Kamis, 29 Januari 2009

Diktat I Dan II Korintus

Sillabus Tafsir I & II Korintus
Oleh: Makjen Petrus Simanjuntak, S.Th., M.Div


I. Penjelasan

Mata kuliah ini akan memberikan pemahaman kepada mahasiswa tentang isi dan makna dari kitab I & II Korintus secara mendalam.

II. Tujuan Umum

1. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat memahami apa yang menjadi alasan penulisan surat I & II Korintus.
2. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat memahami bagaimana Rasul Paulus mengatasi permasalahan di Gereja Korintus.
3. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini mahasiswa diharapkan dapat memahami bagaimana pengejaran Paulus secara umum kepada gereja Korintus.

III. Tujuan Khusus

1. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini mahasiswa dapat menjelaskan apa-apa saja yang menjadi latar belakang penulisan surat I & II Korintus.
2. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini Mahasiswa dapat menjelaskan apa-apa saja yang menjadi permasalahan di gereja Korintus dan bagaimana Rasul Paulus memberikan solusi atas permasalahan tersebut.
3. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini Mahasiswa dapat menjelaskan berbagai doktrin yang Diajarkan Paulus melalui surat I & II Korintus.
4. Setelah mempelajari Mata Kuliah ini Mahasiswa dapat menjelaskan bagaimana pengajaran paulus tentang etika praktek hidup orang percaya.



IV. Tugas-Tugas

1. Membaca dua kali kitab I & II Korintus secara keseluruhan.
2. Membaca modul dan membuat ringkasan. ( 5 halaman 2 spasi kwarto)
3. Membuat satu khotbah tekstual dari 1 Korintus 1: 18-31 ( diketik rapih empat halaman 1 spasi dalam kertas kwarto)
4. Membuat satu khotbah Ekspositori 1 Korintus 15:1-11 ( diketik rapih empat halaman 1 pasi dalam kertas kwarto)
5. Membuat Paper dengan Judul “Perbandingan Pelayanan PL & PB Menurut 2 Kor 3:1-18.” Paper diketik rapih 2 spasi dalam 15 halaman kwarto.

V. Garis-Garis Besar Mata Kuliah

A. I Korintus

I. Pengantar
1. Latar Belakang
2. Penulis
3. Waktu & Tempat penulisan
4. Penerima Surat Pertama Korintus
5. Berapa banyak surat yang ditulis Paulus kepada Jemaat Korintus
6. Lokasi kota Korintus
7. Kebudayaan dan tradisi kota Korintus
8. Pentingnya isi surat I Korintus
9. Alasan Penulisan 1 Korintus
10. Ciri Khas Surat I Korintus

II. Pendahuluan (1 Korintus 1:1-9)
1. Salam dan Berkat (1:1-3)
2. Ucapan Syukur dan Pengharapan (1:4-9)

III. Perselihan dalam Jemaat (1:10 – 4:21)
1. Perpecahan dalam Jemaat (1:10-4:13)
a. Konsep yang salah tentang hikmat Allah (1:18 – 3:4)
b. Konsep yang salah tentang hamba Tuhan ( 3:5 – 4:13)
2. Cara Paulus memecahkan permasalah perpecahan jemaat ( 4:14-21)

IV. Dosa dalam Jemaat dan pendisiplinannya (5:1-6:20)
1. Disiplin atau hukuman untuk orang yang berzinah (5:1-13)
2. Gugatan dalam Jemaat (6:1-11)
3. Dosa Perzinahan (6:12-20)

V. Paulus memberi jawaban tentang pernikahan, makanan dan tata ibadah yang benar. (7:1 – 11:34)

VI. Beberapa karunia dalam jemaat (12: 1-14:40)
1. Rupa-rupa karunia (12:1-11)
2. Banyak anggota tapi satu tubuh (12:12-31)
3. Karunia besar: Kasih (13:1-13)
4. Karunia Roh (14:1-25)
5. Peraturan dalam Ibadah (14: 26-40)

VII. Doktrin Kebangkitan Kristus (15:1-59)
1. Kebangkitan Kristus (15:1-11)
2. Kebangkitan orang Kristen (15:12-34)
3. Kebangkitan tubuh (15:35-58)
VIII. Pesan Kasih Rasul
1. Bantuan untuk jemaat Yerusalem (16:1-4)
2. Rencana Paulus (16:5-9)
3. Beberapa pemberitahuan (16:10-18)
4. Penutup (16:19-24)

B. II Korintus

I. Pengantar Surat II Korintus
1. Hubungan Rasul Paulus dengan Jemaat Korintus
2. Penulis dan waktu penulisan Surat 2 Korintus
3. Keutuhan surat 2 Korintus
4. Maksud dan tujuan Paulus dalam penulisan 2 Korintus

II. Pendahuluan
1. Salam dan ucapan syukur (2Korintus 1:1-11)

III. Akhir-akhir aktifitas Paulus (1:12-2:13)
1. Perubahan dalam rencana (1:12 – 2:4)
2. Anjuran untuk mengampuni (2:5-11)
3. Kecemasan Paulus (2:12-13)

IV. Pelayanan Rasul (2:14 – 6:10)
1. Pelayanan yang maju dengan kemenangan (2:14-17)
2. Pelayanan menurut Perjanjian Baru (3:1-18)
3. Kesukaran dan kemuliaan pelayanan rasuli (4:1-5:10)
4. Pelayanan untuk pendmaian (5:11-21)
5. Pengalaman Paulus dalam pelayanan (6:1-10)

V. Pemulihan hubungan Paulus dengan orang-orang Korintus (6:11-7:16)

VI. Pengumpulan dana bantuan untuk jemaat Yerusalem (8:1-9:15)
1. Teladan jemaat-jemaat di Makedonia (8:1-7)
2. Anjuran untuk memberi (8:8-15)
3. Pengaturan untuk pengumpulan dana (8:16-9:5)
4. Prinsip persembahan (9:6-15)

VII. Kewibawaan Rasul Paulus (10:1-13:10)
1. Dasar kewibawaan Paulus (10:1-18)
2. Paulus menjawab lawan-lawannya (11:1-15)
3. Mandat Paulus (11:16 – 12:13)
4. Persiapan untuk kunjungan Paulus yang ketiga (12:14 – 13:10)

VIII. Penutup
1. Kata-kata Terakhir (13:1-13)

VI. Bagaimana Supaya Mendapat Nilai (A)
Hadir tepat waktu tanpa ada absent : 15%
Mengerjakan semua tugas tepat waktu dan benar : 40%
Mengerjakan Quis dengan benar : 20%
Mengerjakan ujian akhir semester dengan benar : 25%
Total Keseluruhan : 100% (Nilai A)

VII.Daftar Pustaka
1. Wiersbe Warren W, Hikmat Di Dalam Kristus. (Bandung) Yayasan Kalam
Hidup.
2. J. Sidlow Baxter, Menggali Isi Alkitab: Roma – Wahyu. (Jakarta: 2002). Yayasan Komunikasi Bina Kasih/ OMF
3. Charles F. Pfeiffer & Everett F. Harrison (editor), The Wycliffe Bible Commentary Volume 3. (Malang: 2001) Gandum Mas Malang.
4. Tafsiran Alkitab Masa Kini: Matius – Wahyu. (Jakarta: 1992). Yayasan Komunikasi Bina Kasih OMF.


Tafsir I Korintus


I. Pengantar Tafsir I Korintus

A. Latar Belakang Jemaat Korintus

Korintus, sebuah kota kuno di Yunani, dalam banyak hal merupakan kota metropolitan Yunani yang terkemuka pada zaman Paulus. Seperti halnya banyak kota yang makmur pada masa kini, Korintus menjadi kota yang angkuh secara intelek, kaya secara materi, dan bejat secara moral. Segala macam dosa merajalela di kota ini yang terkenal karena perbuatan cabul dan hawa nafsu. Dalam kota ini ada kuil yang sangat terkenal yaitu kuil Afrodit, dimana sekitar seribu orang pelacur yang dianggap suci yang disediakan bagi penganut agama itu. Lebih lanjut kata Korintus sendiri akhirnya diartikan sebagai percabulan atau “cabul”.
Paulus tiba di Korintus kira-kira pada musim gugur tahun 50. ia mendirikan jemaat dan menetap disitu selama 18 bulan (Kisah Para Rasul 18:1-17). Kemudian ia pergi ke Efesus (ayat 18-19). Jemaat di Korintus terdiri dari beberapa orang Yahudi tetapi kebanyakan adalah orang bukan Yahudi yang dahulu menyembah berhala. Setelah Paulus meninggalkan Korintus, berbagai macam masalah timbul dalam gereja yang masih muda itu, yang memerlukan wewenang dan pengajaran rasulinya melalui surat-menyurat dan kunjungan pribadi.

B. Penulis

Kepenulisan Paulus atas surat I Korintus sudah tidak dapat diragukan. Ada dua bukti yang meneguhkan kepenulisan Paulus terhadap I Korintus. Yang pertama adalah bukti internal, dimana dalam I Korintus 1:1 Paulus mengatakan sendiri bahwa dialah penulis surat ini. Bukti yang kedua adalah bukti eksternal, dimana bapa-bapa Gereja mengakui bahwa Pauluslah menulis surat ini. Klemen dari Roma yang menulis sekitar tahun 95 M, menyebutkan bahwa surat ini ditulis oleh Paulus. Ignatius, Polikarpus juga mengatakan bahwa surat I Korintus adalah ditulis oleh Paulus.
C. Waktu dan Tempat Penulisan

Surat 1 Korintus ditulis selama tiga tahun pelayanannya di Efesus (Kis 20:31; 1 Kor 16:8) pada waktu perjalanan misinya yang ketiga (Kis 18:23--21:16). Berita mengenai masalah-masalah jemaat di Korintus terdengar oleh Paulus di Efesus (1Kor 1:11); setelah itu utusan dari jemaat Korintus (1Kor 16:17) menyampaikan sepucuk surat kepada Paulus yang memohon petunjuknya atas berbagai persoalan (1Kor 7:1; bd. 1Kor 8:1; 1Kor 12:1; 1Kor 16:1). Sebagai tanggapan atas berita dan surat yang diterimanya dari Korintus, Paulus menulis surat ini.

D. Penerima Surat I Korintus

Secara khusus surat I Korintus ditujukan kepada jemaat Korintus (I Korintus 1:2), namun pada umumnya surat ini ditujukan pula kepada jemaat-jemaat yang lain.

E. Berapa banyak surat yang ditulis Paulus kepada Jemaat Korintus

Berdasarkan ayat-ayat Alkitab, kita melihat fakta sebagai berikut:
1. 1 Korintus 5:9
“aku telah menulis kepada di dalam surat, jangan bergaul dengan orang-orang cabul” (Baca KJV). Warren W. Wiersbe mengatakan bahwa surat yang dimaksudkan Paulus disini adalah hilang dan tidak ada di dalam Alkitab kita sekarang. Lebih lanjut Wiersbe mengatakan bahwa surat itu mungkin tidak berhasil menyelesaikan masalah seperti yang diharapkan oleh Paulus, karena setelah itu Paulus masih mendengar dari keluarga Kloe bahwa dalam jemaat itu terdapat masalah-masalah yang cukup serius ( I Korintus 1:11). Kemudian jemaat Korintus mengirimkan seorang utusan untuk membawa surat kepada Paulus yang berisikan sejumlah pertanyaan tentang doktrin dan tata cara pengelolaan jemaat (1 Korintus 7:1; 16:17-18).

2. Surat yang kedua yakni: surat 1 Korintus ini (I Korintus 16:8; 21)

3. Surat yang ketiga merupakan surat yang serius dan bernada keras. Kita dapat melihat hal itu dalam 2 Korintus 2:3,4,9; 7:8-12; 10:9-10 surat ini dibawa oleh Titus ke Korintus.

4. Surat yang keempat yakni 2 Korintus yang ditulis di Makedonia, sewaktu rasul Paulus bertolak dari Efesus saat ia mengutus Titus ke Korintus, ia menanti kabar dari Titus tetapi tak kunjung datang, maka ia meneruskan perjalananya ke Troas, kemudian ke Makedonia dan akhirnya mereka bertemu disana ( 2 Korintus 2:12-13).

Ada beberapa pendapat tentang surat serius yang bernada keras itu, antara lain:
a. Surat ketiga ini hilang.
b. Surat ketiga ini adalah I Korintus yang bernada keras
c. Surat Ketiga ini adalah surat 2 Korintus 10 sampai 13

Dukungan untuk pendapat yang mengatakan bahwa surat itu mungkin hilang.

Coba kita bandingkan antara 2 Korintus 7: 8 dengan 2 Korintus 7:12. ayat-ayat ini menunjukkan bahwa sepertinya Paulus berbicara langsung kepada jemaat itu dan mengatakan bahwa ia tidak menyesal atas suratnya yang membuat jemaaat yang berdosa itu merasa berduka atas dosa-dosannya. Jika Paulus berbicara langsung kepada jemaat itu berarti bahwa mungkin Paulus mengunjungi jemaat itu secara tiba-tiba untuk kunjungan kedua, sehingga ia menulis surat ini untuk menegur mereka, namun surat tersebut hilang ( 2 Korintus 2:10)

Sanggahan untuk pendapat yang mengatakan bahwa surat ketiga ini adalah 2 Korintus 10 sampai 13. Sejak dahulu surat 2 Korintus sudah disusun sedemikian rupa, maka tidak perlu dipisah-pisahkan dan mengatakan bahwa itu adalah dua surat. Jadi kesimpulannya bahwa surat ketiga yaitu surat yang bernada keras itu yang membuat hati jemaat Korintus berduka itu sudah hilang.



F. Lokasi Kota Korintus

Kota Korintus merupakan sebuah pusat perdagangan yang terletak pada sebuah tanah genting sempit yang menghubungkan daratan utama Yunani dengan kepulauan Peloponesos. Kota ini terletak di Propinsi Akhya dan kota ini adalah ibu kota propinsi Akhaya tersebut. Kota Korintus adalah kota yang sibuk, sebagai kota lintasan dan yang merupakan pusat perdagagangan dari utara ke selatan dan dari timur ke barat. Penduduk kota ini adalah campuran – Roma, Yunani, Asia – Korintus. Korintus pernah dinamakan “Kerajaan Roma mini.”

G. Pentingnya Isi Surat Korintus

Surat I Korintus adalah ditulis oleh seorang Misionaris kepada jemaat atau gereja yang telah dia dirikan sendiri, maka isi surat ini adalah membahas tentang cara pemecahan masalah-masalah yang dihadapi gereja itu. Terutama masalah sinkritisme jemaat dengan kebudayaan-kebudayaan kafir dimana mereka berada.

Surat ini memiliki kedudukan yang penting dalam Perjanjian Baru sebab dengan membaca surat ini kita akan mendapat pemahaman bagaimana mengatasi masalah dalam gereja.

Isinya menyinggung tentang masalah-masalah dalam jemaat ketika itu, yang mungkin juga merupakan masalah dalam jemaat masa sekarang. Maka surat ini boleh menjadi suatu pedoman bagi kita bagimana caranya menangani administrasi gereja dan bagaimana mengatasi persoalan dalam jemaat.

Ringkasan pokok isi surat ini:
a. Menyinggung tentang prinsip untuk melakukan siasat terhadap jemaat yang berbuat dosa.
b. Prinsip-prinsip hidup orang Kristen dalam bermasyarakat.
c. Masalah keluarga: Perihal pernikahan dan perceraian.
d. Masalah makanan: Perihal makanan yang dipersembahkan kepada berhala.
e. Prinsip atau tata cara kebaktian umum.
f. Mengenai kedudukan kaum wanita dalam jemaat.
g. Mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan dalam Perjamuan Tuhan.
h. Mengenai berbagai karunia rohani dan cara penggunaannya.
i. Mengenai pentingnya kebenaran tentang kebangkitan.
j. Prinsip-prinsip dan pentingnya memberi sumbangan sosial.

H. Alasan Penulisan Surat I Korintus

Paulus memiliki dua alasan pokok dalam pikirannya ketika ia menulis surat ini:

1. Untuk membetulkan masalah yang serius dalam jemaat di Korintus yang telah diberitahukan kepadanya. Hal-hal ini meliputi pelanggaran yang dianggap remeh oleh orang Korintus, tetapi dianggap oleh Paulus sebagai dosa serius. Seperti perpecahan ( I Korintus 1:11), percabulan ( I Korintus 5:1), dan juga jawaban atas persoalan yang meremehkan kedudukan Paulus sebagai Rasul.
2. Untuk memberikan bimbingan dan instruksi atas berbagai pertanyaan yang telah ditulis oleh orang Korintus. Hal-hal ini meliputi soal doktrin dan juga perilaku dan kemurnian sebagai perorangan dan sebagai jemaat.

I. Ciri-ciri Khas

Lima ciri utama menandai surat ini:

1. Surat ini paling berpusat pada persoalan dibandingkan dengan kitab lain dalam PB. Dalam menangani berbagai masalah dan perkara di Korintus, Paulus memberikan prinsip rohani yang jelas dan kekal (lih. Garis Besar), di mana setiap prinsip itu dapat diterapkan secara menyeluruh dalam seluruh jemaat (mis. 1Kor 1:10; 1Kor 6:17,20; 1Kor 7:7; 1Kor 9:24-27; 1Kor 10:31-32; 1Kor 14:1-10; 1Kor 15:22-23).
2. Secara menyeluruh ditekankan kesatuan jemaat lokal sebagai tubuh Kristus, suatu fokus yang ada dalam pembahasan tentang perpecahan, Perjamuan Kudus, dan karunia-karunia rohani.
3. Surat ini berisi pengajaran PB yang paling luas mengenai berbagai pokok penting seperti pembujangan, perkawinan dan nikah ulang (pasal 7;1Kor 7:1-40); Perjamuan Kudus (1Kor 10:16-21; 1Kor 11:17-34);berkata-kata dengan bahasa Roh, nubuat, dan karunia rohani dalam perhimpunan bersama (pasal 12, 14; 1Kor 12:1-31; 1Kor 14:1-40); kasih agape (pasal 13; 1Kor 13:1-13); dan kebangkitan tubuh (pasal 15; 1Kor 15:1-58).
4. Surat ini memberikan hikmat yang tak ternilai untuk pengawasan para gembala sidang berhubungan dengan disiplin gereja (pasal 5; 1Kor 5:1-13).
5. Surat ini menekankan adanya kemungkinan untuk undur dari iman oleh mereka yang berkanjang dalam perilaku yang tidak benar dan tidak berpegang kepada Kristus dengan sungguh-sungguh (1Kor 6:9-10; 1Kor 9:24-27; 1Kor 10:5-12,20-21; 1Kor 15:1-2).

II. Pendahuluan (1 Korintus 1:1-9)

a. Salam dan Berkat ( I Korintus 1:1-9)

Mengenai kedudukan penulis surat ini ( 1:1)

Paulus mengatakan bahwa dirinya adalah rasul. Oleh sebab itu surat ini adalah surat yang penting dan berotoritas. Dengan kata lain bahwa surat ini adalah ajaran kebenaran dan harus dijadikan sebagai dasar dari pengajaran Kristen. Paulus juga menegaskan kerasulanya karena pada saat itu guru-guru atau pengajar-pengajar palsu sudah merbak kemana-mana, olh sebab itu ada beberapa orang mungkin meragukan kerasulan Paulus. Sehingga dia harus menegaskanya pada bagian awal suratnya. Sebab jika orang menganggap bahwa surat ini di tulis oleh orang yang tidak berotoritas maka surat ini tidak perlu dibaca atau dijadikan sebagai pengajaran.
Kata “Dipanggil oleh kehendak Allah,” menekankan bahwa Paulus menjadi Rasul bukan karena desakan manusia, bukan juga karena dorongan diri sendiri tetapi karena Allah telah memanggilnya untuk menjadi Rasul. Jadi dengan demikian dia memiliki wibawa untuk mengajar jemaat.


Paling sedikit ada tiga kwalifikasi untuk menjadi seorang Rasul, antara lain:

1. Ia harus terpanggil secara langsung oleh Tuhan sendiri. Misalnya kedua belas murid Tuhan Yesus. Matius 10:1-4; Markus 3:13-19; Lukas 6:12-13. Paulus terpanggil oleh Tuhan secara unik, yakni setelah kebangkitan Tuhan Yesus (Kisah Para Rasul 9:5-6,15; Galatia 1:1)
2. Ia harus pernah melihat dengan mata kepala sendiri Yesus yang sudah bangkit dari kematian, sebab tugas utama seorang rasul adalah menjadi saksi atas atau menyaksikan kebangkitan Tuhan Yesus Kristus. ( I Korintus 9:1; 15:5-8; 2Petrus 1:16; dan I Yohanes 1:1).
3. Ia bisa melakukan mukjizat untuk membuktikan kerasulannya ( 2Korintus 12:12; Matius 10:1; Markus 3:14-15).

Jelas bahwa Paulus memenuhi ketiga syarat itu. Maka kerasulannya tidak perlu diragukan lagi.

b. Ucapan Syukur dan Pengharapan (1:4-9)

1. Ucapan Syukur

Pengucapan syukur disini adalah dari ketulusan hati Paulus, bukan karena ia ingin menyindir jemaat Korintus. Tetapi Paulus mengucap syukur kepada Tuhan karena ia sadar betul bagaimana kedudukan jemaat itu didalam Kristus. Alasan lain mengapa Paulus mengucapsyukur kepada Tuhan atas jemaat Korintus adalah, karena sekalipun dia melihat banyak kegagalan atau kebobrokan jemaat itu namun Paulus tetap masih bisa memandang kebaikan mereka yang patut disyukuri. Misalnya adanya kesadaran bagi mereka untuk menyurati Paulus atas apa yang sedang terjadi dalam jemaat iru adalah merupakan kesadaran yang sangat baik dan mereka bukan hanya sadar tetapi ingin memperbaiki kesalahan-kesalahan itu. Itu sebabnya mereka mengirim surat kepada Paulus supaya Paulus dapat memberi solusi atas masalah itu. Apa yang Paulus lakukan disini yaitu bahwa dia masih bersyukur sekalipun ada kegagalan itu perlu kita pelajari dalam jemaat dan pelayanan kita, jadi dengan demikian kita tidak lagi hanya memandang kesalahan, kegagalan jemaat kita, tetapi kita boleh melihat kebaikannya. Dan demikian kita akan tetap bersemangat untuk melayani.

Paulus juga mengucap syukur atas kasih karunia Allah yang dianugrahkan kepada jemaat itu. Kata kasih karunia Allah dalam Alkitab King James Version Grace of God yang diterjemahkan dari Teks Alkitab Textus Receptus χαριτι του θεου dalam bahasa Indonesia anugerah dari Allah. Paulus menyadari bahwa anugerah keselamatan adalah harta yang paling besar yang dapat dimiliki oleh setiap orang percaya, oleh sebab itu Paulus bersyukur atas anugerah keselamatan yang telah diterima oleh jemaat Korintus tersebut.

Paulus juga mengucap syukur karena jemaat Korintus telah menjadi kaya dalam segala hal, baik dalam perkataan maupun dalam perbuatan, walaupun kerohanian mereka seperti kanak-kanak ( I Korintus 3:1), tetapi mereka tidak kekurangan karunia yang Tuhan berikan kepada mereka.

Paulus juga mengucap syukur karena Tuhan tetap memelihara dan meneguhkan iman mereka.


2. Pengharapan Paulus

Dalam 1 Korintus 1:8 kita melihat bahwa Paulus sangat mengharapkan supaya Tuhan meneguhkan jemaat Korintus. Jadi sebenarnya Paulus sangat mengharapkan jemaat itu tidak bercacat cela, ketika mereka berjumpa dengan Tuhan secara muka dengan muka. Agar mereka hidup sesuai dengan kehendak Tuhan. Selanjutnya dalam 1Korintus 1:9 kita juga dapat melihat bahwa Paulus yakin bahwa yang memanggil jemaat itu kepada persekutuan dengan Kristus adalah setia. Jadi dari kedua ayat ini kita melihat bahwa Pulus mengingatkan bahwa sekalipun jemaat Korintus memiliki karunia tetapi yang lebih penting adalah kedatangan Kristus yang kedua kali. Ini adalah suatu kebahagian yang teramat besar dan untuk mempersiapkan diri akan hal itu jemaat dihimbau untuk tidak bercacat dan cela.

III. Perselihan dalam Jemaat (1:10 – 4:21)

a. Beberapa golongan dalam jemaat 1:10-17

1). I Korintus 1:10a, Paulus memperoleh keterangan dari keluarga Kloe bahwa diantara jemaat Korintus ada perselisihan. Selanjutnya kita dapat melihat bahwa ada empat golongan dalam jemaat Korintus ( I Korintus 1:12)

Golongan yang pertama adalah: Golongan Paulus

Alkitab tidk menjelaskan secara terperinci tentang golongan ini. Kemungkinan mereka adalah orang-orang yang sangat mengagumi Rasul Paulus dan kemungkinan mereka adalah terdiri dari orang-orang bukan Yahudi karena Paulus adalah rasul untuk orang bukan Yahudi. Mungkin juga mereka adalah orang yang berat sebelah, dalam artian meninggikan kasih karunia tetapi lupa atas hukum Allah.

Golongan yang kedua adalah: Golongan Apolos

Apolos adalah seorang yang pintar berkotbah dan dia juga disebut sebagai orang yang memiliki intelektual tinggi ( Kis 18:24). Jadi golongan kemungkinan terdiri dari orang-orang yng gemar dengan retorika dan intelektual yang tinggi.

Golongan yang ketiga adalah: Golongan kefas/ Petrus

Kemungkinan golongan inilah yang meragukan kerasulan Paulus. Mereka lebih memilihi hubungan dengan Yerusalem melalui Petrus. Jadi kemungkinan besar golongan ini terdiri dari orang-orang Yahudi yang meninggikan hukum Taurat daripada kasih karunia.

Golongan yang keempat adalah: Golongan Kristus

Golongan ini adalah golongan yang kemungkinan terdiri dari orang-orang yang pernah melihat dan mendengar kotbah dan pengajaran Kristus, dan oleh karena mereka sudah pernah melihat dan mendengar Kristus berkotbah maka mereka menganggap hal itu sebagai sesuatu yang layak disombongkan. Akhirnya mereka menganggap rendah jemaat-jemaat yang lain yang tidak seperti mereka. Mereka menganggap bahwa mereka lebih rohani dari jemaat yang lain.

Dewasa ini sekalipun gereja atau jemaat tidak menggolongkan dirinya dalam satu golongan yang berbeda dengan yang lainnya, namun hal-hal semacam ini sering terjadi dalam gereja. Seperti hal berikut ini:

1. Menekankan anugerah tapi kebablasan (Menekankan anugerah tetapi melalaikan hukum Tuhan) hal ini bisa kita jumpai di gereja Injili zaman ini, karena tahu bahwa keselamatan adalah anugerah sehingga dia berpikir bahwa ia bebas melakukan apapun termasuk dosa. Sesungguhnya orang seperti ini adalah orang yang belum diselamatkan.

2. Mereka yang mementingkan ratio, sehingga apa yang sulit diterima ratio atau yang meta ratio langsung ditolak mentah-mentah dan menganggap bahwa jika tidak sesuai dengan ratio maka hal itu bukanlah kebenaran. Orang seperti ini sering kita temui dari gereja-gereja liberal.

3. Mereka yang bukan hanya menekankan iman untuk keselamatan, tetapi juga perbuatan seperti amal, baptisan, perjamuan kudus dan yang lain-lain. Golongan seperti ini sering kita temui dari gereja Pentakosta dan Kharismatik. Golongan seperti ini sama dengan kaum Yudaizer di gereja Galatia yang berpikir bahwa keselamatan tidak cukup hanya karena kasih karunia tetapi harus ditambah dengan melakukan hukum Taurat,

4. Mereka yang sangat menekankan doktrin yang benar. Mereka yang mengajarkan bahwa keselamatan hanya karena anugerah melalui iman kepada Kristus dan memelihara doktrin yang Alkitabiah. Tetapi seringkali meremehkan orang lain. Golongan seperti ini sering kita temui di gereja fundamentalis.

Keempat golongan diatas masing-masing memiliki kesalahan sendiri. Oleh karena itu jadilah jemaat yang Alkitabiah dalam hal doktrin dan juga Alkitabiah dalam hal praktek hidup. Itu jauh lebih bik dari keempat tipe jemaat masa kini.

2). I Korintus 1:10b
Paulus menasehatkan mereka demi nama Tuhan Yesus Kristus, artinya nasehat Paulus itu sesuai dengan kehendak Tuhan, dan kata ini memberikan gambaran bahwa nasehatnya itu saangat penting, sebab itu jangan dianggap remeh.

Ada tiga alasan mengapa Paulus memberi nasehatnya:
1. Paulus menyebut mereka saudara-saudara. Artinya bahwa orang Kristen sekalipun berbeda suku dan budaya tetapi dianggap sebagai saudara sebab-sama telah ditebus oleh darah Kristus.
2. Karena Kristus tidak terbagi-bagi (1Korintus 1:13a band Efesus 4:5)
3. Karena mereka adalah satu baptisan, yaitu didalam nama Yesus. Bukan dalam nama seseorang sehingga mereka menjadi milik seseorang itu (1Kor 1:13b band Efesus 4:5).

Teladan dari Rasul Paulus bagaimana ia menggembalakan
a. Paulus tidak merasa senang dengan adanya sekumpulan orang yang menamakan diri mereka golongan Paulus. Dengan demikian dia tidak membawa orang kepadannya sendiri tetapi kepada Kristus. (1 Kor 1:10)
b. Paulus mengatakan, aku mengucap syukur karena tidak ada orang yang kubaptiskan. Mengapa Paulus mengatakan hal ini, karena jika ia memang sudah banyak membaptiskan orang di jemaat itu maka hal itu akan menjadi faktor dari perpecahan gereja itu. Karena mereka yang dibaptis itu akan mengatakan bahwa mereka adalah golongan Paulus.

Aplikasi bagi kita

1. Tata cara bukan sesuatu hal yang paling penting, melainkan mendengar Injil dan sudah menjadi percaya.
2. Kalau perpecahan disebabkan perbedaan liturgi, maka tata acara tersebut akan kehilangan maknanya.
3. Kalau gereja terlalu mementingkan tata cara ibadah maka itu akan mengakibatkan keboborokan gereja itu dan akan menuju kesesatan.

3). 1 Korintus 1:17b,
“itu bukan dengan hikmat perkataan supaya salib Kristus jangan menjadi sia-sia” ini berarti bahwa pemberitaan Paulus adalah Injil yang bukan brdasarkan hikmat manusia, tetapi perkataan yang datang dari Tuhan dan sangat sederhana. Sekalipun kita tahu bahwa dia adalah seorang yang terpelajar tetapi dia tidak mengajar atas hikmat dari dirinya sendiri tetapi karena bersandar dan dipimpin oleh Roh Kudus. Semuanya dilakukan supaya salib Kristus tidak menjadi sia-sia. Injil itu sederhana, jangan mengubahnya menjadi filsafat yang menyulitkan.

b. Sebab Perpecahan dalam Jemaat

1. Konsep yang salah tentang hikmat Allah (1:18 – 3:4)
Menurut paulus ada dua jenis hikmat yaitu himat duniawi dan hikmat rohani, ada dua juga jenis pengetahuan yaitu pengetahuan duniawi dan pengetahuan rohani dan ada dua jenis manusia, manusia duniawi dan manusia rohani (1Korintus 1:18-20 dan 2:6-16).

a) Perbedaan hikmat Allah dan hikmat manusia:
Kota Korintus adalah kota yang padat dan ramai, Yunani terkenal dengan filsafat. Maka tidak heran jika penduduknya sangat mengagumi filsuf serta menjunjung tinggi hikmat duniawi, tetapi hikmat duniawi tidak dapat memecahkan persoalan hal rohani (1 Kor 1:21-22b). Wiersbe juga mengatakan bahwa salah satu penyebab perpecahan di jemaat Korintus adalah karena jemaat Korintus memandang Injil dari sudaut pandang filsafat, dimana mereka ingin menonjolkan hikmat mereka (manusia).

“Orang-orang Yunani mencari hikmat,” mereka sangat mengutamakan filsafat, sehingga meremehkan pemberitaan Paulus tentang salib Kristus (1Kor 2:2). Pada bagian sebelumnya kita telah melihat bahwa jemaat itu terbagi-bagi dalam beberapa golongan, diantaranya ada golongan Apolos yang mengagumi Apolos yang terkenal memiliki pengetahuan dan hikmat serta cara berpidato yang baik sehingga meremehkan saudara-saudara yang lain yang tidak berpengetahuan. Sesuangguhnya karena mereka sangat meninggikan hikmat manusia maka mereka menganggap bahwa mereka adalah orang-orang yang paling berhikmat dan orang yang paling berpengetahuan, sehingga mereka menganggap bahwa pemberitaan tentang salib adalah suatu kebodohan (1 Kor 1:18). Dalam 1 Kor 2:8 dijelaskan bahwa orang-orang yang menganggap dirinya berhikmat itu menolak Tuhan Yesus, kemudian dalam 1 Kor 1:20 mereka menganggap bahwa mereka adalah orang yang berhikmat, tetapi ayat ini mengatakan bahwa mereka adalah orang yang bodoh.

b) Orang yang berhikmat adalah orang yang mewakili para filsuf di Yunani yang menganggap bahwa pemberitaan tentang salib adalah suatu kebodohan. Karena mereka berpikir bahwa hanya orang bodohlah yang mencari keselamatan kepada orang yang tersalib.

c) Ahli Taurat mewakili orang Yahudi yang rajin mempeljari Alkitab dan orang-orang yang banyak mengetahui tentang isi Alkitab.

d) Pembantah (Pendebat) dari dunia ini mewakili para filsuf yang suka akan perdebatan.

Keempat golongan ini menganggap bahwa merekalah orang yang paling berhikmat. Padahal pengetahuan mereka adalah hanya sebatas hikmat duniawi yang tidak membawa mereka kepada keselamatan. Sekarang kita juga sering menemui orang-orang seperti diatas. Banyak orang karena merasa dirinya pintar dan akhirnya menganggap bahwa kepintarannya datapat menyelamatkannya. Dan sekarang ini banyak juga para teolog yang belum bertobat menyesuaikan pengajarannya dengan zaman ini, mereka menonjolkan ilmu duniawi daripada Alkitab. Sebab bagi mereka Alkitab bukanlah kebenaran yang absolut. Padahal sebaliknya ilmu pengetahuanlah ilmu yang tidak absolut dan Alkitab adalah kebenaran yang absolut.
Hikmat Yang Berasal dari Tuhan (1Kor1:21)

Hikmat Allah adalah bagaimana Allah menyelamatkan manusia yang berdosa dengan cara yang tidak dipahami oleh orang-orang berhikmat secara duniawi. Hikmat Allah dalam hal ini adalah berita tentang salib yaitu sesuatu berita yang sangat sederhana tetapi tersembunyi dan merupakan rahasia sehingga orang duniawi tidak mengerti akan hal itu sekalipun dikatakan bahwa mereka memiliki hikmat yang tinggi (hikmat duniawi), hal ini dapat kita baca dalam 1Korintus 2:7 dan akhirnya mereka menggap berita itu adalah berita bodoh (1 Kor 2:14). Dan jika seseorang mau mengerti hikmat Allah maka mereka harus memiliki Roh Allah artinya bahwa mereka harus dilahirbarukan baru setelah itu mereka akan mengetahui hikmat Allah. Dalam 1 Kor 2:15 juga mengatakan bahwa orang-orang yang percaya kepada Tuhan harus menilai segala sesuatu dengan pandangan rohani, tetapi manusia rohani tidak dapat dinilai oleh orang lain yang tidak mempunyai pikiran Kristus.

Perbedaan konsep dari tiga golongan orang yang terdapat dalam jemaat
Korintus terhadap Kristus (1Kor 1:21-31)

Golongan Pertama adalah golongan Yahudi: Golongan yang menghendaki tanda (1Kor 1:21-22a)

Golongan ini mewakili orang-orang yang beragama terhadap Kristus. Mereka ini adalah orang-orang yang terlalu meninggikan mukjizat. Jadi jika mereka tidak melihat mukjizat maka mereka tidak akan percaya pada Injil. Kata menghendaki tanda dalam KJV require a sign. Kata require merupakan satu asal kata dari kata request atau permintaan. Jadi menghendaki tanda dalam ayat ini artinya bahwa orang Yahudi meminta tanda atau mukjizat dan jika mereka melihatnya baru mereka percaya. Pada zaman Yesus juga terlihat sifat yang seperti ini. Mereka meminta Tuhan Yesus untuk melakukan mukjizat (Matius 12:38-39; 16:1-4; Mark 8:11-12; Yoh 21:18; 6:30). Mereka juga dapat mewakili orang-orang yang beragama, yang percaya bahwa keberadaan Allah, namun tidak percaya bahwa Yesus adalah Anak Allah. Karena orang Yhudi menolak untuk percaya bahwa Yesus adalah Anak allah maka pemberitaan salibn adalah batu sandungan bagi mereka. Golongan orang Yahudi ini juga tidak percaya bahwa keselamatan hanya karena anugerah di dalam iman kepada Kristus. Mereka berpikir bahwa keselamatan dapat dicapai dengan perbuatan baik, melakukan hukum Taurat dan sejumlah jasa-jasa kebaikan mereka. Sehingga dengan demikian mereka menolak kebenaran salib. Sampai sekarang juga banyak orang yang seperti ini. Ada banyak orang yang tidak mau percaya kalau penyakitnya tidk disembuhkan atau singkatnya dia harus melihat mukjizat dulu baru setelah itu dia mau percaya. Hal ini sangat berbahaya, dima jika seseorang mau menjadi “percaya” karena mukjizat itu perlu diragukan bagiamana sebenarnya imannya. Karena bisa jadi suatu saat dia tidak melihat mukjizat lagi terjdi saat dia berdoa maka mungkin saja dia kembali meragukan apa yang perbah dia percaya.

Golongan Kedua adalah Golongan Yunani: Mencari Hikmat

Orang Yunani adalah orang yang mewakili para pemikir dan yang tidak mempercayai suatu agama tertentu. Yunani adalah sumber filsafat, atau sumber dari pengetahuan duniawi. Mereka sangat meninggikan filsafat diatas segala-galannya, sehingga mereka menyepelekan Injil. Padahal hikmat mereka adalah hikmat duniawi yang tidak mungkin dapat menyelematkan mereka. Orang-orang ini menolak Kristus sebab bagi mereka Kristus hanyalah manusia biasa, sebagai anak tukang kayu, anak orang miskin, anak yang tidak memiliki pendidikan formal seperti para filsuf. Dan menurut mereka bahwa percaya kepada Kristus adalah sesuatu yang irrasional atau tidak masuk diakal dan sebab itu bagi mereka Injil adalah suatu kebodohan.

Golongan ketiga adalah orang-orang Kristen sejati: Orang-orang yang dipanggil Kristus

Sekalipun diatas Paulus telah menggambarkan bagaimana orang Yahudi dan orang Yunani atau mewakili semua suku dan ras manusia banyak menolak Kristus, tetapi ada juga orang yang terpanggil untuk menerima Kristus dan diselamatkan. Tanggapan orang-orang Yunani dan orang Yahudi atau sama dengan tanggapan orang yang menolak Kristus terhadap orang-orang yang menerima Kristus adalah seperti berikut ini.
1. Orang yang menerima panggilan Kristus adalah orang yang bodoh ( 1Kor 1:27)
2. Orang yang menerima panggilan Kristus adalah orang yang lemah.
3. Orang yang menerima panggilan Kristus adalah orang yang tidak terpandang.
4. Orang yang menerima panggilan Kristus adalah orang yang tidk berarti.

Tetapi tanggapan Tuhan terhadap orang yang menerima panggilan-Nya untuk diselamatkan adalah:
1. Mereka adalah orang bijaksana, mereka diselamatkan bukan karena hikmat manusia, melainkan atas kekuatan Allah dan hikmat Allah.
2. Mereka adalah orang yang mulia (Band 1Pet 2:9)

Sikap rasul Paulus dalam Memberitakan Injil (1Kor 2:1-5)

Dari nats ini kita sebagai hamba Tuhan boleh belajar dari Paulus bagaimana sebenarnya sikap yang benar dalam memberitakan Injil.

a. Apa seharusnya yang menjadi isi berita kita (1Kor 2:1-2)
 Tidak menjunjung tinggi hikmat duniawi (manusia) diatas hikmat Allah.
 Tidak meninggikan diri sendiri atau orang lain (tetapi meninggikan Kristus)
 Tidak meninggikan Ilmu duniawi diatas berita salib Kristus.
Diatas segala sesuatunya berita Paulus hanya menjunjung tinggi berita tentang salib Kristus. Itulah inti berita Injil atau pondasi dari berita Injil. Karena hanya Yesus yang tersaliblah yang dapat menyelamatkan manusia yang berdosa. Gagal memahami pengorbanan Yesus di kayu salib maka keselamatan tidak akan mungkin didapatkan.

b. Kita harus berhati-hati dalam mengajar sebab kita adalah orang yang lemah (1Kor 2:3). Jadi dengan demikian kita harus:
 Mempersiapkan diri untuk mengajar dengan benar, jangan memberitakan Injil dengan asal-asalan saja atau secara sembarangan.
 Jangan merasa sudah terlalu pintar dan akhirnya tidak mau lagi diajar dan belajar. Lihatlah Paulus: dia adalah seorang yang terpandang sebelum pertobatannya dia diasuh guru besar yang benrama Gamaliel (Kis 21:3,9; 22:20) dia memiliki pengalaman rohani yang tinggi sebab dia melihat Kristus yang bangkit (1Kor 12:12) dia bisa melakukan mukjizat (2Kor12:12) dia memiliki pengalaman ajaib tatkala dia diangkat ke langit yang ketiga (2Kor 12:4). Namun dia tidak mau meremehkan pemberitaan Injil, malah dia merasa bahwa dirinya adalah manusia yang lemah. Mengapa dia berpikiran demikian ini, ini karena dia tahu bahwa memberitakan Injil bukanlah pekerjaan duniawi jadi jangan bersandar kepada hikmat dan pengetahuan duniawi.

c. Kita harus bersandar pada kekuatan Allah (1 Kor 22:4-5)
Kita tahu bahwa pemberitaan Injil adalah pekerjaan rohani jadi janganlah kita bersandar kepada kuasa duniawi. Jangan kita bersandar kepada kekuatan kita sendiri, tetapi kita harus bersandar kepada kuasa Allah, sehingga jika pelayanan kita berkembang tetap Tuhanlah yang dimuliakan bukan kita dan bukan juga orang lain.

Keadaan Rohani dari Jemaat Korintus (1Korintus 3:1-4)

Paulus berulangkali menyapa dengan “manusia duniawi,” kata manusia duniawi dalam bahasa Yunani adalah Sarkikos, dari kata dasar sark yang artinya daging, jadi arti dari kata manusia duniawi adalah manusia yang bersifat kedagingan, yang hidup menurut daging, yang hidup didalam daging, dan dibalik arti dari kata sarkikos tersirat suatu arti yang lain yaitu lemah dan hal itu diperkuat dari perkataan Paulus yang selanjutnya yaitu istilah belum dewasa. Paulus menegur mereka dengan tajam, dimana menurut Paulus bahwa mereka masih manusia duniawi karena mereka masih ada iri hati, dan perselisihan. Tampakny sifat keduniawian mereka membuat mereka menjadi bandel dan menolak pengajaran yang benar. Jika kita adakan perbandingan antara manusia duniawi dan rohani maka kita akan melihat perbedaannya, dimana manusia rohani adalah orang yang bukan hanya sudah dilahirbarukan oleh Roh Kudus, tetapi mempunyai hidup Kristus yang berkelimpahan ( 1 Kor 3:1 band Yohanes 10:10). Dengan kata lain mereka menghasilkan buah Roh Kudus didalam kehidupan sehari-hari (Galatia 5:22-25).

5. Mengapa Paulus menyapa mereka dengan manusia duniawi:
a. Mereka belum dewasa secara rohani (1Korintus 3:1a)
b. Pemahaman rohani mereka masih dangkal (1Kor 3:2)
c. Tingkah laku mereka masih seperti orang dunia. Untuk hal ini ada beberapa bukti:
 Mereka mengadukan perkara mereka di pengadilan (1Korintus 6:1)
 Ada perzinahan ditengah-tengah mereka (psl 5)
 Mereka masih suka makan dan duduk di tempat penyembahan berhala (Kuil) pasal 10.
 Sebagian dari mereka masih dikuasai hawa nafsu atau darah daging, sehingga kehidupan mereka tidak brmoral.

Mengantisipasi ketiga ciri ini maka Paulus menyampaikn berita yang cocok untuk mereka. Paulus mengatakan bahwa karena mereka atau orang Korintus masih belum dewasa, masih duniawi maka dia memberitakan beritanya yang seperti susu. Jadi kitapun sebagai hamba Tuhan kita harus melihat kondisi pendengar kita supaya kita dapat berhsil dalm memberitakan Injil.


2. Konsep yang salah tentang hamba Tuhan ( 3:5 – 4:13)

Alasan yang kedua yang menyebabkan terjadinya perpecahan adalah salah pengertian tentang hamba Tuhan. Jemaat Korintus tidak menyadari bahwa para pelayan Tuhan tidak lebih dari seorang hamba yang melayani Allah dan sesungguhnya yang bekerja adlah Allah. Dan oleh karena itu yang dimuliakan juga adalah siapa yang dilayani bukan yang melayani (bukan hamba yang dipuji tetapi Allah lah yang dipuji).

Pandangan yang benar Terhadap Hamba Tuhan

a. Hamba Tuhan artinya adalah pesuruh Tuhan yang harus tunduk secara mutlak kepada Tuhan untuk pergi memberitakan Injil. Seperti budak belian yang tidak dapat menolak untuk melakukan tugas yang disuruh oleh tuannya. Mereka memberitakan Injil masing-masing menurut jalan yang Tuhan berikan kepadanya (1Korintus 3:5). Artinya bahwa hamba Tuhan mengerjakan tugas masing-masing dari apa yang ditetapkan oleh Tuhan sebagai seorang pesuruh. Bukan mereka yang mengakibatkan orang lain percaya kepada Tuhan, melainkan karunia Tuhan yang diberikan kepada mereka, sehingga dipakai oleh Tuhan untuk membawa orang lain percaya kepada Tuhan (Roma 12:3; 1Kor 12:9).

b. Hamba Tuhan ibarat seorang petani (1Korintus 3:6). Paulus mengatakn baik dirinya mupun Apolos adalah seperti petani. 2 Timotius 2:6 “...ada yang menanam dan ada yang menyiram.” Dalam 1 Kor 3:9 Jemaat diibaratkn seperti ladang Allah, hamba Tuhan sebagai rekan sekerja Allah untuk menanam, menyiram serta menuai. Tentunya hasilnya adalah kepunyaan pemilik ladang itu. Sehingga pekerja tidak perlu mnyombongkan diri.

c. Hamba Tuhan sebagai Ahli bangunan (1Kor 3:9-10). Paulus mengatakan bahwa ia seorang ahli bangunan, dan orang lain membangun diatasnya. Semuanya adalah pekerja Allah. (1Kor 3:16-17) semuanya merupakan rumah Roh Allah. Dengan kata lain, pemilik rumah itu adalah Allah sendiri dan jika sudah selesai akan diberikan kepada pemiliknya.

d. Hamba Tuhan adalah pelayan (1Kor 4:1-2). Kata pelayan dalam hal ini lebih tepat diterjemahkan sebagai pengurus rumah. Lebih lanjut pelayan disini dimaksudkan seperti seorang yang dipercaya untuk mengatur rumah tangga majikannya. Jadi hamba Tuhan adalah mengatur rumah Tuhan atau gereja.

e. Hamba Tuhan adalah seorang tahanan yang tidak memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang ia mau (1 Kor 4:9). Paulus mengatakan bahwa para rasul berada di posisi yang rendah, seperti orang yang telah dijatuhi hukuman mati (2Timotius 2:9). Dengan kata lain ia tidak mempunyai kebebasan sendiri, bahkan ia harus menderita secara physik maupun emosi (2Kor 4:11-13). Dalam I Korintus 4:11 Paulus memaparkan suatu penderitaan kepada kita. Dengan kata lain bahwa mereka tidak menaruh pengharapan bagi dunia., sebaliknya mereka telah disalibkan bagi dunia (Galatia 6:14). 4:9b – “tantangan bagi dunia, bagi malaikat-malaikat dan bagi manusia.” Ini dilatar belakangi dengan saat itu seringkali orang Kristen dilemparkan kedalam gua singa atau ditaruh dalam arena kompetisi bagi orang-orang yang dijatuhi hukuman mati, baik berkelahi dengan sesama manusia atau dengan binatang buas; sedangkan orang lain bisa menontonnya.

Hamba Tuhan kelak akan diperhadapkan ke tahta pengadilan (1korintus 3:10-15; band 2Kor 5:10). Suatu hari kelak tiap orang Kristen akan menghadap tahta pengadilan Kristus. Ini bukan berarti suatu penghakiman keselamatan, menghadap tahta pengadilan Kristus adalah perihal penentuan upah, pahala atau mahkota.

Bagaimanakah Hamba Tuhan itu akan dihakimi:

1. Tuhan menilai apakah hamba Tuhan itu telah meletakkan dasar rumah itu diatas dasar Kristus (3:11). Yesus Kristus merupakan fondasi gereja dan dasar kepercayaan orang Kristen (Kis 4:11-12; 1Pet 2:6 – Yesus disebut sebagai batu penjuru) jadi dasar pemberitaan seorang hamba Tuhan sejati adalah apakah ia memberitakan dan membuat pesan utamanya tentang Kristus yang disalibkan (1Korintus 2:2).

2. 1Korintus 3:12 adalah merupakan dasar yang kedua – yang dimaksudkan disini adalah emas, perak, batu permata; yang merupakan suatu bahan yang kuat dan yang tahan uji. Dan disini emas perak, batu permata dapat melambangkan Firman Tuhan yang murni (Mazmur 19:10-11; Maz 119:72;127).

3. 3:10b –“tiap-tiap orang harus memperhatikan” ini mempunyai arti bahw setiap orang yang membangun atau melayani dalam pemberitaan Injil, jangan melakukannya dengan sembarangan saja. Dan mereka harus melakukannya setia kepada Tuhan.

3. Pahala yang disediakan Tuhan bagi hamba-hambanya, baik bagi yang menanam, maupun yang menyiram adalah sama. Dan pahala yang dimaksud disini kita tidak dapat menggambarkannya bahw seperti apakah pahala atau mahkota itu. Seperti yang dikatakan dalam 1Korintus 2:9, bahwa hadiah itu tidak ada dalam dunia ini, yakni:
a. tidak pernah dilihat oleh mata
b. tidak pernah didengar oleh telinga
c. tidak pernah timbul dalam pikiran manusia

Teguran Terhadap Mereka Yang Berpihak-Pihak (4:14-21)

1) 1Korintus 4:14-16, disini Paulus menegur mereka sebagai bapa rohani atau pemimpin rohani jemaat itu. Seperti bapak menegur anak-anak yang dikasihinya, dimana dia adalah perintis jemaat itu. (Kis 18:1-11). Fakta ini tidak bisa disangkal oleh mereka yang menantang dia. Maka dalam segi rohani jemaat Korintus merupakan anak-anak yang dilahirkan melalui Injil Kristus yang diberitakan oleh Paulus ditengah-tengah mereka. Maka sebagai seorang bapa rohani, Paulus mempunyai kewajiban untuk mengawasi, menegor dan membimbing anak-anak rohaninya kepada kebenaran. Tetapi semuanya itu dia dasarkan atas kasihnya kepada mereka. Pada 4:14 kita temukan kata “Yang Kukasihi” ini menunjukkan betapa Paulus menegur mereka adalah karena kasihnya saja. Paulus juga memmemberikan perbandingan antara ia dengan guru-guru yang lain (1Korintus 4:15). Dalam ayat ini Paulus mengatakan bahwa:
 Hubungan antara Paulus dengan mereka lebih intim daripada hubungan guru-guru lain dengan mereka.
 Karena mereka berkelompok-kelompok, banyak berpihak kepada Apolos yang penuh hikmat, sehingga mereka meremehkan Paulus yang tidak secakap Apolos.
 Paulus menunjukkan dirinya sebagai bapak, dan yang lain itu sebagai guru saja.
Dalam 1Kor 4:16, Paulus mengatakan “Turutilah teladanku,” sesunguhnya ini bukan sikap menyombongkan diri, tetapi ia ingin agar semua jemaat itu hidup seperti bagaimana Paulus hidup di dalam Kristus.

2) 4:17 – Paulus akan mengutus Timotius ke jemaat Korintus (band Kis 19:21-22). Paulus menyebut Timotius sebagai “anakku yang kukasihi” 1Timotius 1:2, ia menyapa Timotius sebagai anakku yang sah. Semuanya maknanya sama, yaitu anak rohani. Latar belakang Kis 16:1-3, Paulus memilih Timotius sebagai rekan kerjanya yang berasal dari Listra. Pada perjalanan PI Paulus yang pertama, ia sudah menjadi orang Kristen, sampai pada PI Paulus yang kedua ia dijadikan sebagai rekan kerjanya untuk memberitakan Injil ketempat-tempat yang lain. Timotius sebagai pembantu Paulus yang setia dan sangat dipercayai oleh Paulus.

Adapun maksud Paulus mengutus Timotius ke Korintus tidak lain karena:
 Orang yang paling mengenal karakter dan kehidupan rohani Paulus ialah Timotius.
 Untuk memberikan penjelasan kepada jemaat Korintus yang menaruh prasangka terhadap diri Paulus.
 Perlu seorang pengantara untuk melenyapkan prasangka jemaat Korintus terhadap Paulus.
3) 4:18-19 – Paulus memberitahukan bahwa ia akan mengunjungi jemaat Korintus.
4:18 – di antara mereka ada yang sombong, mereka mengira rasul Paulus tidak berani kesana. Maka Paulus memberikan pernyataan bahwa meskipun ia berencana akan datang kepada mereka, namun semua tergantung dari kehendak Tuhan (4:19b “kalau Tuhan menghendaki”).
4:19c –Maksudnya: Paulus akan kesana, ia mau mengetahui bukan mengenai kesombongan mereka, tetapi mengenai sampai dimakah kusa rohani mereka.

4) 4:20-21 – Paulus menyatakan bahwa ia bersedia menggunakan kuasa rohaninya. Sebagai seorang rasul, atau sebagai seorang bapak, ia mempunyai kuasa rohani atau kewjiban untuk menghukum mereka. Ia menanyakan dalam 1Kor 4:21:
- membawa cambuk – kuasa sebagai rasul
- hati lemah lembut – kuasa sebagai bapak.
Semuanya ini adalah karena Paulus ingin supaya mereka bertobat dan tidak membangkang lagi.




III. Dosa Dalam Jemaat dan Prinsip Hukumannya (5:1-6:20)

1. Dalam Ikorintus 5:1-13, dijelaskan bahwa ada orang yang hidup bersama-sama (percabulan) dengan istri ayahnya atau ibu tirinya. Dan jika melihat ayat ayat 2 kita melihat bahwa seolah-olah mereka tidak sedih atas peristiwa itu. Mungkin mereka berpikir bahwa kemerdekaan dalm Kristus adalah berarti kebebasan dalam ketentuan-ketentuan moral, khususnya yang berhubungan dengan hubungan seksual, Paulus menegaskan bahwa kelalaian mereka dalam hal ini tidak sesuai dengan kesopanan umum, lebih-lebih peraturan gerejawi.
a. Paulus memberi petunjuk untuk memberi tindakan kepada perlakuan yang tidak menunjukkan moral Kristiani tersebut:
i. Dia harus diserahkan dalam nama Yesus kepada Iblis: artinya dikeluarkan dari gereja. Bagi Paulus hanya ada dua penguasa. Yang pertama adalah Allah dan yang lain adalah Iblis. Kristus adalah kepala jemaat, pemimpin dan pemilik jemaat. Maka jika seseorang telah dikeluarkan dari jemaat maka orang itu telah ada dalam kekuasaan iblis. Tetapi Paulus menunjukkan bahwa disiplin itu bukanlah supaya orang tersebut benar-benar terhilang, tetapi supaya dia bertobat: “sehingga binasa tubuhnya, agar rohnya diselamatkan. Denis Gren mengatakan bahwa maksud Paulus disini adalah bahwa binasa tubuhnya adalah mengacu kepada penderitaan jasmani sebagai akibat dosa. Penderitaan itu mudah-mudahan akan menjadi suatu peringatan cukup keras dan jelas sehingga orang itu menyadari perbuatannya dan bertobat, meskipun tubuhnya telah rusak karena dosa.
ii. Paulus mengatakan bahwa orang yang melakukan dosa semacam itu harus diusir, supaya ia tidak menjadi seperti ragi yang akan mengkhamirkan semua adonan. Dalam Firman Tuhan Ragi selalu diidentikkan dengan dosa. Jadi maksud Paulus disini adalah bahwa jika jemaat Korintus membiarkan dosa kecil masuk kedalam jemaat maka itu akan merusakkan semua jemaat itu. (ayat 6-8) bandingkan dengan Matius 6:16; 11:12, Mark 8:15.
iii. Paulus mengatakan bahwa mereka harus menghindari orang yang seperti itu. Hal ini merupakan hukuman secara psikologi. Dan dengan demikian dia diharapkan akan bertobat (5:11-12)

b. Tujuan untuk melakukan penghukuman terhadap orang yang melakukan dosa.
i. Untuk memelihara kesucian gerej, supaya jangan sampai terpengaruh seluruhnya seperti ragi dalam adonan (5:6-8)
ii. Supaya menjaga nama baik gereja, gereja tidak difitnah atau dikritik oleh orang dunia, sehingga bisa menjadi batu sandungan bagi mereka (5:11-13)
iii. Supaya orang yang didisiplin boleh sadar dan bertobat dan memperoleh keselamatan (5:5, Band 2Kor2:6-8).

2. Gugatan Dalam Jemaat (6:1-11)
Dari bagian ini kita akan melihat bahwa jemaat Korintus bukan hanya berpihak-pihak tetapi juga saling mengadukan di dalam pengadilan. Paulus menegur mereka yang saling mengadukan di dalam pengadilan duniawi. Paulus menasehati mereka bahwa perlakuan seperti ini tidaklah pantas:
i. Dari 6:1-6, Paulus memberikan penjelasan bahwa kelak orang percaya akan menghakimi orang yang belum percaya. Karena:
 Orang Kristen mempunyai kedudukan sebagai orang yang dibenarkan oleh Tuhan. (6:11). Disamping itu orang Kristen juga disebut sebagai orang benar dan orang kudus. Jadi dengan demikian ini maka orang yang belum dibenarkan tidak layak menghakimi mereka.
 Jika perkara sesama orang Kristen dihakimi oleh orang dunia maka kesaksian sebagai orang Kristen akan tidak bermamfaat.
 Orang Kristen sejati akan mampu menghakimi dunia, maka seharusnya mereka mampu mengurus persoalan mereka sendiri.
 Orang percaya bahkan akan mampu menghakimi malaikat-malaikat maka orang percaya pasti mampu mengurus penghakiman yang baik di dalam jemaat atau secara intern.
 Orang dunia tidak ada tempatnya di dalam jemaat, jadi orang dunia jangan menghakimi jemaat. (6:4-6)
ii. Dari 1Kor 6:7-11 Paulus menegur mereka bahwa orang Kristen tidak patut kalau saling menggugat. Karena seharusnya sebagai orang percaya mereka tidak boleh saling menggugat karena:
 Mereka harus saling mengasihi. Yang diruikan tidak mau dirugikan 6:7-8.
 Dosa-dosa tersebut adalah dosa yang tidak seharusnya ada dalam jemaat. Itu adalah dosa yang dilakukan oleh orang yang belum bertobat (mereka yang belum diselamatkan atau manusia lama yang belum dilahirbarukan)

3. Dosa Perzinahan (6:12-20)
Dalam pendahuluan kita telah mempelajari bahwa kota Korintus adalah kota yang bobrok secara moral atau cabul. Dan pada fasal ini kita melihat bahwa sekalipun jemaat Korintus sudah menjadi Kristen tetapi kebudayaan tersebut masih tetap mempengaruhi mereka sehingga Paulus harus memberitahukan penjelasan tentang kemerdekaan bagi orang Kristen.
i. Orang Kristen tidak terikat oleh peraturan atau hukum seperti orang Yahudi. Kita diselamatkan oleh kasih karunia dan dibebaskan dari hukum yang mematikan (Roma 7:9-11), tetapi kebebasan itu tidak berarti kita boleh melakukan segala hal menurut keinginan kita sendiri, sebab tidak semua hal berguna untuk membangun iman kita. Sebaliknya ada hal-hal yang justru dapat memperhambakan kita pada dosa, sehingga hal-hal semacam itu harus kita hindari.
ii. Kemerdekaan kita adalah dimana Kristus telah membebaskan kita dari perbudakan dosa. Jadi kita tidak mempunyai kebebasan untuk melakukan dosa. Jadi melakukan percabulan adalah pelanggaran atas kemerdekaan itu. (12)
iii. Tubuh orang Kristen adalah milik Tuhan (1Kor 6:13-20) maka kita tidak boleh mempergunakan tubuh ini kedalam perzinahan:
 Karena tubuh orang Kristen sudah dibeli oleh Tuhan (1Kor 6:13-14, 20) seharga darah Kristus, dan kelak tubuh kita juga akan dibangkitkan.
 Kita merupakan anggota tubuh Kristus, jadi jangan merusaknya (6: 15-18)
 Tubuh orang percaya disebut sebagai Bait Allah atau rumah Roh Kudus (6:19). Kalau seorang sudah dilahirbarukan oleh Roh Kudus, maka Roh Kudus akan tetap tinggal dalam orang itu (Yohanes 14:16-17). Jadi bukan hanya kedudukan orang Kristen kudus dihadapan Allah, demikian juga tubuh orang Kristen harus menjadi kudus. (band 1Pet 1:15-16; 2:5).

IV. Menjawab Pertanyaan Jemaat (7:1-11:34

Pertanyaan-pertanyaan jemaat Korintus dibawa oleh tiga orang kepada Paulus. Melalui surat pertama Korintus ini, Paulus memberikan jawabannya:
1. Soal Pernikahan/Perkawinan (7:1-40). Sebagai latar belakang bagian ini perlu kita kembali memahami bahwa Jemaat Korintus bersifat campur budaya, ada dari budaya Yunani, Roma dan Yahudi masing-masing mereka mempunyai pengertian sendiri-sendiri tentang prkawinanatau pernikahan. Selain itu kota Korintus dikenal sebagai kota cabul, sehingga jemaat harus menjaga diri supaya tidak terpengaruh. Disamping itu ada dua pengajaran ekstrim yang berkembang pada masa itu tentang perkwinan dan seksualitas.
 Pandangan Liberal terhadap hubungan sex adalah sama seperti nafsu makan (tidak dianggap dosa dan merupakan kebutuhan yang harus dipuaskan bagaimanapun caranya)
 Pandangan yang mengatakan bahwa hubungan seks adalah dosa dan najis. Oleh karena itu jemaat Korintus menjadi bingung dan bertanya kepada Paulus tentang hal ini.

2. Pandangan mengenai pernikahan dari Rasul Paulus (I Korintus 7:1-9)
i. Menurut Paulus laki-laki dan perempuan lebih baik menikah (7:1-2). Berdasarkan beberapa aspek pertimbangan:
 Dari segi etika hubungan laki-laki dengan perempuan sebgai suami isteri bukan berupa dosa, melainkan kudus adanya (Ibrani 13:4). Dan perlu diingat bahwa pernikahan itu adalah ditetapkan oleh Tuhan sendiri (Kej. 2:18; 22-24). Dan tujuan Allah mempersatukan laki-laki dan wanita dalam satu wadah yang kini kita sebut pernikahan adalah untuk menjadikan wanita sebagai penolong (Kej 2:18) dan supaya mereka beranak cucu dan turun-temurun (kej 1:27).
 Dari segi physik – hidup laki-laki dan perempuan sebagai suami isteri sangat membantu dalam kesehatan physik dan memelihara kehidupan suci (6:18; 7:2)
 Dari segi Psikis – pernikahan bukan hanya untuk kesehatan jasmaniah saja, tetapi juga sehat dalam mental dan jiwa (7:9).
Jadi dari tiga segi diatas maka dapat disimpulkan bahwa adalah baik ika laki-laki dan perempuan itu menikah.

ii. Menanggapi hubungan suami isteri (7:3-5)
 Supaya suami isteri saling menghormati dn saling menghargai (7:3-4). Dalam budaya Korintus pada waktu itu, wanita dianggap seperti harta benda yang dimiliki oleh laki-laki. Oleh sebab itu Paulus mengatakan bahwa suami tidak berkuasa atas tubuhnya, tetapi isteriny, dan demikian sebaliknya. Karena suami isteri tidak lagi dua tetapi satu (Kej 2:24; Mat 19:5-6; Mark 10:7-8; Ef 5:31). Maka tidak saja pihak isteri taat kepada suami, tetapi suami harus mengasihi isterinya (Ef 5:22, 28, 33). Sehingga mereka tidak boleh hidup semaunya seperti sebelum menikah.
 Supaya suami isteri itu hidup bersama, dan jangan hidup terpisah (7:5). Kalau sudah menikah sedapat mungkin jangan hidup terpisah kecuali karena soal kerohanian, namun tetap ada persetujuan bersama, supaya tidak jatuh dalam godaan Iblis.
 Prinsip suami isteri kalau hidup terpisah, dengan adanya persetujuan untuk sementara waktu saja, karena mau berdoa atau ada pelayanan.


3. Mengenai Masalah Perceraian (7:10-16)
i. Kalau suami isteri sama-sama orang Kristen, dan bahkan jika salah satu belum Kristen mereka tidak diijinkan untuk bercerai (7:10). Kemerdekaan Kristen bukan berarti isteri bebas menentukan kehendknya bercerai atau tidak, demikian juga dengan suami.
ii. Kalau sudah terlanjur sudah bercerai jangan menikah lagi (7:11). Jangan nikah lagi, tetapi rukun kembali dengan suami atau isterinya boleh.
iii. Kalau diantara suami isteri ada yang belum Kristen, tetap tidak boleh bercerai 97:12-14, 16) disini paulus berpendapat: Ini pendapat pribadi bukan dari Tuhan. Paulus mengatakan bahwa jangan sampai perbedaan iman menyebabkan perceraian, kecuali inisiatif untuk bercerai itu datang dari yang non Kristen. Sebenarnya mereka tidak boleh bercerai (7:16). Dan bagi pihak yang Kristen mereka berkewajiban untuk menyelamatkan isteri atau suaminya (7:14).

4. Status I Korintus 7:17-24
i. Mengenai prinsip untuk menetap pada status semula dari pernikahan itu. Bagian ini tidak menyinggung pernikahan, tetapi hanya mengenai sunat dan budak. Meskipun demikian bagian ini mempunyai hubungan dengan ayat sebelumnya, dan prinsip yang terdapat dalam bagian ini sama dengan prinsip pernikahan (menurut konteksnya). 7:20, 24 menurut prinsip ini, kalau sebelum ia dipanggil oleh Tuhan, ia beristri dua, maka biarlah i tetap dalam status itu. Demikian pula bagi mereka yang sudah menikah, tidak boleh dari satu pihak untuk bercerai karena salah satunya non Kristen.
ii. Mengenai sunat (7:18-19). Kalau sunat sudah menjadi tradisi disuatu tempat tidak usah memaksa mereka untuk tidk disunat. Asal pandangan mereka bersunat itu tidak mereka sangkut-pautkan dengan keselamatan.
iii. Prinsip mengenai kemerdekaan seorang budak (7:20-24). “Hendaklah tiap-tiap...seperti pada waktu ia dipanggil Allah.” Latar belakang pada waktu itu memang ada perbudakan. Mungkin diantara budak ada yang berpikir bahwa dia tidak mau menjadi budak lagi setelah ia menjadi Kristen. 7:21, artinya kalau mereka menjadi bebas itu baik, tetapi kalau tidak tetap sajalah menjadi budak sebab kebebasn Kristen bukan berarti bebas dari hukum sipil atau peraturan yang ada. Kemudian pada I Kor 7:23 Paulus mengatakan bahwa mereka atau orang percaya telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar oleh karena itu janganlah kamu menjadi hamba manusia, ini bukan berarti mereka tidak boleh lagi menjadi budak tetapi maksudnya disini adalah secara rohani. Jangan lebih tunduk kepada manusia daripada Tuhan, apalagi untuk melakukan apa yang bertentangan dengan perintah Tuhan.

1. Masalah bujangan (7:25-38)

a. Pandangan Rasul Paulus mengenai hidup membujang (7:25-35). Pernyataan Paulus dalam 7:25 untuk tetap membujang adalah pandangan pribadinya sendiri. “aku tidak mendapat perintah dari Tuhan” –maksudnya apa yang dikatakan selanjutnya itu tidak seharusnya menjadi doktrin yang harus ditaati secara mutlak dalam jemaat; ini hanya pandangan pribadinya untuk dipakai sebagai bahan pertimbangan. Menurut rasul Paulus:
 I Korintus 7:26-28 –khususnya dalam 28b “Orang-orang demikian akan ditimpa kesusahan badani,” menurut Paulus mnikah bukan dosa tetapi akan mendatangkan kesusahan badani. Jadi untuk menghidar dari itu lebih baik tidk menikah.
 I Kor 7:29-35 – dalam bagian ini Paulus mengatakan bahwa karena kedatangan Tuhan sudah semakin dekat, jadi lebih baik mereka memusatkan perhatian mereka pada perkara-perkara Tuhan atau hal-hal rohani. Ini pendapat Paulus yang tidak harus dibuat menjadi doktrin, karena tidak semua orng mempunyai karunia untuk hidup membujang. Bandingkan Matius 19:10-11.

b. Nasehat terhadap orangtua dari para gadis (7:36-38). Latar belakang budaya pada saat itu berhubungan dengan mengawinkan anak gadis adalah dimana orangtualah yang berkuasa apakah ia akan mengawinkannya atau tidak. Paulus menasehatkan supaya jangan karena pandangannya (Paulus) untuk tidak menikah karena alasan-alasan yang telah disebutkan diatas maka para orangtua tidak menikahkan anaknya, kecuali anak daranya sendiri dengan rela hati tidak mau menikah.

c. Masalah tentang menikah lagi dari para janda (7:29-40), lihat pula 7:8-9. Paulus mengatakan jika mereka bisa tetap bertahan maka tidak perlu menikah lag, tetapi bila tidak lebih baik menikah daripada mereka dihanguskan oleh api hawa nafsu. Menurut Paulus menikah itu berbahaya, tetapi harus dipertimbangkan akibat dari tidak menikah (7:9). Jadi jika janda itu menikah lagi bukanlah dosa (7:39b). Asal orang itu adalah orang yang dapat dipercaya.

d. Prinsip bagi mereka yang membujang (7:1,7-9). Prinsip orang yang membujang adalah supaya tubuh dan jiwa mereka kudus. Kudus disini artiny dipisahkan secara khusus untuk Tuhan (Hagios)

2. Soal makanan (8:1-11:1)

1. seluruh fasal 8 menyinggung tentang makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala. Hal ini merupakan hal yang biasa di Korintus, karena banyak kuil-kuil dimana mereka atau orang-orang Korintus menyembelih binatang untuk dipersembahkan. Bahkan daging yang dijual dipasarpun sudah terlbih dahulu dipersembahkan kepada berhala. Paulus memberi jawaban pada fasal 8, supaya mereka melakukan sesuatu mengenai makanan bukan tergantung pada pengetahuan untuk mengambil sikap melainkan berdasarkan kasih. 8:1-6—Paulus memberitahukan bahwa berhala adalah satu benda mati, dan tidak ada Allah lain selain Allah yang esa itu. Jadi makanan yang dipersembahkan kepada berhala tidak ada kuasa gaib apa-apa, tetapi jangan dengan pengetahuan itu kita memakannya. Paulus menghendaki jemaat Korintus untuk mempertimbangkan beberapa hal:
 Demi kasih orang yang sudah dewasa kepada petobat maka lebih baik mereka jangan memakannya. (8:7)
 Supaya jangan menjadi batu sandungan. Dalam artian jangan sampai orang berpikir bahwa jika memakan makanan yang dipersembahkan kepada berhala tidak apa-apa maka menyembah berhala juga tidak apa-apa.
2. Contoh dari Paulus mengenai kasih. Seluruh fasal 9, dan prinsip dalam fasal 8 jika didasarkan pada kasih, maka kita bisa mengorbankan hak kita demi kasih. Kita bisa mengorbankan kebebasan kita, contohnya: Paulus melepaskan haknya dalam kehidupan:
 Ia mengorbankan haknya untuk menikah (9:5)
 Mengorbankan haknya untuk hidup dari pemberitaan Injil (9:4, 6-18). Ia tidak bersandar dari pemberitaan Injil itu untuk mencukupi kebutuhannya.
 Mengorbankan kebebasannya (9:19-27). Kepada orang yang tunduk kepada Taurat ia seolah orang yang tunduk kepada taurat hanya demi untuk menyelamatkan jiwa.
 Dia harus seperti olahragawan yang dapat menguasai dirinya, sekalipun ia memiliki kebebasan.
Inilah contoh kasih Paulus yang rela melepaskan segala-galanya untuk Tuhan dan pelayanan.

3. Bahaya-Bahaya penyalah gunaan kebebasan (10:1-15)

Paulus mengambil contoh dari bangsa Israel untuk memperingati jemaat Korintus, supaya jangan menyalah-gunakan kebebasan mereka. Supaya jangan menyalahgunakan kebebasan mereka.

a. 10:1-4, Paulus mengambil pengalaman bangsa Israel sebagai peringatan mereka. Adapun pengalaman Israel yakni:
 10:1, Nenek moyang Israel ada dalam “lindungan awan,” secara implisit ini menunjukkan bahwa mereka ada dalam pimpinan Roh Kudus. Demikian halnya dengan jemaat Korintus mereka berada dalam pimpinan Roh Kudus (Keluaran 14:19-20; Yoh 14:26).
 10:1b, Paulus mengatakan bahwa mereka melewati laut, lepas dari mesir . sama seperti orang Korintus terpisah dari dunia. Nenek myang Israel tidak lagi berada dalam kuasa perbudakan Mesir, sama seperti jemaat tidak lagi berada dalam kekuasaan atau perbudakan Iblis dan dosa.
 10:2, Paulus berkata bahwa nenek moyang Israel telah dibaptis dalam awan dan dalam laut. Kalau dibaptis dalam awan itu berarti dilahirbarukan oleh Roh Kudus maka yang hendak Paulus katakan disini kepada jemaat bahwa setelah jemaat bertobat atau diselamatkan baru mereka dibaptis oleh air.
 10:2, Paulus mengatakan bahwa nenek moyang Israel menjadi pengikut Musa, dan dalam Galatia 3:27, Musa melambangkan Kristus. Jadi untuk menjadi pengikut Kristus jemat sudah harus bertobat dan akhirnya dengan taat memberi diri di baptis.
 10:3-4 “Orang percaya setelah dilahirbarukan maka ia dibptis dan setelah itu dia harus makan-makanan rohai yaitu Firman Allah. (Kel 16:16-17:16; band Ibr 5:14; 1Pet 2:2).
 10:4b “batu karang rohani...” ini menggambarkn penyertaan Tuhan di tengah-tengah mereka, juga merupakan janji Tuhan Yesus sendiri (Mat 28:20; Yoh 14:16)

b. 10:5-11 – Peringatan dari pengalaman orang Israel dan akibatnya.
 10:6, Mereka mengiginkan hal-hal yang jahat.
 10:7, Mereka menyembah berhala.
 10:8, Mereka jatuh dalam percabulan.
 10:9, Mereka mencobai Tuhan – menyatakan ketidak percayaan mereka kepada Tuhan.
 10:10, Mereka bersungut-sungut.

c. 10:12-15 – mengingatkan jemaat Korintus untuk mengenal kelemahan diri sendiri. Bagian ini menunjukkan betapa lemahnya orang Israel itu, sehingga mereka jatuh dalam pencobaan. 10:12, Penyebab orang Kristen jatuh dalam pencobaan krena seringkali kita merasa cukup kuat untuk berdiri teguh, menimbulkan kesombongan, sehingga jatuh .

Kesimpulan Tentang Makanan (10:16-11:1)

Bagaimana sikap kita terhadap makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala?
a. mengenai lokasi-lokasi merupakan salah satu pertimbangan kita (10:16-22). Bagian ini menyinggung mengenai Roh Kudus, contoh makan roti dan minum anggur. Sebenarnya roti adalah makanan biasa dan anggur juga adalah minuman biasa bagi orang Yahudi. Tetapi jika itu dilakukan oleh jemaat di gereja dan dalam acara tertentu, biasanya itu mengacu kepada persekutuan kita dengan Tuhan dalam perjamuan Tuhan. Maka sama halnya dengan orang yang makan persembahan berhala dalam kuil, bisa dianggap dengan memiliki persekutuan dengan berhala atau ilah-ilah itu.

b. Mengenai hati nurani, hal ini mencakup dua aspek antara lain:
 Hati nurani diri sendiri (10:25-26)
 Hati nurani orang lain (10:27-30)

Dalam 10:25-26, daging yang dijual di pasar boleh kita makan, karena lokasi makan kita tidak didalam kuil, walaupun daging itu sudah dipersembahkan kepada berhala, tetapi tergntung pula dalam hati nurani kita, kalau merasa tidak tentram, jangan makan (Roma 11:23)

Dalam 10 :27-30, khususnya 28b, “karena keberatan hati nurani orang itu” dan ayat 29 “keberatan orang itu, maka hal itu harus kita pertimbangkan. Kita boleh makan, namun bila hal ini menimbulkn ketidak-tentraman hati orang lain, janganlah kita memakannya, supaya jangan nama Tuhan dihujat orang.

Soal Etika Prinsip Makan Atau Minum Harus Memuliakan Tuhan dan Membangun Orang Lain

i. Apakah itu berguna? (10:23-24), apakah itu membangun orang lain? (23), dan apakah itu membangun saya dan orang lain ? (24)
ii. Jangan merugikan nama Tuhan atau mendatangkan fitnah atas nama orang itu (10:30-31). 10:33 – harus utamakan kepentingan orang lain. Jadi entah kita makan atau minum apakah bisa memuliakan Tuhan?
iii. Harus mempertimbangkan hati nurani orang lain (10:28-29; band Roma 14:1-6)
iv. Jangan sampai menjatuhkan orng lin (10:32; Roma:13-21).


4. Tata Tertib Kebaktian (11:12-11:34)

A . Kedudukan wanita (11:2-16).
Bagian ini membicarakan tentang keharusan bagi isteri untuk mentaati suaminya. Kalau kita baca isi bagian ini maka kita menemukan bahwa wanita harus memakai tudung kepala. Satu hal yang perlu diingat disini adalah ketaatan isteri kepada suaminya.

Latar belakang wanita dalam masyarakat/ keluarga sama sekali tidak mempunyai kedudukan. Jadi para isteri mungkin salah pengertian tentang kemerdekaan atau kebebasan mereka yang akhirnya dianggap bahwa tidak ada lagi perbedaan antara suami dan isteri dan tidak perlu taat lagi terhadap suami. Maka didepan umum tidak perlu lagi memakai tudung kepala. Hal ini menyebabkan Paulus menulis surat ini untuk menjelaskan:

a. Alasan wanita harus memakai tudung kepala dalam perhimpunan orang Kristen (11:2-6)
 11:5-6, karena kalu tidak maka itu akan menghina kepalanya atau suaminya (11:3b). Bagi orang Korintus wanita yang tidak bertudung kepala adalah wanita cabul. Menurut PL dan Paulus mengambil contoh wanita menggunting rambut (11:6) adalah sama dengan “orang yang tidak mau bertudung kepala. Kalau wanita menggunting rambutnya artinya suatu penghinaan baginya (band Bilangan 5:11-22). Menggunting rambut adalah merupakan hukumn baginya bila ia melakukan perzinahan.
 11:10, sebab wanita harus memakai tanda wibawa di kepalanya oleh karena para malaikat. Jadi wanita hrus bertudung kepala sebagai tanda hormat kepada Tuhan dan para malaikat. Suatu tanda kerendahan hati seperti yang dilakukan para malaikat dihadapan Tuhan. Yesaya 6:1-3 – Serafim itu memiliki 3 pasang sayap, satu pasang menutupi kaki, satu pasang menutupi muka, satu pasang untuk terbang. Kemudian dihadapan Tuhan, para malaikat Tuan mrendahkan diri, sebab itu dengan sayapnya ia menutupi kepalanya.
 11:13-15, Paulus juga mengatakan bahwa rambut panjang merupakan penghinaan bagi laki-laki. Ini menunjukkan bahwa laki-laki dan perempuan harus ada perbedaannya (band Ulangan 22:5). Wanita yang bertudung kepala hanya mau membedakan mereka dengan kaum laki-laki.

b. Alasan Isteri harus tunduk kepada suami.
 11:8, Band Kejadian 2:21-23—Wanita bersandar pada laki-laki.
 Karena wanita diciptakan untuk menjdi penolong bagi laki-laki (11:9; bnd Kejadian 2:18).
 Tuhan menciptakan alam semesta dengn suatu tata tertib atau ada urutanya (11:3), jadi demikian juga di dalam keluarga, hanya ada satu kepala keluarga yaitu suami atau ayah. Ini merupakan tata tertib yang sudah ditetapkan oleh Tuhan.
 Kemungkinan ada konsep yang timbul mengapa Tuhan bertindak tidak adil? 11:11, Tuhan adil band Efesus 5:22-23, Paulus menasehati suami isteri. Isteri harus menaati suaminya, sebaliknya suami harus mengasihi isterinya. Walaupun demikian, itu tetap sebagai urutan seperti Allah Tritunggal, meskipun kedudukan Yesus Kristus sama dengan Allah bapa, tetapi urutan berbeda (Yohanes 10: band Yoh 14:28—Yesus sendiri bersabda bahwa Bapa lebih besar daripada Aku.

B. Makna Perjamuan Tuhan
i. Bandingkan 10:16 – Perjamuan Tuhan menyatakan persatuan orang percaya dengan Tuhan. Roti sebagai lambang darah kristus dan anggur atau cawan lambang dari darah Kristus. Jadi orang yang makan roti dan anggur dalam perjamuan Tuhan itu melambangkan persatuan antara Kristus dan orang percaya.
ii. Perjamuan Tuhan menyatakan persatuan diantara orang percaya (10:17; Band Ikor 12:26-27; Yoh 17:11,20-21).
iii. Perjamuan Tuhan dilakukan untuk mengingat akan Tuhan Yesus (11:24-26)
iv. Lambang dari Perjanjian Baru (11:25), band Yer 31:31-34.
v. Perjamuan Tuhan menyatakan suatu pengharapan mengenai parousia (11:26)

C. Peraturan Yang Harus Diperhatikan dalam Perjamuan Tuhan (11:27-34).
i. Dilakukan dengan sifat ibadah (bukan sembarangan) (11:27)
ii. Sebelum makan dan minum anggur harus menguji diri sendiri (apakah dia mempunyai iman terhadap Tuhan Yesus)
iii. 11:29 – Jangan menganggap remeh.
iv. 11:33 – makan dan minum harus dengan cara yang tertib.

5. Beberapa Karunia Dalam Jemaat (12:1-14:40)
Pasal 12 – 14 adalah berbicara tentang karunia-karunia dalam jemaat Korintus. Pada zaman kuno ada kepercayaan umum bahwa orang-orang yang berhasil mencapai hubungan erat dengan kekuasaan ilahi menyatakan hal itu dengan dengan karunia-karunia rohani. Biasanya dimengerti bahwa karunia-karunia itu dianggap sebagai tanda kerohanian yang lebih tinggi. Jadi paulus akhirnya ingin menjelaskan tentang hal ini supaya jangan ada salah mengerti tentang karunia-karinia rohani tersebut.
Pasal 13 – Paulus mengutarakan bahwa yang paling penting adalah kasih, sebab sifatnya kekal adanya (13:8)

Dalam fasal 13 kita melihat bahwa menurut Paulus, “Kasih itu tidak berkesudahan”. Semua karunia akan berlalu, seperti iman, pengharapanpun tidak diperlukan lagi tatkala kita berjumpa dengan Tuhan, sehingga kasih itulah yang terutama, yang bersifat kekal. Dalam ayat 8 nubuat akan berakhir. Dalam bahasa aslinya ditulis καταργησονται dalam bahasa Inggris: They Will be Abolished “mereka akan terhapus” atau “hilang” (Fut, pass, indicative) Sedang kata bahasa lidah akan berhenti dalam KJV memakai kata shall cease (Mid, Perf/ kata kerja middle brarti bahwa akan berhenti/ tidak menunjuk pada satu kata yang final atau langsung kontan berhenti. Atau kita tidak tahu kapan berhentinya, karena dalam penulisanya dalam bentuk middle). Jadi sampai disini jelas tidak memberitahukan kapan berhentinya nubuat dan bahasa lidah secara tepat.

13:10 “Jika yang sempurna itu tiba,” ini sering menjadi perdebatan, terutama jika ayat ini dimasukkan dalam konteksnya yaitu berbicara masalah kapan pengetahuan kita akan lenyap, kapan bahasa lidah akan berakhir dan kapan nubuat akan berakhir. Tapi yang jelas sekalipun dimasukkan dalam konteksnya sessungguhnya antara berakhirnya bahasa lidah dan nubuat ditulis dengan cara penulisan yang berbeda dan dalam bentuk yang berbeda. Jadi oleh karena itu berakhirnya nubuat tidak mempengaruhi berakhirnya bahasa lidah. Tapi sekalipun demikian kita akan mencoba mencari apa yang dimaksud dengan yang sempurna disini.

Beberapa penafsir berkata bahwa yang sempurna itu adalah Alkitab yang telah kanon (Sudah lengkap 39 PL & 27 PB) karena dalam bahasa aslinya ditulis dalam bentuk kata benda, yang lain berkata bahwa yang sempurna adalah Kristus karena konteks ayat yang selanjutnya ada hubungannya dengan kedatangan Tuhan yang kedua kali (bertemu muka dengan muka dengan Kristus).

Dalam Textus Receptus kata yang sempurna ditulis: τελειον (bentuk nominatif) dalam bahasa Inggris perfect thing. Vine’s Complete Expository Dictionary of Old And New Testament Words mengatakan bahwa yang sempurna disini adalah mengacu kepada kelengkapan atau kekomplitan wahyu Allah kehendak dan cara-Nya, yaitu dalam Alkitab yang sempurna.(page. 466 Vine’s ). Jika kita mengambil posisi seperti ini maka tentunya karena sekarang Alkitab sudah komplit maka nubuat sudah berakhir. Karena memang untuk apa lagi nubuat tetap ada sedang Alkitab sudah lengkap, bukankah nubuatan adalah cara Allah untuk menuliskan Firman-Nya, atau kehendak-Nya?

Lepas dari ayat ini, untuk menetapkan kapan nubuat akan berakhir tidak serumit kapan bahasa lidah akan berakhir. Kita tahu dalam kitab Wahyu nubuat sudah ditutup dan tidak boleh ditambah dan dikurangi lagi (Wahyu 22:18-19) berarti nubuat sudah berakhir. Jadi kapan bahasa lidah akan berakhir? Tidak dijelaskan. Jadi lebih baik tidak menetapkan sendiri apa yang kurang jelas. Tetapi marilah kita jujur apakah bahasa lidah yang kita kenal dan dipraktekkan beberapa gereja masa kini adalah bahasa lidah yang benar-benar dari Tuhan atau hanya karena kebiasaan atau atau bahasa diri sendiri.

Pasal 14 – Khususnya ditekankan dalam tata tertib persekutuan orang Kristen. Dari tiga pasal tersebut kita mengetahui: suatu kecenderungan kesalahan jemaat Korintus yaitu penuh dengan berbagai masalah: berkelompok-kelompok, salah konsep tentang hamba Tuhan, salah konsep tentang kemerdekaan atau kebebasan Kristen dan lain-lain. Dan dalam fasal 12 kita melihat adanya salah konsep tentang karunia-karunia yang menganggap bahwa karunia-karunia adalah ukuran kerohanian.

Berbiacara masalah nubuat, kita telah mempelajari definisinya dalam tafsir kitab nabi-nabi besar dimana kita telah mempelajari bahwa nubuat adalah suatu penyingkapan tentang sesuatu yang belum terjadi, yang disingkapkan Allah melalui manusia, yang memakai kata-kata lisan atau tertulis untuk menyampaikan penyataan tentang Allah dan menerangkan tentang kehendak-Nya kepada manusia. Jadi sifat nubuat itu bisa dikatakan sesuatu penyingkapan tentang yang akan datang (secara negatif disebut ramalan).

Kita juga sudah mempelajari bahwa dalam pengertian yang lebih luas, benda-benda, kejadian-kejadian, dan upacara-upacara yang tercatat dalam Alkitab kita dapat merupakan nubuat secara simbolis. Dan pada masa kini kita sering mengatakan hal itu sebagai tipologi. Misalnya, peristiwa ular tembaga (Bilangan 21:4-9) itu tidak hanya merupakan catatan sejarah saja, tetapi juga dapat ditafsirkan sebagai nubuat atau dan yang sekarang kita sering menyebutnya tipologi akan penyaliban Tuhan Yesus (Yohanes 3:14). Demikian juga dengan upacara persembahan korban, semuanya itu merupakan nubuatan tentang pencurahan darah Kristus sebagai Anak Domba Allah.

Dari kedua definisi ini, kita dapat mengatakan secara ringkas bahwa nubuat adalah perkataan yang Allah sampaikan dengan memakai manusia dan bahasa manusia, yang dapat dimengerti oleh manusia yang mendengarnya. Oleh sebab itu Paulus menyuruh jemaat Korintus untuk lebih meninggikan hal ini dalam ibadah bukan bahasa lidah yang harus ditafsirkan oleh orang lain.

Fasal 15, Paulus menjelaskan tentang doktrin kebangkitan. Hal ini dilatarbelakangi oleh maraknya pengajaran dari guru-guru palsu dan filsafat setempat yang akhirnya membuat jemaat Korintus meragukan doktrin kebangkitan. Oleh karena itu Paulus memberikan kesaksian untuk membuktikan kebangkitan.

15:1-8 Bukti-bukti kebangkitan Kristus:
1. Ia bangkit pada hari ketiga (15:4)
2. Menyatakan diri kepada Kefas (15:5)
3. Menyatakan diri kepada 500 orang (15:6)
4. Menyatakan diri kepada Yakobus, saudara Tuhan Yesus (15:7)
5. Menyatakan diri kepada Paulus (15:8)

15:12 Paulus mengatakan bahwa kalau Kristus tidak bangkit, maka orang percaya juga tidak akan bangkit, dan kepercayaan kita pun menjadi sia-sia.

15:29b memberikan indikasi bahwa pada saat itu ada bidat yang mengajarkan bahwa baptisan bagi orang mati akan menyelamatkan orang mati itu kelak. Jadi Paulus memakai ini sebagai argumen bahwa orang yang mengajarkan yang salah inipun percaya bahwa kebangkitan tubuh itu ada.

15:30-32. Paulus mengatakan bahwa dia memberitakan Injil dengan tanpa gentar karena percaya akan kebangkitan Kristus dan percaya bahwa dia sendiri juga akan dibangkitkan kelak.

15: 35-54. Paulus mengatakan bahwa tubuh kebangkitan kita adalah tubuh yang mulia yang tidak dapat binasa dan jauh lebih mulia dari tubuh kita yang ada sekarang, sebab tubuh kita yang ada sekarang adalah tubuh yang dapat binasa.

15:55-56. yang dimaksud dengan sengat maut disini adalah dosa dan kuasa dosa ialah Hukum Taurat. Artinya bahwa Hukum Taurat menghakimi kita, sehingga manusia itu dijatuhi hukuman sebagai orang berdosa dan dosa itu mendatangkan maut kepada manusia. Jadi jika tidak ada hukum Taurat maka manusia tidak akan mengetahui dosa, adanya Hukum Taurat mendatangkan hukuman karena mereka sudah tahu akan dosa itu.

Pasal 16, Setelah paulus berbicara hal-hal yang pokok, maka dalam bagian terakhir surat ini Paulus beralih pada beberapa hal yang perlu disebutkan, yaitu pengumpulan bantuan untuk saudara-saudara seiman yang menderita kekurangan, rencana kegiatannya sendiri, pembicaraan tentang beberapa orang tertentu yang dikenal jemaat Korintus, dan salam penutup.

16:1-4. Berbicara masalah persembahan khusus. Pada masa itu jemaat Yerusalem ada dalam masa kelaparan (band Kisah Para Rasul 11:28-29). Jadi Paulus ingin supaya jemaat Korintus meneladani jemaat Galatia yang juga telah ambil bagian untuk meringankan beban jemaat Yeusalem. Seluruh jemaat Korintus tanpa terkecuali diajak untuk memberikan persembahan sesuai dengan kemampuan atau sesuai dengan apa yang diperoleh, bukan diluar kemampuan (ayat 2).

16:5-12 Paulus meneguhkan rencananya untuk mengunjungi Korintus, seperti yang telah ia katakan dalam fasal 4:19. tetapi ia harus menyelesaikan pelayananya di Makedonia. Dan dalam ayat 8-9 rencana Paulus yang pasti pada saat itu adalah untuk tetap tinggal di Efesus sampai hari pentakosta. Sebab pada hari-hari itu ada banyak kesempatan untuk mengkhotbahkan Injil.

16:13-18. merupakan nasihat terakhir yaitu mereka dihimbau:
a. agar tetap berjaga-jaga.
b. Berdiri dengan teguh dalam iman
c. Bersikap dewasa dan jangan seperti anak-anak.
d. Tetap kuat.
e. Melakukan semua pekerjaan dengan kasih.
16:19-24. merupakan salam pnutup.


II KORINTUS


Penulis : Paulus
Tema : Kemuliaan Melalui Penderitaan
Tanggal Penulisan : + tahun 57 TM
Tempat Penulisan : di Makedonia (2Kor 2:13; 7:5-7;8:1;9:2-4)

Latar Belakang

Paulus menulis surat kiriman ini kepada jemaat di Korintus dan kepada orang percaya di seluruh Akhaya (2Kor 1:1), dengan menyebut namanya sendiri sebanyak dua kali (2Kor 1:1; 2Kor 10:1). Setelah mendirikan jemaat di Korintus selama perjalanan misinya yang kedua, Paulus dan jemaat itu sering berhubungan karena masalah dalam jemaat (Lihat "PENDAHULUAN SURAT 1KORINTUS").

Urutan hubungan ini dan latar belakang penulisan 2 Korintus adalah sebagai berikut:

1. Setelah beberapa kali berhubungan dan surat-menyurat yang awal di antara Paulus dengan jemaat itu (misalnya: 1Kor 1:11; 1Kor 5:9;1Kor 7:1), maka Paulus menulis surat 1 Korintus dari Efesus (awal tahun 55/56).
2. Berikut, Paulus menyeberangi Laut Aegea menuju Korintus untuk menangani masalah yang berkembang dalam jemaat. Kunjungan ini diantara 1 dan 2 Korintus (bd. 2Kor 13:1-2) merupakan suatu kunjungan yang tak menyenangkan, baik bagi Paulus maupun bagi jemaat itu (2Kor 2:1-2).
3. Setelah kunjungan ini, ada laporan disampaikan kepada Paulus di Efesus bahwa para penentang di Korintus itu masih menyerang pribadinya dan wewenang rasulinya, dengan harapan agar mereka dapat membujuk sebagian jemaat itu untuk menolak Paulus.
4. Sebagai tanggapan terhadap laporan ini, Paulus menulis surat 2 Korintus dari Makedonia (akhir tahun 55/56).
5. Segera sesudah itu, Paulus mengadakan perjalanan ke Korintus lagi (2Kor 13:1), dan tinggal di situ selama lebih kurang tiga bulan (bd. Kis 20:1-3a). Dari situ ia menulis kitab Roma.


Tujuan Penulisan

Paulus menulis surat ini kepada tiga golongan orang di Korintus.

1. Pertama, ia menulis untuk mendorong mayoritas dalam jemaat di Korintus yang tetap setia kepadanya sebagai bapa rohani mereka.
2. Ia menulis untuk menantang dan menyingkapkan rasul-rasul palsu yang terus-menerus berbicara menentang dia secara pribadi dengan harapan dapat meruntuhkan wibawa dan kerasulannya dan untuk memutarbalikkan beritanya.
3. Ia juga menulis untuk menegur minoritas dalam jemaat yang sedang dipengaruhi oleh para lawan Paulus dan yang terus-menerus menolak wewenang dan tegurannya. Paulus meneguhkan kembali integritas dan wewenang rasulinya, menjelaskan motivasinya dan memperingatkan mereka terhadap pemberontakan yang lebih lanjut.

Kitab 2 Korintus berfungsi untuk mempersiapkan jemaat secara keseluruhan untuk kunjungannya yang akan datang.


Survey

Kitab 2 Korintus mempunyai tiga bagian utama.

1. Pada bagian pertama (pasal 1-7; 2Kor 1:1--7:16), Paulus mulai dengan mengucap syukur kepada Allah atas penghiburan yang dikaruniakan-Nya ditengah-tengah penderitaan untuk Injil, memuji jemaat Korintus karena mendisiplinkan orang yang berbuat dosa serius sambil mempertahankan integritas Paulus dalam kaitan dengan perubahan rencana perjalanannya. Dalam 2Kor 3:1--6:10 Paulus menyumbangkan pengertian yang paling luas dalam PB mengenai sifat yang benar dari pelayanan Kristen. Ia menekankan pentingnya pemisahan dari dunia ini (2Kor 6:11--7:1) dan mengungkapkan sukacitanya ketika mendengar dari Titus tentang pertobatan banyak anggota jemaat di Korintus yang sebelumnya telah menentang wewenangnya (pasal 7; 2Kor 7:1-16).
2. Di pasal 8, 9; (2Kor 8:1-24 dan 2Kor 9:1-15), Paulus menasihati jemaat Korintus untuk menandingi kemurahan hati orang Makedonia yang dengan sepenuh hati telah menyumbangkan persembahan yang telah dikumpulkannya untuk orang Kristen yang menderita di Yerusalem.
3. Pada pasal 10, 13; (2Kor 10:1--13:13), nada surat berubah. Di sini Paulus mempertahankan kerasulannya dengan menguraikan panggilannya, kualifikasi, dan penderitaannya sebagai seorang rasul yang benar. Dengan ini Paulus mengharapkan jemaat Korintus akan mengenal rasul-rasul palsu di antara mereka dan dengan demikian mereka dapat luput dari disiplin yang lebih lanjut ketika ia sendiri datang lagi. Paulus mengakhiri kitab 2 Korintus dengan satu-satunya ucapan berkat yang menyinggung Trinitas dalam PB (2Kor 13:14).


Ciri-ciri Khas

1. Kitab ini merupakan surat yang paling banyak memberitahukan riwayat hidup Paulus. Banyak petunjuk pada dirinya ini, dibuatnya dengan rendah hati, minta maaf dan bahkan dengan malu, tetapi karena terpaksa mengingat situasi yang ada di Korintus.
2. Kitab ini melampaui semua surat kiriman lain dari Paulus dalam hal menyatakan kuatnya dan dalamnya kasih serta keprihatinan bagi anak rohaninya.
3. Kitab ini berisi teologi yang paling lengkap dalam PB mengenai penderitaan Kristen (2Kor 1:3-11; 2Kor 4:7-18; 2Kor 6:3-10; 2Kor 11:23-30; 2Kor 12:1-10) dan mengenai hal memberi secara kristiani (pasal 8-9; 2Kor 8:1--9:15).
4. Istilah-istilah kunci, seperti: kelemahan, dukacita, air mata, bahaya, kesukaran, penderitaan, penghiburan, kemegahan, kebenaran, pelayanan, dan kemuliaan, menggarisbawahi sifat unik dari surat ini.


Outline Surat II Korintus

Pendahuluan

I. Salam dan ucapan syukur (2Korintus 1:1-11)

II. Akhir-akhir aktifitas Paulus (1:12-2:13)
1. Perubahan dalam rencana (1:12 – 2:4)
2. Anjuran untuk mengampuni (2:5-11)
3. Kecemasan Paulus (2:12-13)

III. Pelayanan Rasul (2:14 – 6:10)

IV. Pemulihan Hubungan Paulus dengan orang-orang Korintus (6:11-7:16)

V. Pengumpulan dana bantuan untuk jemaat Yerusalem (8:1-9:15)

VI. Kewibawaan Rasul Paulus (10:1-13:10)

VII. Kata-kata akhir (13:1-13)

Tafsiran Surat 2 Korintus

I. Salam dan Ucapan Syukur (1:1-11)

a. 2 Korintus 1:1-2. Salam Paulus.

Julukan rasul yang dipergunakan secara luas didalam surat-surat Paulus (bdg. Efesus 1:1; Kol 1:1; 1 Tim 1:1; dan II Tim1:1), dengan singkat dan padat menerangkan tugas dan misi Paulus (Bandingkan Galatia 1:1). Dalam 1Kor 1:1 juga dikatakan bahwa Paulus menjadi rasul atas kehendak Allah. Pada bagian suratnya ini, ia menegaskan wibawa kerasulannya, bahwa ia seorang yang melayani jemaat bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Allah saja, terlebih lagi, ia mengakui Yesus Kristus sebagai kepalanya. (ia dipanggil serta tunduk sepenuhnya kepada Allah). Hal ini disebabkan adanya sebagian orang yang meragukan kerasulannya.

Timotius termasuk dalam ucapan salamnya. Timotius, saudara kita – Timotius pernah diutus Paulus untuk mengunjungi jemaat Korintus (1Kor 6:10), sehingga ia dikenal oleh jemaat disana. Seluruh Akhaya – secara khusus untuk jemaat Korintus, tetapi Paulus bermaksud agar semua orang Kristen di seluruh propinsi Akhaya yang membaca suratnya ini:
- Jemaat di Kengkrea (Roma 16:1)
- Jemaat di Athena (Kis 17:34)

1:2 – ucapan salam yang dituliskan dalam bentuk biasa, seperti umumnya di kalangan orang Kristen pada waktu itu, yakni damai sejahtera dan kasih karunia band Roma 1:7; 1Kor 1:3; Gal 1:3. ucapan salam ini sebagai kombinasi salam yunani dengan istilah Charis – kasih karunia, dalam istilah Ibrani syalom – damai sejahtera. Kemungkinan salam ini diambil dari perkataan Harun dalam kitab Bilangan 6:25-26. Charis dalam bahasa Yunani mempunyai pengertian kasih dan rahmat Allah yang dianugerahkan kepada manusia didalam Kristus, sedangkan damai dalam bahasa atau syalom dalam bahasa Ibrani, Irene dalam bahasa Yunani mempunyai pengertian rasa gembira dan tenang, yang dialami sebagai akibat dari penerimaan kasih karunia itu.

b. Ucapan Syukur Paulus (2 Kor 1:2-3)

Ucapan syukur Paulus tempatkan selalu setelah pemberian salamnya. Paulus selalu mengucapkan syukur kepada Tuhan untuk kemajuan rohani dalam jemaat, segi-segi baik dari jemaat itu. Tetapi kata-kata syukur yang diucapkan Paulus disini yaitu tentang kebaikan Allah terhadap dirinya sendiri, dan bukan kebaikan jemaat Korintus itu sendiri.

Dalam 2 Kor 1:3, Paulus memuji Allah karena belas kasihan dan penghiburan yang diterimanya secara pribadi, nanti dalam 1:8-9, Paulus menceritakan tentang suatu krisis yang sedang dialaminya waktu di Asia kecil, rupanya pengalaman itu menghasilkan suatu pengertian baru tentang sifat-sifat Allah, sehingga disini Paulus menyebut Allah dengan kata sifat, “Bapa yang penuh bels kasihan,” dan “Allah Maha Penghibur.” Istilah penghiburan dalam bahasa Yunani “Paraklesis” mempunyai pengertian pertolongan serta dorongan. Oleh sebab itu istilah Roh Kudus disebut Parakletos, atau penolong, penghibur yang senantiasa berjalan disamping, yang senantiasa menguatkan, menghibur dan mendorong.

c. Pandangan Paulus Tentang Penderitaannya. ( 2 Korintus 1:4-5)

Bagi Paulus penderitaannya dipandang sebagai bagian dalam penderitaan Kristus. Disini Paulus rupanya membandingkan dirinya dengan Kristus. Sebagaimana Kristus datang kedunia untuk menderita, demikian pula murid-murid-Nya pun harus menderita.

Tetapi ditengah kesengsaraan itu, Paulus menemukan suatu prinsip kebenaran yaitu: sebesar penderitaan, maka sebesar itupula penghiburan yang dilimpahkan kepadanya oleh Kristus. Terlebih lagi Paulus dapat mengerti sekarang bahwa memang ia harus menderita kalau ia ingin melayani orang lain dalam kesengsaraan pribadinya, ia merasa sanggup untuk melayani jemaat di Korintus.

d. Mamfaat dari penderitaan dan penghiburan Paulus bagi Jemaat Korintus (2 Korintus 1:6-7)

i. Sekarang jemaat Korintus dapat menerima pelayanan yang lebih bermutu dari Paulus oleh karena pengalaman yang baru saja mereka alami. (ay 6)
ii. Jemaat Korintus juga telah belajar dari teladan Paulus, bagaimana untuk mengambil kekuatan dari sumber penghiburan yang ditemukan oleh Paulus, sehingga walaupun Paulus sendiri tidak mungkin tinggal tetap bersama mereka, namun mereka tetap memiliki penghiburan dalam diri mereka kalau bersandar kepada Tuhan.

e. Peristiwa-peristiwa yang mendorong Paulus begitu memuji Allah. (2Kor 1:9-11)
i. Karena Paulus telah lolos dari penderitaan dan keputusasaan yang amat hebat. Kata penderitaan dalam ayat 8 memakai kata thlipsis, yang menggambarkan pengalaman manusia yang sangat mengerikan – pastilah yang dimaksudkan ialah salah satu pencobaan yang dialami Paulus demi Kristus (band Kis 9:16; juga Maz 69:1 dst; Yes 43:2).
ii. Penderitaan itu membuat paulus semakin bersandar kepada Tuhan. (ayat 9)
iii. Penderitaan bahkan ancaman kematianpun telah membuat paulus menyerahkan hidup sepenuhnya kepada yang berkuasa menghidupkan dan membangkitkan orang mati (10). Ayat ini tidak mengatakan bahwa Paulus sudah pernah mati sebelumnya. Dalam KJV ditulis: Who Delivered us from so great a death, and doth deliver: in whom we trust that he will yet deliver us. Siapa yang telah membebaskan kami dari kematian yang ngeri. Di dalam Dia kami percaya Dia akan membebaskan kami.
iv. Jemaat yang selalu berdoa kepada Tuhan untuk Paulus. (11)


II. Aktifitas Paulus akhir-akhir ini (1:12 – 2:13 )

1. Perubahan dalam rencana ( 2 Kor 1:12 – 2:4)

Bagian ini Paulus rupanya merasa ia harus menjawab tuduhan dari beberapa lawanya bahwa ia adalah seorang yang tidak bisa tetap dalam keputusannya.

a. 2 Kor 1:12-14. Paulus menekankan bahwa segala hubungan dengan jemaat Korintus, ia telah bertindak dengan hati yang tulus. 1:12 Suara hati Paulus membela dia bahwa dia selalu dikuasai, dipinpin dan didorong oleh motivasi yang murni. Ini suatu kemegahan Paulus yaitu suara hati yang bersih, baik kehidupan secara umum, istimewa lagi hubungan dengan jemaat Korintus. Dalam hal ini bukan bersandar pada hikmat manusiawi, tetapi hikmat dari Allah sendiri. Selanjutnya dalam 2 Kor 1:13-14, Paulus berusaha menyakinkan mereka atau membuat mereka percaya bukan dengan cara menuliskan kata-kata yang indah dan manis (secara duniawi) tetapi dia menuliskan apa yang dapat mereka mengerti secara langsung. Dan Paulus berharap itu akan mudah dipahami oleh jemaat Korintus.
b. 2 Kor 1:15-22. Paulus memberitahukan rencananya yang dulu yaitu untuk mengunjungi mereka baik sebelum maupun sesudah perjalanannya ke Makedonia (1:15-16). Rencananya yaitu datang 2 kali. Ini sebenarnya merupakan suatu perubahan rencana Paulus seperti yang dikatakan dalam 1Kor 16:5-7, disitu ia mengatakan bahwa ia akan datang setelah melintasi Makedonia. Namun ia mengubah rencana itu dia pergi ke Makedonia dan setelah itu ia kembali lagi ke Korintus, supaya jemaat Korintus membantu Paulus ke Yudea (Yerusalem). Maksudnya supaya jika ia kembali lagi untuk mampir di Korintus sebelum ke Yerusalem maka jemaat Korintus dapat memberikan persembahan mereka kepada jemaat Yerusalem. Sekali lagi maksud Paulus untuk datang ke Yudea (Yerusalem) merupakan suatu perubahan rencana semula seperti diberitahukan dalam 1Kor 16:3-4. sebab disana ia katakan bahwa ia tidak akan pergi ke Yerusalem, kecuali ternyata penting. Tetapi dalam 2 Korintus 1:16, Ia telah mengambil keputusan bahwa ia tidak akan pergi ke Yerusalem, kecuali ternyata penting. Dalam 2Korintus 1:16. ia sudah mengambil keputusan terakhir untuk ke Yerusalem. Apa yang menjadi alasan pengambilan keputusan ini kita tidak tahu. Dan inilah alasannya lawan-lawan Paulus mengatakan bahwa dia atau Paulus tidak memiliki keputusan yang tetap. Kemudian dalam 2 Korintus 1:17 Paulus memberikan pertanyaan yang menanyakan apakah dia membuat keputusan yang serampangan atau tidak. namun pertanyaan ini adalah pertanyaan yang sudah diketahui jawabannya adalah tidak. Lebih lanjut dalam 2Korintus 1:18, Paulus memeteraikan perkataanya dengan mengatakan demi Allah yang setia. Ini merupakan pernyataan yang menunjukkan bahwa semua keuputusannya tentang jemaat Korintus dan pelayanannya ia selalu menyadari bahwa dirinya adalah Rasul yang harus bertanggung jawab kepada Allah. Dalam 2Korintus 1:19-20, disini Paulus mengingatkan mereka tentang Injil keselamatan yang telah diberitakannya kepada mereka,. Maksudnya Injil itu bukan suatu berita yang kurang pasti, melainkan berpusat pada Yesus Kristus sendiri, dan didalam Dia tidak terdapat kebimbangan, karena Dia adalah Anak Allah. 2 Korintus 1:21-22 menekankan lagi bahwa segi kepositifan atau kepastian dari Injil diberikan bukan hanya kepada kepada para rasul, tetapi juga kepada semua orang yang menerimanya.
c. Paulus menjelaskan sebab-sebab perubahan rencananya tidak datang (2Kor 1:23-2:4).
2 Korintus 1:23, Paulus mengatakan bahwa Allah adalah saksinya, yaitu Allah yang bekerja baik dalam Paulus maupun dalam mereka suatu saksi yang akan dipercayai oleh dua belah pihak. Paulus mengantakan aku tidak datang...menyiratkan bahwa Paulus menahan diri untuk pergi kesana sebelum beberapa hal harus diperbaiki (Bad 2Kor 13:2,10).
2 Korintus 1:24, ayat ini sebenarnya mau mengatakan bahwa Paulus tidak mempunyai rencana untuk menguasai iman mereka. Paulus hanya ingin memperbesar sukacita mereka dalam iman. Jadi Paulus tahu kalau ia melaksanakan rencananya semula untuk datang ke Korintus, maka tidak akan berhasil baik. Sehingga rencana itu ditunda sebentar. Sebab bila tidak, maka bukan saja tidak membawa sukacita, melainkan akan mendukacitakan mereka.
2 Korintus 2:1-3, ayat ini berbicara bahwa Paulus tidak ingin mengadakan kunjungan yang membuat membuat jemaat itu berdukacita, sebab jika Paulus datang dalam waktu jemaat itu melakukan pelanggaran atas Firman Allah maka itu akan membuat Paulus marah dan mendukakan hati jemaat itu, sehingga ia terlebih dahulu mengirim surat yang keras kepada jemaat itu supaya mereka bertobat dan tatkala Paulus datang kembali maka ia akan bersukacita melihat perkembangan iman jemaat itu. Kemudian dalam ayat ini juga dia mengatakan bahwa sukacitanya adalah sukacita jemaat, tatkala jemaat itu hidup benar dimata Tuhan maka itu akan membuat dia bersukacita dalam Tuhan dan jemaat itupun dapat bersukacita bersamanya didalam Tuhan.
2 Korintus 2:4, apa yang dikatakan Paulus dalam ayat ini menunjukkan betapa kasihnya kepada jemaat itu, dia menegur mereka bukan karena dia otoriter bahkan waktu dia menegur mereka dia merasa sedih, sesak, dan mencucurkan air mata. Hal ini menunjukkan kasih yang dalam, dan sebagai pelayan ia telah melakukan tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Hamba Tuhan zaman modern ini kadangkala tidak lagi menegur dosa jemaat jika jemaat itu kaya dan suka memberi persembahan ke gereja, karena hamba Tuhannya kwatir jika ditegur maka orang itu akan pindah sehingga mengurangi pemasukan gereja. Hal ini berbahaya sekali, seharusnya gembala harus menegur jemaat yang berdosa siapapun dia, tetapi gembala menegur dosa jemaat haruslah dengan motivasi kasih.


2. Anjuran untuk mengampuni (2:5-11)

1). 2:5-8. Paulus berbicara tentang seorang yang telah mengemukakan dan menyedihkan jemaat Korintus, tetapi sekarang perlu diampuni. Sekarang timbul pertanyaan siapakah orang itu? Sangat mungkin yang dimaksud Paulus adalah orang cabul seperti dalam 1 Kor 5:1. dan karena dia telah bertobat maka perlu dibimbing dan diterima kembali dalam kasih. Penafsiran lain mengatakan bahwa yang Paulus maksudkan adalah orang yang menentang Paulus ( dalam ayat lima ini kita menemukan perkataan Paulus bukan hatiku lebih tepat bukan hatiku saja) dan dalam ayat 10 Paulus mengatakan bahwa ia mengampuni orang tersebut juga. Dari nats ini kita juga dapat melihat apa yang harus kita lakukan terhadap orang yang berbuat salah, pertama: kita harus menegurnya, kedua: kita memberikan dia kesempatan untuk bertobat, ketiga: setelah dia bertobat kit mengampuni dia juga, keempat: setelah itu kita menerima dia kembali supaya ia dapat merasakan kasih dari jemaat sebagai saudara seiman. Kemudian dalam 2:9 kita melihat bahwa Paulus mengirimkan surat ini ingin melihat apakah jemaat itu taat dalam segala sesuatu termasuk dalam hal mengmpuni orang yang bersalah tersebut. 2:10 menunjukkan kesatuan hati jemaat dengan Paulus dalam hal mengampuni, hal ini terlihat dengan pernyataan Paulus disini bahwa jika jemaat mengampuni dia juga telah ikut mengampuni orang yang bersalah tersebut. 2:11 Paulus mengatakan bahwa jika mereka mengampuni orang yang bersalah itu, maka Iblis tidak akan beroleh keuntungan atas mereka. Sebab terkadang jika kit tidak mengampuni kita kehilangan sukacita yang harusnya kita nikmati sebagai anak-anak Allah. Lagi pula dalam konteks ini jika jemaat tidak mengampuni orang tersebut maka iblis punya kesempatan untuk memecah belah jemaat Korintus.

3. Kecemasan Paulus (2:12-13)
Cerita tentang pengalaman Paulus yang sudh dimulai, sekarang diteruskan, tetapi sebentar saja. Ketika Paulus membatalkan rencananya untuk mengunjungi jemaat Korintus, maka sebagai gantinya ia menulis surat yang dibawa oleh Titus dan dia mulai berjalan menuju pelabuhan Troas. Adapun alasannya adalah karena ia ingin memberitakan Injil dan dia juga ingin cepat-cepat bertemu Titus. Dalam ayat ini kita diberitahukan bahwa Tuhan telah membuka jalan penginjilan di Troas tetapi Paulus tidak tenang sebelum ia mendengar berita dari Korintus lewat Titus. Oleh karena itu Paulus berangkat ke Troas, masuk ke Makedonia dengan harapan ia segera brtemu dengan Titus. Dan akhirnya ia memang ketemu Titus disana (7:6). Pertemuan itu serta laporan yang dibawa Titus kepadanya sungguh membuat dia berbahagia (2:14-7:4).


III. Pelayanan Rasul (2:14 – 6:10)
1. Pelayanan yang maju dengan kemenangan (2:14-17).
(2:14) Paulus mengucap syukur kepada Allah, karena hatinya digerakkan dengan rasa syukur, karena berita yang diterimanya dari Titus. (berita tentang pertemuan itu baru dicatat dalam pasal 7). Kristus membawa Paulus dalam kemenanganNya, kata membawa disini ibarat arak-arakan para tentara yang menaklukkan musuh. Jadi Kristus disini dianggap sebagai panglima dan para rasul sebagai perwira. Panglima membawa atau memimpin perang dan menang lalu mereka pulang dengan arak-arakan. 2:15-16 Paulus mengatakan bahwa pemberita Injil adalah merupakan bau yang harum bagi Kristus sebab tidak ada yang lebih menyenangkan hati Allah selain ada orang bertobat lewat pelayanan berita Injil. Berita Injil adalah berita kehidupan bagi orang percaya tetapi ini juga sekaligus berita kematian dan merupakan bau busuk bagi mereka yang akan binasa. Kemudian pada ayat 17 Paulus mengatakan bahwa pemberitaan Injil yang benar adalah memberitakan Injil tanpa motivasi mencari keuntungan materi dari dalmnya. Paulus berkata bahwa mereka atau rasul tidak sama dengan orang lain = Kapeleuontes dalam arti orang lain yang menjual keliling.

2. Pelayanan Menurut Perjanjian Baru (3:1-18)
a. Kesaksian Paulus (3:1-4)
(3:1) Paulus mengatakan bahwamereka tidak seperti yang lain yang membutuhkan dukungan atau pujian untuk wibawa mereka, baik secara perkataan langsung maupun berupa tulisan atau surat. Dalam ayat 2-3 Paulus menunjukkan bahwa ia tidak bersandar pada surat-surat seperti itu. Dia malah mengatakan bahwa jemaat Korintus itu sendirilah surat pujian bagi dia yang dapat dibaca oleh banyak orang. Jadi bagi Paulus yang terpenting bukanlah masalah pengakuan orang melalui tulisan tetapi sebuah bukti hasil pelayanan itu yang paling utama. Banyak dizaman ini orang berlabel hamba Tuhan, punya kartu pendeta atau surat-surat yang lengkap dari gereja atau bahkan dari departemen agama setempat, tetapi pada dasarnya atau dalam prakteknya ia bukan hamba Tuhan tetapi penipu, koruptor dll. Jadi bagi Paulus jika surat pujian bagi dia adalah jemaat Korintus maka yang menulis dan menandatangani surat itu bukanlah manusia tetapi Tuhan. Sebab berdirinya jemaat Korintus adalah karena Allah. Paulus hanya sebagai alat untuk memberitakan Injil, Roh Kudus membuat jemaat itu percaya kepada Kristus lalu terbentuklah jemaat Korintus. Jadi dengan demikian yang menuliskan surat itu adalah Kristus dan Dia juga adalah penanda tangan surat itu sekaligus. Itu sebabnya Paulus tidak membutuhkan surat dari manusia. Lalu pada ayat 4 Paulus mengatakan bahwa pendapatnya ini menunjukkan besarnya keyakinannya kepada Allah dalam Kristus.

b. Paulus Memberi Perbandingan PL dan PB (3:5-18)

Dalam 3:5 Paulus mengatakan bahwa pelayananya tidak bergantung pada pekerjaan manusia, tetapi secara mutlak bergantung pada Allah. 3:6-18 Paulus mengatakan bahwa dengan panggilan dan perlengkapan dari Allah, maka Paulus menjadi pelayan PB atau pelayan Injil. Pelayan PB sangat berbeda dengan PL dimana PL berdasarkan hukum Tertulis (Kel 24:7) sementara PB bersifat rohani yang dikerjakan oleh Roh Kudus. Yang lama mematikan sebab semua manusia tidak ada yang memiliki kesanggupan untuk mentaati hukum itu dengan sempurna. PB sebaliknya yaitu menghidupkan, yaitu melalui pekerjaan Roh Kudus yang menarik manusia untuk percaya kepada Kristus sebagai korban pengganti baginya untuk keselamtannya. Paulus mengatakan bahwa karena ia sadar bahwa ia pelayan PB maka ia melayani dengan berani. Berbeda dengan Musa. Musa menutup mukanya dengan selubung bukan hanya untuk melindungi mata orang-orang Israel dari cahaya besar tetapi selubung itu memiliki fungsi lain dimana jika cahaya itu makin pudar maka bangsa itu tetap mengikut dia. Selanjutnya Paulus mengatakan malah selubung itu menyelubungi mata nenek moyang mereka sehingga mereka tidak bisa melihat kemuliaan Allah, dan hanya Kristus yang dapat menyingkapkan selubung itu. Bahkan sampai surat ini ditulis ada banyak orang Israel yang tidak dapat memahami Perjanjian Lama. Kemudian Paulus mengatakan bahwa setelah orang berbalik kepada Allah (bertobat) maka selubung itu diambil dari padanya, dengan alasan bahwa Tuhan adalah Roh dan dimana ada Roh disitu ada kemerdekaan. Dalam ayat 18 Paulus mengatakan bahwa kita semua atau orang percaya mencerminkan kemuliaan Tuhan. Hal ini adalah akibat dari pekerjaan Roh Kudus dalam hidup kita. Kata mencerminkan dalam bahasa Yunani Kataptrishao yang artinya mencerminkan atau memandang seperti melihat pada cermin. Jadi kemuliaan Allah terpancar dari kehidupan orang percaya, seperti seseorang memandang pada cermin.

3. Kesukaran dan Pelayanan Rasuli (4:1-5:10)
Dalam ayat 1 Paulus mengatakan bahwa mengapa dia bisa tetap tegar, kuat dan tidak tawar hati dalam pelayananya untuk memberitakan Injil adalah karena ia menerima pelayanan itu dari Allah dan dia menanggapi pelayanan sebagai suatu kemurahan Allah baginya, maka dia tetap bisa tegar dalam mengahadapi apapun dalam pelayanan. Dalam ayat 2 Paulus mengatakan bahwa dia melakukan pelayanan dengan benar, tidak dengan motivasi yang salah, tidak memakai cara-cara licik, dan tidak menyelewengkan kebenaran. Paulus juga bersedia dipertimbangkan dihadapan orang ataupun dihadapan Allah, apakah dia melakukan pelayananya dengan benar atau tidak. Paulus mengatakan hal ini adalah untuk memberi perbandingan antara dia dan rasul-rasul yang palsu. Pada 2 Korintus 4:3-4 Paulus mengatakan bahwa sekalipun Ia memberitakan Injil dengan benar, dengan motivasi yang benar tetapi masih ada yang menolak untuk percaya, yang menutup hatinya untuk Kristus. Hal itu terjadi bukanlah kekurang sempurnaan Injil, tetapi memang selalu demikian ada yang akan percaya dan ada juga yang menolak untuk percaya. Dalam ayat ini Paulus menggambarkan orang seperti dengan tiga gambaran, yang pertama mereka atau orang yang tertutup untuk injil itu adalah orang yang akan binasa, kedua mereka adalah orang yang tidak percaya, ketiga mereka adalah orang yang dibutakan oleh ilah zaman ini ( ilah zaman: Yoh 12:31; 14:30; 16:11). Kemudian diayat 5 Paulus mengatakan bahwa berita Paulus adalah benar-benar berita yang jelas yaitu berita Yesus Kristus sebagai Tuhan. Paulus bukan memberitakan dirinya tetapi dia memberitakan Kristus, dan dia mengatakan bahwa dirinya sendiri menjadi hamba dari jemaat Korintus (hamba disini sebagai seorang yang menghambakan dirinya untuk kepentingan jemaat Korintus) dan itu bisa terjadi karena kehendak Kristus. Dalam ayat 7 Paulus mengatakan bahwa dari gelap terbit terang dan Allah akan membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita. Dalam hal ini Paulus ingin memberitahukan bahwa dari kegelapan dunia ini kita akan menjadi terang dan Allah akan membuat terang-Nya bercahaya di dalam hati kita supaya kita semakin hari akan berlimpah dalam pemahaman yang benar akan kemuliaan Allah yang nampak pada wajah Kristus. Selanjutnya ayat 7-15 adalah merupakan perbandingan antara berita dan pemberitanya.
a. Dalam ayat 7 Paulus mengatakan bahwa harta dari pemberita Injil adalah kekuatan yang berlimpah-limpah dari Allah untuk memberitakan Injil.
b. Paulus sadar bahwa kekuatannya bukan dari diri sendiri tetapi dari Allah (7)
c. Dalam suka dan duka dia tetap memberitakan Injil, dan dia dapat melihat pertolongan dari Allah, penyertaan dari Allah. (8-12)
d. Dia dapat memberitakan Injil, berbicara sesuai dengan imannya (13)
e. Paulus tetap teguh karena keyakinan bahwa sama seperti Yesus bangkit dari kematian dia juga percaya sekalipun ia mati ia akan bangkit bersama dengan Yesus.
f. Paulus berkata bahwa semuanya itu terjadi, kesukaan dan dukacita dalam pelayanan semuanya itu karena kasihnya untuk jemaat korintus, dan juga supaya semakin banyak orang yang percaya yang membuat semakin banyaknya ucapan syukur.

Kemudian ayat 16-18 adalah berbicara tentang kemuliaan kekal. Dalam ayat ini Paulus mengatakan bahwa karena kemurahan Tuhan seperti yang disinggung dalam ayat 1 dan karena pertolongan dan penyertaan Tuhan seperti diatas maka dia tidk tawar hati dalam pelayanan, walaupun kenyataannya banyak penderitaan dan oleh karena itu manusia lahiriahnya merosot, yang dia maksud dengan manusia lahiriah disini adalah jasmaninya bukan manusia lamanya, karena otomatis penderitaan jasmani akan membuat jasmaninya merosot tetapi penderitaan jasmani yang dialami Paulus tidak dapat membuat manusia batiniahnya atau rohaninya menjadi merosot malah karena penyerahannya kepada Tuhan maka manusia batiniahnya semakin dibaharui dari sehari-kesehari. Dalam ayat ini juga Paulus mengatakan bahwa penderitaan yang yang dialaminya adalah ringan dibanding dengan kemuliaan yang akan dia terima, dan dia juga mengatakan malah penderitaan itu mengerjakan kemuliaan yang akan dia terima. (band Mat 19:29; Mat 5:10; Roma 8:17). Kemudian Paulus seolah menganjurkan bahwa seharusnya kita memfokuskan diri pada hal-hal yang kekal yaitu keselamatan. Jadi sekalipun ada penderitaan ingatlah bahwa itu bukan kekal tetapi hanya bersifat sementara dan dibalik itu bagi orang percaya seperti Paulus ada suatu iman untuk menerima kehidupan yang kekal dan kemuliaan yang kekal. Sehingga dengan demikian kita tidak menjadi tawar hati.

Fasal 5:1-10 Iman yang kokoh.
Dalam bagian Paulus memberikan penjelasan yang merupakan perkembangan lebih lanjut dari doktrin kebangkitan dan hidup sesudah kebangkitan. Paulus memulainya dengan mengatakan keyakinanya yang tentunya berdasarkan wahyu Tuhan, dimana jika tempat kediaman kita dibongkar (ini bukan rumah tetapi tubuh jasmani kita) maka Allah akan menyediakan tubuh rohani yang kekal yang idak akan mungkin bisa rusak atau merosot dalam istilah Paulus dalam fasal yang lalu. Lebih lanjut Paulus mengatakan bahwa tubuh yang kekal itu adalah buatan Allah sendiri bukan buatan tangan manusia. Dalam ayat 2 Paulus mengatakan bahwa tatkala kita masih dalam tubuh jasmaniah ini maka kita masih mengeluh, kata mengeluh disini bukanlah menggerutu tetapi menggambarkan sebuah hasrat ingin lepas dari penderitaan dengan kerendahan hati tanpa menyalahkan siapapun. Paulus mengatakan bahwa kita mengeluh karena kita ingin tubuh yang kekal, yang didalmnya kita tidak ada penderitaan lagi. Dalam ayat 3 Paulus mengatakan jika kita telah mengenakan tubuh sorgawi maka kita dianggap berpakaian bukan telanjang. Dalam hal ini telanjang artinya memiliki hidup batiniah tetapi tidak memiliki tubuh. Oleh karena itu Paulus mengatakan jika kita memiliki tubuh sorgawi atau tubuh yang kekal maka kita batinih kita tidak telanjang. Selanjutnya ayat 4 adalah merupakan perkembangan dari ayat 2. kita mengeluh oleh beratnya penderitaan hidup ini yang kita alami dalam hidup jasmani. Oleh karena itu Paulus sangat merindukan kelepasan dari tubuh jasmani dan mengenakan tubuh yang kekal. Paulus memakai kiasan jubah atau mantel yang dikenakan sehingga pakaian lama tidak kelihatan lagi. Dalam ayat 5 Paulus mengatakan bahwa Allah bekerja untuk menyediakan hal itu untuk kita dan Dia telah memberikan jaminan yaitu Roh sehingga kita tetap percaya bahwa apa yang telah dijanjikan yaitu tubuh kekal itu akan kita miliki. Dalam ayat 6 Paulus mengatakan bahwa oleh karena jaminan itu maka dia selalu tabah, sekalipun dia sadar bahwa saat masih mendiami tubuh jasmani ia masih jauh dari Tuhan (bukan berarti belum bertobat) tetapi hal ini diperbandingkan dengan bertemu muka dengan Tuhan jadi dia menganggap jika masih mendiami tubuh yang fana dia masih jauh dari Tuhan. Lebih lanjut dia mengatakan dalam ayat 7 bahwa dia hidup karena percaya bukan karena melihat dan seandainya dia sudah melihat muka dengan muka dalam status telah mengenakan tubuh yang kekal maka dia tidak akan mengatakan bahwa dia masih jauh dari Tuhan. Kemudian di ayat 8 dia mengatakan bahwa dia tabah dan tetapi dia terlebih suka beralih kepada tubuh yang kekal supaya bersama Tuhan selamanya. oleh sebab itu Paulus mengatakan bahwa ia berusaha supaya ia berkenan dimata Tuhan (9) dan pada ayat 10 Paulus mengatakan bahwa kita harus demikian karena kita akan menghadap bema Kristus yaitu suatu tahta pengadilan untuk memberikan hadiah bagi miliknya. Sama seperti tahta untuk memberikan hadiah kepada atlit dalam olimpiade. Dalam pengadilan ini kita akan diberi hadiah seturut dengan apa yang telah kita lakukan. Jadi bagi orang yang melakukan perbuatan-perbuatan yang baik menurut Tuhan maka ia diberi hadiah tetapi bagi orang yang percaya yang masih melakukan perbuatan-perbuatan buruk akan mendapat teguran dari Tuhan.

Fasal 5:11-21 Pelayanan untuk pendamaian
Pada ayat 11 Paulus memperlihatkan bahwa dia membagun sikap takut akan Tuhan, karena ia tahu bahwa ia harus bertanggung jawab dihadapan Allah. Ada sebuah buku yang bagus ditulis oleh Dr. D.A. Carson yang berjudul Doktrin Yang Sulit mengenai kasih Allah. Dia mengatakan bahwa doktrin tentang kasih Allah sekarang sulit dipahami oleh banyak orang, karena pemahaman banyak orang tentang kasih Allah sudah menyimpang dari Alkitab. Banyak orang telah memisahkan dan hanya meninggikan kasih Allah dan mengabaikan murka Allah dan juga mengabaikan kekudusan Allah atau bahkan mengabaikan kedaulatan Allah. Itu sebabnya D.A. Carson menulis buku tersebut. Nah dalam ayat 11 ini Paulus menyadari bahwa dia harus bertanggung jawab dihadapan Allah, jadi dia tidak berlaku timpang yang hanya mengandalkan kasih Allah tetapi lupa kemahakuasaan, kedaultan dan kekudusan Allah. Dalam ayat ini dia juga mengatakan karena ia menyadari tanggung jawabnya maka dia berusaha menyakinkan orang atau memberitakan Injil. Kembali Paulus mengatakan bahwa dia melayani dengan motivasi yang sungguh-sungguh benar dimata Allah dan juga hal itu perlu diperhatikan oleh jemaat Korintus. Lalu dalam ayat 12 Paulus mengatakan bahwa oleh karena itu maka dia mengatakan bahwa dia tidak berusaha mencari pujian untuk diri sendiri seperti yang dilakukan orang-orang yang bermegah atau yang membanggakan diri karena hal-hal yang lahiriah. Dalam ayat 13 ada indikasi bahwa Paulus mengaku bahwa kadang dirinya tidak dapat menguasai diri, tetapi dia mengatakan bahwa hal itu terjadi adalah dalam pelayannya untuk Allah, artinya bahwa ia melakukannya bukan karena memang ia tidak sanggup menguasai diri tetapi justru karena di dikuasai oleh pelayanan itu sendiri dan itu adalah untuk Allah. Kita dapat menanggapi apa yang dikatakan Paulus disini, pasti ada hubunganya untuk menjawab perkataan orang-orang yang mengatakan bahwa dirinya adalah seorang yang tidak konsisten dan tidak berpendirian kuat dalam keputusannya. Oleh sebab itu Paulus mengatakan bahwa itu terjadi justru untuk pelayanan, bukan untuk dirinya sendiri. Selanjutnya pada ayat 14-15 Paulus menjelaskan alasannya ini lebih jelas lagi dengan mengatakan bahwa ia dikuasai Kristus. Dalam bagian ini Paulus juga mengatakan bahwa jika seorang telah mati untuk semua orang maka tatkala seorang itu (wakil) telah mati maka semua orang yang diwakili oleh seorang tersebut telah mati, dan Kristus telah mati untuk semua orang, maka mereka yang hidup adalah untuk Dia yang yang telah mati dan bangkit itu yaitu Yesus Kristus. Jika demikian halnya maka Paulus tidak boleh mengutamakan rancangannya, sekalipun dia sendiri telah menetapkan rancangannya secara pribadi tetapi harus mengikuti apa yang Tuhan mau, karena memang Paulus hidup didalam Dia dan untuk Dia. Selanjutnya dalam ayat 16 Paulus mengatakan bahwa karena alasan diataslah maka dia tidak lagi mengukur sesorang dengan ukuran manusia, dia juga mengatakan bahwa dia juga tidak lagi mengukur Kristus dengan ukuran manusia. Pada ayat 17 Paulus mengatakan siapa yang ada didalam Kristus adalah ciptaan baru. Kata ciptaan baru harus dipahami sebagai benar-benar baru, bukan renovasi atau perbaikan dari yang lama, tetapi benar-benar diciptakan baru dan bukan diatas dasar yang lama, sebab yang lama sudah mati, sudah berlalu. Jadi ciptaan baru adalah ciptaan yang benar-benar baru. Kemudian dalam ayat 18 Paulus mengatakan bahwa semuanya itu adalah pemberian dan karya Allah, bukan karya kita, bukan usaha kita tetapi sesuatu yang diusahakan Allah melalui pengorbanan Kristus yang menghasilkan pendamaian antara kita dengan Allah, dan sekarang Paulus mengatakan bahwa pelayanan itu atau pelayanan pendamaian itu diserahkan kepada kita untuk kita beritakan kepada orang lain (baca 19). Dalam ayat 20 Paulus mengatakan bahwa sebagai utusan Allah dia mengigatkan jemaat Korintus untuk segera memberikan diri mereka didamaikan dengan Allah lewat pendamaian yang dilakukan Kristus. Kemudian dalam ayat 21 Paulus menjelaskan bagaimana Allah mendamaiakan manusia dengan diri-Nya melalui Kristus. “Kristus adalah pribadi yang tidak berdosa” (1 Yoh 3:5; 1Petrus 2:22) pribadi yang tidak berdosa ini telah menjadi dosa, hal ini terjadi ketika Dia menanggung dosa semua manusia di kayu salib. Maka pada waktu itu Allah memandang-Nya sebagai orang berdosa dan Dia menanggung murka Allah untuk menebus dosa manusia pada waktu itu (Yesaya 53:4-5) dan hasil dari penderitaan Kristus adalah pembenaran kita. Kemudian dalam ayat 21 Paulus menjelaskan bahwa hal itu, atau Kristus dibuat menjadi dosa bukan karena Dia memang berdosa tetapi karena dosa yang kita perbuat. Supaya dalam Dia kita dibenarkan Allah.

5. Pengalaman Paulus dalam Pelayanan (6:1-10)
Dalam 2Korintus 6:1 Paulus mengatakan bahwa jemaat Korintus sebagai rekan sekerja. Memang jemaat harus menyadari bahwa dirinya dipanggil untuk diselamatkan bukan hanya untuk diam dan tidak memliki pengruh kepada yang lainnya. Jemaat harus menyadari bahwa dia juga harus menjadi cermin Injil dimanapun ia berada. Oleh sebab itu Paulus berkata bahwa jemaat Korintus adalah rekan kerja bagi Paulus. Selanjutnya Paulus menasihatkan mereka supaya mereka bukan hanya sebagai pendengar Injil tetapi tidak menerima Injil didalam hati mereka. Sebab jika jemaat itu hanya menerima Injil dalam pikiran tetapi tidak pernah menerimanya didasar hati yang terdalam maka berita kasih karunia yang diterima atau didengar itu akan menjadi sia-sia. Oleh sebab itu dalam ayat 2 Paulus mendesak jemaat itu supaya mereka datang kepada Tuhan dengan kesungguhan hati pada saat itu juga, tidak menunda waktu. Paulus mengatakan bahwa hari inilah waktu penyelamatan itu. Selanjutnya diayat 3-10Paulus mengatakan bahwa karena dia tahu bahwa waktu penyelamatan itu adalah sekarang, maka dia melakukan pelayanannya dengan baik dan tidak membuat orang tersandung, dengan demikian pemberitaannya dapat diterima orang dan bukan membuat berita Injil tercela.

IV. Pemulihan Hubungan Paulus Dengan Orang-Orang Korintus (6:11-7:16)

1. Permulaan seruan untuk pemulihan hubungan (6:11-13)
Dalam bagian ini Paulus mengajak para pembaca surat Korintus ini yang secara langsung disebut orang Korintus, untuk bersikap terbuka sama seperti Paulus juga. Terlebih lagi seharusnya jemaat Korintus harus bersikap dan memiliki hati yang terbuka kepada Paulus sebagai Bapa Rohani mereka.

2. Penyimpangan anjuran untuk menyucikan diri (6:14-7:1)
Paulus mengatakan supaya mereka melepaskan ikatan dengan orang yang tidak percaya. Hal itu akan menjadi penghalang bagi hubungan Paulus dengan jemaat Korintus tersebut. Oleh sebab itu Paulus mengajak jemaat itu untuk keluar atau memisahkan diri dari kegelapan sebab terang tidak akan mungkin bersatu dengan gelap.

3. Paulus melanjutkan seruannya untuk pemulihan hubungan yang sudah dimulai sebelumnya (7:2-16)
Dalam ayat 2 Paulus kembali meminta supaya jemaat Korintus membuka hati terhadap dia. Dia mengatakan bahwa dalam pelayanannya dia tidak pernah merugikan orang lain, dia melayani dengan motivasi yang benar dan oleh karena itu Paulus meminta supaya jemaat Korintus membuka hati untuk dia. Dalam ayat 3 Paulus mengatakan bahwa dia mengatakan bahwa dia tidak merugikan siapun termasuk jemaat Korintus dan dia melayani dengan motivasi yang benar, bukan untuk menghakimi jemaat itu, yang sebagian mungkin ada yang merasa bahwa Paulus bukan pelayan yang tepat, karena Paulus sendiri telah mengatakan bahwa mereka ada dalam hati Paulus. Jadi Paulus memang membuka hati kepada jemaat Korintus. Kemudian dalam ayat 4 Paulus mengatakan bahwa dia berterus terang kepada jemaat itu, ini adalah sikap hamba Tuhan yang jujur dan setia. Paulus mengatakan bahwa dia memegahkan jemaat Korintus, dimana saat dia menderita dia terhibur karena ia mengingat jemaat Korintus, dan bahkan dia dapat bersuka cita dalam penderitaan yang berat sekalipun karena ia mengingat apa yang telah Tuhan kerjakan dalam pelayanannya khususnya tentang orang-orang Korintus yang mengenal Tuhan lewat pelayanannya. dalam ayat 5-7 Paulus memberitahukan apa yang mereka alamai di Makedonia, dimana mereka tidak memiliki ketenangan karena kesusasahan tetapi Allah menghiburkan mereka dengan mengirimkan Titus yang membawa berita dari Korintus yang menyejukkan hati Paulus, dimana jemat itu sungguh-sungguh merindukan dan bahkan membela Paulus. Dalam ayat 9 - 11 Paulus mengatakan bahwa sekarang ia tidak bersedih lagi karena suratnya yang keras kepada jemaat Korintus, dia malah bersyukur karena melalui surat itu mereka kembali kepada kebenaran. Dia mengatakan bahwa dukacita yang menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan tetapi dukacita yang dari dunia menghasilkan kematian. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa dukacita yang menurut kehendak Allah itu justru mengerjakan kesungguhan dalam hati jemaat Korintus. Paulus juga mengatakan bahwa akhirnya lewat dukacita yang dikehendaki Allah itu mereka membuktikan bahwa mereka tidak bersalah. Paulus juga mengatakan bahwa dia menulis surat kepada mereka bukanlah karena yang berbuat salah, tetapi supaya mereka terbuka dan menerima atau dalam bahasa Paulus supaya kerelaan jemaat itu terhadap Paulus nyata dihadapan Tuhan. Dalam ayat 13 Paulus kembali mengatakan bahwa dia bersukacita, khususnya setelah Titus membawa berita dari Korintus. Bagi Paulus berita yang dibawa oleh Titus itu adalah berita yang menyegarkan hati Paulus. Pada ayat 14 Paulus mengatakan alasan mengapa dia bersukacita atas berita dari Korintus yang dibawa Titus yaitu karena jemaat itu tidak mengecewakan Paulus. Kemudian dalam ayat 15-18 Paulus mengatakan bahwa Titus juga begitu bahagia mengingat ketaatan jemaat itu dan bagaimana mereka menyambut Titus. Lalu oleh karena itu Paulus kembali bersukacita karena ternyata Paulus dapat mempercayai jemaat itu.

V. Pengumpulan Uang atau Pemberian Kasih Untuk Jemaat Yerusalem (8:1 – 9:15)
Ayat-ayat ini mengajarkan bagaimana falsafah memberi secara Kristen.

1. Teladan Jemaat Makedonia (8:1-7)
Paulus mengatakan bahwa sekalipun jemaat Makedonia mengalami banyak tekanan dan penderitaan, tetapi malah mereka meminta supaya mereka juga dapat ambil bagian dalam membantu jemaat di Yerusalem sedaya mampu mereka. Paulus mengatakan bahwa ternyata mereka memberikan lebih besar daripada apa yang diharapkan Paulus. Bahkan mereka memberikan diatas kemampuan mereka. Paulus mengatakan bahwa mereka telah memberikan diri mereka kepada Tuhan tetapi juga harta atau apa yang mereka miliki.

2. Motifasi Pemberian Secara Kristen (8:8-15)
Paulus mengatakan bahwa memberi itu harus dengan prinsip membantu dengan iklas dan atas dorongan kasih, bukan karena perintah. Memberi juga harus belajar dari apa yang Tuhan telah lakukan dimana Dia rela menjadi miskin supaya kita menjadi kaya. Dia rela menderita supaya kita bebas dari hukuman dan Dia melakukan itu dengan tulus, bukan karena ingin dibalas, tetapi Dia iklas melakukannya dan dengan kasih. Paulus mengatakan bahwa dia hanya menasehati jemaat itu. Supaya mereka memberi dengan tulus dan iklas. Paulus mengatakan bahwa jika mereka memberi dengan rela hati maka itu akan diterima, dia juga mengatakan bahwa pemberian itu bukan atas apa yang tidak ada pada mereka tetapi dengan apa yang ada pada mereka. Artinya bahwa mereka tidak perlu berhutang untuk memberi tetapi brikanlah semampunya saja. Paulus juga mengatakan bahwa mereka dibebani bukan supaya orang lain mendapat keringanan, artinya bahwa memberi itu bukan untuk merugikan mereka dan menguntungkan yang lain, tetapi supaya yang berkelebihan dapat membantu untuk mencukupi yang berkekurangan.


3. Wakil Dari Jemaat Korintus Untuk Mengatur Pengumpulan Uang (8:16-9:5)
Paulus mengatakan bahwa Titus dengan rela hati akan membatu mereka dalam pengumpulan bantuan itu. Paulus mengutusnya, mungkin saja ia ingin menjaga kemurnian htinya mengaenai uang. Sudah menjadi kenyataan ada begitu banyak hamba Tuhan yang jatuh karena uang. Paulus juga kembali mengatakan supaya mereka menunjukkan bukti kemurahan hati mereka, dan bukan sebgai pemberian yang dipaksakan.

4. Berkat-Berkat Yang Menantikan Orang Yang Murah Hati (9:6-15)
Dalam ayat 6 Paulus mengatakan bahwa orang yang menabur banyak akan menuai banyak dan orang yang menabur sedikit akan menuai sedikit. Ini berarti seperti analogi petani yang menanam tanaman di kebun atau di sawah, jika ia menanam banyak maka dia akan mendapatkan lebih banyak dari yang menanam sedikit. Tetapi jangan dipahami bahwa ukuran banyak atau sedikit diukur dengan jumlah materi yang diberikan. Tadi diatas Paulus telah mengatakan bahwa memberi itu sedaya mampu mereka. Yesus pernah mengatakan bahwa pemberian sepeser dari seorang janda, justru itu lebih besar dari yang memberi banyak tapi dari kelimpahan atau kelebihannya. Jadi dalam hal itu janda itulah yang memberi banyak dan yang akan menuai banyak. Jadi dalam hal inipun kita harus memahami secara demikian. Tatkala jemaat itu memberi dengan kemampuan mereka tanpa mengurangi apa yang mampu lakukan maka amereka akan menuai banyak. Lain halnya dengan orang yang memberi tetapi mengurangi dari apa yang dia mampu maka dia akan menuai sedikit. Kemudian Paulus mengingatkn supaya mereka memberi bukan dengan keterpaksaan sebab Allah memberikan segala kasih karunia supaya jemaat itu berkecukupan.

VI. Kewibaan Rasuli Paulus (10:1-13:10)

1. Dasar Kewibaan Paulus (10:1-18)

Dalam 10:1 sekali lagi Paulus membela diri dari lawan-lawannya di Korintus. Maka mulai ayat ini tidak lagi memakai kata ganti “kami”yang tadinya dipakai untuk menunjukkan dia dan Timotius, tetapi ia memakai kata ganti “aku” (menyangkut masalah pribadi Paulus saja). Paulus memulai ayat ini dengan mengatakan “Aku, Paulus...” sebenarnya secara harafiah Aku sendiri Paulus. Dia mengatakan bahwa dirinya orang yang tidak berani, tetapi pada kenyataannya dia adalah seorang pemberani. Dia berani mati demi Injil. Dia sering dilempari, atau dikejar-kejar, tentunya itu semua karena keberaniannya. Jadi perkataan aku tidak berani berhadapan muka dengan kamu mungkin saja dia mencoba mengutip sekalian menyinggung secara negatif orang-orang yang memfitnah dia sebagai seorang penakut. Seperti yang lebih jelas dalam 10:10. dalam ayat ini juga Paulus memperingatkan mereka dengan wibawa yang dari Kristus yang lemah lembut. Lemah lembut artinya rela menderita dengan sabar atas perbuatan-perbuatan orang lain dan ramah dalam arti selalu siap untuk mengampuni, walaupun semestinya orang yang bersalah itu harus dihukum. Demikianlah sikap Paulus terhadap Jemaat Korintus karena ia meneladani Kristus.

Dalam ayat 2 Paulus meminta supaya lawan-lawannya jangan salah menegerti atas kelemah-lembutan dan keramahan Paulus. Paulus mengatakan jangan sampai ia menunjukkan keberaniannya secara langsung kepada mereka. Dalam hal ini ada orang yang mengatakan bahwa Paulus hidup secara duniawi dan tidak berpendirian teguh yang hampir sama dalam persoalan dalam 2 Kor 1:17.

Ayat 3-5 sehubungan dengan ayat 2 maka Paulus melanjutkan perkataannya dengan mengatakan bahwa sekalipun ia hidup didunia ini tetapi dia tidak berjuang secara duniawi. Lebih lanjut dia mengatakan dia memakai senjata yang diprlengkpi dengan kuasa Allah, untuk menaklukkan yang menentang pengenalan akan Allah. Kemudian sekali lagi dia mengatakan bahwa mereka menaklukkan segala pikiran untuk Allah. Dalam hal ini kita melihat bahwa bukan hanya hati yang perlu ditaklukkan untuk Allah, tetapi pikiran juga dan emosi juga harus ditaklukkan kepada Allah. Kemudian ayat 6 Paulus mengatakan bahwa jika ketaatan jemaat Korintus sudah sempurna maka dia dapat menerapkan disiplin yang tinggi untuk menghukum setiap kedurhakaan. Ayat 7 memberikan indikasi bahwa ada orang yang mengatakan bahwa Paulus bukan milik Kristus (bukan rasul Kristus) tetapi Paulus mengatakan dengan tegas bahwa seharusnya orang yang mengaku bahwa dirinya milik Kristus akan mengakui bahwa Paulus juga milik Kristus, hal ini dikatakan Paulus dengan alasan bahwa seharusnya orang-orang itu juga melihat kuasa yang dianugrahkan Tuhan kepada Paulus untuk mendirikan jemaat Korintus dan bukan untuk meruntuhkan jemaat (lihat ayat 8). Setelah itu Paulus mengatakan dalam ayat 9-11 bahwa dia menulis suratnya bukan untuk menakut-bakuti mereka. Sebab ada orang yang memfitnah dia bahwa jika berhadapan muka dia bukan orang yang keras tetapi lemah lembut dan bahkan perkataannya tidak berarti. Tetapi Paulus mengatakan bahwa seharusnya orang sadar bahwa apa yang dikatakan melalui suratnya adalah sama dengan tindakan pribadinya. Jadi antara apa yang dikatakan melalui surat adalah sepadan dengan apa yang dikatakan secara berhadapan muka.

Ayat 12 Paulus mengatakan bahwa dia tidak mengukur dirinya sendiri seperti yang dilakukan orang-orang tertentu, tetapi harus menurut standar Kristus. Menurut Paulus orang yang mengukur diri sendiri dengan ukuran subyektifitas masing-masing adalah orang bodoh.

Ayat 13-15 Paulus mengatakan bahwa dia bermegah karena ukuran duniawi. Tetapi dia bermegah karena didalam Allah, dalam ukuran yang tidak melampaui batas yang Allah tetapkan. Allah telah menetapkan bahwa dia hanyalah sebagai pemberita Injil dan yang membuat percaya adalah Allah. Jadi dia hanya bisa bermegah didalam dalam batas bahwa Allah telah memakai dia sebagai sarana. Paulus juga mengatakan bahwa dia bermegah karena jemaat Korintus telah dimenangkan untuk Tuhan.

Ayat 16 Paulus mengatakan bahwa ia hidup untuk memberitakan Injil. Seharusnya ini jugalah yang menjadi gaya hidup kita. Jika kita hidup kita harus tetap memberitakan Injil. Kemudian ayat 17 -18 Paulus mengatakan bahwa jika orang mau bermegah biarlah bermegah didalam Tuhan, artinya jangan sampai menyombongkan diri kepada Tuhan, seolah-olah apa yang telah dicapai hanya karena pekerjaan atau kemampuan pribadi. Itu sebabnya Paulus mengatakan bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, tetapi yang dipuji Allah adalah orang yang tahan uji. Jadi sudahkah kita dipuji Allah seperti Ayub. Sebab orang yang dipuji Allah pasti tahan uji.



2. Paulus Menjawab Lawan-Lawannya (11:1-15)
Di bagian atas Paulus telah mengatakan bahwa jika ia membandingkan dirinya dengan rasul-rasul palsu yang mengukur diri dan membanggakan diri dengan kemampauan masimng-masing dan bukan bermegah dalam Kristus adalah suatu kebodohan. Tetapi sekarang ia mau menunjukkan bahwa dia mau membandingkan dirinya dengan mereka tetapi dengan maksud untuk membela diri dan bukan supaya meninggikan diri. Sehingga ia memulai dengan perkataan yang seolah-olah minta maaf . sehingga dia mengatakan “alangkah baiknya, jika kamu sabar terhadap kebodohanku yang kecil itu.” Kata ini merupakan suatu kata yang menyinggung dan sekaligus ingin memberi jawaban pada lawan-lawannya, sehingga pada ayat 2 -3 Paulus mengatakan bahwa ia cemburu kepada jemaat itu yang telah mempertunangkannya kepada Kristus, ternyata ada yang mau menyesatkan mereka, dan yang akhirnya bisa tersesat seperti Hawa disesatkan oleh ular dengan kelicikannya. Kemudian selanjutnya Paulus memberikan alasan yang jelas mengapa ia cemburu ilahi kepada jemaat itu, jelas sekali bahwa ada orang yang datang memberitakan Yesus yang lain, bukan Yesus yang diberitakan oleh Paulus dan roh yang lain, dan bahkan berita Injil yang lain, tetapi jemaat Korintus diam saja dan seolah-olah menerima ajaran yang tidak berasal dari Injil yang benar. Hal-hal inilah yang membuat Paulus menjadi cemburu ilahi. Kemudian dalam ayat 5-6 Paulus mengatakan bahwa dia tidak lebih rendah dari para rasul yang tidak benar itu, sekalipun mungkin Paulus tidak terlalu fasih lidah atau pintar berkhotbah, tetapi dalam pengetahuan dan pemahaman ia mengatakan bahwa jemaat itu telah melihat kemampuan Paulus. Kemudian ayat 7-8 Paulus mengatakan bahwa jika ia tidak memegahkan diri dengan kemampuan pribadinya, atau jika ia tidak meninggikan diri dan malah merendahkan diri itu bukan berarti ia salah. Dalam hal ini rupanya lawan-lawannya mengejek dia yang tidak menerima dukungan materi dari jemaat padahal ia menerima bantuan dari jemaat lain. Kemudian di ayat 9-10 Paulus memberitahukan alasannya bahwa ia tidak menerima bantuan dari jemaat Korintus bukan karena ia merasa tidak layak sebagai rasul yang seharusnya hidup dari pelayanannya, tetapi ia tidak meminta bantuan dana untuk kebutuhannya sendiri kepada jemaat Korintus karena ia mengasihi jemaat Korintus tersebut, sehingga ia tidak mau membebani mrreka. Ayat 12-15 Paulus mengatakan bahwa ia tidak menerima dukungan dana dari jemaat Korintus adalah untuk membedakan bahwa dirinya berbeda dengan rasul-rasul palsu yang telah menjual Injil dan bahkan Injil yang mereka jualpun adalah yang palsu. Mereka beranggapan bahwa sebagai rasul harus mendapatkan dukungan finansial, maka Paulus bertekat untuk tidak mendapatkan dukungan finansial supaya jelas mana yang rasul palsu dan mana rasul yang benar. Kemudian Paulus mengatakan bahwa rasul-rasul Palsu itu, seperti iblis menyamar sebagai malaikat terang. Tetapi semuanya nanti akan mendapat hukuman.

3. Mandat Paulus (11:16 – 12:13)

Dalam ayat 16 Paulus kembali mengatakan bahwa jika Paulus bermegah jemaat Korintus mengatakan itu suatu kebodohan biarlah menerima dia sebagai orang bodoh. Hal itu berarti bahwa Paulus sedikit merasa terpaksa untuk memegahkan dirinya untuk menjawab musuh-musuhnya. Kemudian ayat 17-18 Paulus akui bahwa disini kalau bermegah itu dilakukan sebagai manusia biasa bukan sebagai rasul Kristus, bukan suatu pengajaran yang diterima dari Kristus, dan yang diteruskan kepada mereka, Paulus yakin bahwa kalau lawanya bermegah atas hl-hal duniawi, seperti kelahiran, latar belakang, usaha pelayanan dan sebagainya. Diapun mempunyai hak untuk bermegh hal-hal tersebut. Contoh-contoh boleh akan terlihat dalam 11:22 dst. Paulus menjawab mereka tentang kelahiran, latar belakang dan usaha pelayanannya. Dalam 11:19-20 menunjukkan bahwa dengan ironis Paulus mengingatkan mereka: selama ini mereka begitu sabar dalam kebijaksanaan mereka terhadap siapapun juga. Kalau mereka telah sabar terhadap guru-guru palsu yang berusaha untuk memperhambakan mereka. Jika mereka sabar terhadap guru-guru plsu, maka menurut Paulus mereka juga harus sabar terhadap Paulus. Rasul-rasul yang mau memperhambakan jemaat itu berani memegahkan diri maka Paulus berkata bahwa didalam kebodohan ia juga berani. Lalu dalam ayat 22 Paulus memberi alasan yang keras untuk membndingkan dirinya dengan yang dia sebut sebagai rasul-rasul palsu itu. Dia mengatakan bahwa jika dipersoalkan masalah kelahiran, suku dan bangsa dan garis keturunan ia sama dengan mereka, selanjutmnya dalam ayat 23-24 Paulus mengatakan bahwa sebagai pelayan Kristus ia lebih banyak berjerih lelah, lebih banyak menderita karena Injil, lebih sering dipenjara karena Injil. Dia lima kali disesah orang Yahudi, setiap kali disesah dia dipukul empat puluh kurang satu. Kata disesah biasanya ditafsirkan di cambuk. Dan menurut tradisi cambukan biasanya dilakukan sebanyak 39 kali. Itu dubagi: 2/3 atau 26 kali bagian diatas punggung, dan 1/3 atau 13 kali diatas dada. Kemudian ia mengatakan diayat 25-26 bahwa ia tiga kali didera, KIS 16:22-23 (memakai kayu atau bambu tipis). Kemudian ia dilempari batu seperti yang diceritakan dalam KIS 19. ia juga mengalami 24 jam terkatung-katung dilaut. Kemudian Paulus dalam ayat 27-33 mengatakan bahwa ia bekerja berat, sering tidak tidur, lapar dan kehausan, sering berpusa, kedinginan dan tanpa pakaian, dan itu semua adalah karena pelayanan. Selanjutnya ia mengatakan bahwa ia bermegah atas kelemahan, dia mengatakan bahwa Allah adalah saksinya sebagai bukti bahwa ia jujur dan tidak berdusta ats apa yang telah ia lakukan dan alami demi Injil. Dalam kesempatan ini ia juga menceritakan apa yang ia alami di Damsyik yaitu Wali negeri raja Aretas menyuruh mengawal kota orang-orang Damsyik untuk menangkapnya, sampai-sampai ia harus diturunkan dengan keranjang untuk keluar tembok kota. Baca juga Kisah Para Rasul 9:23-25.

Kita masuk pada 2 Korintus 12:1-10. nats ini berbicara masalah keadaan jasmani dan rohani Paulus dalam pelayanan. Ayat 1 Paulus kembali membandingkan dan menunjukkan keunggulannya dibandingkan dengan rasul-rasul lain. Kata penglihatan dalam bahasa Yunani optasias – pengetahuan yang diterima melalui suatu yang nampak, sedangkan penyataan atau apokalupsis – pengetahuan melalui sesuatu yang tidak harus kelihatan, bisa dalam bentuk kata-kata yang terdengar, tanpa melihat apa-apa. Pengalaman Paulus pertama kali tentang hal ini; tentang pertobatannya (Kis 9) ia mendengar suara Tuhan (Kis 18:9-10) di Korintus. Kis 22:17-21 di Yerusalem pada awal pelayananny; Kis 23:11 pada waktu kunjungan yang terakhir ke Yerusalem; Kis 27:23-24 dalam pengalaman ke Italia. Kemudian kita lihat ayat 2, sepertinya Paulus segan memegahkan dirinya, sehingga apa yang dialami sendiri dia ceritakan seperti bukan pengalamannya tetapi seperti pengalaman orang lain. Untuk menyebut pengalaman ini Paulus bercerita: “Ia diangkat,” artinya “direbut” bukan atas dasar kehendak atau usaha diri sendiri tetapi tindakan Allah. (band 1 Tes 4:17). Paulus mengatakan bahwa orang itu (dia sendiri) dibawa ketingkt ketig dari Sorga. Orang Yahudi biasanya berbicara tentang sorga tingkat ketujuh. Paulus mengatakan bahwa ia hanya sampai ketingkat ketiga, yang lebih rendah dari tingkat ketujuh. Paulus tidak mengetahui keadaannya waktu itu apakah ia ada didalam tubuh atau diluar tubuh, hanya Tuhan saja yang tahu. Kemudian di ayat 4 Paulus mengatakan bahwa dia diangkat ke Firdaus. Tujuan Paulus menuliskan pengalamannya ini khsusnya tentang Firdaus tidak lain supaya menguatkan jemaat Korintus tentang realita sorga, dan itu dapat menguatkan hatinya menghadapi kesulitan apapun yang ada di dunia ini sebab penghrapan akhirnya adalah sorga, yaitu suatu tujuan yang jelas. Dalam ayat 5-6 Paulus mengatakan bahwa atas orang itu (dirinya sendiri) jika ia orang lain atau jika ia rasul yang lain ia dapat bermegah, tetapi karena ia berpegang pada prinsipnya maka atas dirinya sendiri ia tidak bermegah selain didalam kelemahannya, dan dia mengatakan hal yang demikian ada alasannya. Tetapi jika ia bermegahpun ia bukan orang bodoh karena ia mengatakan hal yang sebenarnya. Lalu ayat 7 Paulus mengatakan bahwa supaya ia jangan meninggikan diri atas penglihatan-penglihatan itu maka dia diberi suatu duri dalam dagingnya, yaitu utusan iblis. Secara umum kata Duri dalam daging disini ditafsirkan sebagai penyakit, mungkin sakit mata, telinga atau kepala. Selanjutnya kata utusan iblis bandingkan dengn Ayub 2:5; Luk 13:16; Kis 13:8-10; Tes 2:18 untuk contoh dari pekerjaan Iblis menghalangi Pemberitaan Injil.

Ayat 8-9 menjelaskan bahwa Paulus sudah tiga kali meminta kepada Tuhan supaya duri dalam daging itu atau utusan iblis itu dilepaskan dari tubuhnya, tetapi Tuhan menjawab bahwa Tuhan akan memberinya kekuatan. Jadi Tuhan tidak melepaskan duri dalam daging Paulus itu. Tetapi Tuhan berjanji untuk memberi dia kekuatan, sebab dalam kelemahannya kuasa Kristus akan menjadi sempurna. Ayat ini tau 8-9 mengajarkan kepada kita supaya tatkala kita berdoa jangan memaksa Tuhan dan jangan selalu berpikir bahwa apa yang kita doakan pasti akan diberikan kepada kita. Ada kalanya Tuhan tidak memberikan apa yang kita minta, tetapi Tuhan memberikan kesanggupan kepada kita untuk menghadapinya, seperti masalah penyakit, ekonomi, keluarga dll.

Lalu kemudian dia mengatakan dalam ayat 10 bahwa ia senang dan rela di dalam kelemahan. Karena jika ia mengetahui kelemahannya, sadar akan kelemahannya maka ia akan kuat. kita kadangkala lupa atas kekurangan dan ketidak mampuan kita. Kadangkala kita berpikir bahwa kita orang yang hebat, sanggup melakukan apapun, sehingga kita bersandar pada pengertian kita sendiri dan akhirnya kita tidak mengharapkan campur tangan Tuhan.

Ayat 11 karena jemaat Korintus kurang membela Paulus, maka Paulus akhirnya bermegah sebagai orang bodoh. Sebenarnya menurut Paulus seharusnya jemaat Korintus akan membela Paulus karena ia tidak kalah dalam ahal apapun dibandingkan rasul-rasul palsu yang menjadi lawan Paulus. Lebih lanjut di ayat 12 Paulus mengatakan bahwa ada bukti-bukti yang menyertai pelyananya dan bukti-bukti ini ternyata meneguhkan kerasulannya, seperti mukjizat dan kuasa yang besar. Kemudian ayat 13 Paulus mengatakan bahwa semua berkat yang diterima jemaat lain dari pelayanan Paulus juga telah diterima oleh jemaat Korintus. Hanya ada satu hal perbedaannya yaitu bahwa Paulus tidak meminta dukungan materi dari jemaat Korintus. Oleh sebab itu Paulus meminta maaf kepada mereka. Apakah ini sindiran atau atau tidak? tapi yang jelas Paulus melakukannya demi kebaikan jemaat itu.

4. Persiapan Paulus untuk kunjungan ketiga (12:14-13:10)
Dalam 2Kor 12:14-15 Paulus mengatakan bahwa ia ingin datang Korintus untuk mengunjungi jemaat itu, tapi ia tidak mau menjadi beban bagi mereka. Paulus mengatakan bahwa ia ingin datang sebagai bapak, dimana ia bukan mengincar harta kekayaan jemaat Korintus malah sebagai bapak ia lebih ingin mengorbankan apa yang dia punya kepada jemaat itu. Hal ini adalah bukti kasih Paulus kepada jemaat Korintus, dan Paulus juga mengaatkan bahwa jika ia menunjukkan kasihnya yang dalam maka seharusnya jemaat itu juga harus menunjukkan kasihnya kepada Paulus. Dalam ayat 16-18 Paulus sekaligus menjawab fitnahan lawan-lawannya yang mengatakan bahwa Paulus mengutus orang untuk mengumpulkan dana lalu nanti Paulus mengkorupsikan uang sumbangan yang diterima oleh Titus itu. Dalam hal ini Paulus meminta bukti jika dia pernah mengkorupsikan uang jemaat. Tetapi jika seandainay jemaat itu mengingat bagaimana Paulus waktu ada diantara mereka maka mereka harus memuji kemurnian hati Paulus dan Titus.

Ayat 19-21 Paulus mengatakan bahwa mungkin sudah lama jemaat Korintus akan membela diri terhadap lawan-lawannya untuk menutupi kesalahannya supaya reputasinya sebagai rasul tetap terjaga. Tetapi Paulus tidak mengutamakan reputsainya dimata manusia tetapi dimata Tuhan.

2 Korintus 13:1 Paulus berbicara tentang sutu “perkara yang sah,” artinya: tiap-tiap perkara yang masih akan digugatkan terhadap Paulus jika ia datang, perlu dikuatkan oleh dua tiga orng saksi (menurut Ulangan 19:16; band Mat 18:16; Yoh 8:17). Suatu penyelidikan yang wajar dan mendalam akan menjernihkan suasana. Kemudian ayat 2 Paulus mengatakan jika ia datang lagi maka ia akan bertindak tegas, tetapi tidak menaruh dendam. Kemudian ayat 3 Paulus mengatakan bahwa Kristus akan berbicara lewat Paulus di Korintus dengan cara yang tegas dan berkuasa. Lanjut ayat 4 Paulus mengatakan bahwa Kristus disalibkan dalam kelemahan, namun Ia dibangkitkan oleh Kuasa Allah. Jadi orang lemah yang ada didalam Dia akan hidup bersama Dia dalam kuasa Allah. Jadi kunjungan Paulus untuk kali ini adalah kunjungan dalam kuasa Allah, bukan berdasarkan kelemahan.

2 Korintus 13:5-13. Pemberian tugas dan penopangan terakhir.
Tujuan Paulus adalah kesatuan dan perkembangan yang penuh dari jemaat Korintus. Tugas orang-orang Korintus ialah:
1. Mawas diri (5)
2. Bertobat (7-8)
3. Mengusahakan diri dalam sukacita (11)
4. Berusaha hidup sempurna dan melakukan nasihat Paulus (11)
5. Menunjukkan ksih Kristus antara satu dengan yang lain (12)
Tugas Paulus:
1. Mendoakan mereka (ayat 7 dan 9)
2. Mengingatkan mereka melalui surat dan kunjungan ( ayat 10)

Akhirnya Paulus mengakhiri dengan doa. Kita juga akan mengakhiri dengan doa yang sama. “Kasih karunia Tuhan Yesus Kristus, dan Kasih Allah, dn persekutuan Roh Kudus menyertai kamu sekalian.”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar