga bagian khusus dari Maleakhi dikutip dalam PB.

1. Frase, "Aku mengasihi Yakub, tetapi membenci Esau" (Mal 1:2-3) dikutip Paulus dalam ajarannya tentang pemilihan (Rom 9:13; lihat art. PEMILIHAN DAN PREDESTINASI,).
2. Nubuat Maleakhi mengenai "utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku" (Mal 3:1; bd. Yes 40:3) dikutip Yesus dengan mengacu kepada Yohanes Pembaptis dan pelayanannya (Mat 11:7-15).
3. Demikian pula, Yesus memahami bahwa nubuat Maleakhi tentang perihal Allah mengutus "nabi Elia kepadamu menjelang datangnya hari Tuhan yang besar dan dahsyat itu" (Mal 4:5) berlaku untuk Yohanes Pembaptis (Mat 11:14; Mat 17:10-13; Mr 9:11-13). Kitab terakhir dalam Alkitab menambahkan bahwa roh Elia akan muncul kembali sebelum kedatangan Kristus yang kedua kali (Wahy 11:3-6).
Di samping tiga petunjuk jelas PB kepada kitab ini, kutukan sang nabi kepada perceraian yang tidak adil (Mal 2:14-16) menantikan ajaran PB yang tegas mengenai topik ini (Mat 5:31-32; Mat 19:3-10; Mr 10:2-12; Rom 7:1-3; 1Kor 7:10-16,39*). Nubuat Maleakhi tentang munculnya Mesias di masa depan (Mal 3:1-6; Mal 4:1-3) mencakup kedatangan pertama dan kedua Kristus.



Lembaran Tugas Mata Kuliah Pengatar Perjanjian Lama

Nama Mahasiswa :
Program :
Beban :
Material : Diktat Pengantar Perjanjian Lama STTI Philadelphia

TUGAS MATA KULIAH:

1. Diskusi & Pertanyaan: Kerjakan “Diskusi & Pertanyaan” untuk modul di bawah ini.
2. Resensi: Buatlah Ringkasan dan Resensi Buku atas buku lain yang berhubungan dengan Pengantar Perjanjian Lama, atau Survey Perjanjian Baru. (Diketik minimum 4 halaman kwarto)
3. Paper: Buatlah karya kecil yang berjudul: Kristus dalam Perjanjian Lama. (Diketik 15 halaman ukuran kwarto)

Jawablah Diskusi & Pertanyaan dibawah ini

1. Apa yang anda ketahui tentang daerah Timur Kuno, dalam Ilmu bumi Perjanjian Lama. Jelaskan!
2. Apa yang anda ketahui tentang daerah Palestina, dalam Ilmu bumi Perjanjian Lama. Jelaskan!
3. Apa yang anda ketahui tentang kota Yerusalem. Jelaskan!
4. Kapan atau kira-kira tahun berapakah terjadinya air bah. Jelaskan dan berikan argumentasi anda!
5. Kapan atau kira-kira tahun berapakah masa pembuatan menara babel. Jelaskan dan berikan argumentasi anda!
6. Apa saja yang anda ketahui tentang periode Keluaran. Jelaskan!
7. Kira-kira tahun berapakah zaman Hakim-hakim di Israel? Jelaskan!
8. Ada 13 hakim yang pernah memerintah pada zaman Hakim-hakim di Israel. Sebutkan!
9. Dalam pemerintahan Raja-raja ada dua periode yang mewarnai sejarah Israel, yaitu periode kerajaan bersatu dan periode kerajaan terpisah. Jelaskanlah apa saja yang anda ketahui tentang kedua periode ini.!
10. Setelah kerajaan Israel terpecah menjadi dua yaitu kerajaan Utara dan Selatan Allah menempatkan beberapa nabi yang berbicara di utara dan di selatan. Sebutkan dan jelaskanlah!
11. Waktu bangsa Israel dalam pembuangan Babel Tuhan memunculkan dua Nabi yang terkemuka untuk berbicara bagi umatNya disana. Sebutkanlah nama kedua Nabi tersebut.!
12. Ada beberapa hasil positif dari pembuangan Babel bagi bangsa Israel. Sebutkan dan jelaskan!
13. Jelaskanlah apa saja yang anda ketahui tentang masa pengembalian bangsa Isreal dari Pembuangan Babel.
14. Ada tujuh sifat dari kesusastraan Perjanjian Lama. Sebutkan!
15. Jelaskanlah apa saja yang anda ketahui tentang kanon Perjanjian Lama.!
16. Apa yang menjadi definisi dari kitab Kejadian ditinjau dari segi etimologi katanya dalam bahasa Ibrani. Jelaskan!
17. Berikanlah bukti-bukti Alkitab dan bukti-bukti sejarah Yahudi banhwa Musalah penulis kitab Pentateuk.
18. Apa yang menjadi tujuan penulisan kitab Kejadian. Jelaskan!
19. Kitab Kejadian dengan sendirinya terbagi atas dua bagian utama. Sebutkanlah secara rinci!
20. Ada tujuh ciri utama menandai Kejadian. Sebutkan!
21. Kitab Keluaran terbagi atas tiga bagian besar. Sebutkan dan jelaskan secara rinci!
22. Apa yang menjadi tujuan penulisan kitab Keluaran. Jelaskanlah secara ringkas!
23. Ada beberapa cirri khas yang menandai kitab Keluaran. Sebutkan!
24. Paling sedikit ada tujuh Lambang-lambang dalam kitab Keluaran yang menggambarkan Kristus dan penebusan dalam PB. Sebutkan!
25. Apa yang menjadi tema utama dari kitab Imamat. Sebutkan!
26. Apa yang menjadi tujuan utama dari penulisan kitab Imamat. Jelaskan!
27. Ap[a yang menjadi ciri khas dari kitab Imamat. Sebutkan!
28. Apa yang menjadi tema sentral dari kitab Bilangan. Sebutkan!
29. Ada beberapa bukti yang menguatkan bahwa Musalah penulis kitab Bilangan. Sebutkan!
30. Apa yang menjadi tujuan penulisan kitab Bilangan. Jelaskan!
31. Ada beberapa ciri khas dari kitab Bilangan. Sebutkan!
32. Apa yang menjadi tema sentral dari kitab Ulangan. Sebutkan!
33. Ada beberapa bukti yang menguatkan bahwa Musalah yang menulis kitab Ulangan. Sebutkan!
34. Jelaskanlah apa yang menjadi tujuan utma dari penulisan kitab Ulangan.
35. Ada empat ciri khas menandai Kitab Ulangan. Sebutkan!
36. Ada tiga Pengertian tentang sejarah. Sebutkan!
37. Jelaskanlah apa yang menjadi definisi dari sejarah.
38. Kitab-kitab apa saja yang disebut sebagai kitab sejarah dalam Alkitab. Sebutkan!
39. Apa yang anda ketahui tenttang tanggal kepenulisan kitab Yosua. Jelaskan!
40. Ada beberapa bukti yang mendukung pendapat bahwa Yosua sendirilah yang menulis kitab Yosua. Sebutkan!
41. Apa yang menjadi tujuan penulisan kitab Yosua. Jelaskan!
42. Apa yang anda ketahui tentang struktur sastra dan isi kitab Yosua. Jelaskan!
43. Ada lima tema-tema utama dalam kitab Yosua. Sebutkan!
44. Apa yang menjadi judul kitab Hakim-hakim dalam bahasa Ibrani. Sebutkan!
45. Apa yang anda ketahui tentang tanggal penulisan kitab Hakim-hakim. Jelaskan!
46. Apa yang anda ketahui tentang tujuan penulisan kitab Hakim-hakim. Jelaskan!
47. Apa yang anda ketahui tentang posisi kitab Hakim-hakim dalam Kanon Alkitab. Jelaskan!
48. Paling tidak ada empat tema-tema penting dalam kitab halim-hakim. Sebutkan!
49. Menurut anda siapakah penulis kitab Rut. Jelaskan!
50. Apa yang menjadi tujuan penulisan kitab Rut. Jelaskan!
51. Bagaimanakah posisi kitab Rut dalam Kanon PL. Jelaskan!
52. Paling tidak ada lima tema penting dalam kitab Rut. Sebutkanlah secara rinci.!
53. Siapakah penulis kitab I dan II Samuel. Berikan alas an anda!
54. Apa yang menjadi tujuan utama penulisan kitab I dan II Samuel. Jelaskan!
55. Ada beberapa tema-tema utama kitan I dan II Samuel. Sebutkan!
56. Menurut kitab I& II Raja-Raja ada 3 hal penting yang didapat umat Allah selama masa pembuangan di Babel dan sesudahnya. Sebutkan!
57. Apa yang menjadi judul kitab I & II Raja-Raja versi Septuaginta. Sebutkan!
58. Menurut anda siapakah penulis kitab I & II Raja-Raja. Jelaskan lengkap dengan rgumenyasi anda!
59. Ada beberapa tema-tema utama dalam kitab I dan II Raja-raja. Sebutkan!
60. Siapakah penulis kitab I & II Tawarikh. Sebutkan dan berikan argumentasi anda.!
61. Apa yang menjadi tujuan penulisan Kitab I dan II Tawarikh. Jelaskan!
62. Ada beberapa tema-tema utama dari kitab I dan II Tawarikh. Sebutkan!
63. Apa arti nama Ezra dalam bahasa Ibrani. Sebutkan!
64. Apa arti nama Nehemia dalam bahasa Ibrani. Sebutkan!
65. Apa yang menjadi tujuan penulisan kitab Ezra dan Nehemia. Jelaskan!
66. Ada beberapa tema-tema utama dari kitab Ezra dan Nehemia. Sebutkan!
67. Siapakah penulis kitab Ester menurut anda. Jelaskan!
68. Apa yang menjadi tujuan penulisan kitab Ester. Jelaskan!
69. Apa yang menjadi tema-tema utama kitab Ester. Sebutkan!
70. Ada tiga ciri khas dari puisi Ibrani (termasuk kitab-kitab hikmat puitis). Sebutkan dan jelaskan!
71. Apa yang menjadi definisi kata Himat menurut anda. Jelaskan!
72. Mengapa kitab Ayub disebut juga kitab Hikmat menurut anda!
73. Apa arti nama Ayub menurut bahasa Ibraninya. Sebutkan!
74. Kapankah kitab Ayub ditulis menurut anda. Jelaskan!
75. Apa yang menjadi tujuan penulisan kitab Ayub. Jelaskan!
76. Ada beberapa tema-tema utama dari kitab Ayub. Sebutkan!
77. Epiphanies berkata bahwa : “Orang Ibrani membagi Kitab Mazmur menjadi Lima bagian. Sebutkan!
78. Menurut anda siapakah penulis kitab Mazmur. Berikan argumentasi anda!
79. Kapan kitab Mazmur ditulis. Jelaskan!
80. Apa Judul kitab Mazmur dalam bahasa Ibrani dan apa artinya. Jelaskan!
81. Ada empat cara penafsiran kitab Mazmur. Sebutkan!
82. Apa yang menjadi judul kitab Amsal dalam bahasa Ibrani. Sebutkan!
83. Apa yang menjadi tujuan utama dalam penulisan kitab Amsal. Jelaskan!
84. Siapakah penulis kitab pengkotbah. Sebutkan dan berikan argumentasi anda!
85. Menurut anda, kapankah kitab Pengkotbah ditulis. Jelaskan!
86. Menurut anda, siapakah penulis kitab Kidung Agung. Sebutkan dan berikan argumentasi anda!
87. Apa yang menjadi tujuan penulisan kitab Kidung Agung. Jelaskan!
88. Ada tiga metode penafsiran kitab Kidung Agung. Sebutkan!
89. Menurut anda mengapa kitab Yesaya digolongkan kedalam rumpun kitab nabi-nabi Besar. Jelaskan!
90. Apa yang menjadi tujuan penulisan kitab Yesaya. Jelaskan!
91. Siapakah penulis kitab Yesaya menurut anda. Jelaskan!
92. Ada delapan ciri utama menandai kitab Yesaya. Sebutkan!
93. Apa yang menjdai tema utama kitab Yeremia. Sebutkan!
94. Ada beberapa bagian dalam kitab Yeremia tentang Mesias yang diterapkan kepada Yesus Kristus dalam PB. Sebutkan!
95. Ada tujuh ciri utama menandai kitab Yeremia. Sebutkan!
96. Siapakah yang menjadi penulis kitab Ratapan. Jelaskan!
97. Jelaskanlah apa yang menjadi tujuan penulisan kitab Ratapan.
98. Apa yang menjadi ci khas kitab Ratapan. Sebutkan!
99. Menurut kitab Yehezkiel Nebukadnezar telah membawa tawanan orang Yahudi dari Yerusalem ke Babel dalam tiga tahap. Sebutkan!
100. Tujuan nubuat-nubuat Yehezkiel terutama bersifat ganda. Sebutkan!
101. Kitab Yehezkiel disusun dengan baik, dan ke-48 pasalnya dengan sendirinya terbagi menjadi empat bagian utama. Sebutkan!
102. Ada tujuh ciri utama menandai kitab Yehezkiel. Sebutkan!
103. Apa arti kata nama Daniel menurut bahasa Ibraninya. Sebutkan!
104. Ada dua maksud untuk penulisan kitab Daniel. Sebutkan!
105. Mengapa kitab Daniel dianggap sebagai kitab yang bernuansa Apokalipsis. Jelaskan!
106. Ada delapan ciri utama menandai kitab Daniel. Sebutkan!
107. Apa yang menjadi tema utama kitab Hosea. Sebutkan!
108. Apa yang menjadi tujuan utama penulisan kitab Hosea. Jelaskan.
109. Sebutkanlah beberapa ciri khas dari kitab Hosea.
110. Apa yang menjadi tujuan utama penulisan kitab Yoel. Jelaskan!
111. Isi kitab Yoel terbagi atas tiga bagian. Sebutkan!
112. Isi kitab Yoel terbagi atas tiga bagian. Sebutkan!
113. Ada lima ciri utama menandai kitab Yoel. Sebutkan!
114. Apa yang menjadi tujuan utama penulisan kitab Amos. Jelaskan!
115. Kitab Amos dengan sendirinya terbagi ke dalam tiga bagian utama. Sebutkan!
116. Ada enam ciri utama menandai kitab Amos. Sebutkan!
117. Siapakah penulis kitab Obaja. Sebutkan dan jelaskan!
118. Ada dua tujuan kepenulisan kitab Obaja. Sebutkan!
119. Ada empat ciri utama menandai nubuat Obaja. Sebutkan!
120. Ada tiga tujuan kepenulisan kitab Yunus. Sebutkan!
121. Ada empat ciri utama menandai kitab Yunus. Sebutkan!
122. Apa yang menjadi tujuan penulisan kitab Mikha. Jelaskan!
123. Ada lima ciri utama menandai kitab Mikha. Sebutkan!
124. Ada dua tujuan utama dalam kepenulisan kitab Nahum. Sebutkan!
125. Ada empat ciri utama menandai kitab Nahum. Sebutkan!
126. Apa yang menjadi tema utama kitab Habakuk. Sebutkan!
127. Apa yang menjadi tujuan utama penulisan kitab Habakuk. Jelaskan!
128. Sebutkan beberapa cirri khas dari kitab Habakuk.
129. Ada lima ciri utama menandai nubuat Habakuk. Sebutkan!
130. Apa yang menjadi tema utama kitab Zefanya. Sebutkan!
131. Ada lima ciri utama menandai kitab Zefanya. Sebutkan!
132. Ada dua tujuan penulisan dari kitab Hagai. Sebutkan!
133. Ada empat ciri utama menandai kitab Hagai. Sebutkan!
134. Kitab Zakaria terbagi atas dua bagian besar. Sebutkan!
135. Ada enam ciri utama menandai kitab Zakharia. Sebutkan!
136. Apa yang menjadi tujuan utama penulisan kitab Maleaki. Jelaskan!
137. Ada lima cirri utama kitab Maleaki. Sebutkan!
138. Siapakah penulis kitab Maleaki? Sebutkan!
139. Apa Tema utama kitab Maleaki. Sebutkan!
140. Ada tiga bagian khusus dari Maleakhi dikutip dalam PB. Sebutkan!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar